Aktif di Medsos atau biasa Tampil di Media? Berikut 10 Norma dari Alquran

 

Ragu berbanding sama dengan mungkin. Sedikit saja ada keraguan apalagi menduga-duga tentang nilai suatu teks atau gambar berita sudah cukup menjadi alasan untuk diam, tidak men-share dan tidak memviralkan. 

Media itu nirnilai, tidak baik juga tidak buruk, tergantung penggunaan dan tujuannya. Demikian jejaring sosial juga ditentukan nilainya oleh tujuan pengguna dan cara menggunakannya. Sebagai medan pengaruh dan terpengaruh, media sosial menjadi saluran tujuan di pikiran pengguna dan cara penggunaannya akan berdampak luas.

Baca juga:

 

Harapannya, dampak itu positif dan bermanfaat bagi diri dan masyarakat. Bagaimana memastikannya? Berikut ini 10 norma dari Alquran yang, bila dipatuhi, jadi garansi aktivitas kita di medsos dan bicara di depan publik lebih tertib dan menunjang kebaikan lebih banyak.

1. Terbuka menerima berita dan informasi. Dalam ilmu Statistika, beda antara data dan informasi; yang pertama adalah informasi mentah yang belum terkonfirmasi benar-salahnya, sementara yang kedua adalah data yang sudah matang yang sudah terkonfirmasi benar-salahnya. Baik data maupun informasi layak ditampung. Betapapun, tahu itu lebih baik daripada tidak tahu. “Maka sampaikan berita bahagia kepada hamba-hamba-Ku. [Yaitu] orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik” (QS. Al-Zumar [38]: 18).

“Ya Allah, wahai Tuanku! betapa keburukan yang Engkau tutupi …
Betapa ketergelinciran Engkau selamatkan …
Dan betapa sanjungan indah yang bukan milikku Engkau tebarkan.”

— Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib —

 

2. Penting, mengidentifikasi mana berita yang penting bagi diri kita, meninggalkan apa saja yang tidak berguna bagi kita. “Hai orang-orang beriman! Perhatikanlah dirimu sendiri! Tidaklah akan membahayakanmu orang yang sesat apabila kamu telah mendapatkan petunjuk” (QS. Al-Maidah [5]: 105). Tidak semua data dan informasi ada hubungan dengan dirinya, berpengaruh pada dirinya, atau penting bagi dirinya. Nabi bersabda, “Bagian dari kebaikan islam seseorang ialah meninggalkan apa yang tidak penting bagi dirinya” (Shahīh  al-Tirmidzī, hadis no. 2239; Riyādh al-Shālihīn, hlm. 56; Al-Albani, al-Targhīb wa al-Tarhīb, hadis no. 2339). Sebaliknya, tidak tahu atau peduli terhadap apa saja yang tidak penting, tidak berhubungan atau tidak berpengaruh pada dirinya bukanlah muslim yang baik.

Baca juga:

 

3. Sabar. Adakalanya suatu informasi, saking pentingnya bagi dirinya, langsung saja direspon tanpa pikir panjang. Maka, perlu kesabaran. Tandanya, tidak panik dan tidak tergesa-gesa (QS. Al-Isra’ [17]: 11). Dalam surah Al-Kahfi, Allah menggambarkan bagaimana Nabi Musa belajar kesabaran dalam mendapatkan keterangan fakta dari Nabi Khidir (lihat QS. Al-Kahfi [18]: 66-69). Dengan begitu, ia tidak terbawa emosi sendiri, ikut-ikutan arus kehebohan, rumor dan opini yang berkembang.

4. Kritis, menampung dan mencerna informasi secara hati-hati untuk memastikan nilai benar-salah isinya dengan cara, di antaranya, menyimak secara lengkap dan tidak sepenggal-sepenggal, atau mengamati konsistensi isinya, atau membandingkan dengan data dan informasi yang lain, atau mengkonfirmasi ke sumber terpercaya, “Wahai orang-orang beriman! Jika seorang fasik membawa suatu berita kepadamu, maka telitilah kebenarannya” (QS. Al-Hujurat [49]: 6).

 

KEBENARAN TIDAK DIUKUR DENGAN STATUS ORANG. KENALILAH KEBENARAN, ENGKAU AKAN TAHU PIHAK YANG BENAR.
♦  Amirul Mukminin Ali bin Ali Thalib

 

5. Ragu adalah alarm peringatan, yakni sedikit saja ada keraguan apalagi menduga-duga tentang nilai suatu teks atau gambar berita sudah cukup menjadi alasan untuk diam, tidak men-share dan tidak memviralkan. “Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan itu tidak mencukupi sedikit pun dari kebenaran” (QS. Al-Najm [53]: 28).

Ragu berbanding sama dengan mungkin. Adakalanya kiriman suatu teks berita atau analisis diselipkan kata-kata seperti: mungkin, boleh jadi, sepertinya, jangan-jangan. Maka, penilaian dan konklusi yang dibangun atas dasar kata-kata itu tidak bersifat pasti dan, karena itu, tempatkan pengirim teks dan pembuat analisis itu tidak tahu pasti, dan kita sendiri cukup merespon dengan keraguan. Dalam keadaan ragu, logisnya kita diam dan mendiamkan teks tersebut sampai terbukti benar-salahnya.

6. Objektif, terserah pada fakta dan argumen. Seringkali kita justru lebih percaya pada teman, kubu atau kebanyakan orang, “Jika kamu mengikuti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (QS. Al-An’am [6]: 116). Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Kebenaran tidak diukur dengan status orang. Kenalilah kebenaran, engkau akan tahu orang yang benar” (Mīzān al-Hikmah, jld. 1, hlm. 658).

TIDAK MEMPEROLOK APALAGI MERAYAKAN DAN MEMBICARAKAN TERUS KESALAHAN ORANG LAIN. TIDAK ADA YANG TAHU KESAHALAN YANG SAMA BISA MENIMPA DIRI SENDIRI.

7. Bijak, maka memastikan nilai suatu data/informasi, kendati perlu, tidak cukup; perlu disempurnakan dengan menimbang asas maslahat: apakah bila dishare akan berdampak positif dan pada moment yang tepat ataukah tidak. “Dan kesudahan [urusan] itu adalah bagi orang-orang bertakwa” (QS. Al-Araf [7] 128), yakni orang-orang yang menjaga diri sehingga, setidaknya, keputusannya tidak disesali dan tidak berdampak negatif bagi orang lain.

8. Baca bismillah sebelum menshare teks atau gambar. Sebagai orang beriman sudah sepatutnya memulai apa saja dengan bismillah agar sadar bahwa ia tidak dalam rangka melakukan perbuatan tercela, tetapi tulus untuk ibadah dan sesuai dengan keinginan Allah. Tatkala Ratu Balqies menerima surat dari Nabi Diraja Sulaiman a.s., ia membaca pembukaannya dengan bismillah, “Dan sesungguhnya [surat] itu adalah dari Sulaiman, dan itu sesungguhnya adalah “Dengan Nama Allah yang Mahakasih dan Maha Pengasih” (QS. Al-Naml [27]: 30). Baca bismillah barangkali pekerjaan sepele, tapi itu energi yang kuat mengawasi kesadaran kita untuk berbuat yang terbaik.

9. Konsisten, tetap berada pada kebenaran, dan tidak coba-coba berdusta atau sedikit mentolelir keraguan dalam dirinya tentang sesuatu agar selanjutnya pantas menasihatkan kesabaran dan kebenaran kepada orang lain, “… dan saling menasihati kebenaran dan saling menasihati kesabaran” (QS. Al-Ashr [103]: 3).

Baca juga:

 

10. Kesatria. Manusia tempat kesalahan, dan tidak ada kesalahan yang tidak bisa diperbaiki. Pintu taubat senantiasa terbuka. Entah disengaja atau tidak kesalahan itu, perbaikan dapat tercapai cukup dengan insaf, optimis dan berjiwa besar untuk meminta maklum dan maaf serta tidak mengulang kembali. “Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan meaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kalian kerjakan” (QS. Al-Syura [42]: 25).

Terakhir, mesti diingat agar kita tidak sesekali memperolok apalagi merayakan dan membicarakan terus menerus kesalahan orang lain, karena tidak ada yang tahu kesalahan serupa juga menimpa diri kita sendiri. Sebagai gantinya, perbanyak bersyukur dengan istighfar, menjadikannya sebagai pelajaran hidup serta fokus pada norma-norma di atas. Berdoalah kepada Allah agar rahmat dan kasih sayang-Nya menyertai kita sehingga keburukan batin kita tetap terjaga sebagai rahasia antara kita dan Dia.

“Ya Allah, wahai Tuanku!
Betapa keburukan yang Engkau tutupi
Betapa bencana berat Engkau sirnakan
Betapa ketergelinciran Engkau selamatkan
Betapa musibah Engkau singkirkan
Dan betapa sanjungan indah yang bukan milikku Engkau tebarkan!”

Munajat Ali bin Abi Thalib.[HCF]

You might also like More from author

1 Comment

  1. Graciaz says

    Artikel yg menarik. Sangat disayangkan mengapa mengutip (referensi) Albani.???

Leave A Reply

Your email address will not be published.