Tema-tema Pokok Al-Qur’an: Tafsir Tematik Fazlur Rahman, Orientasi Kemanusiaan

 

TAFSIR-QURAN.COM–Meski sudah 1400 tahun, masih ada saja yang baru. Itulah kesan yang bukan baru dari banyak kalangan pakar mengenai Alquran. Di antaranya salah satu karya quranik Fazlur Rahman Malik (1919-1988) atau lebih dikenal dengan Fazlur Rahman saja, nama yang bagi orang Indonesia atau dunia Islam tidak asing lagi di blantika pemikiran keislaman kontemporer asal Pakistan ini.
 
——————————————-
1. Apa kata Pakar?
2. Sekilas tentang Buku
3. Catatan Kritis

——————————————-
 
Karya itu berjudul Major Themes of the Qur’an (unduh di sini). Buku ini seolah makin menguatkan asumsi bahwa sarjana Muslim di luar lingkungan tafsir dan teologi berupaya melengkapi atau menuntaskan perjalanan intelektualnya dengan dan di Alquran. Ilmu filsafat, yang konon dipersepsikan datang dari luar Islam dan lahir tidak lahir dari rahim Islam, justru dituntaskan penelitiannya oleh para filosof Muslim seperti Ibnu Sina, Suhrawardi, Mulla Sadra, dengan karya-karya mereka dalam fasir Alquran.
 

Baca juga: Segera Unduh Terjemahan Lengkap 30 Juz Tafsir Ibnu Katsir!
Baca juga: Allamah Thabathaba’i: Pelopor Tafsir Al-Quran Bi Al-Quran
Baca juga: Imam Jalaluddin Al-Suyuthi; Mufasir Konsisten Di Atas Penguasa
Baca juga: Mufassir Perempuan (2): Banu Mujtahidah Isfahani Dari Persia
 

Tradisi ini berlanjut hingga kini dan tampak pada pemikiran Fazlur Rahman. Tak jauh sebelumnya, dapat dijumpai nama-nama lain yang tipe pemikirannya mirip dengan pemikir Pakistan ini. Sebut saja, Muhammad Iqbal (1877-1938), filosof Muslim penggagas Filsafat Kedirian (khudi). Magnum opusnya, The Reconstruction of Religious Thought in Islam (unduh di sini), penuh ayat-ayat pembuktian atas pandangannya. Buku yang sudah diterjemahkan tiga kali oleh penerbit yang berbeda ini dibuka dengan kata-kata Alquran kitab yang menekankan perbuatan daripada pemikiran.

Dalam konteks ini, tepat kiranya menempatkan karya Fazlur Rahman ini sebagai caranya mencurahkan penguasaan dan pengalaman intelektualnya dalam menggali ajaran-ajaran pokok Alquran yang berkontekstualisasi dengan zamannya. Major Themes of the Qur’an sepertinya pertama kali diterjemahkan ke Bahasa Indonesia pada 1996 oleh penerbit Pustaka Bandung dengan Judul: Tema Pokok Alquran. Selang nyaris 20 tahun sejak Era Reformasi, buku ini hadir kembali dengan terjemahan baru dari penerbit nasional, Mizan, pada awal tahun ini dengan judul Tema-tema Pokok Al-Quran. Tentu, buku ini masuk kategori segelintir karya yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia lebih dari satu kali dengan dua versi yang berbeda dari dua penerbit yang juga beda.
 
Apa Kata Pakar

Terbitan 1996, Pustaka Bandung
Banyak Kesan positif dan sambutan apresiatif atas karya ini dari kalangan pemikir di Barat. Ebrahim Moosa dalam pengantarnya menuliskan, “Generasi sarjana mendapat manfaat dari karya ilmiah perintis [Rahman] dengan menyoroti pertanyaan yang dia angkat dan arahan yang dia uraikan ke tujuan yang baru.”

Kenneth Cragg dari Middle East Journal menulis, “Masa depan agama Islam dan masa depan hubungan antaragama … akan menjadi lebih hidup dan lebih responsif bagi jenis sentralitas Alquran yang menjadi Tema-tema Utama Al-Qur’an.”

Patrick D. Gaffney dari Journal of Religion menulis, “Ada yang bersinar melalui kombinasi langka dari penilaian akademis yang seimbang dan komitmen pribadi yang mendalam … [Rahman] ingin sekali membuka misteri Alquran ke dunia yang semakin menyusut dan membutuhkan regenerasi moral dan pemahaman bersama yang lebih baik.”
 

Baca juga: QS. Maryam [19]: Ayat 96; Syarat Menjadi Manusia Rahmatan Lil Alamin
Baca juga: QS. Al-Anbiya’ [21]: Ayat 105; Masa Depan Dunia Dan Pelaku Sejarah Masyarakat
Baca juga: QS. Al Imran [3]: Ayat 169; Jihad Dan Syahid, Dua Ajaran Unik Dan Istimewa
Baca juga: QS. Al-Mursalat [77]: Ayat 15; Dari Membohongi Diri Sendiri Sampai Membohongi Allah
 

Luapan apresiasi senada di atas juga mudah dijumpai dari pemikir di Indonesia (klik di sini). Betapapun itu, apresiasi ini bukan berarti buku ini sempurna dan tanpa cacatan kritis seperti akan disimak di akhir tulisan. Itu merupakan cara kejujuran mereka yang menghargai karya ilmiah, terutama berkaitan dengan kitab suci akhir jaman.
 
Sekilas tentang Buku

Alhasil, Tema-tema Pokok Alquran adalah model penguasaan Fazlur Rahman terhadap atas salah satu teks terkaya dalam sejarah pemikiran keagamaan. Dalam karya ini, Rahman menguraikan kompleksitas Alquran dalam tema-tema seperti Tuhan, masyarakat, wahyu, dan kenabian dengan keterikatan mendalam seorang Muslim yang terdidik di sekolah-sekolah Islam dan sarjana yang mengajar selama beberapa dekade di Barat.

Dalam buku ini, Fazlur Rahman menjabarkan pokok bahasannya menjadi 8 tema utama:
(1) Tuhan
(2) Manusia sebagai Individu
(3) Manusia dalam Masyarakat
(4) Alam Semesta
(5) Kenabian dan Wahyu
(6) Eskatologi
(7) Setan dan Kejahatan
(8) Kelahiran Masyarakat Muslim

Fazlur Rahman ingin memfokuskan bab pertama pada permasalahan tentang perlunya pemahaman akan adanya Tuhan, keesaan Tuhan, dan akibat-akibat langsung dari masalah-masalah tersebut menurut Alquran. Misalnya, mengapa kita harus mempercayai adanya Tuhan? Mengapa kita perlu meyakini tentang adanya yang lebih tinggi daripada alam ini? Alquran menunjukkan keyakinan yang lebih tinggi dari alam itu sebagai “keyakinan dan kesadaran terhadap yang gaib”. Dalam batas-batas tertentu dan melalui wahyu Allah, maka yang “gaib” ini dapat dilihat oleh manusia-manusia tertentu seperti Nabi Muhammad.

Terkait dengan permasalahan tersebut, Alquran bertujuan untuk menunjukkan bahwa eksistensi Tuhan itu dapat dipahami bukan sebagai sesuatu yang irrasional melainkan sebagai Kebenaran Tertinggi. Dalam mencapai tujuan ini, manusia perlu usaha. Bahkan, manusia harus mendengarkan seruan-seruan dari Alquran. Ia dikatakan beriman apabila ia mengalihkan perhatiannya pada berbagai fakta yang jelas, kemudian mengubah fakta-fakta itu menjadi hal yang mengingatkan manusia kepada eksistensi Tuhan. Tuhan adalah dimensi yang memungkinkan adanya dimensi-dimensi lain. Tuhan memberikan arti dan kehidupan pada setiap sesuatu. Tuhan itu serba meliputi. Tuhan itu juga yang esa. Apabila Tuhan lebih dari satu, maka hanya satu saja yang tampil sebagai Yang Pertama. Dalam Alquran dikatakan, “Allah berkata, ‘Janganlah mengambil dua Tuhan, karena Dia adalah Esa.’”
 

Baca juga: Masuk Islam Karena Alquran (4): Edoardo Agnelli, Putra Mahkota Bisnis Raksasa Italia
Baca juga: Masuk Islam Karena Alquran (6): Arthur Wagner, Tokoh Pimpinan Partai Anti-Muslim Di Jerman (1)
Baca juga: Masuk Islam Karena Alquran (6): Arthur Wagner Diluluhkan Alquran Setelah Jadi Ateis, Protestan Dan Musuhi Islam (2)
 

Alquran dengan lugas menyatakan bahwa manusia itu diciptakan secara alamiah karena Tuhan menciptakan Adam dari tanah (15:26, 28, 33; 6:2; 7:12, dan ayat-ayat lainnya). Setelah manusia terbentuk, Allah kemudian “meniupkan ruh-Ku sendiri” ke dalam diri manusia. Selain itu, berbeda dengan tradisi filsafat Yunani yang menekankan doktrin dualisme radikal antara jiwa dan raga sebagai unsur yang ada pada manusia, Alquran tidak mendukung doktrin semacam itu. Tidak disebutkan dalam Alquran pernyataan bahwa manusia terdiri dari dua substansi yang berbeda dan bertentangan, yakni jiwa dan raga.

Terkait dengan kelemahan manusia yang paling dasar, Alquran menyebutkan bahwa kepicikan (dha’f) dan kesempitan pikiran (qathr) adalah penyebab dosa-dosa besar lainnya. Dari kepicikan manusia kemudian timbullah kesombongan diri manusia. Dari kesempitan berpikir timbullah sikap mementingkan diri sendiri, ketamakan, tingkah laku yang ceroboh, kurangnya kepercayaan pada diri sendiri, dan kekuatiran yang terus menerus. Karena kepicikan inilah manusia mempunyai sifat yang suka terburu nafsu, panik, dan tidak mengetahui akibat jangka panjang dari reaksi-reaksi yang dilakukannya.

Dengan sifat terburu nafsu inilah manusia menjadi sombong atau putus asa. Sifat manusia yang goyah (senantiasa beralih dari satu titik ekstrim ke titik ekstrim lainnya yang disebabkan oleh kesempitan akal dan kepicikannya ini) menunjukkan berbagai tensi moral yang dasar, dimana tingkah laku manusia haus berfungsi jika ia ingin menjadi kokoh dan berhasil.

Tegaknya sebuah tata masyarakat yang adil, berdasarkan etika, dan dapat bertahan di muka bumi ini adalah yang menjadi tujuan utama Alquran. Hal ini tampak dalam celaannya terhadap disekuilibrium ekonomi dan ketidakadilan sosial di dalam masyarakat Makkah waktu itu. Selain mencela aspek politheisme yang merupakan simptom dari segmentasi masyarakat, Alquran amat mencela ketimpangan sosio-ekonomi yang ditimbulkan oleh serta yang menyuburkan perpecahan yang sangat tidak diinginkan di antara sesama manusia. Hal ini terus dikecam karena hal inilah yang paling sulit untuk disembuhkan dan yang merupakan inti dari ketimpangan sosial.

Meskipun demikian, Alquran tidak melarang manusia untuk mencari kekayaan. Alquran mengecam pernyalahgunaan kekayaan karena hal tersebut dapat menghalangi manusia di dalam mencari nilai-nilai yang luhur. Selain itu, sikap tidak mempedulikan orang-orang yang memerlukan bantuan ekonomi ini adalah sikap yang mencerminkan puncak kepicikan dan kesempitan akal (kelemahan dasar dalam diri manusia).
 

Baca juga: Mufassir Perempuan (2): Banu Mujtahidah Isfahani Dari Persia
Baca juga: Mufassir Perempuan (1): Bintu Syathi Dari Mesir
Baca juga: Jawadi Amuli: Mufasir Interdisiplin 100 Jilid
Baca juga: Imam Jalaluddin Al-Suyuthi; Mufasir Konsisten Di Atas Penguasa
 

Alquran juga memerintahkan kepada kaum Muslimin agar mereka lebih baik mengeluarkan harta kekayaan mereka di atas jalan Allah dan dengan demikian mereka “berpiutang kepada Allah yang akan dibayar Allah dengan berlipat ganda” daripada membungakan uang untuk menghirup darah orang-orang miskin (30:39; 2:245; 5:12,18; 57:11,18; 64:17; 73:20). Terkait dengan keadilan yang merata, Alquran juga menetapkan prinsip bahwa “kekayaan tidak boleh berputar di kalangan orang-orang kaya saja” (59:7).

Alquran hanya sedikit sekali membicarakan tentang kejadian alam (kosmologi). Terkait dengan metafisika penciptaan, Alquran mengatakan bahwa alam semesta dan segala sesuatu yang hendak diciptakan Allah di dalamnya tercipta sekedar dengan firman-Nya: “Jadilah!” (2:117; 3:47, 59; 6:73; 16:40; 19:35; 36:82; 40:68). Karenanya, Allah adalah pemilik yang mutlak dari alam semesta dan penguasa alam semesta yang tak dapat disangkal di samping pemeliharaannya yang maha pengasih.

Semua isi alam semesta ini mentaati Allah ‘secara otomatis”, kecuali manusia yang dapat mentaati atau mengingkari Allah. (95). Alquran menyatakan bahwa keseluruhan alam semesta itu “Muslim” karena setiap sesuatu yang berada di dalamnya (kecuali manusia yang dapat menjadi atau tidak menjadi “Muslim”) menyerah kepada kehendak Allah (3:83), dan setiap sesuatu memuji Allah (57:1; 59:1; 61:1; 17:44; 24:41).

Perbedaan terpenting di antara Allah dengan ciptaan-Nya adalah Allah itu tak terhingga dan mutlak. Karenanya, setiap sesuatu yang diciptakannya adalah terhingga. Setiap sesuatu mempunyai potensi-potensi tertentu namun betapapun banyaknya potensi-potensi itu tidaklah dapat membuat yang tehingga melampaui keterhinggaannya sehingga menjadi tak terhingga. Inilah yang dimaksud (qadar, qadr, taqdir) dimana segala sesuatu itu tergantung pada Allah.

Ketika Allah menciptakan sesuatu, Ia memberikan kekuatan ataupun hukum tingkah laku dan dengan hukum inilah ciptaan-Nya dapat selaras dengan ciptaan-ciptaan-Nya yang lain di dalam alam semesta. Apabila sesuatu ciptaan melanggar hukumnya dan melampaui ukurannya, maka alam semesta menjadi kacau. “Ukuran” yang dimaksud sebetulnya mempunyai sebuah bias yang kuat, yakni pola-pola, watak-watak, dan kecenderungan-kecenderungan. Perkataan “ukuran” ini tidak menunjukkan teori predeterminasi (takdir).

Fazlur Rahman menyatakan bahwa Kenabian dan wahyu Allah itu berdasarkan kepengasihan Allah dan ketidakdewasaan manusia di dalam persepsi dan motivasi etisnya. Para nabi adalah manusia-manusia luar biasa yang karena kepekaan mereka, ketabahan dan wahyu Allah yang mereka terima serta yang kemudian mereka sampaikan pada manusia dengan ulet tanpa mengenal takut, dapat mengalihkan hati nurani ummat manusia dari ketenangan tradisional dan tensi hipomoral ke dalam suatu kawasan sehingga mereka dapat menyaksikan Tuhan sebagai Tuhan dan setan sebagai setan.

Alquran memandang kenabian sebagai sebuah fenomena yang bersifat universal, dimana di setiap pelosok dunia ini pernah tampil seorang Rasul Allah, baik yang disebutkan maupun yang tidak disebutkan di dalam Alquran (40: 78;4 : 164). Ajaran rasul/nabi ini bersifat universal dan harus diyakini dan diikuti oleh semua manusia (inilah maksudnya bahwa kenabian itu tidak dapat dipecah-pecah).

Selain itu, seorang nabi harus berhasil memperoleh dukungan dari kaumnya. Para nabi juga harus bertanggung jawab terhadap penyebarluasan ajaran-ajaran mereka. Sejak awal sejarah Islam, kaum Msilim berpandangan bahwa runtunan Rasul-rasul Allah berakhir dengan Muhammad: “Muhammad bukan bapak dari salah seorang di antara kalian; dia adalah Rasul Allah dan Nabi yang terakhir” (33:40).

Ada beberapa penafsiran argumentatif untuk menerangkan ayat di atas. Yang pertama, adanya evolusi di dalam agama di mana Islam adalah bentuk yang terakhir. Yang kedua, penelaahan terhadap kandungan agama-agama yang ada akan menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang paling memadai dan sempurna. Proposisi ini juga didukung oleh kenyataan bahwa sebelum Islam tidak ada gerakan religius yang bersifat global.

Dalam Alquran, gambaran umum tentang eskatologi adalah kenikmatan sorga dan azab neraka. Surga dan neraka ini kerap dinyatakan sebagai imbalan dan hukuman secara garis besarnya, termasuk “keridhaan dan kemurkaan Allah”. Ide pokok yang mendasari ajaran-ajaran Alquran tentang akhirat adalah bahwa akan tiba saat (al-sa’ah) ketika setiap manusia akan memperoleh kesadaran unik yang tak pernah dialaminya di masa sebelumnya mengenai amal-perbuatannya.

Alquran juga terus menerus menyerukan agar manusia “mengirimkan sesuatu untuk masa mendatang” (59:18), karena apapun juga yang menimpa seorang manusia adalah hasil perbuatannya terdahulu. Terkait dengan hal tersebut, al-akhirah sebagai nilai-nilai terakhir (saat kebenaran) menjadi “pertimbangan” terhadap amal perbuatan manusia yang sangat penting artinya.

Alquran juga tidak membenarkan surga dan neraka yang sama sekali bersifat “spiritual”. Karenanya, apa yang menjadi subjek kebahagiaan dan siksaan adalah manusia sebagai pribadi. Apabila Alquran berbicara tentang kebahagiaan dan penderitaan fisik di akhirat nanti, maka yang dimaksudkannya bukanlah kiasan semata-mata, meskipun Kitab Suci memang mencoba menerangkan kebahagiaan dan penderitaan akhirat itu sebagai efek-efek dari perasaan kebahagiaan dan penderitaan yang bersifat fisik dan spiritual.

Gambaran yang amat jelas mengenai api neraka yang bernyala-nyala dan taman sorga yang indah ini dimaksudkan untuk menerangkan efek-efek sebagai perasaan-perasaan fisik-spiritual yang riil dan yang berbeda dari efek-efek psikologis yang ditimbulkan oleh keterangan-keterangan tersebut. Sementara hukuman dan kebahagiaan fisik bersifat literal dan tidak merupakan kiasan. Alquran menjelaskan bahwa aspek spiritual dari hukuman dan kebahagiaan itulah yang terpenting.

Yang dibahas dalam bab ini adalah prinsip kejahatan yang kerap dipersonifikasikan Alquran sebagai Iblis atau syeitan, meskipun personifikasi yang kedua ini (setan) lebih lemah daripada yang pertama. Alquran menggambarkan syeitan sebagai pembangkang perintah Allah dan sebagai tandingan manusia, bukan sebagai tandingan Allah karena Allah berada di luar jangkauannya. Manusialah yang merupakan tujuan syeitan dan manusialah yang dapat menaklukkan atau ditaklukannya.

Karenanya, Alquran memperingatkan manusia untuk terus berjuang melawan setan. Apabila manusia mengendorkan kewaspadaannya maka ia akan mudah terbujuk oleh “godaan” setan. Aktivitas setan ini pada dasarnya terdiri dari aktivitas membingungkan seseorang manusia dan untuk sementara waktu membendungi kesadaran-keasaran batinnya.

Dari keterangan Alquran, dapat diperoleh informasi bahwa sebelum kedatangan Alquran, sebagian penduduk Makkah sangat menginginkan adanya agama baru seperti Yahudi dan Kristen. Keadaan yang seperti ini sebagiannya adalah disebabkan karena masuknya ide-ide Yahudi-Kristen ke mileu Arab. Mereka menginginkan sebuah agama baru dan sebuah Kitab Suci baru, sehingga mereka berbeda dari kaum-kaum yang terdahulu dan bahwa mereka tidak suka menerima Kitab-Kitab Suci yang terdahulu.

Bahkan ketika Alquran dibawakan oleh Nabi Muhammad, terjadi perbantahan-perbantahan pula dari antara penduduk Makkah supaya ajaran-ajaran Alquran diubah. Mereka menghendaki beliau untuk memberikan tempat pada tuhan-tuhan mereka di antara Allah dengan manusia. Kenyataan ini dapat menerangkan mengapa mereka tidak mau memandang Yesus lebih tinggi daripada tuhan-tuhan mereka sendiri.

Terakhir sekali harus dipertanyakan validitas dari konsep “putusnya hubungan dengan orang-orang Yahudi” tersebut. Tidak ada peristiwa, pernyataan, maupun tindakan yang khusus dari Nabi atau orang-orang Yahudi yang dapat dijadikan pedoman untuk konsep tersebut.
 

Catatan Kritis

Seperti dalam laman iiq, metode kajian Alquran yang ditempuh Fazlur Rahman memang agak baru (pada zamannya), sekalipun usaha awal dengan metode serupa sudah pernah dilakukan oleh ulama sebelumnya.

Pendekatan kajian Alquran dengan cara tematik tampaknya lebih menarik di samping juga memperkaya dan menambah ketajaman makna yang dikandung oleh sebuah ayat/surah dalam sebuah tema yang sama. Kajian yang demikian semakin menjadikan pesan/makna Alquran jadi lebih utuh (holistik) dan tidak terpecah-pecah (parsial).

Pemilihan tema Alquran ke dalam 8 kategori itu masih patut dipertanyakan: atas dasar pemikiran/argumentasi apa al qur’an sebenarnya memuat kedelapan tema tersebut lalu disebut sebagai ‘pokok’? Apa kriteria pokok dan bukan pokok? Apakah didukung oleh data statistik? Prosentase jumlah ayat? Ataukah atas selera pribadi Fazlur Rahman semata?

Fazlur Rahman sama sekali tidak memasukkkan masalah hukum fiqih sebagai bagian dari tema pokok Alquran, padahal masalah hukum ini banyak dan bagian integral dari Alquran yang sangat substansial. Nampaknya kriteria yang digunakan Rahman dalam menentukan tema-tema Alquran lebih melihat kepada subyek dan hubungan antar subyek (seperti Tuhan, manusia malaikat, jin iblis, setan dan hubungan yang terjalin diantara subyek-subyek tersebut), Sementara obyek hukum (dan yang lain-lainnya) sama sekali tidak mendapat perhatian serius.

Pemilihan subyek/pelaku sebagai faktor utama menentukan tema-tema Alquran pada gilirannya mengakibatkan pembahasan yang tumpang tindih dan tidak fokus. Tema kedua, ketiga dan kedelapan sesungguhnya bisa dikategorikan dalam satu tema besar yang tidak perlu dipisah-pisahkan. Pemisahan bisa dilakukan dalam uraian/pembahasan tema sentral tersebut, umpamanya dengan menggunakan judul manusia mahluk bidimensional.

Dapat diamati bagaimana tema Alquran dibahas secara tajam, mendalam dan bagus, kecuali pada tema kedelapan. Di sini Fazlur Rahman kehilangan momentum emasnya, karena fokus kajian adalah lahirnya masyarakat muslim, akan tetapi di dalamnya justru dibentangkan panjang lebar perdebatan tentang entitas agama Islam yang bukan merupakan unsur Yahudi dan Nasrani, melainkan turunan dari Nabi Ibrahim a.s.

Adalah benar pernyataan Fazlur Rahman bahwa Alquran tidak membuktikan adanya Tuhan, akan tetapi menunjukkan cara untuk mengenal Tuhan. Ini dapat juga kita jumpai dalam Tafsir al-Mizan karya Muhammad Husein Thabathaba’i. Rahman beranggapan bahwa manusia bukanlah makhluk yang terdiri atas jiwa dan raga (hal. 26). Pendapat ini jelas secara diametral bertentangan dengan mayoritas filosof, baik Muslim maupun filosof Yunani pada umumnya.

Hal menarik lainnya adalah ketika Fazlur Rahman mengatakan bahwa Alquran diturunkan dengan mengambil setting kondisi masyarakat jahiliyyah yang cenderung timpang, baik secara sosial maupun ekonomi.

Betapapun, pemetaan Fazlur Rahman atas tema-tema Alquran ini berdasarkan prinsip utama bahwa Alquran diturunkan bagi manusia. Pendekatan berwatak antroposentris ini tampaknya bukan sekadar mewakili konsentrasi intelektual, melainkan juga kepedulian pragmatikal Rahman. Yakni, Alquran bukan hanya dapat dipahami oleh akal manusia, melainkan juga diturunkan demi mengarahkan gerak sejarah kepada tujuan yang dikehendakinya: umat manusia yang berkeadilan dan berkeadaban.
 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.