Perdebatan Qurani (1): Dibanding Injil, kenapa Alquran Mudah Dihapal?

 

TAFSIR-QURAN.COM–Ada banyak dialog dan perdebatan antara umat Islam dan umat Kristen. Secara kronologis, perdebatan Islam dan Kristen (Nasrani) atau agama lain sudah dipraktekkan sejak zaman Nabi SAW, bahkan sampai tingkat adu sumpah celaka (mubahalah, lihat QS. Al Imran [3]: 61). Alquran sendiri menyatakan respon dan kritik terhadap kitab-kitab suci sebelumnya dan mengajak umat-umat penganut agama lain untuk beragumentasi. Dalam sebuah ayat disebutkan:

“Mengajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan debatlah dengan mereka dengan cara yang itulah yang terbaik.”
(QS. Al-Nahl [16]: 125)

Berikut ini perdebatan yang tampak dilakukan dengan cara santun umat Islam dan umat Kristen. Perdebatan bermula dari pertanyaan seorang muslimah: sementara Alquran biasa dihafal, kenapa Alkitab tidak dihafal? Di akhir perdebatan, ada yang menarik terkait mungkinnya diadakan tilawatul Injil. Berikut dialognya:

Muslimah: Pak Pendeta, di dunia ini ada banyak orang yang hapal Alquran di luar kepala. Apakah ada orang yang hapal Alkitab di luar kepala?

Pendeta: Di dunia ini tidak mungkin ada yang hapal Alkitab di luar kepala. Sejenius apa pun orang itu, tidak mungkin dia bisa hapal Alkitab di luar kepala, sebab Alkitab itu adalah buku yang sangat tebal, jadi sulit untuk dihapal. Berbeda dengan Alquran; buku yang sangat tipis, makanya mudah dihapal.”
Dengan jawaban pendeta seperti itu, Pak Ihsan merebut mikropone yang ada di tangan muslimah itu melanjutkan pertanyaan akhwat tadi.

Ihsan: Maaf, Pak Pendeta! Tadi Bapak katakan bahwa Alquran adalah buku yang sangat tipis, makanya gampang dihapal di luar kepala. Tapi, Pak Pendeta, setipis-tipisnya Alquran, ada sekitar 500 s/d 600 halaman, jadi cukup banyak juga lho! Kenyataannya, di dunia ini, ada jutaan orang yang hapal Alquran di luar kepala. Bahkan anak kecilpun banyak yang hapal di luar kepala, walaupun belum memahami kandungannya. Sekarang saya bertanya kepada Pak Pendeta, Alkitab itu terdiri dari 66 kitab bukan? Jika Pak Pendeta hapal satu surat saja di luar kepala (1/66 saja), semua yang hadir di sini jadi saksi, saya akan kembali masuk agama Kristen lagi! Silahkan Pak Pendeta!
 

Baca juga: Terbitkan Hasil Riset Alquran 800 Halaman, Profesor Jerman Kritik Tajam Budaya Barat
Baca juga: Analisis Komputer mana yang lebih Memuat Kekerasan: Alquran atau Bible
 

Mendengar tantangan seperti itu, situasi jadi tegang, mungkin hadirin yang muslim khawatir, jangan-jangan ada salah satu pendeta yang benar-benar hapal satu surat saja dari Alkitab tersebut. Seandainya ada yang hapal, berarti Pak Ihsan harus menepati janjinya, yaitu kembali masuk Kristen. Karena para pendeta diam, Pak Ihsan melemparkan kepada jemaat atau hadirin penganut Kristen yang di belakang forum.

Ihsan: Hadirin yang di belakang, jika ada di antara kalian yang hapal satu surat saja dari Alkitab ini di luar kepala, saat ini semua jadi saksi, saya akan kembali masuk ke agama Kristen lagi!

Di forum ada beberapa pendeta yang hadir sebagai pembicara maupun sebagai moderator. Usia mereka bervariasi, antara 40, 50 dan 60an tahun. Pada saat yang sangat menegangkan itu, Pak Ihsan menurunkan tantangan ke titik terendah, dimana semua audiens yang hadir, baik pihak Kristen maupun Islam, semakin tegang.

Ihsan: Maaf, Pak Pendeta! umur Anda kan sekitar 40, 50 tahun dan 60an tahun bukan? Jika ada di antara Pak Pendeta yang hapal satu lembat bolak balik saja dari Alkitab ini, asalkan pas titik komanya, saat ini semua jadi saksinya, saya kembali masuk agama Kristen lagi!

Ketegangan yang pertama belum pulih, dengan mendengar tantangan seperti itu, situasi semakin tegang, terutama di pihak hadirin yang beragama Islam. Mungkin mereka menganggap Pak Ihsan ini sudah gegabah menantang para pendeta yang hampir rata¬rata bergelar doctor hanya dengan hapalan satu lembar ayat Alkitab saja. Suasana saat itu sangat hening, tidak ada yang angkat suara, mungkin cemas jangan-jangan ada yang benar-benar hapal ayat Alkitab satu lembar saja. Karena para pendeta diam seribu bahasa, Pak Ihsan melemparkan lagi kepada jemaat atau hadirin yang beragama Kristen.

Ihsan: Adakah di antara kalian yang hapal satu lembar saja ayat Alkitab ini, bolak balik asal pas titik komanya, saat ini saya kembali masuk Kristen. silahkan maju kedepan!
 
Baca juga: Masuk Islam karena Alquran (2): Gary Miller, Profesor Kanada yang tadinya Menantang dan Mencari-cari Kesalahan
 
Tidak ada satu pun yang maju ke depan dari sekian banyak pendeta maupun hadirin beragama Kristen. Akhirnya salah seorang pendeta angkat bicara:

Pendeta: Pak Insan, terus terang saja, kami dari umat Kristiani memang tidak terbiasa menghapal. Yang penting bagi kami mengamalkannya.

Ihsan: Alkitab ini kan bahasa Indonesia, dibaca langsung dimengerti. Lalu kenapa puluhan tahun beragama Kristen dan sudah jadi pendeta, selembar pun tidak terhapal? Kenapa? Jawabnya, karena Alkitab ini tidak murni wahyu Allah, maka¬nya sulit dihapal karena tidak mengandung mukjizat! Beda dengan Alquran. Di dunia ini, ada jutaan orang hapal di luar kepala, bahkan anak kecilpun banyak yang hapal di luar kepala seluruh isi Alquran yang ratusan halaman ini. Padahal bahasanya bukan bahasa kita, Bahasa Indonesia. Tapi kenapa mudah dihapal? Karena Alquran ini benar-benar wahyu Allah, jadi mengandung mukjizat Allah, sehingga dimudahkan untuk dihapal. Soal mengamalkannya, kami umat Islam juga berusaha mengamalkan ajaran Alquran.

Saya yakin jika bapak-bapak benar-benar mengamalkan isi kandungan Alkitab, maka jalan satu-satunya harus masuk Islam. Bukti lain bahwa Alquran adalah wahyu Allah, seandainya dari Arab Saudi diadakan pekan Tilawatul Quran, kemudian seluruh dunia mengakses siaran tersebut, kami umat islam bisa mengikutinya, bahkan bisa menilai apakah bacaannya benar atau salah. Dan ketika mengikuti siaran acara tersebut, tidak perlu harus mencari kitab Alquran cetakan tahun 2000 atau 2005. Sembarang Alquran tahun berapa saja diambil, pasti sama. Beda dengan Alkitab. Seandainya ada acara pekan Tilawatul Injil disiarkan langsung dari Amerika, kemudian seluruh dunia mengaksesnya, kitab yang mana yang jadi rujukan untuk diikuti dan dinilai benar tidaknya? Sama-sama bahasa Inggris saja beda versi, jadi sangat mustahil jika ada umat Kristiani bisa melakukan pekan Tilawatul Injil, karena satu sama lainnya berbeda.”

Dapat diamati titik lemah dan kuatnya adu argumentasi dalam perdebatan ini. Namun, yang tidak kalah pentingnya, forum perdebatan itu berlangsung dengan sikap dan bahasa santun tanpa mengurangi keseriusan dan rasa hormat. Detail perdebatan ini dan sepertinya bisa diakses di “Mustahil Kristen Bisa Menjawab”, karya H. Insan LS Mokoginta, juga video debat nama yang sama di laman youtube.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.