Mengukur Jarak antara Syirik dan Sedekah Laut

 

Apakah Sedekah Laut itu syirik? Ini pertanyaan biasa hari-hari ini. Tapi, apakah Sedekah Laut itu pancasilais? pertanyaan ini malah tidak populer. Apa pun itu, jawaban atas dua pertanyaan ini amat bergantung pada apa itu Sedekah Laut, apa itu syirik dan apa hubungan antara keduanya. Faktanya, sudah ada penindakan terhadap penggelaran budaya nusantara ini oleh sebagian kalangan. Selanjutnya, muncul beragam reaksi antara menentang dan menerima.

Lihat juga:

 

Penindakan dari sebagian kalangan umat Islam terhadap Sedekah Laut tidak kurang kuatnya dengan penentangan yang sudah lama digelar terhadap budaya sesajen. Argumen satu-satunya yang mendorong penentangan mereka hingga pembubaran ritual ini adalah doktrin paling fundamental Islam, yaitu Tauhid. Dalam pandangan mereka, Sedekah Laut merusak asas Tauhid; di dalamnya ada unsur syirik, menyekutukan Allah. Benarkah demikian?

Tidak ada yang keliru dan sepenuhnya benar bahwa esensi Islam terletak pada ajaran Tauhid yang juga menjiwai sila pertama Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa. Pembelaan atas Tauhid merupakan pembelaan atas keutuhan Pancasila. Konsekuensinya, merusak asas ini sama artinya merusak Islam dan ideologi Pancasila. Syirik merupakan salah satu cara paling konkret merusak asas Tauhid dan keesaan Tuhan.

Bila asas Tauhid dan syirik dijadikan dasar argumen untuk menyikapi budaya Sedekah Laut, maka sebelum diambil penilaian dan vonis, perlu dipahami dengan baik apa itu Sekedah Laut, apa itu syirik, dan apa hubungan antara Sekedah Laut dan syirik. Terlampau tergesa-gesa mengambil tindakan bila tidak berpijak di atas pemahaman yang jernih, setidaknya, tentang tauhid dan syirik itu sendiri.

 

TANPA BUKTI ADANYA KUASA DARI ALLAH, MAKA KETAATAN PADA MANUSIA SEAGUNG NABI, TAKZIM PADA BENDA MATI SESUCI KA’BAH, PERSEMBAHAN PADA ALAM SELUAS SAMUDERA, ATAUPUN KEPATUHAN PADA SISTEM HUKUM MENJADI SYIRIK DAN PENYEMBAHAN.

 

Apa Sedekah Laut itu?

Singkatnya, Sedekah Laut atau Labuhan merupakan upacara tradisional yang dilaksanakan tahunan, tepatnya pada bulan Sura (kalender Jawa) bertepatan dengan hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon. Masyarakat yang tinggal di daerah pesisir Pulau Jawa sudah mengenal upacara Sedekah Laut dengan versi beragam. Di Cilacap, misalnya, upacara ini merupakan inisiatif bupati kabupaten pada 1875 dan, sejak tahun 1983, tradisi ini pun diangkat sebagai atraksi wisata.

Sedekah Laut bagi masyarakat awam adalah upacara pembuangan sesaji ke dalam laut atau ke dalam air sungai yang mengalir ke laut. Tradisi ini turun temurun dengan kepercayaan masyarakat sebagai cara memohon perlindungan dan terhindar dari marabahaya selama melaut, juga untuk menyampaikan rasa syukur atas rezeki yang diperoleh.

 

Apakah Syirik itu?

Syirik tidak akan lengkap dipahami tanpa Tauhid. Sederhananya, tauhid yaitu kalimat quranik Lā ilāha illā-Allāh, keyakinan bahwa “Tiada tuhan kecuali Allah”. Dalam Alquran, kalimat negatif ini juga diungkapkan secara afirmatif, misalnya, dalam surah Al-Ikhlas, “Katakanlah bahwa Dia Allah adalah Esa.”

Syirik sama dengan Tauhid: sama-sama percaya ada Tuhan dan menyembah Tuhan. Namun, syirik berkontradiksi dengan tauhid, yakni keyakinan bahwa ada tuhan selain Allah. Syirik yaitu salah menyembah Tuhan. Bentuk kasar syirik tampak dalam politeisme, menyekutukan Allah dan meyakini ada lebih dari satu Tuhan.

Lihat Juga:

 

Dalam definisi syirik di atas, ada tuhan selain Allah yaitu keyakinan seseorang bahwa ada sesuatu selain Allah yang setara dengan-Nya secara mandiri dalam suatu urusan. Ada sejumlah unsur dalam definisi syirik ini:

a. Ada sesuatu selain Allah.
b. Setara dengan-Nya.
c. Secara Mandiri.

Pertama, ada sesuatu selain Allah. Sekedar yakin adanya realitas selain Allah tidak termasuk syirik. Selain Allah pasti makhluk. Keberadaan makhluk adalah akibat dari penciptaan Allah. Orang sufi penganut Kesatuan Ada (wahdatul wujud) pun mengakui keberadaan makhluk dengan catatan: keberadaan makhluk merupakan bayangan Allah.

BAGI PESERTA ADAT YANG TIDAK MENARUH KEPERCAYAAN PADA SUATU KEKUATAN YANG SECARA MANDIRI DAN DENGAN SENDIRINYA BERPENGARUH PADA PERUBAHAN ALAM, IA TETAP SEBAGAI PEMEGANG ASAS TAUHID.

Kedua, setara dengan-Nya. Yakni, sesuatu selain Allah itu diyakini memiliki peran setara dan posisi sebanding dengan peran dan posisi Allah. Sebatas keyakinan ini saja juga tidak termasuk syirik. Mungkin saja makhluk (selain Allah) mengambil peran Allah, misalnya, menciptakan atau mengubah sesuatu. Dalam Alquran disebutkan ada manusia yang berperan menghidupkan benda mati (QS.3:49).

Ketiga, secara mandiri. Artinya, sesuatu selain Allah itu berperan dan menggantikan posisi Allah secara independen dan dengan sendirinya. Dia pada dirinya sendiri dan tanpa bergantung pada Allah sudah bisa mengambil peran dan menggantikan posisi Allah dalam mengadakan, mengubah ataupun mengatur sesuatu.

Unsur kemandirian inilah yang esensial dalam syirik. Syirik-tidaknya suatu perbuatan ditentukan oleh ada-tidaknya unsur ini. Orang yang melakukan suatu perbuatan, semulia apa pun perbuatan itu, dengan keyakinan bahwa perbuatannya terjadi tanpa intervensi Allah, maka dia telah syirik dan menyekutukan Allah. Demikian pula mempercayai gejala alam sebagai faktor yang secara independen dan dengan sendirinya berperan penentu kejadian, perubahan dan nasib adalah juga syirik.

Maka itu, denyut syirik dapat dideteksi berupa keyakinan pada kemandirian apa saja selain Allah. Tidak penting apa dan siapa yang mandiri; bisa makhluk hidup, bisa benda mati, bisa berupa sistem, bisa juga diri sendiri. Orang yang meyakini dirinya bisa menghendaki atau melakukan sesuatu secara mandiri, independen, dengan dirinya sendiri, tanpa pengaruh apa pun dari Allah, dia sudah musyrik. Dengan kata lain, orang itu sudah menuhankan dirinya sendiri sejajar di sisi Allah.

Dengan demikian, makna Tauhid juga jelas, yaitu keyakinan bahwa Allah Dialah satu-satunya Tuhan yang berperan secara mandiri dan berpengaruh dengan Sendiri-Nya dalam mengadakan, menjadikan, mengubah dan mengatur apa saja. Penegasan “satu-satunya” sekaligus menafikan syirik atau kemandirian apa saja selain Allah.

 

DENYUT SYIRIK DAPAT DIDETEKSI BERUPA KEPERCAYAAN PADA KEMANDIRIAN APA SAJA SELAIN ALLAH, ENTAH MAKHLUK HIDUP, BENDA MATI ATAUPUN SISTEM HUKUM, BAHKAN DIRI SENDIRI.

 

Dengan pengertian ini, berubah dari syirik jadi tauhid, keluar dari menyekutukan Allah dan masuk ke mentauhidkan Allah sangat dan sangat sederhana, yaitu hanya menghapus kemandirian dan menghilangkan status “dengan dirinya sendiri” dari apa saja selain Allah. Dengan demikian, kita dibenarkan mempercayai apa saja, termasuk diri kita sendiri, yang mengambil peran Allah dan menempati posisi-Nya dalam hal apa saja dengan catatan: tidak secara mandiri dan tidak pada dirinya sendiri, tetapi dengan izin dari Allah.

Atas dasar ini, Muslim dididik agar beriman pada makhluk yang mengambil peran Allah dan menempati posisi-Nya dalam menciptakan, mengatur alam, termasuk mengatur pikiran, memerintah dan menentukan kehendak masyarakat manusia dengan catatan: sejauh makhluk itu terbukti diizinkan dan diberi kuasa oleh Allah sendiri.

Apa saja, entah manusia atau benda mati, jika terbukti mendapatkan izin dan restu Allah untuk ditaati dan diberi hak sujud dan penghormatan, maka ketaatan dan sujud di hadapannya justru ibadah, penyembahan pada Allah dan implementasi asas Tauhid. Dengan izin Allah menunjukkan bahwa makhluk dan benda itu sendiri tidak ada artinya, tidak ada apa-apanya, sama sekali.

Sebaliknya, tanpa bukti atas adanya izin dan kuasa dari Allah, maka ketaatan pada manusia semulia nabi, penghormatan pada benda mati sesuci Ka’bah, persembahan pada alam, ataupun kepatuhan pada sistem menjadi syirik dan penyembahan. Berziarah ke makam, bertawasul kepada manusia suci, bertabaruk dengan sesuatu, dan meminta doa dari orang alim hanya akan menjadi syirik dan penyembahan jika didasari keyakinan bahwa mereka ini secara mandiri dan dengan sendirinya bisa memberi berkah, kebaikan dan keberuntungan.

Lihat juga:

 

Kembali ke pertanyaan di muka: apakah Sedekah Laut itu syirik ataukah tidak? Bagi Muslim dan penganut Ketuhanan yang Maha Esa, pertanyaan ini penting dalam kaitannya secara langsung dengan agama dan ideologinya.

Bila dua pengertian dari Sedekah Laut dan syirik di atas itu diterima, maka sebagian besar jawaban tergantung pada kesadaran yang mendasari pelaksanaannya: apakah di balik penyelenggaraan dan tujuan upacara itu ada kepercayaan pada apa saja selain Allah yang diyakini secara mandiri, yakni dengan sendirinya, merupakan penyebab kejadian ataukah tidak ada.

Sebangun dengan pertanyaan ini, sepertinya tidak ada hubungan transparan antara menyelenggarakan upacara Sedekah Laut dan menyekutukan Allah. Setidaknya, bagi peserta adat yang tidak menaruh kepercayaan pada adanya suatu kekuatan yang secara mandiri dan dengan sendirinya berpengaruh pada perubahan alam, ia tetap sebagai pemegang asas Tauhid dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kalaupun ada masalah dalam mengekspresikan ketauhidan mereka, tidak pantas direaksi berlebihan dengan kekerasan ujaran berupa tuduhan syirik atau kekerasan aksi berupa pembubaran, tetapi diberi penjelasan dan pelurusan rasional.

Dengan pertanyaan ini pula kiranya perlu merekonstruksi pemahaman sebelum menilai dan bertindak. Bila pemahaman itu hendak dibangun dalam konstruksi suatu agama, maka acuannya adalah sumber otentik agama tersebut. Status suatu tradisi apakah sesuai tauhid ataukah syirik, islami ataukah sinkretis, tidak setepatnya ditentukan dengan semata-mata karena warisan budaya leluhur atau karena mengandung istilah keagamaan, juga tidak bisa dipastikan bidah atau tidaknya hanya karena tradisi itu dikenal-tidaknya sepanjang masa penurunan wahyu.[AFH]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.