Kontradiksi Alquran (1): Dalam Beribadah, Ada Batasnya atau tidak Ada?

 

TAFSIR-QURAN.COM–Dalam sebuah ayat, kita membaca, “Sembahlah Allah dan jauhilah Tagut” (QS. Al-Nahl [16]: 36). Di ayat lain ayat, kita juga membaca, “Dan sembahkan Tuhanmu sampai keyakinan datang kepadamu” (QS. Al-Hijr [15]: 99). Ayat pertama adalah perintah wajib agar kita terus beribadah kepada Allah tanpa batas waktu dan tempat, sementara ayat kedua membatasi kita sampai di mana kita wajib beribadah, yaitu sampai di saat kita mendapatkan keyakinan.
 

Baca juga: QS. Al-Dhaha [93]: Ayat 7; Nabi Sesat (1): Antara Tidak Tahu, Bingung Dan Lengah
Baca juga: QS. Al-Nur [24]: Ayat 35; Wahdatul Wujud (2): Makhluk Itu Ada Atau Tidak?
Baca juga: QS. Al-Nur [24]: Ayat 35: Wahdatul Wujud (1); Kafir Atau Tidak?
 

Pertanyaannya: jika sudah mendapatkan keyakinan, apakah kita tidak lagi wajib beribadah sehingga, misalnya, kita tidak lagi melakukan shalat puasa, haji, dan boleh meninggalkan kewajiban-kewajiban ini? Lalu, bagaimana dengan ayat pertama yang memerintahkan beribadah tanpa batas? Jika, ayat pertama ditafsirkan dengan ayat kedua, maka ayat pertama dijelaskan batasan beribadah oleh ayat kedua, yaitu beribadahlah sampai di masa kita mendapat keyakinan. Jika demikian, apakah kalau sudah mendapatkan keyakinan dan berjumpa dengan Allah lantas kita tidak lagi wajib menyembah Allah dan boleh bekerjasama dengan Tagut?
 
 

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahkan Tuhanmu sampai keyakinan datang kepadamu!”
(QS. Al-Hijr [15]: 99)

 

Jawab:
Beribadah dalam rangka mencapaikan keyakinan tidak bedanya dengan analogi: gunakan tangga agar sampai di atap rumah. Ya, seringkali ibadah diibaratkan dengan tangga, alat memanjat. Ibadah sama fungsinya seperti tangga untuk mencapai tujuan, yaitu atap keyakinan. Namun, analagi ini tidak lantas mengajarkan agar kita membuang tangga sesampainya di atap rumah dan di derajat tinggi keyakinan.

Orang yang merasa sudah memperoleh derajat tinggi keyakinan dan kedekatan dengan Allah hingga dia menganggap tidak perlu lagi beribadah atau ibadah tidak lagi berarti bagi dirinya, misalnya tidak lagi shalat dan membuka aurat, dia seperti orang yang jatuh dari langit meluncur masuk ke bumi atau disambar angin hingga tersesat jauh dari tujuan semula, “maka seakan-akan dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh” (QS. Al-Jajj [22]: 31). Semakin tinggi tingkatan yang dia capai dengan ibadah, semakin besar pula ujian kejatuhannya juga semakin intensif dan halus setan memperdayainya.

Bukan hanya di kalangan pemikir, di kalangan sufi juga bisa dijumpai pemahaman keliru seperti ini sehingga seorang sufi yang merasa sudah bertemu dengan Tuhan dan mencapai Hakikat dia menganggap dirinya sudah tuntas beribadah dan bebas dari syariat bahkan mengajarkan orang lain agar tidak lagi komit pada perintah dan larangan agama. Kecenderungan praktek liberal dalam hukum agama juga muncul dari sebagian orang yang mengaku guru sufi.

Seorang filosof arif-sufi abad ke-17, Sadruddin al-Syirazi, mengeluhkan perilaku pengaku-sufi di jamannya, “Di antaranya mereka mengatakan, “karena Tuhan tidak perlu ibadah kita, untuk apa melakukan ibadah?!”, atau, “syariat hanya untuk orang-orang yang tertutupi hijab saja, bukan untuk orang-orang yang telah mencapai Tuhan”, atau, “syariat hanyalah sebagai kulit luar. Sebelum membuang kulit, kamu tidak bisa mencapai isi rahasia yang tersimpan di dalamnya” (Shadrul Muta’allihin, Kasr Ashnâm Al-Jâhiliyyah, hlm. 16-17).

Karena ‘tlah sampai di atap langit
Tak lagi gairah mencari tangga!

(Jalaluddin Rumi, Matsnawi Ma’nawi, Daftar ke-3, bait 1402).
 

Ayat kedua di atas tidak dalam rangka membuat garis pembatas antara ibadah dan yakin, dimana jarak tempuh ibadah sampai batas tertentu, lalu ibadah menjadi habis sampai di batas itu dan berikutnya seorang hamba masuk ke wilayah yakin. Ayat itu menerangkan dampak tertinggi dari ibadah, yaitu yakin. Dan dampak ini hanya tetap bertahan adanya bila bersama dengan sebabnya, yiatu ibadah. Mendapat keyakinan tanpa lagi ibadah seperti mengharapkan memperoleh dampak tanpa sebab.

 

Maka perlu dicatat bahwa:
1. Bagi orang beriman, ibadah merupakan tangga mencapai keyakinan dan kedekatan bersama Allah.

2. Tangga ibadah tetap berarti dan diperlukan orang beriman selama mencapai dan sepanjang memiliki keyakinan.

3. Meninggalkan dan membuang tangga sama artinya jatuh imannya dan menjatuhkan keyakinannya menjadi ingkar, merasa diri sudah cukup hingga sesat.

4. Mencapai Tuhan bukan berarti dia seperti sudah berada sepenuhnya di atap dan tidak lagi berada di tangga. Bagaimanapun, derajat Tuhan tidak bisa ditempati dan dicapai sepenuhnya oleh manusia sebagai makhluk. Sufi sekalipun yang mengaku telah lenyap dirinya (fanā’) dan melihat yang-ada hanyalah Tuhan tidak akan pernah menempati dan menggantikan sedikitpun posisi Tuhan. Setinggi apa pun pencapaian manusia menjumpai Allah hanyalah pendekatan diri dengan-Nya dan tetap ada hijab/tirai selubung gelap yang tidak bisa ditanggalkan dari dirinya, yaitu realitasnya sebagai makhluk. Wujūduka dzanbun la yuqāsu bihi dzanbun (keberadaanmu adalah dosa yang tak terbandingi oleh dosa apa pun).

5. Maka, menjumpai Allah dan mencapai derajat Yakin melihat Al-Haqq dengan ibadah yaitu orang yang mencapai atap dengan tangga hanya selama ia tetap berada di tangga. Maka, melepaskan tangga bukan hanya berpisah dari derajat Yakin, tetapi juga pasti jatuh terhempas dan menjauh dari Allah.
 

Ibadah seperti aliran sungai yang diarungi hamba menuju laut; semakin maju kian deras dan lebar ruas sungai hingga tiba di laut, selanjutnya ia bersama aliran ibadah dan dalam air ibadah ia tengah samudera tak bertepi menyelami keluasan, kejernihan, kedalaman dan keindahannya.

 

6. Ibadah berasal dari kata ‘abd, yakni budak dan hamba yang tidak punya kehendak dan keputusan apa-apa di hadapan tuannya. Beribadah yaitu ketundukan total manusia di bawah kehendak dan hukum Allah. Maka ibadah adalah pengakuan dan pembuktian diri sebagai budak dan hamba (‘abd) Allah.

7. Melepaskan tangga (meniadakan nilai ibadah) dalam keadaan apa pun, sebelum dan seketika ataupun sesudah mencapai atap keyakinan, adalah sama dengan ia menganggap dirinya bukan lagi hamba dan budak Allah, menganggap dirinya sederajat dengan Allah dan, dengan demikian, telah syirik dan menempatkan dirinya sebanding dengan Allah.
 

Derajat Hakikat tidak mungkin dapat dicapai selain melalui ibadah dan pengamalan hukum syariat; hanya lewat jalur syariat, tarikat ditempuh dan hakikat dapat dicapai.

 

Di surah lain, setelah Allah mengingatkan agar manusia menghormati batasan-batasan hukumnya, Dia memuji orang yang mengagungkan batas-batas kehormatan (hurumāt) Allah sebagai orang yang beribadah dengan ikhlas, konsisten dan istiqamah (hunafā’) tanpa menyekutukan-Nya, lalu Dia memperigatkan, “Barangsiapa menyekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh tersungkur dari langit lalu disambar oleh burung atau dihempaskan oleh angin ke tempat yang sangat jauh.” (QS. Al-Hajj [22]: 31).

Masih belum cukup, berikutnya Allah kembali mengingatkan, “Demikianlah [ketetapan Allah]. Maka barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu adalah dari ketakwaan hati.”

Hurumāt yaitu apa saja yang tidak boleh dilanggar, dan syiar yaitu lambang dan simbol penanda. Di antara batasan Allah yang harus dijaga dan syiar-Nya yang paling menonjol adalah hukum-hukum agama yang yang harus ditaati sebagai bukti pengagungan dan tanda kehambaan (Tafsīr Al-Jalālyn, Tafsir Majma’ Al-Bayān, Tafsīr Ibnu Katsīr, Tafsīr Al-Qurtubī).
 

Baca juga: QS. Al-Baqarah [2]: Ayat 42; Cara Membuat Hoax
Baca juga: QS. Al Imran [3]: Ayat 169; Jihad Dan Syahid, Dua Ajaran Unik Dan Istimewa
Baca juga: QS. Al Imran [3]: Ayat 118; Seni Rahasia Dalam Politik Dan Hukum-Hukum Musuh
Baca juga: Telah Terbit: Tafsir Imam Ghazali
 

8. Sebagai orang pertama yang diseru ayat kedua diatas, Nabi Muhammad Saw. telah meraih keyakinan dan tak sedikit pun melalaikan ibadah. Ia manusia terpilih, tersempurna, hamba dan budak paling sempurna di hadapan Allah. Ia teladan bagi semua kalangan umat. Identitas budak adalah derajat tertinggi para nabi. “Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya.” Ibadah adalah kesukaan Nabi, dan tidak sekejap pun ia berada di luar kehambaan dan keberibadahan. Merasa bebas dari perintah dan larangan agama, bukan hanya bertentangan dengan Nabi SAW, tetapi juga telah kehilangan identitas diri sebagai hamba, lebih hina dari udara bergerak, tersesat jauh di bawah kepantasannya sebagai binatang.

“Tidakkah aku layak menjadi hamba yang banyak bersyukur?” Hadis masyhur dari Nabi Saw. ini diungkapkan dalam banyak kesempatan sebagai jawaban atas pertanyaan Siti Aisyah, “Kenapa engkau menanggung semua kesulitan ini?” Pertanyaan ini terlontar saat dia melihat beliau selalu menangis dan beribadah di malam hari, tanpa kenal lelah dan kesulitan.

9. Manusia itu, selama dia makhluk, akan tetap berstatus hamba dan penyembah Allah. Mustahil kehilangan kemakhlukannya, maka mustahil pula kehilangan status hamba penyembah Allah dari hakikat dirinya. Prestasi apa pun dan sehebat apa pun kekuasaan manusia tidak akan mengubah identitas dirinya sebagai makhluk dan hamba Allah. Seperti dalam ayat kedua di atas, salah satu prestasi tertinggi manusia ialah melihat Hakikat dan yakin pada Realitas Tertinggi (Allah). Dalam capaian ini, dia tetap saja sebagai hamba, bahkan lebih hamba dari manusia yang lain. Selama identitas hamba melekat pada dirinya, dan selama itu pula ia menghamba dan menyembah Tuannya. Karena itu, ayat kedua tidak bertentangan dengan ayat pertama.

10. Ayat kedua di atas tidak dalam rangka membuat garis pembatas antara ibadah dan yakin, dimana jarak tempuh ibadah sampai batas tertentu, lalu ibadah menjadi habis sampai di batas itu dan berikutnya seorang hamba masuk ke wilayah yakin. Ayat itu menerangkan dampak tertinggi dari ibadah, yaitu yakin. Dan dampak ini hanya tetap bertahan adanya bila bersama dengan sebabnya, yaitu ibadah. Mendapat keyakinan tanpa lagi ibadah seperti mengharapkan memperoleh dampak tanpa sebab.
 

Baca juga: QS. Maryam [19]: Ayat 96; Syarat Menjadi Manusia Rahmatan Lil Alamin
Baca juga: QS. Al-Anbiya’ [21]: Ayat 105; Masa Depan Dunia Dan Pelaku Sejarah Masyarakat
Baca juga: QS. Al Imran [3]: Ayat 169; Jihad Dan Syahid, Dua Ajaran Unik Dan Istimewa
Baca juga: QS. Al-Mursalat [77]: Ayat 15; Dari Membohongi Diri Sendiri Sampai Membohongi Allah
 

11. Tatacara ibadah diatur dalam syariat. Dalam bahasa Arab, makna harfiah syariat adalah aliran sungai. Maka, dalam satu analogi, ibadah seperti aliran sungai yang diarungi hamba menuju laut; semakin maju kian deras dan lebar ruas sungai hingga tiba di laut, selanjutnya ia bersama aliran ibadah dan dalam air ibadah ia tengah samudera tak bertepi menyelami keluasan, kejernihan, kedalaman dan keindahannya. Samudera itulah puncak pencapaiannya. Di titik manapun dia berada di samudera, di situlah air ibadah berada, karena samudera adalah air. Keyakinan adalah aliran tertinggi ibadah dan pengamalan syariat.

“Dan barangsiapa yang datang kepada-Nya dalam keadaan beriman dan beramal baik, maka mereka itulah orang yang memperoleh derajat-derajat yang tinggi. [Yaitu] surga-surga Aden yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan bagi orang yang menyucikan diri” (QS. Thaha [20]: 75-76).

12. Tidak taat dan tidak lagi beribadah atau taat pada selain Allah dan mempercayakan masa depannya ditentukan oleh selain manusia-manusia yang direstui Allah adalah sama artinya syirik dan membandingkan Allah dengan selain-Nya dalam urusan apa pun, “Sembahlah Allah dan jauhilah Tagut” (QS. Al-Nahl [16]: 36). Derajat syirik setiap orang ditentukan oleh dirinya sendiri seimbang dengan kesungguhannya komit dalam ketaatan dan ibadah.[HCF]
 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.