Fi Zhilal Al-Qur’an, Tafsir Modern dengan Orientasi Pergerakan

 

TAFSIR-QURAN.COM–Sudah seharusnya setiap umat Islam membaca buku tafsir ini. Isinya yang mendalam dengan kandungan hujjah yang kuat, serta bahasa yang menyentuh hati, menjadikan buku ini layak untuk dijadikan referensi panduan hidup menuju arah yang diridhai Allah SWT.

Demikian rekomendasi Prof. Dr. Din Syamsuddin dalam mengenalkan nilai dan arti penting adikarya tafsir Sayyid Qutb, Fi Zhilal al-Qur’an. Judul yang berarti “Di Bawah Naungan Alquran” ini sudah populer di tanah air dan berhasil diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Sebelumnya, tafsir abad mutakhir ini juga sudah diterjemahkan ke Inggris, Urdu, dan banyak bahasa lainnya. Termasuk yang patut dibanggakan masuk dalam jajaran penerjemah tafsir Sayyid Qutb ialah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Revolusi Islam Iran sekarang, dua jilid pertama ke dalam bahasa Persia. Aneka bahasa terjemahan ini menunjukkan pengaruh dan pentingnya tafsir ini di kalangan ulama berbagai bangsa dan bahasa.
 

Baca juga: Sayyid Qutb: Mufasir yang Mencita-citakan Negara Islam
Baca juga: Mufassir Perempuan (2): Banu Mujtahidah Isfahani Dari Persia
Baca juga: Mufassir Perempuan (1): Bintu Syathi Dari Mesir
 

Karya Ilmiah
Masih relevan kiranya menengok sepintas karya-karya ilmiah Sayyid Qutb untuk membantu mendudukkan posisi karya tafsirnya ini. Ia seorang yang sangat produktif dalam mengisi khazanah keislaman. Banyak sekali karya-karyanya sebagai sumbangsihnya dalam membumikan Islam di dunia ini, terlebih di era kontemporer. Bahkan di dalam penjara, ia juga tetap menulis dan menghasilkan buku-buku dan tafsir. Di antara karya-karyanya adalah berikut ini:

Fi Zhilal Al-Qur’an. Merupakan salah satu kitab tafsir yang berpengaruh kuat di era modern ini. Yang sangat menonjolkan akan pergerakan Islam. Tafsir ini ia selesaikan dalam penjara.
Hadza Din
Al-Mustaqbal li Hadza Ad-Din
Khasha’ish al-Tashawwur al-Islami
Ma’alim fi al-Thariq
Al-Tashwir Al-Fanni fi Al-Qur’an
Musyahadat Al-Qiyamah fi Al-Qur’an
Al-Islam wa Musykilat Al-Hadharah
Al-Adalah Al-Ijtima’iyyah fi Al-Islam
Al-Salam Al-Alami wa Al-Islam
Kutub wa Syakhshiyyat
Asywak
Al-Naqdil Adabi Ushuluhu wa Manahijuhu
Nahwa Al-Mujtama’ Al-Islami
Thiflun min Al-Qaryah
Al-Athyaf Al-Arba’ah

Dan Lain-Lain[9]

Pemikiran
Dalam kitabnya yang berjudul, Sayyid Qutb: Khulâshatuhu wa Manhâju Harakatihi, Muhammad Taufiq Barakat membagi fase pemikiran Sayyid Qutb menjadi tiga tahap: (a) fase pemikiran sebelum mempunyai orientasi islami; (b) fase mempunyai orientasi islam secara umum; dan (c) fase pemikiran berorientasi Islam militan.

Pada fase ketiga inilah Sayyid Qutb sudah mulai merasakan adanya resistensi dan muak terhadap westernisme, kolonialisme, juga terhadap rezim penguasa Mesir. Masa-masa inilah yang kemudian menjadikan dirinya aktivis dalam memperjuangnkan Islam dan menolak segala bentuk westernisasi yang tempo itu sering digembor-gemborkan oleh para pemikir muslim lainnya yang inferior di baah prestasi budaya Barat.

Dalam pandangannya, Islam adalah way of life yang komprehansif. Islam adalah ruh kehidupan yang mengatur sekaligus memberikan solusi atas problem sosial.

Alquran oleh umat Islam diyakini sebagai referensi primer dalam pengambilan hukum maupun mengatur pola hidup masyarakat karena telah dianggap sebagai prinsip utama dalam Islam, maka sudah menjadi sebuah keharusan jika Alquran dapat mengatasi berbagai problema yang muncul.
 

Baca juga: Sejarah Penerjemahan Alquran Di Indonesia
Baca juga: Sekilas Kitab-Kitab Tafsir Indonesia
Baca juga: Masuk Islam Karena Alquran (2): Gary Miller, Profesor Kanada Yang Tadinya Menantang Dan Mencari-Cari Kesalahan
 

Berdasar atas asumsi itulah Sayyid Qutb mencoba melakukan pendekatan baru dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran agar dapat menjawab segala macam bentuk permasalahan. Pemikiran fundamental Sayyid Qutb ialah keharusan kembali kepada Allah dan kepada tatanan kehidupan yang telah dideskripsikan dalam Alquran bagi manusia yang menginginkan sebuah kebahagiaan, kesejahteraan, keharmonisan dan keadilan dalam menempuh dan mengelola kehidupan dunia ini.

Meski tidak dipungkiri bahwa Alquran telah diturunkan berabad-abad lamanya di zaman Rasulullah; menggambarkan kejadian masa itu dan sebelumnya sebagaimana yang terkandung dalam kisah-kisah Alquran, namun ajaran-ajaran yang dikandung dalam Alquran adalah ajaran yang relevan: dapat diterapkan di segala tempat dan zaman.

Maka, tak salah jika kejadian-kejadian masa turunnya Alquran dianggap sebagai cetak biru perjalanan sejarah umat manusia pada fase berikutnya. Dan tidak heran pula jika penafsiran-penafsiran yang telah diusahakan oleh ulama terdahulu perlu disesuaikan kembali dalam masa sekarang.

Berangkat dari itu, Sayyid Qutb mencoba membuat terobosan terbaru dalam menafsirkan Alquran; berangkat dari realitas masyarakat yang kemudian meluruskan apa yang dianggap tidak sesuai dengan yang tejadi dalam realitas tersebut. Dan inilah Fi Zhilal Al-Qur’an hasil inovatifnya.

Motivasi Penulisan Tafsir
Di pengantarnya, Sayyid Qutb mengemukakan kesan-kesanya hidup di bawah naungan Alquran; nikmat dan karunia yang tidak diketahui kecuali oleh yang telah merasakanya. Ia merasa dekat: mendengar dan berbicara dengan Allah melalui Alquran. Hidup di bawah naungan Alquran, Sayyid Qutb merasakan keselarasan yang indah antara gerak manusia sebagaimana kehendak Allah dengan pergerakan alam ciptaan. Ia melihat kebinasaan yang akan menimpa umat manusia akibat penyimpangan dari hukum alam. Ia menyaksikan benturan yang keras antara ajaran-ajaran rusak yang didektekan padanya dan fitrah yang telah ditetapkan Allah dalam dirinya.

Kondisi Mesir masa itu sedang kacau ketika Sayyid Qutb telah kembali dari perjalanannya menempuh ilmu di Barat. Saat itu, Mesir sedang mengalami krisis politik yang mengakibatkan terjadinya kudeta militer pada Juli 1952. Dalam situasi itulah Sayyid Qutb mulai mengembangkan pemikirannya yang lebih mengedepankan kritik sosial dan politik.
 

Baca juga: QS. Al ‘Imran [3]: 139, Tidak Unggul, Maka Tidak Beriman
Baca juga: QS. Al-Muzammil [73]: 15; Bunuh Fir’aun Dulu, Baru Memimpin
Baca juga: QS. Al-Takwir [81]: 5; Menjadi Manusia Buas
 

Oleh karena itu, tampak upaya-upaya yang dilakukan Sayyid Qutb dalam tafsirnya lebih cenderung mengangkat tema-tema sosial politik. Dalam tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an, ia lebih cenderung membahas konsep negara Islam sebagaimana yang didengungkan oleh pengikut Ikhwan al-Muslimin lainnya seperti Hasan Al Banna dan Abu A’la Al-Maududi.

Secara singkat, sebenarnya Sayyid Qutb mulai menulis tafsirnya atas permintaan rekannya bernama Dr. Said Ramadhan yang merupakan redaksi majalah al-Muslimun yang ia terbitkan di Kairo, Mesir dan Damaskus, Suriah. Dia meminta Sayyid Qutb untuk mengisi rubrik khusus mengenai tafsir Alquran yang akan dimuat satu kali dalam sebulan.

Sayyid Qutb menyambut baik permintaan rekannya itu dan mengisi rubrik tersebut yang kemudian diberi nama Fî Zhilal Al-Qur’an. Adapun tulisan pertama yang dimuat adalah tafsir surah al-Fâtihah dan berlanjut dengan surah al-Baqarah.

Namun, hanya beberapa edisi saja tulisan itu berlangsung. Selanjutnya, Sayyid Qutb berinisiatif menghentikan kepenulisan itu dengan maksud akan menyusun satu kitab tafsir sendiri yang diberi nama Fî Zhilâl Al-Qur’an, sama dengan rubrik yang ia asuh.

Karya ini diterbitkan oleh penerbit al-Bâb al-Halabi. Akan tetapi, penulisan tafsir tersebut tidak langsung serta merta dalam bentuk 30 juz. Setiap juz terbit dalam dua bulan sekali dan ada yang kurang dalam dua bulan, sementara juz yang tersisa ia selesaikan semasa berada dalam tahanan.

Sistematika dan Ciri Khas
Tafsir Sayyid Qutb ini disusun secara analitik (tahlili). Ia memulai penafsiran suatu surah dengan memberikan gambaran ringkas kandungannya yang akan dikaji secara rinci. Dalam surah Al-Fatihah, misalnya, Sayyid Qutb mengemukakan bahwa dalam surah ini tersimpul prinsip-prinsip akidah Islam, konsep-konsepsi Islam dan pengarah-pengarahnya yang mengidentifikasi hikmah. Dipilihnya surat ini karena bacaan yang diulang-ulang dalam setiap rakaat shalat serta tidak sahnya shalat tanpa membacanya. Setelah itu, ia memperinci penafsiran ayat demi ayat. Metode ini ia ikuti dalam menafsirkan surah yang lain.

Dalam menafsirkan surah yang panjang, Sayyid Qutb mengelompokkan sejumlah ayat sebagai kesatuan, sesuai dengan pesan yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut. Dalam menafsirkan surah Al-Baqarah, misalnya, ia menetapkan ayat 1 s/d ayat 29 sebagai bagian pertama pembahasan. Selanjutnya, ia menafsirkan ayat 30-39, ayat 40-74, ayat 75-103, demikian seterusnya. Dibandingkan dengan pengelompokan Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar, pengelompokan Sayyid Qutb relatif lebih besar.

Di samping menggunakan ayat-ayat Alquran, Sayyid Qutb juga menggunakan hadis Nabi SAW sebagai penjelas. Di sebagian tempat, ia menyebut perawi pertama dan terakhir, tanpa menyertakan rangkaian sanadnya secara lengkap. Terkadang ia hanya menyebutkan perawi terakhirnya. Misalnya, hadis tentang keharusan membaca surah Al-Fatihah yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Kemudian ia melengkapi tafsirnya dengan perkataan sahabat. Misalnya, perkataan Umar tentang permohonan suaka penduduk Iraq, yaitu terkait surah Al-Baqarah, ayat 100 tentang menepati janji. Ia juga mengutip pendapat ulama terdahulu, misalnya dari tafsir Ibn Katsir mengenai peristiwa Baiat Aqabah, atau dari Al-Bidayah wa Al-Nihayah tentang lamanya Nabi SAW tinggal di Makkah selama 10 tahun.

Sayyid Qutb menekankan analisis munasabah, keseimbangan, dan keserasian dalam surah. Misalnya, uraian tentang Nabi Musa a.s. diikuti dengan uraian tentang Bani Israil, persesuaian antarpembukaan surah dengan penutupnya, seperti tampak dalam surah Al-Baqarah, dimana ia mengutarakan sifat-sifat orang beriman dan karakteristik orang beriman. Yang tak kalah penting, ia menekankan analisis rasional.

Metode Tafsir
Bisa dikatakan bahwa tafsir Fî Zhilal Al-Qur’an termasuk salah satu kitab tafsir yang mempunyai terobosan baru dalam penafsiran Alquran. Karena, selain mengusung pemikiran-pemikiran kelompok yang berorientasi kejayaan dan superioritas Islam, juga tafsir Sayyid Qutg juga mempunyai metodologi khas dalam menafsirkan Alquran, di antaranya mengesampingkan pembahasan yang tampaknya kurang begitu penting.
 

Baca juga: QS. Al-Ikhlas [112]: Ayat 3, (1) Konsekuensi Tauhid
Baca juga: QS. Al-Ikhlas [112]: Ayat 3; (2) Wahdat Al-Wujud Dan Komitmen Beragama
 

Salah satu yang keunikan corak penafsiran ini adalah mengetengahkan nilai sastra untuk melakukan pendekatan dalam menafsikan Alquran. Sisi sastra terlihat jelas ketika sekilas saja membaca tafsirnya bahkan di barisan pertama.

Akan tetapi, semua pemahaman gaya bahasa Alquran, karakteristik ungkapan Alquran serta citarasa yang terdapat di dalamnya, semuanya, terpusat untuk menunjukkan fungsi Alquran sebagai hidayah dan sumber petunjuk bagi manusia. Melalui kerangka pemikiran ini diharapkan setiap pembaca Alquran memperoleh manfaat serta hidayah Allah, karena pada dasarnya, hidayah merupakan hakikat dan jantung Alquran itu sendiri. Hidayah juga merupakan esensi dan falsafah Alquran.

Menurut Qutb, Alquran adalah kitab dakwah, kitab undang-undang yang komplet dan hukum kehidupan. Allah telah menjadikannya sebagai kunci bagi segala sesuatu yang masih tertutup dan obat penuntas bagi segala penyakit. Keyakinan ini ia sarikan dari firman Allah, “Dan kami turunkan dari Alquran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…” dan firman Allah. “Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus…

Sejak di baris pertama dari tafsirnya, Sayyid Qutb sudah menampakkan karakterisktik seni yang terdapat dalam Alquran. Dalam permulaan surah Al-Baqarah, misalnya, akan dijumpai bahasa yang dipakai Alquran dalam mengajak masyarakat Madinah dengan gaya yang khas dan singkat. Dengan hanya beberapa ayat saja sudah tampak terbentang gambaran yang jelas dan rinci tanpa harus memperpanjang redaksi kalimat yang, dalam ilmu Balaghah, disebut dengan ithnab, namun gambaran singkat ini tidak mereduksi aspek keindahan dan keserasian irama.

Corak Tafsir
Fi Zhilal Al-Qur’an merupakan tafsir kontemporer dalam memberikan terapi dan solusi berbagai persoalan, mencoba menganai berbagai tuntutan abad modern ini berdasarkan petunjuk Alquran.

Di antara persoalan dan tuntutan abad modern yang paling krusial adalah seputar pemikiran, ideologi, pendidikan, hukum, budaya, peradabaan, politik, psikologi, spritualitas, dakwah dan pergerakan, dalam suatu rumusan kontemporer sesuai dengan tuntutan zaman. Berbagai persoalan ini, di samping persoalan-persoalan lainnya, mendapatkan perhatian yang memadai. Ini membuat tafsir ini terasa actual, apalagi gagasan-gagasan Sayyid Qutb yang tertuang di dalamnya orisinil berdasarkan teks ayat.

Karena itu, Fi Zhilal Al-Qur’an dapat dikatagorikan sebagai tafsir corak baru yang khas dan unik. Tafsir ini juga dapat dikatagorikan sebagai aliran khusus dalam tafsir yang dapat disebut sebagai “tafsir pergerakan”. Sebab, metode pergerakan (al-manhaj al-haraki) yang serius tidak ada didapati selain di tafsir ini. Orientasi pergerakan ini juga tampak konsisten dan pekat dalam karya-karya lain Qutb.

Sebagai tafsir yang lahir belakangan, Fi Zhilal Al-Qur’an juga memanfaatkan kontribusi dan kepustakaan tafsir sebelumnya. Sumber-sumber tafsir ini berbeda dari sumber-sumber tafsir lainnya karena perbedaan karakter dan tujuan. Sumber-sumber itu dirujuk bukan sebagai referensi utama, akan tetapi bersifat sekunder, karena Sayyid Qutb menyebutkannya untuk memberikan contoh dan bukti penguat atas apa yang ia katakan.

Mengenai klasifikasi metodologi penafsiran, Dr. Abdul Hay al-Farmawy, seorang guru besar Tafsir dan Ilmu-ilmu Alquran Universitas al-Azhar, membagi corak tafsir menjadi tiga bentuk: analitik, tematik, global-komparatif (ijmâli muqarin). Dalam kategorisasi ini, corak penafsiran Sayyid Qutb dalam Fî Zhilâl Al-Qur’an ialah tafsir analitik. Artinya, seorang mufasir menjelaskan kandungan ayat dari berbagai aspek dan menjelaskan ayat per ayat dalam setiap surah sesuai dengan urutan yang terdapat dalam mushaf.

Menurut Issa Boullata, seperti yang dikutip oleh Antony H. Johns, pendekatan yang dipakai oleh Sayyid Qutb dalam menghampiri Alquran adalah pendekatan tashwîr (penggambaran), yaitu suatu gaya penghampiran yang berusaha menampilkan pesan Alquran sebagai gambaran pesan yang hadir, yang hidup dan konkret sehingga dapat menimbulkan pemahaman aktual bagi pembacanya dan memberi dorongan yang kuat untuk bertindak dan bekerja. Oleh karena itu, menurut Sayyid Qutb, kisah-kisah dalam Alquran merupakan penuturan drama kehidupan yang senantiasa terjadi dalam hidup manusia. Ajaran-ajaran yang terkandung dalam kisah tidak akan pernah kosong dari relevansi makna untuk dapat diambil sebagai tuntunan hidup. Dengan demikian, segala pesan Alquran akan tetap relevan untuk dibawa ke zaman sekarang.

Mengaca pendekatan tashwir yang dilakukan Sayyid Qutb, bisa dikatakan bahwa Fî Zhilâl Al-Qur’ân dapat digolongkan ke dalam tafsir kesastraan dan kemasyarakatan (al-adabi al-ijtimâ’i), mengingat latar belakangnya sebagai seorang sastrawan hingga ia bisa menyerap keindahan bahasa serta nilai-nilai kandungan Alquran yang kaya gaya bahasa yang sangat tinggi.[dihimpun dari berbagai sumber, utamanya referensi-referensi tulisan dari mustaqimcdr].

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.