Imam Jalaluddin al-Suyuthi; Mufasir Konsisten di atas Penguasa

 

Dari berbagai aspek dan kualitas, Imam Jalaluddin al-Suyuthi tanpa diragukan lagi adalah pribadi unik yang pantas diteliti dan dipelajari. Ia banyak memperdalam ilmu-ilmu agama dan bahasa, mengarang buku-buku kesusastraan, juga menaruh perhatian besar terhadap sejarah, politik dan sosial.
Ia dipandang sebagai salah seorang sastrawan terkenal pada abad 15. Dengan penanya, ia menggeluti segala bidang ilmu, menulis ilmu-ilmu al-Quran, Hadis, Fiqih, Sejarah, bahasa, Kesusastraan dan lain sebagainya. Di tanah air, namanya sudah begitu populer dengan sejumlah karya tafsir dan ulumul quran seperti: Tafsir al-Jalalayn, al-Durr al-Mantsur, dan al-Itqan.

Dari karya-karyanya yang sangat variatif itu, Imam Jalaluddin al-Suyuthi tampak sangat cinta ilmu. Ia berpindah-pindah dari satu pusat pendidikan ke pusat pendidikan lainnya. Sumber-sumber sejarah menuturkan bahwa ia telah belajar kepada enam ratus syaikh (guru besar) pada zamannya di berbagai negara.

Nama lengkapnya Abdurrahman bin Abi Bakar bin Muhammad bin Sabiquddin bin al-Fakhr Utsman bin Nashiruddin Muhammad bin Saifuddin Khadhari bin Najmuddien Abi al-Shalah Ayub ibn Nashiruddin Muhammad bin al-Syaikh Hammamuddin al-Hamman al-Khadlari al-Asyuthi. Lahir pada hari Ahad malam, bulan Rajab 849 H (1445 M), yakni enam tahun sebelum ayahnya wafat.

Asal Usul

Jalaluddien al-Suyuthi berasal dari lingkungan cendekiawan sejak kecilnya. Ayahnya berusaha mengarahkannya berada di jalan ilmu dan akhlak. Tidak mengherankan bila ia sudah hafal al-Quran di usianya yang sangat dini dan selalu diikutkan ayahnya di berbagai majelis ilmu dan berbagai sidang peradilannya. Ia meminta Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani agar mendoakan  diberi berkah dan taufiq.

Sang ayah wafat saat Imam Suyuthi baru berumur lima tahun tujuh bulan. Berikutnya,  Kamaluddin bin Humam al-Hanafi pengarang tafsir Fath al-Qadir menjadi guru asuhnya hingga ia hafal al-Qur’an dalam usia delapan tahun, kemudian menghafal kitab-kitab al-’Umdah, Minhaj al-Fiqh wa al-Ushul dan Alfiyah karya Ibnu Malik.

Imam Suyuthi banyak belajar pada banyak ulama besar seperti: Syaikh Sirajuddin al-Balqini hingga wafatnya, Syaikh Sihabuddin Al-Syarmasahi, al-Syari al-Manawi Abaz Kuriya Yahya bin Muhammad, Taqiyuddin al-Syamini al-Hanafi (872 H), Syaikh Muhyiddin Muhammad bin Sulaiman al-Rumi al-Hanafi selama 14 tahun. Ia juga berguru kepada Jalaluddin al-Mahilli (864 H), ‘Izzul Kinaani Ahmad bin Ibrahim al-Hanbali. Dan ia membaca shahih Muslim, al-Syifa, Alfiyah Ibnu malik dan penjelasaannya pada Syams al-Sairami. Bahkan disebutkan oleh Syaikh Abdul Wahhab al-Sya’rani dalam kitab Thabaqat bahwa gurunya lebih dari 600-an orang.

Imam Suyuti menyimpan minat dan kecintaan yang besar pada hadis. Bahkan ia bepergian jauh sekedar untuk mencari ilmu dan riwayat hingga ke negeri Maghribi (Tanjung Harapan, sebelah ujuh barat pulau Afrika), Yaman, India, Syam Mahallah (di Mesir Barat), Dimyath (sebuah kota di tepi sungai Nil, Mesir), dan Fayyum (Mesir) serta negeri-negeri Islam lainnya.

Banyaknya guru besar dan luas perjalanannya dalam menimba ilmu didukung pula oleh kesempatan Imam Suyuthi semaksimal mungkin memanfaatkan perpustakaan Madrasah Mahmudiyah. Dalam data al-Maqrizi, dalam perpustakaan ini terdapat segala jenis kitab-kitab Islam, dan madrasah ini merupakan salah satu sekolah terbaik yang dinisbatkan kepada Mahmud bin al-Astadar yang berdiri pada tahun 897 H. Kitab-kitab di perpustakaan itu khazanah paling lengkap dari yang ada sekarang di Cairo, yang merupakan koleksi dari Burhan Ibn Jama’ah dan kemudian dibeli oleh Mahmud al-Astadar dengan uang warisannya setelah ia wafat dan kemudian ia waqafkan.

Sikap di Hadapan Penguasa

Imam Suyuthi terkenal dengan kelebihannya: mudah mengerti, kuat hafalannya, dianugerahi Allah dengan otak yang cerdas, seorang yang ‘abid (ahli ibadah), zuhud, tawadlu’. Ia tidak mau menerima hadiah raja. Pernah ia diberi hadiah Raja Ghuri seorang budak perempuan dan uang banyak sebesar seribu Dinar. Namun ia mengembalikan uang itu, memerdekakan budak perempuan itu dan menjadikannya sebagai pelayan di makam Nabawi. Lalu ia berkata kepada Raja Ghuri, “Jangan berusaha menyimpangkan aku hanya dengan memberi hadiah semacam itu, karena Allah telah menjadikan aku merasa tidak butuh dari hal-hal semacam itu.”

Oleh karena itu, Imam Suyuthi dikenal sebagai seorang yang berani tapi beradab, semangat dalam menegakkan hukum-hukum syari’at dan mengamalkannya tanpa memihak kepada siapapun. Ia tidak takut dalam kebenaran celaan orang yang mencela. Ia diminta untuk memberikan fatwa serta urusan-urusan yang bersangkutan dengan kehakiman, dan ia tetap berusaha adil dalam menerapkan hukum-hukum tanpa memperdulikan kemarahan pihak penguasa. Bahkan jika melihat ada qadhi (hakim) yang mentakwilkan hukum sesuai dengan kehendak penguasa, ia beliau menentangnya dan menyatakan protesnya serta berlepas diri darinya. Dalam rangka ini, ia menerangkan kesalahannya dan meluruskannya, seperti yang dikemukakannya dalam kitab Al-Istinshar bi al-Wahid al-Qahhar.

Karya Ilmiah

Imam Suyuthi terlalu disibukkan dengan memberi kuliah agama dan berfatwa sampai umur 40 tahun, kemudian mencurahkan hidupnya untuk beribadah dan mengarang kitab. Karangan Imam Suyuthi lebih dari 500 karya. Ia sendiri mengatakan, “Seandainya aku mau, aku bisa menyusun kitab yang membahas setiap masalah dengan segala teori dan dalil-dalil yang kami nukil, termasuk argumennya, deskripsinya, kritiknya, jawaban-jawabannya, perbandingannya dalam perselisihan berbagai madzhab tentang suatu masalah, tentu dengan inayah Allah, karena tidak ada kekuatan kecuali dari Allah.”

Dapat diamati kebanyakan karya Imam Suyuthi berkisar pada al-Quran. Ini menunjukkan betapa kecintaannya pada Kitab Suci terakhir ini. berikut daftar kitab-kitab ilmu al-Quran karya Imam Suyuthi di bawah ini:

  1. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an
  2. Al-Durr al-Mantsuur fi Tafsir bi a-Ma’tsur
  3. Tarjuman al-Qur’an fi al-Tafsir
  4. Asrar al-Tanzil atau dinamakan pula dengan Qathf al-Azhar fi Kasyf al-Asrar
  5. Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul
  6. Mufhamat al-Aqran fi Mubhamat al-Qur’an
  7. Al-Muhadzdzab fi ma waqa’a fi al-Qur’an min Mu’arrab
  8. Al-Iklil fi Istimbath al-Tanzil
  9. Takmilat Tafsir al-Syaikh Jalaluddin al-Mahilli
  10. Al-Tahir fi ‘Ulum al-Tafsir
  11. Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Baidhawi
  12. Tanasuq al-Durar fi Tanasub al-Suwari
  13. Marashid al-Mathali fi Tanasub al-Maqathi’ wa al-Mathali’
  14. Majma’ al-Bahrayn wa Mathali’ al-Badrayn fi al-Tafsir.
  15. Mafatih al Ghayb fi al-Tafsir
  16. Al-Azhar al-Faihah ‘ala al-Fatihah
  17. Syarh al-Isti’adzah wa al-Basmalah
  18. Al-Kalam ‘ala Awal al-Fath
  19. Syarh al-Syathibiyah
  20. Al-Alfiyah fi Qara’at al-Asyri
  21. Khimaya al-Zuhr fi Fadla’il al-Suwari
  22. Fath al-Jalil li ‘Abdi al-Dzalil fil Anwa’il Badi’ah al- Mustakhrijah min Qawlihi Ta’ala: Allahu waliyyulladziina waamanu
  23. Al-Qawl al-Fashih fi Ta’yini al-Dzabih
  24. Al-Yad Bustha fi al-Shalatil Wustha
  25. Mu’tarak al-Aqran fi musykilat al-Qur’an

Sekali lagi, semua judul buku di atas berkenaan dengan ilmu-ilmu al-Quran. Adapun yang berkenaan dengan ilmu hadis, Imam Suyuthi sejumlah karya di antaranya:

  1. ‘Ain al-Ishabah fi Ma’rifat al-Shahabah
  2. Durr al-Shahabah fi man Dakhala Mishr min al-Shahabah
  3. Husn al-Muhadharah
  4. Rih al-Nisrin fi man ‘Asya min al-Shahabah Mi’ata wa ‘Isyrin
  5. Is’af al-Mubtha’ bi Rijal al-Muwaththa
  6. Kasyf al-Talbis ‘an Qalb Ahl al-Tadlis
  7. Taqrib al-Gharib
  8. Al-Madraj ila al-Mudraj
  9. Tadzkirah al-Mu’tasi min Hadits man Haddatsa wa Nasiya
  10. Asma` al-Mudallisin
  11. Al-Luma’ fi Asma` man wadha’a
  12. Al-Rawdh al-Mukallal wa Warad al-Mu’allal fi al-Mushthalah

Wafat

Imam Suyuthi wafat pada hari Jum’at, 19 Jumadil Ula 911 H (Oktober 1505). Sebelumnya, ia menderita sakit selama tujuh hari dan wafat pada usia 61 tahun. Jenazahnya dikuburkan di pemakaman Qaushun atau Qaisun di Cairo.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.