Antara Abu Bakar dan Siti Fatimah; Perdebatan Pertama yang Dimenangkan Perempuan terkait Alquran

 

TAFSIR-QURAN-COM–Banyak dialog bahkan perdebatan berlangsung di antara sahabat Nabi SAW. Namun, dialog antara Siti Fatimah putri Rasulullah SAW dan Khalifah Abu Bakar sungguh beda dan unik. Dapat dikatakan, inilah perdebatan yang pertama dan paling serius dalam sejarah Islam. Bukan hanya dari sisi kandungannya yang bernuansa politis, ekonomi dan hukum terkait tanah Fadak yang menghamparkan ladang luas nan subur, tetapi dialog ini merupakan salah satu referensi autentik dan paling awal mengenai logika dan dasar hukum, yaitu mana yang fundamental dalam ketentuan hukum: Alquran ataukah hadis, dan apakah argumen ayat dapat digugurkan oleh hadis ataukah sebaliknya?

Yang menambah dialog itu signifikan ialah Siti Fatimah, seorang perempuan yang masih muda, berhadapan dengan Abu Bakar, seorang lelaki sahabat senior, jauh lebih tua, yang lebih dahulu mengenal Islam dan beriman. Perdebatan di antara mereka terjadi segera setelah Nabi wafat, masih di awal kekhalifahan Abu Bakar.
 

Baca juga: QS. Maryam [19]: Ayat 96; Syarat Menjadi Manusia Rahmatan Lil Alamin
Baca juga: QS. Al-Anbiya’ [21]: Ayat 105; Masa Depan Dunia Dan Pelaku Sejarah Masyarakat
Baca juga: QS. Al Imran [3]: Ayat 169; Jihad Dan Syahid, Dua Ajaran Unik Dan Istimewa
Baca juga: QS. Al-Mursalat [77]: Ayat 15; Dari Membohongi Diri Sendiri Sampai Membohongi Allah
 

Berawal dari pidato terkenal Siti Fatimah yang di dalamnya ia memastikan hak kekuasaannya atas tanah Fadak, lalu ia melancarkan kritik-kritik argumentatif terhadap keputusan Abu Bakar sebagai khalifah Muslimin yang telah menyita tanah tersebut. Tidak tinggal diam, Abu Bakar berusaha memberikan jawaban dan klarifikasi atas keputusannya itu. Manakah yang kuta di antara mereka? Apa landasan dan atas dasar apa mereka berargumentasi?

Dapat diamati, kritik dan sanggahan Siti Fatimah lebih didominasi ayat-ayat Alquran, sementara Abu Bakar hanya bertahan di balik satu hadis yang didengar oleh dirinya sendiri, tidak oleh sahabat yang lain. Pada titik inilah persoalan relasi antara supremasi Alquran dan sunnah atau hadis mengemuka. Para ulama, utamanya dari kalangan ahli Ushul Fiqih, sepakat bahwa rujukan utama dan sumber pengetahuan agama adalah Alquran, berikutnya barulah tiba giliran sunnah Nabi SAW. Mereka juga sepakat bahwa dalam kondisi terjadi konflik dan inkonsistensi antara ayat dan hadis, maka ayat diutamakan dan dijadikan pegangan; supremasi ayat tidak bisa dikalahkan oleh kekuatan hadis.

Menilik pidato Siti Fathimah al-Zahra, ternyata dari keseluruhan pidatonya tidak banyak menyinggung masalah Fadak. Terutama bila Abu Bakar, khalifah waktu itu, tidak menyela pidato Siti Fathimah dan membawakan argumentasi mengapa ia mengambil Fadak dari tangannya, maka pidato tentang tanah Fadak semakin sedikit. Di samping itu, masalah Fadak dibawakan oleh Siti Fatimah pada bagian-bagian akhir dari pidatonya (selengkapnya lih. Kasyf al-Ghummah, jld. 2, hlm. 304).
 

Baca juga: Masuk Islam Karena Alquran (4): Edoardo Agnelli, Putra Mahkota Bisnis Raksasa Italia
Baca juga: Masuk Islam Karena Alquran (6): Arthur Wagner, Tokoh Pimpinan Partai Anti-Muslim Di Jerman (1)
Baca juga: Masuk Islam Karena Alquran (6): Arthur Wagner Diluluhkan Alquran Setelah Jadi Ateis, Protestan Dan Musuhi Islam (2)
 

Sebagai pelengkap, berikut ini daftar referensi terkait autentisitas perdebatan di antara Siti Fatimah dan Khalifah Abu Bakar:

Sulaiman bin Ahmad Al-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Awsath, Kairo, 1415, jld. 4, hlm. 104.
Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal, Qartabah Mesir, jld. 1, hlm. 10; Ibn Katsir, Ismail Abu Al-Fida’, Al-Bidayah wa Al-Nihayah, Beirut, jld. 5, hlm. 309.
Ibn Katsir, Al-Sirah Al-Nabawiyyah, Damaskus, jld 4, hlm. 573.
Al-Dzahabi, Tarikh Al-Islam wa Wafayat Al-Masyahir wa Al-A’lam, Beirut, jld. 3, hlm. 24.
Ibn Abu Syaibah, Tarikh Al-Madinah, jld. 1, hlm. 209.
Al-Zuhri, Al-Thabaqat Al-Kubra, Beirut, Sadir, jld. 2, hlm. 315.
Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Beirut, Dar ibn Katsir, 1987, jld. 6, hlm. 2474.
Al-Halabi, Al-Sirah Al-Halabiyyah, Beirut, 1400, jld. 3, hlm. 488.
 

Baca juga: Allamah Thabathaba’i: Pelopor Tafsir Al-Quran Bi Al-Quran
Baca juga: Muhammad Abduh: Mufasir Pengimbang Taklid Buta, Fanatisme Mazhab Dan Modernitas Barat
Baca juga: Imam Jalaluddin Al-Suyuthi; Mufasir Konsisten Di Atas Penguasa
Baca juga: Mufassir Perempuan (2): Banu Mujtahidah Isfahani Dari Persia
 

Untuk mengetahui secara detail apa sebenarnya yang terdapat dalam pidato dan dialog antara Siti Fathimah dengan Abu Bakar, sangat perlu untuk melihat langsung teks pidato tersebut.
 

Tuntutan dan Argumentasi Siti Fathimah
Pada salah satu bagian dari pidatonya, Siti Fathimah menuntut hak kepemilikannya atas tanah Fadak sebagai hak warisan yang sah dari ayahandanya, Nabi SAW. Ia mengatakan:

Saat ini kalian menganggap bahwa kami tidak punya warisan?!
Apakah mereka menginginkan hukum jahiliah, padahal hukum mana yang lebih dari hukum Allah bagi mereka yang beriman.
Apakah mereka tidak tahu?!
Ya, kalian mengetahui bahwa aku adalah putri Nabi. Pengetahuan kalian bak sinar mentari, jelas.
Wahai kaum muslimin! Apakah pantas aku menjadi pecundang atas warisan ayahku?!
Wahai putra Abu Quhafah! Apakah ada dalam Alquran ayat yang menyebutkan bahwa engkau mewarisi harta ayahmu, sementara aku tidak mewarisi harta ayahku!? Engkau telah membawa tuduhan yang aneh!
Apakah kalian secara sengaja meninggalkan Alquran dan meletakkannya di punggung kalian ketika Alquran mengatakan, “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud” (QS. Al-Naml: 16).
Alquran menukil cerita Yahya bin Zakaria ketika berkata, “Maka anugerahilah Aku dari sisi Engkau seorang putera yang akan mewarisi Aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub” (QS. Maryam: 5-6).
Dan Allah berfirman, “orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat)di dalam Kitab Allah” (QS. Al-Anfal: 75).
Dan allah berfirman, “Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. yaitu bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan” (QS. Al-Nisa’: 11).
Dan Allah berfirman, “berwasiat untuk ibu bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (Ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 180).
Dan kalian menganggap aku tidak mewarisi sesuatu dari harta ayahku?!
Apakah ada ayat yang turun kepada kalian yang mengecualikan ayahku?!
Ataukah kalian akan mengatakan bahwa keduanya (aku dan ayahku) menganut agama yang berbeda sehingga tidak mewarisi?!
Bukankah aku dan ayahku berasal dari agama yang satu?!
Ataukah kalian merasa lebih tahu tentang Alquran dari ayahku dan anak pamanku (Ali bin Abi Thalib)?!
Bila memang kalian mengklaim demikian, maka ambil dan rampaslah warisanku yang terlihat bak kendaraan yang telah siap sedia?! Tapi, ketahuilah! Ia akan menghadapimu di hari kiamat.
Sesungguhnya, sebaik-baik hukum adalah hukum Allah, sebaik-baik pemimpin adalah Muhammad, dan sebaik-baik pengingat adalah hari kiamat.
Ketika hari kiamat tiba, orang-orang yang batil akan mengalami kerugian. Pada waktu itu penyesalan tidak lagi bermanfaat.
Setiap berita ada tempatnya dan kalian akan tahu siapa yang diazab sehingga hina dan senantiasa ia mendapat siksaan yang pedih!

 

Baca juga: QS. Al-Ra’d [13]: 1; Bagaimana Semua Pemahaman itu Relatif, Allah saja Men-Share Kebenaran Mutlak
Baca juga: QS. Al-Baqarah [2]: 42, Norma Etika Jurnalistik dan Pengacara
Baca juga: QS. Al-Nur [24]: 15; Aturan Memviral Informasi
 

Dalam pidato di atas, tampak bagaimana Siti Fatimah, setidak-tidaknya, melapisi tuntutan dan klaimnya dengan lima ayat. Selanjutnya kita akan melihat bagaimana Khalifah Abu Bakar menjawab dalil-dalil dari putri Nabi SAW itu.
 

Sanggahan Khalifah Abu Bakar
Abu Bakar menjawab tuntutan dan argumentasi yang disampaikan oleh Siti Fathimah dengan ucapannya:

Wahai putri Rasulullah SAW! Ayahmu seorang yang lembut, pengasih dan dermawan atas orang-orang mukmin, sementara itu bila menghadapi orang-orang kafir ia sangat keras.
Bila dilihat dari sisi hubungan kekeluargaan, ia adalah ayahmu dan saudara ayahmu. Sementara tidak ada orang lain yang sepertimu.
Kami melihat bagaimana Nabi begitu memperhatikan suamimu lebih dari yang lain. Dalam setiap pekerjaan besar, suamimu pasti menjadi penolong Nabi. Hanya orang yang selamat saja yang mencintai kalian dan hanya orang celaka saja yang membenci kalian. Kalian adalah Itrah Rasulullah yang baik.
Kalian adalah penunjuk dan penuntun ke arah kebaikan dan surga.
Dan engkau adalah wanita terbaik dan putri terbaik dari para Nabi.
Engkau benar dalam ucapanmu dan akal dan pemahamanmu lebih cerdas dari yang lain.
Tidak ada yang dapat menghalangi hak Anda dan kebenaranmu tidak bisa ditutup-tutupi.
Demi allah! Aku tidak melanggar pendapat Rasulullah SAW dan aku tidak berbuat kecuali dengan seizinnya. Seorang pemimpin tidak akan membohongi rakyatnya.
Dalam masalah ini aku menjadikan Allah sebagai saksi dan cukuplah Allah sebagai saksi.
Aku mendengar sendiri dari Rasulullah SAW bersabda, “Kami para nabi tidak mewariskan emas dan perak, tidak juga rumah dan tanah untuk bercocok tanam. Kami hanya mewariskan Alquran, hikmah, ilmu dan kenabian.” Apa saja yang tertinggal dari kami, maka itu menjadi hak milik pemimpin setelah kami. Dan apa yang menjadi maslahat itu yang bakal diputuskan olehnya.
Apa yang engkau tuntut dari tanah Fadak itu akan kami gunakan untuk menyiapkan kuda dan senjata bagi para pejuang Islam untuk menghadapi orang-orang kafir dan orang-orang jahat.
Masalah ini tidak aku putuskan sendiri, tetapi aku melakukannya melalui kesepakatan seluruh kaum muslimin.
Ini kondisi dan apa yang aku miliki menjadi milik engkau.
Apa yang bisa aku lakukan akan aku lakukan, dan aku tidak menyimpan apa pun di hadapan engkau.
Engkau adalah panutan umat ayahmu dan pohon yang memiliki akar yang baik bagi keturunanmu.
Keutamaan yang engkau miliki tidak dapat dipungkiri oleh seorang pun.
Hak-hak engkau tidak akan dicampakkan begitu saja; baik masalah penting atau tidak.
Apa yang engkau perintahkan terkait dengan diriku akan aku lakukan.
Apakah engkau merasa layak bahwa dalam masalah ini aku menentang hukum ayahmu?!

 

Baca juga: QS. Al-Qashash [28]: 56; Iman, Takdir Allah di Tangan Manusia
Baca juga: QS. Al ‘Imran [3]: 139, Tidak Unggul, Maka tidak Beriman
Baca juga: Terbitkan Hasil Riset Al-Quran 800 Halaman, Profesor Jerman Kritik Tajam Budaya Barat
 

Jawaban Balik Siti Fathimah
Setelah mendengar jawaban dari Abu Bakar terhadap tuntutannya atas tanah Fadak, Siti Fathimah kembali menjawab:

Subhanallah! Rasulullah saw tidak pernah memalingkan wajahnya dari Alquran dan tidak pernah menentang hukum-hukum yang ada di dalamnya.
Nabi senantiasa mengikuti Alquran dan surat-suratnya.
Apakah engkau mulai mengeluarkan tipu dayamu dengan berbohong atas namanya dan mencoba mencari alasan atas perbuatanmu?
Tipu daya ini sama persis seperti yang dilakukan terhadapnya ketika Nabi masih hidup.
Ini adalah Alquran, Kitab Allah yang menjadi juru adil, pemutus perkara dan berbicara atas nama kebenaran. Alquran mengatakan, “Seorang putra yang akan mewarisi Aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub” dan “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud.
Allah telah membagi bagian para ahli waris sesuai dengan bagiannya secara gamblang sehingga tidak ada orang mencari-cari alasan di kemudian hari. Semestinya engkau mengamalkan yang seperti ini.
Namun engkau melakukan sesuatu yang lain karena hawa nafsu dan bisikan setan.
Dalam kondisi yang demikian, pilihan terbaik adalah bersabar karena kesabaran itu indah dan Allah adalah penolong dari apa yang kalian gambarkan.

 

Penjelasan Terakhir Abu Bakar
Setelah dihadapkan dengan ayat-ayat yang dibawakan Siti Fatimah, Abu Bakar menjawab:

Maha benar Allah, benar apa yang disabdakan Rasulullah dan benar juga apa yang diucapkan oleh putri Rasulullah SAW.
Engkau adalah tambang kebijakan, pusat hidayah dan rahmat, tiang agama dan sumber kebenaran.
Aku tidak mengatakan apa yang engkau katakan adalah salah dan tidak mengingkari pidatomu, namun mereka kaum muslimin sebagai juri yang menilai antara aku dengan engkau. Mereka memilih aku sebagai khalifah dan apa yang aku raih ini berkat kesepakatan mereka tanpa ada paksaan dan kesombongan dari diriku. Dalam hal ini mereka semua menjadi saksi.

 

Baca juga: Sains Modern Buktikan Teknik Pembuatan Piramida versi Alquran
Baca juga: Mencari Cinta Sejati dan Kehidupan pasca Kematian dalam Pancasila
Baca juga: Sejarah Penerjemahan Alquran Di Indonesia
 

Catatan
Dari dialog di atas tampak bagaimana Siti Fatimah membangun tuntutannya berdasarkan ayat-ayat Alquran, sementara Abu Bakar membantahnya dengan satu hadis yang berbunyi, “Kami para nabi tidak mewariskan emas dan perak tidak juga rumah dan tanah untuk bercocok tanam.”

Hadis ini disanggah Siti Fatimah dengan Alquran. Namun, sebelum itu, ia menegaskan tolok ukur dalam pengetahuan agama, bahwa ucapan dan perbuatan Nabi SAW tidak pernah bertentangan dengan hukum-hukum Alquran. Dan disepakati oleh umat Islam bahwa Alquran adalah sumber utama dalam pengetahuan dan hukum agama. Dan tolak ukur ini tidak dibantah oleh Abu Bakar.

Dibandingkan hadis dan riwayat, semua ayat Alquran adalah autentik dan asli berasal dari Allah, sementara tidak smua hadis berasal dari Nabi. Artinya, banyak hadis palsu dan perkataan yang diatasnamakan dengan nama Nabi. Karena itu perlu tolak ukur untuk memastikan autentisitas dan keberasalannya dari Nabi atau bukan dari beliau. Di antara tolak ukur itu ialah kandungan suatu hadis tidak bertentangan dengan ayat Alquran; jika ada hadis yang kandungannya bertentangan dengan kandungan Alquran, maka hadis itu tidak bernilai.

Dari teks berdebatan, jawaban dan sanggahan antara Abu Abakar dan Siti Fatimah, tampak kekuatan argumentasi putri Nabi. Ini sebagaimana diakui oleh Abu Bakar. Pada akhirnya, ia hanya dapat berargumentasi bahwa dirinya dipilih secara aklamasi oleh para sahabat tanpa paksaan, dan kebijakan yang diambilnya berdasarkan posisinya sebagai khalifah. Tampaknya, argumen terakhir ini juga tidak begitu kokoh mengingat ia menjadikan pilihan orang-orang sebagai dasar keputusan, bukan pilihan dan pandangan Alquran.wallahu a’lam bi al-shawab.
 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.