Terbitkan Hasil Riset al-Quran 800 Halaman, Profesor Jerman Kritik Tajam Budaya Barat

 

TAFSIR-QURAN.COM–Melalui sebuah operasi penelitian serius, seorang profesor asal Jerman, Angelika Neuwirth, berhasil menerbitkan karya ilmiah pertama yang melambungkan reputasinya di bawah judul Studies on the Composition of the Meccan Suras. Seperti disinyalir di laman moroccoworldnews, karya ini telah menjadi salah satu referensi paling penting di Eropa tentang Islam. Di dalamnya, ia tak segan-segan secara langsung meninjau kritis budayanya sendiri di Barat. Beberapa di antaranya di bawah ini:

Klaim bahwa Islam tidak memiliki sebuah pencerahan adalah rekaman kaset  tua namun masih saja diputar untuk membangkitkan rasa bangga akan era pencerahan yang terus membuat orang-orang percaya bahwa budaya Barat lebih unggul di atas Islam.

Demikian nada kritik ini disampaikan Neuwirth dalam wawancaranya dengan majalah Jerman, Qantara, seputar karyanya tentang al-Quran, Der Koran als Text der Spätantike, setebal lebih dari 800 halaman. Dalam wawancara yang sama, Neuwirth menyatakan hasil risetnya bahwa ajaran yang tertuang dalam al-Quran adalah sama dengan yang dijumpai dalam budaya Eropa. Ia lebih lanjut berbicara tentang wahyu Islam dan bagaimana itu tertanam pada akhir periode antik, periode yang sama dan dunia budaya dimana teologi Kristen dan Yahudi telah berkembang. “Karena inilah kita semua datang dari asal yang sama, tetapi kesadaran ini telah tertimbun di bawah kemajuan sejarah,” ujarnya.

Riset Neuwirth itu di paruh pertama membidikkan fokus pada karakter linguistik dan pembacaan al-Quran. Dalam argumentasinya, al-Quran bukan naskah produk pendiktean, melainkan percakapan (conversation) antara manusia dan Tuhan. Neuwirth lebih lanjut menegaskan bahwa al-Quran bukan hanya media informasi, tetapi memiliki banyak fitur puitis yang sekaligus menyampaikan banyak pesan pada tingkat semantik. “Keunikannya ini berasal dari lapisannya yang berlipat-lipat, karakter ritmis, instrumen retoris dan kekuatannya untuk menanamkan keyakinan. Ini merupakan pesona bahasa,” pungkasnya.

Kekaguman profesor Jerman ini tak terbendung hingga berbicara tentang semangat belajar dalam Quran. Neuwirth mengatakan, “Di sana, bahasa sungguh dihargai. Tentu, ini berkaitan dengan pengetahuan. Bahasa adalah media pengetahuan. Ini karena alasan bahwa ada penekanan dalam tradisi Islam untuk memperoleh pengetahuan. Fokus pada pengetahuan ini adalah sesuatu yang absen dari Taurat dan Injil.”

Studi perbandingan antara al-Quran, Alkitab dan Taurat, juga tidak luput dari perhatian Neuwirth. Ia berpendapat bahwa al-Quran berbeda dalam pandangannya tentang keselamatan. Konsep ini tidak terbatas hanya bagi orang-orang beriman, tetapi juga manusia yang mengikuti syariat tertentu. “Setiap individu bertanggung jawab atas tindakannya sendiri dan, dengan memenuhi kewajiban ibadah, seseorang mengadakan hubungan dengan Tuhan Pencipta.”

Neuwirth melangkah lebih tajam lagi menjelaskan bagaimana gerakan pemisahan agama dari pengelolaan negara (sekularisasi) itu tidak pernah ada dalam sejarah Islam, karena fakta bahwa dimensi sakral dan sekuler hidup berdampingan secara harmonis. Dia lebih lanjut menolak gagasan bahwa dunia Islam itu mundur atau dunia Barat berada di depan dunia Islam.

Sebagai sesama kaum hawa, Neuwirth juga mencermati isu perempuan dalam al-Quran. Pada hematnya, al-Quran mengambil langkah maju secara revolusioner, yaitu menyamakan laki-laki dan perempuan dalam status spiritual mereka di hadapan Allah. Ia menegaskan, “Ajaran ini benar-benar istimewa untuk saat ini, manakala di era Jahiliyah masalah kesetaraan gender tidak terpikirkan. Juga dalam isu sekularisme, perempuan diberi lebih banyak hak dibandingkan masa pra-Islam.”

Riset dan karya Neuwirth mengenai al-Quran merupakan salah satu yang paling penting dilakukan di Jerman. Ia sempat menempuh pendidikan bahasa Arab, studi Samatik, dan Filologi Klasik di Universitas Terbuka Berlin, Teheran Iran, Gottingen, Jerusalem, dan Munich. Pencapaiannya dalam karya-karya ilmiah studi al-Quran diganjar dengan Sigmund Freud Prize pada Juli 2013. Ia saat ini bekerja sebagai profesor di Freie University, Berlin, dosen tamu di Amman, Yordania.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.