Ayat-Ayat yang Diklaim Mendukung Sekularisme (1)

Dalam beberapa dekade terakhir, sebagian umat Islam mendukung beberapa model Sekularisme seperti: pemisahan agama dari politik dan kekuasaan. Mereka berpendapat bahwa dua model ini bisa disimpulkan dari ayat-ayat Al-Quran. Untuk membuktikan klaim ini, mereka berargumentasi dengan beberapa ayat. Berikut adalah evaluasi dan sanggahan atas argumen-argumen mereka dalam dua klasifikasi: argumen afimatif dan argument negatif.

A. Argumen Afirmatif
sekali lagi, argument kalangan muslim sekular bisa dibagi menjadi dua bagian: afirmatif (îjâbî) dan negatif (salbî). Dalil afirmatif akan dievaluasi terlebih dahulu, kemudian dalil negatif.

Argumen Pertama: Tuhan dan Akhirat, Tujuan Kenabian
Bagian pertama dari dalil qurani kaum sekular adalah ayat-ayat yang menyebut (atau membatasi) penyampaian risalah ilahi dan urusan ukhrawi sebagai tugas dan tujuan para nabi. Ayat-ayat ini sama sekali tidak menyinggung tugas nabi untuk menggulingkan pemerintahan zalim dan membentuk pemerintahan agama. Dengan kata lain, tugas utama dan tunggal para nabi adalah ‘kenabian’, yang sama sekali tidak mengandung makna politik dan kekuasaan. Sebab, konsep ‘kenabian’ berbeda dengan konsep ‘kekuasaan’ dan ‘politik’. Ayat-ayat yang dijadikan landasan dalil di atas berikut ini:

“Tiada (tugas apa pun) atas para rasul kecuali menyampaikan (risalah)” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 99).

“Tugasmu tak lain hanyalah menyampaikan (risalah)” (QS. Al-Syûrâ [42]: 48).

“Apakah ada tugas bagi para rasul selain menyampaikan (risalah) dengan jelas?” (QS. Al-Nahl [16]: 35)

“Tak ada tugas bagi kami kecuali menyampaikan (risalah) dengan jelas” (QS. Yâsîn [36]: 17).

“Telah Kami utus para rasul dengan membawa tanda-tanda, dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan mîzân, supaya manusia menegakkan keadilan” (QS. Al-Hâdid [57]: 25).

Ali Abdurraziq mengatakan, “Secara lahiriah ayat-ayat Al-Quran mendukung pendapat bahwa Nabi tidak berurusan dengan kekuasaan politik. Banyak ayat yang menegaskan bahwa tugas samawi beliau tak lebih dari dakwah; yang tidak mengandung makna kekuasaan, sama sekali.”

Sementara Mahdi Hairi Yazdi menulis, “Ada ayat-ayat lain dalam Al-Quran yang membatasi tugas nabi pada dakwah dan menyampaikan perintah serta larangan Allah, seperti ayat, Tiada (tugas apa pun) atas para rasul kecuali menyampaikan (risalah).”

Dia pula yang menunjuk ayat yang memerintahkan manusia untuk menegakkan keadilan, dan mengatakan bahwa ayat ini secara jelas menyimpulkan bahwa pengutusan para rasul hanya untuk mengajarkan keadilan.

Bazargan membawakan Ayat Bi`tsah: “Dialah yang telah mengutus kepada kaum buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka, dan mengajarkan kitab serta hikmah kepada mereka” (QS. Al-Jumu`ah [62]: 2), dan ayat risâlah: “Wahai Nabi, Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa berita gembira, pemberi peringatan, dan penyeru (manusia) kepada Allah dengan ijin-Nya” (QS. Al-Ahzâb [33]: 45), lalu mengatakan, “Pemerintahan atau manajemen masyarakat tidak tercakup dalam ayat bi`tsah atau risâlah kenabian. Pemerintahan tidak termasuk bagian dari program para utusan Allah. Dia menyatakan bahwa tujuan diturunkannya Al-Quran adalah memberi peringatan dan kabar gembira tentang akhirat serta membimbing manusia menuju Allah.”
Dalil dan ayat lain yang dibawa Bazargan tentang terpisahnya kenabian dan pemerintahan adalah perbedaan garis para nabi dan para penguasa sepanjang sejarah, yang juga didukung oleh Al-Quran. Uraian dan sanggahan atas dalil ini akan disebutkan dalam dalil keempat (pemisahan praktis kenabian dan pemerintahan).
Izzatullah Sahabi menyinggung ayat, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku” (QS. Al-Dzâriyât [51]: 56), dan mengatakan, “Menurut Al-Quran, tujuan penciptaan manusia adalah penyembahan kepada Allah, bukan mendirikan pemerintahan agama.”

Tinjauan Kritis
Kelemahan dalil di atas sudah bisa dibongkar dari penjelasan yang sudah disebutkan dalam pasal-pasal terdahulu. Berikut adalah beberapa jawaban lain atas argumen di atas.

a. Pluralisme dan Tujuan Kenabian
Akhir-akhir ini, kebanyakan peneliti agama Barat dan sebagian cendekiawan Muslim mendukung pluralisme agama dan tidak menerima eksklusivitas kebenaran pada agama tertentu. Sayangnya, mereka malah menjadi eksklusif dalam menafsirkan tujuan kenabian. Mereka berpendapat bahwa satu-satunya falsafah kenabian adalah Tuhan, dan akhirat pun hanya sebagai pengekor saja. Namun, dengan merujuk kepada Al-Quran, kita akan mengetahui bahwa para nabi berpandangan luas dalam misi samawi mereka. Artinya, mereka berusaha berdakwah seefektif mungkin dalam bidang duniawi dan ukhrawi manusia. Dengan ungkapan lain, mereka mengincar pelbagai target dan tujuan dalam risalah mereka, yang di sini saya istilahkan dengan Pluralisme Tujuan.
Benar bahwa akhirat dan kebahagiaan spiritual manusia adalah tujuan pertama dan terpenting dalam misi kenabian. tetapi, ini bukan tujuan terakhir. Selain tujuan ini, para nabi menjadikan penegakan keadilan, kebebasan, pemerintahan, dan perdamaian sebagai bagian dari program mereka. Program ini dibuat bukan dalam kapasitas mereka sebagai manusia, yang memang harus memikirkannya, tetapi perhatian mereka kepada masalah ini lantaran Allah telah menjadikannya bagian dari risalah mereka.

Keadilan Sosial
Sebagian ayat, secara umum, menyebut bahwa penyampaian aturan sosial dan duniawi sebagai salah satu tujuan diutusnya para nabi. Al-Quran menyatakan bahwa pelaksanaan aturan-aturan ini akan mewujudkan keadilan.

Telah Kami utus para rasul dengan membawa tanda-tanda, dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan mizan, supaya manusia menegakkan keadilan. Dan Kami turunkan pula besi yang mengandung bahaya dan manfaat bagi manusia” (QS. Al-Hâdîd [57]: 25).

Ayat di atas tidak berbicara tentang hidayah dan diturunkannya cahaya, tetapi menyinggung sebagian undang-undang keduniawian, yang bila dilaksanakan, akan menciptakan keadilan di tengah masyarakat. Undang-undang yang diperuntukkan bagi manusia ini dibawa para nabi dan bagian dari risalah mereka. Ini berarti bahwa agama memerhatikan aspek duniawi kehidupan manusia.
Penjelasannya, kata “kitab” dalam ayat di atas tidak hanya berkaitan dengan hukum individual dan ibadah saja, tetapi juga mencakup hukum sosial. Sebab, di akhir ayat disebutkan bahwa ditegakkannya keadilan oleh manusia disebut sebagai tujuan diturunkannya “kitab”. Antara dua hal ini terdapat kaitan yang amat erat. Andai “kitab” tidak mengandung hukum duniawi dan hanya hukum ukhrawi, maka kaitan ini akan hilang.
Selain itu, penyebutan “besi” (simbol kekuatan dan pidana) dalam ayat tersebut, adalah bukti lain bahwa “kitab” mengandung hukum-hukum sosial dan pidana bagi para pelanggar. Sebab, ancaman dengan pedang menunjukkan bahwa hukuman akan dijatuhkan di dunia, sebagaimana halnya manfaat dari pedang juga diperoleh di dunia ini.
Kesimpulannya, ayat di atas setidaknya menegaskan bahwa aturan tentang urusan duniawi manusia termasuk dari program kenabian, dan bahwa para nabi tak hanya diutus untuk memberi wejangan moral saja. Banyak ayat yang memerintahkan Nabi Saw., dan juga kaum Muslim, untuk bertindak adil dalam setiap masalah ekonomi dan sosial.

Jika kalian memutuskan (suatu urusan) di tengah manusia, maka berilah keputusan yang adil” (QS. Al-Nisâ` [4]: 58).

Jika kau memutuskan (suatu urusan), berilah keputusan yang adil di antara mereka” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 42).

Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil” (QS. Al-An`âm [6]: 152).

Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil” (QS. Hûd [11]: 85).

Dua ayat pertama (yang berkaitan dengan masalah pengadilan) dan dua ayat terakhir (yang berhubungan dengan masalah ekonomi), menghimbau Nabi Saw. dan manusia untuk menegakkan keadilan. Ayat di bawah ini menegaskan kaitan antara posisi kenabian dan penegakan keadilan di tengah masyarakat.

Setiap umat memiliki rasul. Maka, bila rasul mereka telah datang, dia akan menghakimi dengan adil dan tidak menzalimi mereka” (QS. Yûnus [10]: 47).

Ayat ini secara jelas menyebut hubungan tak terpisahkan antara pengutusan setiap nabi kepada suatu umat dan penegakan keadilan di tengah mereka.

Kebebasan Sosial
Sepanjang sejarah, kalangan minoritas yang berkuasa selalu mengeksploitasi mayoritas masyarakat dan menganggap diri mereka memegang kuasa atas jiwa dan harta mereka. Tak jarang para pemikir dan filosof ternama mendukung sikap ini dengan pandangan-pandangan filsafat politik; seperti Aristoteles dengan pandangan hak naturalnya, dan Plato dengan pandangan pemerintahan kaum bangsawannya. Namun, para nabi berjuang melawan para penguasa zalim pada masa mereka dan meminta mereka menghormati hak dan kebebasan rakyat serta menghentikan penindasan. Berikut adalah beberapa contoh dari perjuangan para nabi.
Al-Quran menegaskan bahwa Allah telah mengutus nabi kepada setiap umat. Tujuannya adalah mengajak mereka menyembah-Nya dan menentang penguasa taghut ’zalim’:

Dan Kami telah utus rasul kepada setiap umat (untuk mengatakan), “Sembahlah Allah dan jauhilah taghuť” (QS. Al-Nahl [16]: 36).

Nabi Saw mendorong umat Islam untuk membebaskan manusia dari cengkeraman penguasa zalim, meski harus dengan cara berperang. Beliau mencela sikap diam dan tak acuh terhadap persoalan ini:

Mengapa kalian tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekkah) yang zalim penduduknya” (QS. Al-Nisâ` [4]: 75).

Al-Quran mengabarkan banyaknya nabi yang dibunuh oleh para penentang mereka:

Dan mereka membunuhi para nabi secara zalim” (QS. Al-Baqarah [2]: 61; Al-Nisâ` [4]: 155).

Ayat lain memberitakan pertikaian para pengikut nabi-nabi sepanjang sejarah dengan para musuh mereka. Permohonan mereka dari Allah adalah keteguhan langkah dan kemenangan atas kaum kafir:

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan, “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” (QS. Âl ‘Imrân [3]: 146-147).

Jelas bahwa mereka dibunuh oleh para penguasa zalim pada masa itu atau atas persetujuan mereka. Ini menunjukkan bahwa para nabi selalu berjuang menentang penguasa lalim.

Nabi Musa as: Firaun menindas rakyatnya, terutama Bani Israil. Untuk membebaskan diri dari kezalimannya, rakyat mencari figur seorang pemimpin. Allah lalu menugaskan Nabi Musa as. untuk mengemban tanggung jawab ini. Beberapa ayat Al-Quran menegaskan perintah Allah kepada beliau dan Nabi Harun as, seraya menyebutkan bahwa perintah ini dilatarbelakangi kezaliman Firaun:

Pergilah menemui Firaun, sesungguhnya ia telah berbuat sewenang-wenang” (QS. Al-Nâzi`ât [79]: 17).

Ayat lain menjelaskan lebih banyak tentang kesewenang-wenangan Firaun:

Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya terpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qashash [28]: 4).

Nabi Musa as. yang terobsesi untuk membebaskan Bani Israil dari kezaliman Firaun, memerintahkan mereka untuk bersabar dan meniupkan di hati mereka harapan terwujudnya pemerintahan yang adil. Beliau berdalil bahwa bumi dan kekuasaan adalah milik Allah yang akan dikaruniakan kepada siapa pun yang Ia kehendaki:

Musa berkata kepada kaumnya, mintalah tolong kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi ini adalah milik Allah dan Dia akan mewariskannya kepada hamba-hamba-Nya, dan akhir yang baik diperuntukkan bagi orang-orang bertakwa” (QS. Al-A`raf [7]: 128).

Nabi Musa as. secara terbuka meminta Firaun untuk menyerahkan Bani Israil kepadanya dan berhenti menzalimi mereka:

Utuslah Bani Israil bersama kami dan jangan siksa mereka” (QS. Thâhâ [20]: 47).

Nabi Yahya as: Ia selalu menentang tindakan amoral dan kelaliman penguasa pada waktu itu, yaitu Herodus. Lantaran terus ditentang dan merasa terancam, akhirnya Herodus menangkap dan membunuhnya.

Nabi Isa as: Meski dikenal sebagai nabi perdamaian, namun ia menyatakan bahwa tujuan pengutusannya adalah membela kaum tertindas dan membebaskan para budak.

Ruh Tuhan bersamaku, sebab Dia telah mengusapku untuk membawa berita gembira kepada kaum fakir, mengutusku untuk menyembuhkan hati mereka yang terluka, membebaskan tawanan, menasehati mereka yang berhati buta, dan memerdekakan para budak.

Nabi Isa as. berjuang melawan kaisar di masa itu (Herodus) dan tak gentar terhadap ancamannya. Beliau menyebut Herodus sebagai seekor rubah. Kepada orang-orang Farisi, beliau berkata:

Katakan kepada rubah itu bahwa hari ini atau besok aku akan mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, dan aku akan sempurna pada hari ke-30. Tapi, akan datang hari ini, besok, dan lusa dimana aku harus pergi, sebab mustahil seorang nabi terbunuh di luar Yerusalem. Wahai Yerusalem! Yerusalem yang telah membunuhi para nabi dan rasulmu sendiri. Berkali-kali aku ingin mengumpulkan kanak-kanakmu, seperti induk ayam yang melindungi anak-anaknya di bawah sayap, tapi kau tidak mengabulkan permintaanku.

Ketika mendengar perintah pengejaran dan penangkapannya, ia memutuskan untuk mengangkat senjata. Ia menyuruh para sahabatnya (Hawariyun) untuk mempersiapkan senjata, namun mereka menolak.

Sekarang, siapa pun yang memiliki kantong dan tempat perbekalan, hendaknya segera mengambilnya. Siapa pun yang tak memiliki pedang, seyogianya menjual pakaiannya dan membeli pedang.

Dalam Injil, terdapat penyelewengan ucapan Nabi Isa as. terkait ketaatan kepada kaisar dan pemerintah pada masa itu, serta hal-hal yang menyiratkan bahwa beliau menjauhi politik. Namun, penyelewengan ini tak luput dari mata para peneliti.

Nabi Muhammad Saw: pada masa beliau, tak ada pemerintahan yang berkuasa di Semenanjung Arab. Sebagian besar kekuasaan diatur secara kesukuan. Kaum bangsawan dan hartawan mengeksploitasi kalangan bawah atau memaksa para budak melakukan kerja rodi. Beliau mengumumkan risalahnya di tengah masyarakat semacam ini dan mendapat sambutan dari kalangan tertindas, sehingga menimbulkan kekhawatiran kaum bangsawan Makkah. Mulanya, para pemuka Quraisy berupaya membujuk-rayu Nabi Saw. untuk berkompromi dan meninggalkan dakwahnya. Ketika usaha ini gagal, mereka merancang pembunuhan beliau, yang kembali gagal lantaran ia mengetahuinya melalui wahyu Allah. Beliau akhirnya terpaksa hijrah ke Madinah guna melindungi jiwanya.
Al-Quran menyebut pembebasan manusia dari belenggu Jahiliyah sebagai salah satu tujuan pengutusan Nabi Saw.:

Dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka” (QS. Al-A`râf [7]: 157).

Beliau sendiri, dalam suratnya kepada penduduk Najran yang beragama Kristen, menyebutkan bahwa tujuan risalahnya adalah membebaskan manusia dari penghambaan terhadap sesama dan membawa mereka kepada penyembahan terhadap Allah.

Amma ba`du, sesungguhnya aku mengajak kalian untuk menyembah Allah dan meninggalkan penyembahan terhadap sesama manusia. Aku menyeru kalian untuk menaati Allah dan meninggalkan ketaatan kepada manusia.”

Dalam riwayat lain, Nabi Saw. menyebut perlawanan terhadap para penguasa dunia sebagai motif pengutusannya:

Allah mengutusku untuk memerangi semua penguasa (zalim) dunia.

Riwayat-riwayat lain dari para imam as. juga menegaskan hal yang sama.
Poin yang perlu dicamkan terkait risalah para nabi melawan kezaliman adalah peringatan Allah kepada mereka untuk tidak balik menindas manusia setelah berhasil menggulingkan penguasa lalim, seperti yang sering terjadi pasca kebanyakan revolusi dan kudeta.

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia, “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku, bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata), “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Al Ίmrân [3]: 79).

Menyelesaikan Pertikaian Publik dan Pemerintahan
Salah satu karakteristik dunia adalah adanya perselisihan antar manusia dengan beragam sebab. Penyelesaian masalah ini adalah tugas lembaga yudikatif. Di sisi lain, ada kemungkinan pihak terdakwa tidak bersedia menerima keputusan hakim, yang berarti perlu langkah-langkah praktis untuk menanggulangi hal ini.
Pola pandang Al-Quran kepada kenabian tidak terbatas pada satu dimensi saja. Ia tak hanya meminta mereka berdakwah, tetapi juga menyelesaikan pertikaian antar manusia. Dengan kata lain, Allah menghendaki supaya para nabi juga terjun ke wilayah pengadilan.

Dan Dia menurunkan bersama mereka kitab dengan kebenaran untuk menghakimi apa yang diperselisihkan manusia” (QS. Al-Baqarah [2]: 213).

Ayat di atas secara jelas menyebut penyelesaian pertikaian manusia sebagai (salah satu) tujuan diturunkannya kitab samawi.
Ayat lain memerintahkan manusia untuk merujuk kepada keputusan Allah dan rasul-Nya dalam setiap pertikaian.

Bila kalian berselisih dalam suatu urusan, maka merujuklah kepada Allah dan rasul-Nya, jika kalian memang beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya” (QS. Al-Nisâ` [4]: 59).

Ayat di atas tak hanya menyuruh manusia merujuk kepada keputusan nabi saja, tetapi juga menyebutnya sebagai syarat iman kepada Allah dan hari kiamat. Ayat yang lain menekankan penyelesaian semua perselisihan melalui hukum ilahi:

Apa pun yang kalian perselisihkan, maka keputusannya ada di tangan Allah” (QS. Al-Syûrâ [42]: 10).

Dalam tiga ayat di atas, ada dua jenis perintah. Perintah pertama ditujukan kepada para nabi untuk menyelesaikan pertikaian manusia. Perintah kedua diperuntukkan bagi manusia untuk merujuk kepada para nabi dalam menyelesaikan masalah. Poin yang patut diperhatikan adalah terdakwa sering tidak puas atas keputusan pengadilan dan mungkin menuduhnya tidak adil. Meski demikian, kemungkinan bahwa manusia tidak puas dengan keputusan Allah dan rasul-Nya tidak membuat Allah melarang para nabi bertindak sebagai hakim. Padahal, alasan inilah (menjaga sakralitas agama) yang sering dilontarkan kaum sekular untuk mencegah agama memasuki pentas politik dan pemerintahan.
Berikut adalah dua ayat lain yang menyebut penyelesaian pertikaian manusia sebagai bagian dari misi kenabian:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu” (QS. Al-Nisâ` [4]: 105).

Manusia itu adalah umat yang satu, (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan” (QS. Al-Baqarah [2]: 213).

Dalam ayat-ayat ini, Al-Quran dan kitab-kitab samawi lain tidak dideskripsikan sebagai kitab petunjuk. Ayat-ayat di atas bahkan menyebut falsafah duniawi dari pengutusan nabi, yaitu menyelesaikan pertikaian manusia berdasarkan standar kitab samawi. Hal ini bukan saja bagian dari program kenabian, tetapi juga merupakan tujuan diturunkannya kitab samawi. Beberapa riwayat juga menyebut perhatian kepada masalah dunia sebagai salah satu sebab keniscayaan pengutusan nabi. Sebagai contoh, Imam Ridha as. menerangkan bahwa ajaran tentang manfaat dan bahaya sesuatu adalah salah satu faktor keberadaan nabi:

Rasulullah mesti memberikan perintah dan larangannya kepada manusia, serta memberitahu tentang apa yang berguna dan berbahaya bagi mereka. Sebab, mereka sendiri tidak tahu apa yang mereka butuhkan.

Oleh karena itu, sebagian ulama seperti Qadhi Abduljabbar (w. 415 H), Ibnu Maitsam Bahrani (w. 699 H), Fadhil Miqdad (w. 826 H), Allamah Thabathabai dan Syahid Muthahhari menyebut penyelesaian urusan duniawi manusia sebagai bagian dari esensi kenabian.
Penulis tafsir Al-Mîzân mendefinisikan nabi sebagai orang yang menerangkan maslahat dunia dan akhirat kepada manusia. Ya, tujuan utama dan pokok dari penciptaan manusia dan pengutusan para nabi adalah perhatian manusia kepada maqam-maqam spiritual. Menurut Al-Quran, derajat paling tinggi maqam ini adalah qôba qousain (sejarak dua busur). Pembuatan syariat dan pembentukan pemerintahan bertujuan mengantarkan manusia menuju kedekatan ilahi. Disebutkannya ‘akhirat’ di samping ‘Allah’ sebagai falsafah kenabian pun adalah sebuah toleransi. Sebab, akhirat (baik surga atau nerakanya) bukan falsafah kenabian, tetapi nilai-nilai bagi manusia (bertipe) budak atau pedagang. Oleh karena itu, keyakinan bahwa Al-Quran mengutamakan tujuan yang paling agung (yaitu kedekatan dengan Allah) di atas hal-hal lain tidak bertentangan dengan penyebutan masalah-masalah duniawi (dalam Al-Quran), yang merupakan bagian dari tujuan kenabian. Ini seperti yang ditegaskan oleh Imam Khomeini, “Semua (ajaran) yang dibawa para nabi bukanlah tujuan utama mereka. Pun membentuk pemerintahan bukan target utama (para nabi).”

Oleh karena itu, dari satu sisi, penyebutan ajaran Al-Quran perihal masalah duniawi sebagai “perkara sekunder”, memang benar dan sesuai dengan fakta. Bazargan juga mengatakan hal yang sama:

Tujuan kenabian adalah Allah dan akhirat. Namun, untuk mewujudkan dua hal ini, kekuasaan dan pemerintahan harus ada di tangan kaum Muslim.

Hanya saja, yang menjadi perdebatan di sini adalah sumber legalitas pemerintahan di atas. Dia berpendapat bahwa legalitasnya berasal dari rakyat, tak terkecuali pemerintahan Nabi Saw. Kekeliruan pandangan ini akan pada beberkan di halaman-halaman berikut.

Poin Penting
Mencermati arti tujuan akan membawa kita kepada suatu kesimpulan bahwa keadilan dan pemerintahan adalah tujuan bagi agama dan kitab samawi tidak berarti bahwa ketika pemerintahan dibentuk oleh nabi dan penerusnya, maka mereka memerintah berasaskan kitab samawi. Tetapi arti tujuan di sini adalah bahwa manusia mesti berupaya semaksimal mungkin untuk mewujudkan tujuan ini. Oleh karena itu, dalam ayat-ayat di atas, seraya mengingatkan bahwa penegakan keadilan sosial adalah bagian dari tujuan kitab samawi, Allah juga mendorong para nabi dan pengikut mereka untuk mewujudkan tujuan-tujuan ini. Oleh karena itulah, para nabi terdahulu melawan para penguasa pada zaman mereka. Nabi Saw. sendiri pun meletakkan fondasi pemerintahan Islam di Madinah dalam kesempatan pertama, dan mengendalikannya sepanjang hayat beliau. Bersambung

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.