QS. Al-Baqarah [2]: 147: Hubungan antara Merasa Paling Benar, Radikal dan Toleran

 

Berpikir logis, terbuka dan optimis, rendah hati, sabar, dan kasih sayang merupakan lima etika kebenaran yang perlu diupayakan sebagai komitmen bersama. Ketiadaan salah satunya patut diwaspadai sebagai gejala radikalisme juga toleransi “radikal” yang merusak diri sendiri dari dalam.

Apa yang salah dari orang yang mengaku benar sepenuhnya? Apa masalahnya dengan orang yang mengklaim dirinya paling benar dan benar seratus persen? Apakah merasa paling benar itu berarti radikal dan ekstrem? Dalam keyakinan sebagian orang, cara melawan radikalisme dan intoleransi ialah tidak merasa paling benar. Sebaliknya, tidak merasa paling benar itu cara menjadi pribadi toleran dan santun. Benarkah demikian?

 

الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Kebenaran adalah dari Tuhanmu, maka janganlah engkau sekali-kali termasuk orang-orang yang ragu.”
— QS. Al-Baqarah [2]: 147 —

 

Ayat ini, dengan redaksi yang sama, terulang dalam QS. Al Imran [3]: 6. Sepenggal dari ayat ini juga terdapat dalam QS. Al-Kahfi [18]: 29.

“Kebenaran adalah dari Tuhanmu”. Kebenaran di sini yaitu kebenaran yang ada pada manusia. Jika kebenaran di sini kebenaran yang ada pada Tuhan, maka kata ‘dari’ (min) menjadi kelebihan, tidak bermakna apa-apa, dan redaksi ayat ini harusnya berbunyi begini: Kebenaran adalah Tuhanmu. Maka, kebenaran di awal ayat ini adalah kebenaran yang ada pada manusia. Artinya, kebenaran manusia adalah dari Tuhan.

BACA JUGA:

 

Lalu, apakah kebenaran yang ada pada manusia itu sama dengan kebenaran yang ada pada Tuhan ataukah tidak sama? Kata ‘dari’ (min) menyatakan bahwa kebenaran manusia itu berasal dari Tuhan. Kata ‘dari’ yaitu asal dan berarti ‘asli’. Jika tidak asli, maka tidak ada keberasalan, dan kata min menjadi tidak berarti.

Sebagai contoh, ketika menteri menunjukkan kepada wakilnya, “Surat Keputusan ini dari presiden.” Kalimat ini menyatakan bahwa SK yang ada di hadapan menteri dan wakilnya itu adalah surat yang sama, asli dan sudah ada sebelumnya di presiden. Jika surat itu tidak sama dengan surat di presiden, maka surat di menteri itu tidak asli, tidak ada di tangan presiden, tetapi palsu dan bohong.

TANPA JIWA RAHMAT DAN SABAR, PASIEN MALAH BERPOTENSI SEGERA JADI KORBAN MALPRAKTEK ATAS NAMA AGAMA.

Demikian pula, dalam keterangan Allah kepada manusia bahwa “Kebenaran adalah dari Tuhan”, merupakan pernyataan dari Allah sendiri bahwa kebenaran yang ada pada manusia itu adalah sama, yakni asli dan identik dengan kebenaran pada Allah.

Maka, kata ‘dari’ (min) dalam ayat di atas menyatakan bahwa kebenaran Allah yang mutlak dapat dijangkau dan diketahui oleh manusia. Kata ‘dari’ ini juga menyatakan bahwa kebenaran mutlak yang dipahami manusia sesungguhnya berasal dari Allah, bukan dari dirinya sendiri. Karena itu, tidaklah benar merasa tinggi hati, riya (unjuk diri) dan ujub (bangga diri) dengan kebenaran mutlak, sebab kebenaran itu bukan dari dirinya sendiri, tetapi berasal dan rezeki dari Allah yang harus disyukuri.

Lalu, bagaimana cara menyukuri rezeki kebenaran?

  • Berpikir logis
  • Terbuka dan optimis
  • Rendah hati
  • Sabar
  • Rahmat dan kasih sayang

 

Pertama, berpikir dan berkata logis. Yaitu, komitmen pada kebenaran, menilai, memutuskan dan berbuat hanya berdasarkan kebenaran. Sebaliknya, menyampaikan kebenaran dengan kekerasan, rekayasa atau cara-cara irasional lainya adalah tindakan-tindakan yang justru merusak kebenaran.

Dalam Alquran, hanya ada tiga cara manusiawi menjaga kebenaran dalam menyampaikannya: hikmah kebijaksanaan, nasihat yang baik, dan debat terbaik (QS. Al-Nahl [16]: 125). Yakni, menjadi kepanjangan lidah kebenaran dengan logika yang memuaskan akal, dengan nasihat yang menyentuh hati, dan adu argumen dengan saling menghormati, sopan tutur kata, dan semangat mencari kebenaran. Dengan begitu kebenaran terjaga utuh.

Sebaliknya, asal tuduh tanpa argumen, asal keras suara ikut-ikutan orang lain, asal berujar sekalipun kasar dan kotor, ngotot dan asal menyenangkan peserta forum hingga mendapat tepuk tangan meriah dari mereka tidak akan membuat dirinya bertambah benar selain menghina wajah kebenaran.

BACA JUGA:

 

Kedua, terbuka dan optimis, yakni berjiwa besar membuka peluang kebenaran tetap terbuka bagi semua orang. Kebenaran manusia adalah kebenaran Allah. Maka, kebenaran tidak beridentitas, bukan milik identitas tertentu, tidak ditentukan oleh kubu, kelompok, organisasi, lembaga, kelas, ras, kasta, dan asal-muasal tertentu.

Menilai orang lain pasti sesat selamanya tidak bedanya dengan menutup kemungkinan dia menyesal, bertaubat dan berubah sikap. Penilaian itu juga pengakuan bahwa kebenaran hanya monopoli dirinya dan menutup pintu hidayah rapat-rapat bagi orang lain. Di sisi lain, penilaian itu juga mengungkapkan kegagalan dirinya sendiri dalam meyakinkan kebenaran kepada pihak lain lantaran harapannya berlebihan agar orang lain segera berubah, sekaligus pesimisme dan keputusasaannya pada orang lain dalam mengubah pikiran dan sikapnya.

 

KATAKANLAH, “WAHAI HAMBA-HAMBA-KU YANG MELAMPAUI BATAS TERHADAP DIRI MEREKA SENDIRI! JANGANLAH ENGKAU BERPUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH.”
♦ QS. Al-Zumar [39]: 53

 

Ketiga, rendah hati. Tidak ada yang bisa memastikan dirinya pasti benar selamanya, juga tidak ada yang bisa memastikan orang lain pasti salah selamanya. Betapa banyak orang yang asalnya baik jadi buruk, berada di pihak yang benar lalu beralih ke pihak yang salah. Demikian pula tidak sedikit orang yang asalnya buruk jadi baik, dari pihak yang salah berpindah ke pihak yang benar.

Menuntut orang lain berubah hanya logis dan adil bila dirinya juga membuka peluang untuk mau berubah dengan satu kesepakatan bersama: mengikuti kebenaran. Yakni, merendah hati dan sujud di hadapan kebenaran, sekalipun dari orang bermoral bejat. Sabda Nabi SAW, “Ambillah hikmah, walaupun dari mulut orang munafik.”

JANGAN SAMPAI KEINGINANMU MENYAMBUNG HUBUNGAN DENGAN SAUDARAMU DIKALAHKAN OLEH KEINGINAN SAUDARAMU MEMUTUS HUBUNGAN.
— Ali bin Abi Thalib

Tidak ada masalah merasa dan mengaku paling benar. Juga tidak masalah menilai orang lain pasti salah. Itu masih sesuai dengan fitrah dan naluri manusia. Setiap orang hanya dan hanya menginginkan kebenaran mutlak, bukan kebenaran setengah-setengah. Karena itu, melawan radikalisme dengan cara menumpas perasaan paling benar hanyalah keberhasilan sementara, akan sama gagalnya dengan meniadakan atau merelatifkan kebenaran.

Memang, tidak mudah menjangkau kebenaran mutlak, tetapi tidak mustahil dan sangat bisa diperoleh. Dalam upaya menjangkau kebenaran, tentu ada kendala dan tantangan. Di antaranya, merasa diri paling benar dan menilai orang pasti salah berdampak pada merasa paling benar selamanya dan menilai orang lain pasti salah dan sesat selamanya. Di situlah gejala radikalisme dan kesombongan hati yang menodai wajah mulia kebenaran. Ancaman ini juga sama kuatnya pada pihak yang yakin dirinya paling toleran selamanya dan orang lain intoleran selamanya.

Keempat, sabar. Perlu kesabaran untuk tetap berada dalam kebenaran, sabar dalam menyampaikan kebenaran dengan bijak, dan sabar menghadapi penolakan bahkan olok-olok terhadap kebenaran. Jangan terlalu percaya pada diri sendiri. Dalam keadaan yakin sepenuhnya pada kebenaran mutlak, seseorang harus senantiasa menjaga dirinya agar tetap konsisten dan teguh berada di atas kebenaran. Banyak contoh manusia yang goyah dan lupa diri hanya karena uang dan jabatan.

 

“YA TUHAN KAMI! LIMPAHKANLAH KESABARAN KEPADA KAMI, TEGUHKANLAH LANGKAH KAMI, DAN TOLONGLAH KAMI MENGHADAPI ORANG-ORANG KAFIR.”
♦ QS. Al-Baqarah [2]: 250

 

Kelima, rahmat dan kasih sayang. Jika seseorang merasa paling benar dan menilai orang lain pasti salah, maka bijak kiranya berpikir bagaimana berbagi kebenaran hingga dapat dinikmati oleh orang lain, tanpa pemaksaan dan kekerasan, tanpa pula penipuan dan rekayasa. Inilah jiwa rahmat dan welas asih. Dengan jiwa rahmat, orang salah atau sesat tidak akan dipandang musuh dan ancaman, tetapi layaknya seorang pasien yang membutuhkan perawatan dan penanganan dengan sepenuh hati, ketelatenan, optimisme dan kesabaran. Tanpa jiwa rahmat dan kesabaran penyeru, pasien malah berpotensi segera jadi korban malpraktek atas nama agama dan kebenaran.

Kembali ke pertanyaan di muka, apakah merasa paling benar itu berarti radikal dan ekstrem? Apakah cara melawan radikalisme dan intoleransi ialah tidak merasa paling benar? Sebaliknya, apakah tidak merasa benar paling benar itu cara menjadi pribadi toleran dan santun?

Terlampau tergesa-gesa menghubung-hubungkan perasaan diri paling benar dengan radikalisme. Juga terburu-buru merasa sudah toleran dengan menegasikan perasaan paling benar dari diri sendiri. Jawaban atas pertanyaan di atas tergantung pada masing-masing: sejauhmana komitmen diri kita pada lima nilai etika kebenaran tadi: berpikir logis, terbuka dan optimis, rendah hati, sabar, dan kasih sayang. Ketiadaan salah satunya patut diwaspadai sebagai gejala radikalisme juga toleransi “radikal” yang merusak diri sendiri dari dalam.[HCF]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.