QS. Baqarah [2]: Ayat 170; Peran Agama dan Akal dalam Tradisi dan Budaya Leluhur

 

Falsafah Alquran adalah hidayah, buku gagasan dan kerja, memberi petunjuk dan arah hidup. Sejak awal, kitab hukum kehidupan ini tidak diamanatkan pada utusan Tuhan dalam rangka memerangi ataupun melegitimasi apa saja yang ada di masyarakat.


Bagaimana nilai budaya masyarakat berdialektika dengan wahyu? Apakah wahyu harus tunduk pada budaya leluhur? Ataukah sebaliknya: wahyu rezim penentu nilai budaya, betapapun tua dan bersejarahnya budaya itu? Ayat berikut ini memberi arah quranik mengembangkan tradisi, budaya dan peradaban manusia dalam dua landasan: pemahaman (berakal) dan kebenaran (berhidayah).

Implikasinya, wahyu menguatkan apa saja yang mulia, atau melengkapi yang kurang, atau meluruskan yang menyimpang, atau menghapus yang sesat, mengisi yang kosong dan membawakan yang baru. Sabda Baginda Nabi SAW, “Aku sungguh hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak.”

 

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ بَلۡ نَتَّبِعُ مَآ أَلۡفَيۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ شَيۡ‍ٔٗا وَلَا يَهۡتَدُونَ 


“Dan tatkala dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah Allah turunkan!’, mereka berkata, ‘Justru kami mengikuti apa yang telah membuat puas bapak-bapak kami.’ Apakah seandainya bahkan bapak-bapak mereka itu tidak berpikir (memahami) sesuatu dan tidak mendapat petunjuk?!'”

— QS. Al-Baqarah [2]: 170 —

 

Sabab Nuzul

Ibn Abbas berkata, “Rasulullah SAW menyeru kaum Yahudi agar masuk Islam; membuat mereka senang pada Islam dan memperingatkan mereka akan azab dan balasan Allah. Namun, Rafi’ ibn Kharijah dan Malik ibn ‘Awf berkata kepada beliau, “ Justru kami, hai Muhammad, mengikuti apa yang telah kami dapatkan dari bapak-bapak kami; merekalah orang-orang yang lebih tahu dan lebih baik dari kami.”

Maka, terkait dengan hal ini, Allah menurunkan ayat, “Dan tatkala dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah Allah turunkan!’ Mereka berkata, ‘Justru kami mengikuti apa yang membuat puas bapak-bapak kami.’ …” sampai akhir ayat (Jalaluddin Al-Suyuthi, Al-Durr Al-Mantsūr, jld. 2, hlm. 128)

Lihat juga:

 

Dalam wasiatnya kepada Ali bin Abi Thalib, Nabi SAW bersabda, “Hai Ali! Kalau orang-orang mendekat kepada Tuhan Pencipta mereka dari pintu-pintu kebajikan, mendekatlah engkau kepada-Nya dengan aneka macam akal, engkau pasti melampaui mereka berderajat-derajat dan berkedudukan mulia di tengah manusia di dunia dan di sisi Allah di akhirat.” (Al-Dzahabi, Hilyat al-Awliyā’, jld. 2, hlm. 18; Ray Syahri, Mīzān al-Hikmah, jld. 3, hlm. 2542; Ibn Syahin, Al-Targhīb fi Fadhā’il Al-A’māl, hadis no. 256).

 

Butir-butir Kebijaksanaan

1. Relasi Akal dan Wahyu. Ajaran dan hukum apa pun yang berasal dari Allah tidak bertentangan dengan akal manusia. Wahyu dan akal sama-sama bukti dan keterangan Allah; yang satu bukti eksternal Allah dari luar diri dan yang kedua bukti internal Allah dari dalam diri manusia. Adiens utama wahyu, yakni Alquran, adalah akal. Maka langkah pertama memperoleh petunjuk Allah adalah berpikir dan menggunakan akal.

2. Wahyu dan taklid. Islam tidak mengakui seseorang beragama secara taklid, yakni ikut-ikutan apa kata tokoh atau kebanyakan orang. Para mujtahid dan mufti pun, di awal sekali kumpulan buku fatwa mereka, tidak membolehkan taklid dalam ushuluddin (masalah-masalah prinsipal keyakinan agama).

DALAM ALQURAN, POLA FALASI DAN SESAT BERPIKIR JUSTRU KEBIASAAN DI KALANGAN ELIT DAN TOKOH.

3. Taklid dan iman. Beragama dengan taklid, sebagaimana diingatkan oleh Imam Ali ibn Abi Thalib r.a., akan rapuh dan tidak bertahan kokoh. Sayang sekali, tidak sulit dijumpai di tengah masyrakat Muslim yang, sebagaimana dalam studi sosiologis Muhammad Baqir al-Shadr, merasa telah beriman namun tidak memahami kandungan imannya dan tak mampu menjelaskan kebenaran prinsip-prinsip agama (Al-Sadr, Risālatunā, hlm. 35).

4. Faktor taklid. Salah satu penyebab orang bertaklid adalah fanatisme kesukuan, golongan dan kebangsaan. Dalam banyak kasus, fanatisme menjadi salah satu faktor yang berpotensi kuat menentang kebenaran, “Mereka berkata, ‘Justru kami mengikuti apa yang telah membuat puas bapak-bapak kami.

5. Tradisi sebagai penentu generasi. Tradisi dan kepercayaan leluhur berpengaruh kuat pada masa depan anak-anak dan pola hidup generasi mendatang. Ayat di atas terulang sekian kali di sejumlah surah, menunjukkan betapa pentingnya posisi tradisi dalam Alquran. Selain mengingatkan tradisi leluhur sebagai referensi generasi mendatang, Alquran juga menceritakan kisah-kisah generasi terdahulu untuk dipetik pelajaran baik dan buruk dari kehidupan mereka. 

6. Tradisi dan nilai argumen. Dalam ayat ini, tradisi leluhur disinggung sebagai argumen yang diandalkan oleh generasi penerus untuk membela pendirian dan pola hidup mereka. Pada hemat Alquran, kebenaran tidak ditentukan oleh kebiasaan turun temurun dalam sejarah suatu masyarakat. Membela pendirian sekarang atas dasar semata-mata tradisi atau aklamasi dahulu dari generasi sebelumnya disebut secara teknis dengan argumentum ad antiquitam, yaitu satu falasi dan pola pengecohan berpikir.

Lihat juga:

 

7. Tradisi dan tokoh masyarakat. Dalam Alquran, pola falasi dan penyesatan berpikir ini justru kebiasaan yang dipraktekkan oleh elite dan tokoh masyarakat (mutrafūn). Alih-alih berperan sebagai pendidik bangsa, mereka justru membodohkan kebenaran dan membodohi masyarakat. Tidak seperti awam yang hanya tidak tahu dan tidak mengerti, elit dan tokoh tahu kebenaran, tetapi mempermainkan kebenaran dan ketulusan publik. Kebodohan tingkat mereka inilah yang melahirkan perselisihan dan konflik tercela, yakni perselisihan setelah melihat kebenaran, “Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat” (QS. Al Imran [3]: 105).

8. Nilai tradisi dan budaya leluhur. Tidak semua tradisi baik, dan tidak semua adat budaya itu buruk. Jika terdapat pengaruh buruk dan implikasi negatif pada tradisi dan kepercayaan leluhur, sudah sepatutnya mengantisipasi dan menghindari keburukan pengaruh serta dampak tersebut.

9. Nilai kebenaran dan hormat pada leluhur. Nenek moyang dan leluhur sudah sepantasnya dihormati dan dijaga martabat mereka. Namun kebenaran lebih utama untuk dihormati dan lebih luhur untuk dimuliakan. Dalam hadis masyhur disabdakan, “Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam bermaksiat pada Pencipta.” Dalam dua redaksi yang nyaris sama, Alquran juga mengingat larangan menaati orang tua dalam melanggar agama (QS. Luqman [31]: 15; QS. Al-Ankabut [29]: 8).

Maka itu, jika leluhur dan nenek moyang bangsa berpendirian tidak berdasarkan akal, kebenaran dan hidayah, mereka tidak layak diikuti dan diteladani, sekalipun pola pikir dan hidup mereka disebut sebagai tradisi dan budaya luhur. Sebaliknya, suatu tradisi dan warisan budaya patut dilestarikan selama menunjang konsekuensi-konsekuensi hidayah dan Ketuhanan yang Maha Esa.

10. Akal dan nilai Kebenaran. Dengan apakah kebenaran sesuatu dapat diketahui? Dalam ayat ini, Alquran mengajukan akal sebagai kriteria menilai kebenaran. Bahkan kebenaran berasalnya Alquran dari Tuhan juga didasarkan pada hukum akal, “Seandainya ia berasal dari selain Allah, pasti mereka sudah mendapati pertentangan di dalamnya” (QS. Al-Nisa’ [4]: 82).

11. Akal dan petunjuk. Dengan akal, manusia menjadi tahu kebenaran. Tetapi, tahu saja tidak cukup untuk menjadi pendirian dan komit pada kebenaran. Banyak orang yang sudah tahu bahayanya korupsi, namun tetap saja mereka melakukannya. Maka, selain akal dan tahu kebenaran, perlu faktor lain, yaitu hati dan ketulusan menerima kebenaran. Di hati yang tuluslah hidayah dan petunjuk tumbuh. Karena itu, di ayat ini Alquran menuntaskan peran akal (berpikir) dengan hidayah dan petunjuk, “… bapak-bapak mereka itu tidak berpikir (memahami) sesuatu dan tidak mendapat petunjuk?!”

SELAIN AKAL DAN TAHU KEBENARAN, PERLU FAKTOR HATI DAN KETULUSAN MENERIMA KEBENARAN. HANYA DI HATI YANG TULUS HIDAYAH DAN PETUNJUK TUMBUH.

Akal yaitu daya pikir yang digunakan dalam memahami agama dan mengarahkan manusia untuk berbuat baik. Dalam Tafsir Thabathaba’i, akal dan daya pikir yang bekerja di luar fungsi pemahaman dan pengarahan itu, namun semata-mata difungsikan untuk menghasilkan keuntungan duniawi saja, bukanlah akal (Al-Mīzān, jld. 2, hlm. 154). Dalam hadis disebutkan, “Akal adalah sesuatu yang karenanya Tuhan Yang Mahakasih disembah dan dengannya surga-surga diraih.” ِDengan akal pula selamat dari neraka, “Dan mereka berkata, ‘Andai saja dahulu kita mendengarkan atau berpikir, pasti kita tidak berada di neraka Sa’ir'” (QS. Al-Mulk [67]: 10).

12. Kriteria figur dan keteladanan. Kalimat penutup dalam ayat, “Apakah seandainya bahkan bapak-bapak mereka itu tidak berpikir (memahami) sesuatu dan tidak mendapat petunjuk?!” merupakan pertanyaan retorik yang subtansinya adalah kritik atas cara mereka mengikuti tradisi dan leluhur mereka tanpa kriteria: kebenaran akal dan ketulusan hati.

Dengan akal, manusia mengetahui, dan bersama hati, manusia teguh berkeinginan tulus untuk mengusahakan kebenaran dan kebaikan yang diketahuinya. Dengan demikian, ia mendapat petunjuk, berperilaku adil dan bijak. Maka, kriteria keteladanan ialah ilmu dan iman, pengetahuan yang benar dan ketulusan hati. Pemilik dua kriteria ini adalah figur yang patut diikuti dan diteladani.

Ilmu tanpa iman dan kemauan/cinta tidak akan berefek apa-apa. Orang tahu kebenaran namun tanpa iman akan menjadi seperti lampu di tangan orang buta; lampu baginya tidak berguna juga tidak menguntungkan orang lain. Meski lampu di tangannya, dirinya bisa tersandung sehingga dirinya juga lampunya akan rusak atau padam.

13. Keyakinan dan aspek psikologis dan sosiologis. Pada ghalibnya, manusia merasa nyaman dan puas dengan kepercayaan leluhur dan ajaran nenek moyang sehingga tidak mudah meninggalkannya kecuali orang yang berpikir jernih, kritis, dan menimbang pemahaman serta kepercayaannya dengan ajaran agama dan Alquran yang berasal dari kebijaksanaan dan pengetahuan Allah SWT. Dalam rangka ini pula ayat ini menggali akar-akar psikologis dan sosiologis pemikiran dan keyakinan.

Dapat diamati bagaimana seluruh kata kerja dalam ayat ini berbentuk plural. Bentuk ini menampilkan suatu fenomena sosiologis yang, dalam analisis sosiologis, patut dipertimbangkan dan dimanfaatkan dalam menganalisis dan menilai gejala sosial terkait dengan pendirian, keputusan dan keberpihakan.

14. Akal dan pendidikan. Pembinaan akal dan nalar merupakan salah satu bidang terpenting dalam pendidikan yang kurang mendapatkan perhatian. Pada umumnya, pendidikan dilaksanakan sebatas pembinaan moral, pembinaan ibadah dan pembinaan sosial. Padahal, dapat dipastikan bahwa pendidikan akal dan pengembangan intelektual, dari banyak aspek, justru lebih fundamental dan lebih berpengaruh dibandingkan bidang pendidikan dan pembinaan lainnya.

15. Tantangan umat dan bangsa. Banyak masalah dunia Islam sekarang yang bermunculan akibat dari lemahnya rasionalitas dan intelektualitas umatnya. Ikut-ikutan dan asal memviral berita tanpa dasar argumen dan fonfirmasi merupakan tantangan serius yang semestinya ditangani oleh para penyelenggara pendidikan. Sebaliknya, lapisan dari jajaran tokoh dan pejabat bahkan dengan mudah mendiskusikan kebohongan begitu alot, sementara di tengah gererasi muda begitu mudah berbagi data mentah dan tuduhan palsu antar sesama saudara seiman dan sebangsa.

Tantangan dan kendala ini tampak berat dan kian besar dalam budaya komunikasi dan interaksi melalui perangkat-perangkat elektornik dan media-media sosial. Falasi dan pengecohan pikiran semakin berkembang dengan alat-alat canggih dan teknik-teknik serta metode yang kian halus dan sulit terlacak. Realitas masyarakat ini tidak dalam rangka membuat putus asa atau masabodoh, tetapi diangkat sebagai motivasi untuk lebih teliti, waspada dan sungguh-sungguh lagi dalam membina nalar serta emosi generasi umat dan bangsa.[HCF]

HAKIKAT SESEORANG ADALAH AKALNYA, DAN TIADA AGAMA BAGI ORANG YANG TAK BERAKAL.
— Baginda Agung Nabi SAW, Rawdhat Al-Wā‘izdīn, 1/9 —

 

Hadis

Dalam riwayat lain, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a. mengatakan, “Orang yang belajar agama dari mulut orang-orang akan digelincirkan jatuh oleh orang-orang itu. Namun orang yang belajar agama dari Kitab (Alquran) dan Sunnah tidak akan binasa, sekalipun gunung-gunung hancur.” (Rawdhat Al-Wā‘izdīn wa Bashīrat Al-Mutta‘īzdīn, jld. 1, hlm. 22).

Dalam riwayat yang panjang tentang kedudukan dan fungsi akal, sebagaimana dicatat oleh Hisyam ibn Al-Hakam, Imam Musa bin Ja’far Al-Kadzim r.a. berkata, “Hai Hisyam! Allah tidak mengutus para nabi dan rasul-Nya kepada hamba-hamba-Nya kecuali agar mereka berpikir tentang Allah. Maka, hamba yang paling baik menerima [kebenaran] adalah hamba yang paling baik pengetahuannya, dan hamba yang paling mengetahui Allah adalah hamba yang paling baik akalnya, lalu hamba yang paling sempurna akalnya dialah hamba yang paling tinggi derajatnya di dunia dan di akhirat.” (Abu Ya’qub al-Kulaini, Ushūl Al-Kāfī, jld. 1, hlm. 16).

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.