Pendidikan Nasional Dungu dan Sontoloyo

 

Bersama tokoh agama, pejabat publik dan elite politik, media bertanggung jawab terdepan dalam membangun kesopanan dan keberadaban dalam narasi politik, sepadan dengan kewibawaan jabatan yang diduduki dan kehormatan artibut yang dikenakan.

Pekan ini, sastra bahasa dan narasi politik nasional mendapatkan kontribusi tambahan sekelas kata sontoloyo, melengkapi klasmen dungu, hajar, kampret, cebong, bangsat. Uniknya, dalam situasi yang cenderung polarisasi dan saling menegasi, sontoloyo justru jadi ajang koalisi dua kubu: mulai dari rezim sontoloyo, politikus sontoloyo, kelompok sontoloyo sampai kebijakan sontoloyo. Di balik saling serang, mereka berimbang semangatnya dalam bekerja sama membudayakan kata ini ditiru publik. Karena itu, potensi penyebaran dan adaptasinya lebih kuat di memori bangsa.

 

SALING MENGEJEK TIDAK AKAN DIMENANGKAN KECUALI OLEH PIHAK YANG PALING KOTOR EJEKANNYA.”
— Ali bin Abi Thalib

 

Artinya, ke depan sulit diantisipasi sejauh mana pengaruh ujaran di kalangan elite ini berkembang. Namun, bila kata ini dijustifikasi penggunaannya dan atau digoreng lebih matang, maka cara elite-elite itu sesungguhnya sedang menempuh upaya pendidikan nasional untuk mengadaptasian kata ini hingga publik terbiasa dan biasa-biasa saja menggunakannya, di sekolah hingga di keluarga, tanpa rasa malu lagi.

Sedangkal saja intuisi bahasa orang Indonesia, sontoloyo sulit dipaksakan bernuansa positif. Kata ini bukan bahasa kesopanan; masuk kategori kotor dan tak senonoh. Orang normal yang tidak tahu-menahu lalu mendengar kata ini, mula-mula, akan ada rasa risih dan tak nyaman di batin. Dalam KBBI, sontoloyo dipadankan dengan konyol, tidak beres, bodoh, dan setidaknya sekarang digunakan dalam konteks memaki dan menghinakan orang.

DUNGU DAN SONTOLOYO SUDAH LEBIH DULU MENGARAH PADA PENGUJARNYA SEBELUM MENCAPAI TARGETNYA.

Bahasa adalah cermin kepribadian. “Nilai seseorang tersembunyi di bawah lidahnya.” Siapa pun pengguna dan penerus kata-kata kotor di muka dengan maksud terpuji sekalipun tidak cukup berhasil menonjolkan nilai kepribadian selain kerendahannya. Dengan kata lain, seperti juga kata kotor lainnya, dungu dan sontoloyo sudah lebih dulu mengarah pada pengujarnya sendiri sebelum mencapai targetnya.

Tanpa perlu terlibat tangkas dan melibatkan banyak argumentasi, intuisi dan naluri bening bahasa kita, orang Indonesia, sudah cukup untuk segera menghentikan justifikasi dan penggunaan kata kotor ini. Asal mau mendengarkan suara hati dan merasakan kesannya! Kualitas kata-kata ini bukan cermin bangsa yang berbudaya dan berperadaban, bertentangan dengan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Atau gunakan kata-kata itu jika dan jika mata hati ini memang berkata demikian.

Untuk memulai berhenti, tidak perlu minta maaf, tidak perlu meralat, atau memasang syarat “akan berhenti kalau seberang sana berhenti”. Bersama-sama sudahi saja, berhenti, malu, berubah dan sesali! Hentikan pula program-program di media yang berpotensi memperdebatkan ketakpantasan kata-kata itu. Bersama tokoh agama, pejabat publik dan politisi, media bertanggung jawab terdepan dalam membangun kesopanan dan keberadaban dalam narasi politik, sepadan dengan kewibawaan jabatan yang diduduki dan kehormatan artibut yang dikenakan.

 

“TETAPI MANUSIA MEMILIKI MATA HATI YANG MENGAWASI DIRINYA SENDIRI. SEKALIPUN MELONTARKAN ALASAN-ALASANNYA.”
QS. Al-Qiyamah [75]: 14-15

 

Untuk penggunaan kata seperti dungu dan sontoloyo, tidak ada siapa pun di level dan latar belakang apa pun layak diteladani. Penggunaan kata-kata itu dengan gaya gagah ataupun lembut tidak akan menambah nilai kebenaran selain euforia palsu yang meracuni gagasan substantif. Dalam Alquran, kita hanya diberi tiga pilihan dalam meyakinkan orang: hikmah kebijaksanaan, nasihat yang baik, dan debat terbaik.

Baginda Agung Nabi SAW, Mahaguru Keutamaan Moral, mendorong setiap orang agar menjadi pelopor kemuliaan dan kesopanan. Jika ini masih tidak berarti, maka benar kata orang, alih-alih menguatirkan dinamika publik apalagi mengkambinghitamkan rakyat, pelaku media dan politik justru aktif mereproduksi masalah di antara mereka seolah-olah masalah bangsa. Bertarunglah dengan sepenuh makna substantif, menangkan pertarungan dengan rasa hormat pada nilai-nilai keutamaan, kepatutan dan harga diri.[AFH]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.