Filsafat Alquran (1): Lima Alasan ini Kita Perlu Wahyu dan Nabi

 

TAFSIR-QURAN.COM–Kenapa harus ada nabi? Apa perlunya Allah mengirim seseorang sebagai nabi kepada kita? Apa yang membuat kita di dunia yang sudah maju, berperadaban dan serbacanggih ini masih butuh kepada nabi? Lalu, apa fungsi nabi dan wahyu untuk hidup manusia?

Alquran merangkum falsafah keberadaan nabi dan penurunan wahyu, yakni fungsi nabi dan kebutuhan manusia pada nabi dan wahyu Tuhan, dalam beberapa fokus berikut:

Pertama: mengenalkan Allah agar menjadi hamba-Nya dan keluar dari kekuasaan selain Allah: “Kami telah mengutus dalam setiap umat seorang rasul agar sembahlah Tuhan dan jauhilah taghut” (QS. Al-Nahl [16]: 36).
 

Baca juga: QS. Maryam [19]: Ayat 96; Syarat Menjadi Manusia Rahmatan Lil Alamin
Baca juga: QS. Al-Anbiya’ [21]: Ayat 105; Masa Depan Dunia Dan Pelaku Sejarah Masyarakat
Baca juga: QS. Al Imran [3]: Ayat 169; Jihad Dan Syahid, Dua Ajaran Unik Dan Istimewa
Baca juga: QS. Al-Mursalat [77]: Ayat 15; Dari Membohongi Diri Sendiri Sampai Membohongi Allah
 
Kedua: pencerahan akal dan penyucian jiwa: “Dialah yang telah mengirim di tengah orang-orang ummiy seorang utusan dari mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan kebijaksanaan” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 2).


Nabi SAW: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”

 
Ketiga: menegakkan keadilan sosial: “Sungguh Kami telah mengirim utusan-utusan Kami dengan bukti-bukti dan Kami telah turunkan bersama mereka Kitab dan neraca agar manusia menegakkan keadilan” (QS Al-Hadid [57]: 25).
Keadilan agama dari nabi adalah keadilan Tuhan. Penegakan keadilan bergantung pada pengetahuan manusia akan nilai-nilai keadilan itu sendiri di semua dimensi dan bidang. Keadilan juga dapat ditegakkan dalam kerangka kedaulatan hukum Allah.
Nabi menegakkan keadilan dengan dua aspek sekaligus: menjaga hak bagi pemiliknya dan merebut hak dari perampasnya. Memerangi tindak kejahatan sosial adalah bagian dari penegakan keadilan (lihat QS. Al-Qashash [28]: 77).


“Untuk menghidupkan kembali janji fitrahnya dan membangkitkan kandungan akal” (Ali bin Abi Thalib).

 
Keempat: memutus perkara dan memecahkan perselisihan: “Manusia merupakan umat yang satu, lalu Allah mengutus nabi-nabi sebagai pembawa berita baik dan ancaman, dan Dia menurunkan bersama mereka Kitab dengan kebenaran untuk memutuskan di antara manusia tentang apa yang mereka perselisihkan” (QS. Al-Baqarah [2]: 213).
Tentu, perselisihan manusia itu tidak terbatas pada keyakinan saja, tetapi juga muncul di berbagai aspek dan bidang kehidupan.

Kelima: menyempurnakan bukti Allah memenuhi segenap kebutuhan manusia hingga mereka tidak bisa beralasan lagi di hadapan-Nya: “Rasul-rasul pembawa berita baik dan peringatan agar tidak ada bukti bagi manusia terhadap Allah setelah pengutusan rasul-rasul itu. Sesungguhnya Allah Mahakuat dan Maha Bijaksana” (QS. Al-Nisa’ [4]: 165).

Sebagai Yang Maha Bijaksana, Allah menciptakan manusia dengan tujuan dan maksud yang tidak akan terpenuhi kecuali dengan menata program lengkap untuk semua urusan hidup manusia. Program itu harus sampai kepada dan terjangkau oleh manusia hujjah Allah sempurna atas manusia. Yakni, setiap orang tidak punya lagi alasan untuk mengatakan, “Aku tidak tahu bagaimana seharusnya aku hidup”.[hcf]
 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.