QS. Al ‘Imran [3]: 139, tidak Unggul, maka tidak Beriman

 

وَلَا تَهِنُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ

Dan janganlah kamu merasa lemah dan bersedih, padahal kamu orang-orang yang lebih unggul jika kamu orang-orang beriman.”
(QS. Al ‘Imran [3]: 139)

Ayat ini peringatan agar orang beriman tidak merasa lemah dan berjiwa inferior di hadapan siapa saja selain Allah dan kebenaran. Ayat ini juga merupakan penekanan atas kewibawaan dan kemuliaan jiwa, yakni kemuliaan pribadi dan kemuliaan bangsa. Tokoh-tokoh perjuangan Islam menanamkan jiwa ini agar masyarakat dan umat Islam percaya diri bahwa “Kita bisa”. Inilah nilai budaya Al-Quran bagi seorang Muslim.

Ayat ini seolah mengingatkan bahwa ada relasi kontradiktif antara merasa lemah atau sedih dan beriman atau menjadi muslim. Sebaliknya, beriman berarti merasa kuat, percaya diri, tegar, dan bahagia. Orang yang berjiwa inferior dan berkeluh kesah bukanlah orang beriman dan muslim sejati. Iman dan keislamannya hanya di lisan dan pernyataan kata-kata.

Iman dan kepercayaan akan keunggulan dan ketinggian merupakan sarana keunggulan orang beriman dan masyarakat Islam. Keunggulan dan ketinggiannya bukan semata-mata material, tetapi juga spiritual; keunggulan dunia dan akhirat. Maka, iman seseorang akan menempatkan dirinya di atas derajat kewibawaan dan kemuliaan.

Ayat ini menegaskan bahwa keunggulan seorang Muslim bukan karena darah dan keturunan, ras dan suku, ikatan kekeluargaan dan kebangsaan, tetapi prinsipnya adalah keunggulan berkat keterikatan jiwa pada Allah SWT, pada agama-Nya yang mengajarkan hidayah, cinta, keselamatan dan kesempurnaan hakiki bagi umat manusia.

Diriwayatkan oleh Hasyraj ibn Abdullah ibn Hasyraj dari ayah dari datuknya bahwa tatkala ia datang bersama Abu Sufyan ibn Harb di hari penaklukan kota Mekkah, Rasulullah sedang dikelilingi para sahabatnya, lalu mereka berkata, “Inilah Abu Sufyan dan A’idz ibn Amr.” Maka Rasulullah bersabda, “Ini A’idz ibn Amr dan Abu Sufyan, namun Islam lebih hebat dari planet; Islam unggul dan tidak diungguli.” (Sunan Al-Bayhaqi, jld. 6, hlm. 205).
 

Baca juga: QS. Al-Nur [24]: 52; Kriteria Kesuksesan: Taat, Takut, Dan Takwa
Baca juga: QS. Al-Syu’ara’ [26]: 194; Kapasitas Hati, Motivasi, Dan Edukasi
Baca juga: QS. Al-Muzammil [73]: 15; Bunuh Fir’aun Dulu, Baru Memimpin
 

Sejarah awal kelahiran Islam telah membuktikan keunggulan dan ketinggian Islam dan umatnya. Sulit membayangkan bagaimana Nabi Muhammad SAW mengemban amanah kenabian dan hidayah untuk segenap umat manusia di tanah jazirah Arab, di era Jahiliyah, di antara dua kekuatan besar dunia: Timur (Persia) dan Barat (Romawi), namun beliau dalam waktu singkat berhasil mengangkat agama dan umatnya berada di atas masanya dengan iman dan amal shaleh. Sebaliknya, kemunduran, kehinaan, dan kejatuhan umat Islam terjadi karena melemahnya iman mereka pada Allah dan agama.

Imam Ali ibn Abi Thalib r.a. berkata, “Wahai sekalian manusia! Andai saja kalian gigih dalam memperjuangkan kebenaran dan tidak merasa lemah dalam melemahkan kebatilan, pastilah orang-orang yang tidak seperti kalian tidak akan bermuslihat terhadap kalian juga tidak akan kuat orang yang berkuasa atas kalian.” (Nahj Al-Balâghah, pidato no. 166).

Semua faktor, yakni Islam dan ajaran kehidupannya, yang telah berhasil menciptakan peradaban besar di Abad Keemasan kaum Muslimin masih tersedia dan berada di genggaman mereka sekarang ini. Dalam ayat, “Hai orang-orang yang beriman, sambutlah Allah dan Rasul pabila menyeru kalian kepada apa yang menghidupkan kalian” (QS. Al-Anfal [6]: 24), Islam meyakinkan bahwa agama Allah ini sanggup mengangkat umatnya ke puncak peradaban, keunggulan ilmu dan kewibawaan politik.

Hanya iman, bekerja keras dan bersatu tanpa pecah belah merupakan tiga syarat mencapai tujuan tinggi tersebut: “Dan orang-orang yang berjihad demi Kami pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang berbuat kebaikan” (QS. Al-Ankabut [29]: 12), “Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya, dan janganlah kalian bertikai sehingga kalian gagal dan hilang kekuatan kalian, dan bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar” (QS. Al-Anfal [6]: 46). Lemahnya tiga dasar pembangunan dan pencapaian tujuan akan berakibat kegagalan dan kemunduran umat Islam: “Dan janganlah kamu merasa lemah dan bersedih, padahal kamu orang-orang yang lebih unggul jika kamu beriman.” Maka, jiwa dan pikiran setiap manusia muslim jangan sedikit pun terasuki rasa lemah dan dilemahkan oleh diri sendiri ataupun oleh orang lain.
 

Baca juga: Pemilik Alquran Tertua Di Indonesia, Justru Bukan Orang Islam
Baca juga: Sejarah Penerjemahan Alquran Di Indonesia
Baca juga: Masuk Islam Karena Alquran (2): Gary Miller, Profesor Kanada Yang Tadinya Menantang Dan Mencari-Cari Kesalahan
 

Ayat ini mengajak setiap Muslim untuk instrospeksi diri dan jujur terhadap kondisi diri sendiri: apakah kita benar-benar unggul di dunia ini dalam budaya, sosial, politik, ekonomi, teknologi, media massa, ilmu-ilmu kemanusiaan, sains-sains empirik, dan bidang-bidang peradaban lainnya? Jika tidak unggul, dan memang demikian adanya, sudah sepatutnya kita mengoreksi iman kita, pemahaman kita, serta komitmen kita.

Salah satu problem utama bahkan di kalangan elit dan tokoh dunia Islam adalah kebodohan ganda: mereka yakin tahu, padahal sesungguhnya mereka tidak tahu; mereka berpikir dunia Islam dan kaum Muslimin sudah cukup unggul, padahal realitasnya tidaklah demikian. Menengok sejenak tulisan, statemen, pidato, dan analisis di media-media cukup untuk menampilkan gejala kebodohan ganda itu; betapa sejumlah tokoh dari kalangan ulama, cendekiawan dan aktivis tidak memiliki kekuatiran dan kegelisahan lagi akan realitas kemandekan dan kemunduran dalam sejarah kontemporer umat Islam.

Seorang mukmin adalah manusia yang beriman dan percaya pada Allah dan komit seteguh-teguhnya dalam mengamalkan kepercayaannya. Kualitas ini akan mengangkatnya ke tingkat yang tinggi sehingga ia tidak akan dapat dikuasai oleh siapa pun. berdasarkan ayat ini, seorang mukmin tidak akan merasa lemah, inferior dan kecil hati. Sebagaimana ditekankan dalam pidato Imam Ali r.a., sebagian orang menyandangkan nama ‘muslim’ pada dirinya, namun ia lemah dan merasa tak berdaya dalam memperjuangkan kebenaran di hadapan kebatilan. Muslim seperti ini, bukan hanya tidak pantas mencapai kedudukan lebih unggul dan lebih utama, tetapi juga musuh-musuhnya lebih bergairah dalam melemahkan, menjatuhkan, menghinakan hingga menguasainya.

Manusia yang sungguh-sungguh beriman tidak pernah merasa lemah dan tak berdaya di hadapan bencana dan tantangan. Sebaliknya, perasaan lemah dalam mempertahankan kebenaran merupakan indikasi lemahnya iman kita.

Maka, manusia mukmin sejatinya adalah muslim yang berkomitmen kuat dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya; ia tidak merasa lemah dan putus asa atas apa yang terjadi dalam pelaksanaan tersebut, karena ia percaya bahwa semua terjadi dengan kehendak Allah SWT dan, tentunya, Dia menginginkan yang terbaik di balik kejadian buruk bagi hamba-Nya yang beriman tulus.

Manusia beriman tidak akan kuatir akan kehilangan posisi dan status. Baginya, di atas segalanya adalah kedudukan di sisi Allah SWT. Seseorang yang memiliki kedudukan hakiki tidak akan berkurang harkat dan martabatnya hanya karena rendah dan lemah di mata orang lain.[ph]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.