Sayyid Qutb: Mufasir yang Mencita-citakan Negara Islam

 

TAFSIR-QURAN.COM–Salah satu pemikir besar Islam di era modern yang mempunyai pengaruh yang luas terhadap perkembangan gerakan Islam, Sayyid Qutb atau Sayyid Qutub merupakan salah satu ideolog terkemuka Ikhwanul Muslimin setelah Hasan Al-Banna. Ia juga sering disejajarkan dengan Abul A’la Al Maududi (1903-1979) tokoh gerakan Islam Jamaat Islami di Pakistan, dan Ali Syariati (1933-1977) seorang pemikir Iran.

Pemikiran dan semangat pergerakan Sayyid Qutb di dunia Arab dan Islam turut menyusup ke tengah kalangan mullah-mullah (ulama) di Iran yang kelak, di bawah Imam Khomeini, menjadi lokomotif penggerak revolusi di Iran, menggulingkan dinasti Pahlevi dan menggantikannya dengan sistem politik Islam. Sebagai bukti, salah satu karyanya berjudul Al-Mustaqbal li Hadza Al-Din (Masa Depan Agama ini) diterjemahkan Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Revolusi Islam Iran pasca Imam Khomeini, pada tahun 1964, yakni 15 tahun sebelum revolusi terjadi di sana. Ali Kamenei juga yang menerjemahkan ke bahasa Persia dua jilid pertama dari tafsir Sayyid Qutb, Fi Dzilal Al-Qur’an (Dalam Naungan Alquran), buku tafsir yang membuatnya menjadi sangat populer hingga kini.

Kalau memang Islam ingin dilaksanakan, maka Islam harus memerintah. Agama ini tidak datang hanya untuk menempati sudut-sudut tempat shalat dan rumah ibadah, atau menetap di hati dan perasaan.

Setelah Hasan Al-Bana wafat bisa dikatakan Sayyid Qutb merupakan ideolog Ikhwanul Muslimin yang mampu membangkitkan militansi pergerakan Ikhwanul Muslimin. Bahkan, menurut Azyumardi Azra setelah Hasan Al-Bana wafat, Ikhwanul Muslimin justru menemukan bentuk sempurnanya sebagai sebuah gerakan fundamentalis terutama berkat kebangkitan Sayyid Qutb di garis terdepan Ikhwanul Muslimin.
 

Baca juga: Mufassir Perempuan (2): Banu Mujtahidah Isfahani Dari Persia
Baca juga: Mufassir Perempuan (1): Bintu Syathi Dari Mesir
 

Banyak karya yang dibuat oleh Sayyid Qutb baik itu karya tulisan sastra seperti Asywak (Duri-duri) dan Tifl min al-Qaryah (Seorang Anak Desa) ataupun karyanya yang merupakan pemikiran dan gagasannya tentang Islam seperti tafsir Fi Zhilal al-Qur’an (Dalam Naungan Alquran) dan Ma’alim fi al-Thariq (Petunjuk Jalan). Karya-karyanya ini memberikan khazanah baru baik di dalam dunia sastra maupun di dalam dunia politik pergerakan. Selain itu, banyak juga karya-karyanya yang terkenal diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris seperti Milestones, In The Shade of the Qur’an, Social Justice in Islam, dan Islam and the Universal Peace.

Sayyid Qutb meninggal di tiang gantungan pada 29 Agustus 1966 oleh rezim Gamal Abdul Nasser. Ia dihukum gantung karena dianggap telah melakukan konspirasi untuk membunuh Presiden Gaman Abdul Nasser dan dituduh melakukan aktivitas subversif untuk menjatuhkan pemerintahan. Sayyid Qutb syahid di tiang gantungan bersama dua orang temannya yaitu Abdul Fattah Ismail dan Muhammad Yusuf Hawwasy.

Kehinaan tidak akan muncul kecuali dari kesiapan diri untuk dihinakan. Kesiapan diri itulah yang diandalkan oleh penguasa-penguasa penindas.

Kepemimpinan Sayyid Qutb yang sangat karismatik dan messianik membuat dirinya menjadi salah satu tokoh pembebasan mesir yang disegani. Banyaknya dukungan masyarakat terhadap perjuangan Sayyid Qutb membuatnya menjadi salah satu tokoh pergerakan Islam mesir yang berpengaruh luas. Oleh sebab itu, Pemerintah Nasser melihat bahwa aktivitas Sayyid Qutb sangatlah berbahaya bagi tatanan politik yang sudah dibangun Nasser sehingga meskipun menghadapi banjir himbauan untuk pengampunannya, hukuman mati tetap dilaksanakan oleh Pemerintah Nasser.

Biografi Singkat
Sayyid Qutb lahir di Mausyah, salah satu provinsi Asyuth, di dataran tinggi Mesir pada tanggal 9 Oktober 1906. Sayyid Qutb memiliki 4 saudara kandung. Kakak pertama Qutb perempuan yang bernama Nafisah yang juga merupakan aktivis Islam. Kedua adalah Aminah, ia juga aktivis Islam dan aktif menulis buku-buku sastra. Ketiga adalah Hamidah. Hamidah adalah adik perempuan Sayyid Qutb yang bungsu, ia juga seorang penulis buku dan aktif di dalam pergerakan Islam. Dia pernah divonis penjara 10 tahun dan dijalaninya selama 6 tahun 4 bulan. Keempat adalah Muhammad Qutb. Dia adalah adik Sayyid Qutb dengan selisih umur sekitar 13 tahun. Dia mengikuti jejak langkah kakaknya (Sayyid Qutb) dengan menjadi aktivis pergerakan Islam dan penulis tentang masalah Islam dalam berbagai aspeknya.

Ayah Sayyid Qutb bernama Al Haj Qutb bin Ibrahim seorang petani yang juga menjadi anggota komisaris Partai Nasionalis di desanya dan ibunya bernama Fatimah. Rumahnya dijadikan markas bagi kegiatan politik partainya. Di situ rapat-rapat penting diselenggarakan baik yang dihadiri oleh semua orang maupun yang sifatnya rahasia dan hanya dihadiri oleh orang-orang tertentu saja. Lebih dari itu, rumah ayah Qutb juga menjadi pusat informasi yang selalu didatangi oleh orang-orang yang ingin mengikuti berita-berita nasional dan internasional dengan diskusi-diskusi para aktivis partai yang sering berkumpul.
 

Baca juga: Jawadi Amuli: Mufasir Interdisiplin 100 Jilid
Baca juga: Imam Jalaluddin Al-Suyuthi; Mufasir Konsisten Di Atas Penguasa
 

Dari sini dapat dilihat bahwa Sayyid Qutb dari kecil sudah akrab dan dekat dengan dunia politik dan pergerakan, pengaruh-pengaruh ini secara langsung maupun tidak langsung membentuk karakter dan watak Sayyid Qutb yang kritis dan sensitif terutama terhadap permasalahan politik dan sosial. Sejak masih muda Sayyid Qutb sudah aktif dalam kegiatan-kegiatan revolusi dalam menentang imperialisme Inggris seperti demonstrasi pada tahun 1919. Di usia 13 tahun Sayyid Qutb juga sudah kritis terhadap kondisi Mesir dan mendukung kemerdekaan Mesir yang disokong oleh Partai Nasionalis pada waktu itu. Selain itu, Sayyid Qutb juga merupakan salah satu tokoh pergerakan islam yang sering mengeluarkan tulisan-tulisan baik itu berupa sastra maupun ide-ide perubahan tentang islam. Hal ini juga dipengaruhi oleh latar belakang keluarga Sayyid Qutb.

Penguasa zalim tidak takut apa saja seperti ketakutannya pada kesadaran bangsa dan kebangkitan hati, tidak menekan siapapun seperti dia menekan para penyeru kesadaran dan kebangkitan, juga tidak dendam terhadap siapapun seperti dendamnya terhadap orang-orang yang mengguncangkan hati-hati yang tertipu.

Sejak kecil Sayyid Qutb sudah diberikan ajaran agama yang mendalam, hal ini disebabkan karena orang tua Sayyid Qutb ingin anaknya mampu menghafal Alquran dan menjadi hafidzh. Hal ini terbukti Sayyid Qutb dapat menghafal qur’an ketika baru berumur 10 tahun. Pada tahun 1920 ketika usia Sayyid Qutb 13 belas tahun, Qutb merantau ke kairo untuk melanjutkan pendidikannya. Ia meneruskan belajar di Madrasah Mu’alimin al-Awiyah pada tahun 1922. Setelah selesai dari Madrasah Mu’alimin al-Awaliyah, Qutb melanjutkan sekolahnya ke sekolah persiapan Darul Ulum tahun 1925 dan kuliah di Darul Ulum dalam bidang sastra hingga selesai tahun 1933. Ia lulus dari Darul Ulum dan memperoleh ijazah S1 dalam bidang sastra dan diploma dalam bidang pendidikan.

Ketika bersekolah di Darul Ulum dan mendalami sastra, Sayyid Qutb dekat sekali dengan para modernis dan jurnalis wafd yaitu kelompok kalangan nasionalis liberal yang condong kebarat-baratan. Kelompok ini dipengaruhi oleh karya-karya Abbas Mahmud al-Aqqad sehingga mereka juga sering dikenal dengan kelompok sastra al-Aqqad. Walaupun ketika kuliah di Darul Ulum, Qutb juga mengkritik kelompok al-Aqqad.

Setelah kuliah, Sayyid Qutb diangkat sebagai guru Departemen Pendidikan di Madrasah Ad-Dawudiyah dan pada tahun 1940 ditarik ke Departemen Pendidikan sebagai pengawas pendidikan dasar. Pada tahun 1948, Sayyid Qutb mendapatkan tugas dari Departemen Pendidikan untuk mengkaji kurikulum dan sistem pendidikan di Amerika Serikat. Di sana, ia belajar selama 2 tahun di Wilson’s Teacher’s College di Washington, Greenley College di Colorado, dan Stanford University di California.

Ketika di Amerika Serikat, Sayyid Qutb terheran melihat orang Amerika Serikat bersenang-senang dan bergembira ketika mendengar kematian Hasan al-Banna. Orang Amerika Serikat meyakini bahwa Hasan al-Banna adalah musuh yang paling berbahaya bagi dunia barat dan Amerika Serikat. Sejak saat itu Sayyid Qutb berkeinginan kuat untuk bergabung dengan Ikhwanul Muslimin. Sayyid Qutb kembali dari Amerika Serikat pada tanggal 20 Agustus 1950 dan bergabung dengan Ikhwanul Muslimin pada tanggal 18 Oktober 1952.

Setelah Revolusi Mesir tahun 1952, Sayyid Qutb gencar sekali mengkritik Pemerintahan Gamal Abdul Nasser. Pada 26 Oktober 1954, Gamal Abdul Nasser menuduh Ikhwanul Muslimin ingin melakukan makar lalu menangkap semua tokoh Ikhwanul Muslimin tak terkecuali Sayyid Qutb. Sayyid Qutb pun dihukum penjara selama 15 tahun walaupun dalam pelaksanaannya Sayyid Qutb tidak dihukum sampai 15 tahun dikarenakan adanya upaya diplomasi Presiden Irak Abdus Salam Arif kepada Presiden Gamal Abdul Nasser agar Sayyid Qutb dibebaskan. Pada tahun 1965, Sayyid Qutb ditangkap lagi oleh Gamal Abdul Nasser karena dianggap telah melakukan konspirasi untuk membunuhnya. Pada 21 Agustus 1966 Sayyid Qutb dijatuhi putusan hukuman mati dan pada hari Senin 29 Agustus 1966 Sayyid Qutb dieksekusi.

Fase-fase Kehidupan
Menurut Dr. Shaleh Abdul Fattah Al Khalidi, seorang pengamat Sayyid Qutb, membagi kehidupan Islami Sayyid Qutb menjadi 4 fase:

1. Fase Keislaman yang bernuansa seni. Fase ini bermula dari pertengahan tahun empat puluhan, saat Sayyid Qutb mengkaji Al-Qur’an dengan maksud merenunginya dari aspek seni serta meresapi Keindahannya

2. Fase keislaman umum. Fase ini bermula ketika Qutb sudah mulai mengkaji Alquran dengan tujuan studi-studi pemikiran yang jeli serta pandangan reformasi yang mendalam. Di fase ini Qutb ingin lebih memahami dasar-dasar reformasi sosial dan prinsip-prinsip solidaritas sosial di dalam Islam

3. Fase Amal Islami yang terorganisasi. Fase ini yaitu ketika Sayyid Qutb pulang dari Amerika Serikat dan berkenalan dengan Jamaah Ikhwanul Muslimin dan bergabung dengan jamaah tersebut. Pada fase ini pemahaman Sayyid Qutb terhadap Islam sudah menyeluruh

4. Fase Jihad dan Gerakan. Fase ini dimulai ketika Sayyid Qutb sudah menenggelamkan dirinya ke dalam konflik pemikiran dan praktek nyata dengan kejahiliyahan dan melawan kejahiliyahan dengan jihad yang nyata. Fase ini bermula sejak Sayyid Qutb dimasukan ke penjaran pada tahun 1954 sampai di penghujung hayatnya pada tahun 1966.

Pemikiran tentang Jahiliyah
Secara etimologi banyak arti dari kata-kata jahiliyah. Jahiliyah sendiri berasal dari kata dasar jahl yang apabila dijadikan kata kerja menjadi kata jahala dan jahila atau yajhalu. Dengan kata lain, kata jahiliyah sendiri merupakan turunan dari kata dasar jahl. Selain itu secara keartian, ada yang mengaitkan jahiliyah dengan kebodohan, kekerasan/kebiadaban, dan ketidakadaan moral.
 

Baca juga: Masuk Islam Karena Alquran (2): Gary Miller, Profesor Kanada Yang Tadinya Menantang Dan Mencari-Cari Kesalahan
Baca juga: Perdebatan Qurani (1): Dibanding Injil, Kenapa Alquran Mudah Dihapal?
 

Terminologi Jahiliyah sendiri sebetulnya sudah ada sebelum Islam datang dan biasanya sering digunakan di dalam puisi-puisi arab. Akan tetapi, penggunaan kata Jahiliyah tersebut digunakan di dalam konteks yang berbeda-beda dan terkadang artinya saling bertentangan satu dengan yang lain. Hal ini membuat ketidakkonsistenan penggunaan kata jahiliyah itu sendiri yang akhirnya secara tidak langsung mengaburkan arti dari kejahiliyahan itu sendiri.

Kata Jahiliyah sendiri pun di dalam Islam kalau dicermati lebih dalam digunakan di dalam Alquran di surat-surat yang diturunkan di Madinah (madaniyah) bukan di Mekkah. Sehingga terminologi ini baru ada di Alquran ketika Rasulullah SAW dan para sahabat hijrah dari Mekkah ke Madinah walaupun penggunaan kata ini sudah pernah digunakan Ja’far bin Abi Thalib sebelum hijrah akan tetapi konfirmasi terhadap kata tersebut baru ada ketika dakwah Rasul berada pada fase Madinah. Hal ini secara tersirat menekankan bahwa konsepsi dari Jahiliyah itu ternyata bukan hanya konsepsi yang berkaitan dengan akidah, moral, atau kebodohan saja tetapi merupakan suatu religio-sociopolitical concept yang holistik mencakup semua aspek kehidupan manusia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konsepsi Jahiliyah merupakan sebuah konsepsi antithesis dari konsepsi Islam secara holistik.
 

Baca juga: QS. Al-Mursalat [77]: 7; Menguji Iman Dalam Merespon Janji Tuhan
Baca juga: QS. Al-Takwir [81]: 5; Menjadi Manusia Buas
 

Dari konsepsi tentang kejahiliyahan inilah Sayyid Qutb mencoba mendikotomisasi wacana ideologis yang ada pada saat itu. Bagi Sayyid Qutb wacana ideologisasi di dunia ini hanya ada 2 yaitu ideologi jahiliyah dan Ideologi non-Jahiliyah. Ideologi jahiliyah ini merupakan sebuah ideologi yang menitikberatkan pada “unsur-unsur” materialis semata sedangkan ideologi non jahiliyah (islam) merupakan sebuah ideologi yang mencoba melihat permasalahan manusia secara keseluruhan tidak hanya dari “unsur-unsur” matrealisnya semata. Qutb melihat bahwa selama ini benturan ideologis antara kapitalisme dengan komunisme merupakan benturan ideologi yang semu karena sesungguhnya keduanya itu berangkat dari permasalahan yang sama yaitu permasalahan materi.

Di dalam pemikirannya ini Qutb ingin membangun sebuah basis epsitemologi berpikir umat muslim yang ada di dunia. Hal ini juga didorong oleh keinginannya Sayyid Qutb untuk mendirikan negara Islam karena dengan berdirinya sebuah negara Islam kebahagiaan umat manusia dunia dan akhirat akan terwujud.

Konsepsi tentang pemikiran Sayyid Qutb tentang Jahiliyah diawali ketika ia berada di Amerika Serikat. Di Amerika Serikat, ia melihat walaupun Pendidikan di Amerika Serikat modern akan tetapi secara “kebudayaan” tidak lebih baik dari zaman Jahiliyah Rasulullah SAW. Kehidupan seks bebas dan minum-minuman keras dipandang oleh Sayyid Qutb sebagai sebuah penyakit moral yang akut.

Hikmah
Hikmah yang dapat diambil dari pemikirannya Sayyid Qutb tentang konsepsi Jahiliyah adalah bahwa sebagai seorang muslim kita seharusnya menjadikan islam tidak hanya menjadi agama an sich semata akan tetapi haruslah menjadi sebuah political view dan ideological concept yang termanifestasikan di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sehingga ketika Islam sudah menjadi political view dan ideological concept maka tidaklah mustahil negara islam dapat berdiri di dunia ini.

Hasan Al-Banna merupakan pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin yang melihat bahwa Islam merupakan agama yang komperhensif dan menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia. Salah satunya adalah politik. Baginya, tujuan politik di dalam islam adalah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat (Lihat: Hasan al-Banna, Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, jilid I, Penerjemah Anis Matta, Rofi Munawwar, Wahid Ahmadi, Era Intermedia, Solo, 200, Hal. 191)

Salah satu tulisan yang membuka kesadaran berpolitik Sayyid Qutb adalah puisi dari Ali al-Ghayati yang berjudul My Nationality yang diterbitkan pada tahun 1910. Buku ini secara garis besar menjelaskan bahwa Mesir haruslah merdeka dan otonom lepas dari pengaruh Inggris. Tulisan ini juga yang akhirnya membuat Ali al-Ghayati dipenjara.

Salah satu buku sastra yang ditulis oleh Sayyid Quthb yang bernuansa romantisme adalah Asywak (Duri-duri). Buku lainnya yang menggugah semangat militan umat muslim dan menjadi buku terlarang pada waktu itu adalah Maalim fil Thariq (petunjuk jalan).(Alfath Satriya dan sumber lain).

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.