QS. Al-Isra’ [17]: 73; Kapan Ulama Menjadi Kawan Musuh?

 

وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ
عَلَيْنَا غَيْرَهُ ۖ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا

Dan sesungguhnya mereka hampir melalaikan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu agar kamu membuat-buat selainnya atas nama Kami; dan kalau sudah demikian tentulah mereka menjadikan kamu sahabat setia.”
(QS. Al-Isra’ [17]: ayat 73)

Singkatnya, musuh-musuh Nabi SAW berupaya keras hingga mereka nyaris berhasil membuat beliau terpedaya, lalai dan berpaling dari apa yang telah diwahyukan Allah SWT kepada beliau sehingga beliau berbohong dengan cara membuat-buat sesuatu selain wahyu lalu menisbatkannya kepada Allah dan mengatakan bahwa itu berasal dari Allah. Jika Nabi SAW telah berpaling dan berbohong, musuh-musuh itu akan mengakui beliau sebagai sahabat dan kepercayaan mereka. Upaya mereka ini merupakan salah satu cara mereka, kalau tidak meniadakan nabi, membuat nabi kembali ke keyakinan mereka, “Berkata orang-orang kafir kepada rasul-rasul mereka, ‘Sungguh kami akan mengeluarkan kalian dari negeri kami atau kalian kembali ke dalam agama kami …‘” (QS. Ibrahim [14]: 13).

Dalam tafsir Al-Mizan, karya Allamah Thabathaba’i, disebutkan riwayat bahwa orang-orang musyrik meminta Nabi SAW agar menghormati berhala-berhala atau memberikan kesempatan tetap menyembah berhala selama satu tahun. Nabi SAW hampir saja menerima permintaan mereka itu, akan tetapi Allah SWT menjaga beliau sehingga permintaan itu tidak dikabulkan beliau.

Oleh karena itu, di ayat selanjutnya, keadaan Nabi SAW tersebut juga diungkapkan, “Dan andai saja Kami tidak memperteguh kamu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka.”

Ayat ini dan riwayat tadi menerangkan bahwa, pertama, Nabi SAW adalah manusia maksum yang tidak berbuat apa pun selain yang dikehendaki Allah SWT dan, kedua, kemaksuman beliau adalah berkat penjagaan dan penguatan dari Allah SWT. Beliau telah mencapai derajat wilayah (kedekatan dan kecintaan mutlak) bersama Allah hingga Allah melindungi kecintaan dan kesayangan-Nya di atas semua makhluk.
 

Baca juga: QS. Al-Qashash [28]: 56; Iman, Takdir Allah di Tangan Manusia
Baca juga: QS. Al ‘Imran [3]: 139, Tidak Unggul, Maka tidak Beriman
Baca juga: Terbitkan Hasil Riset Al-Quran 800 Halaman, Profesor Jerman Kritik Tajam Budaya Barat
 

Sesungguhnya mereka hampir melalaikan kamu”, kalimat awal ayat ini menunjukkan bahwa musuh-musuh terus berusaha dan membuat perencanaan menjinakkan dan menundukkan hati Nabi SAW, yakni membujuknya dengan berbagai janji dan insentif hingga berada bersama mereka sebagai sahabat dan kroni.

Ini sekaligus peringatan kepada para penerus Nabi SAW, yakni ulama dan para pemimpin umat, bahwa:

Pertama, musuh agama itu benar-benar ada;
Kedua, pertarungan dan konfrontasi berlangsung antara dua kubu: kawan kebenaran dan musuh kebenaran;
Ketiga, musuh-musuh kebenaran agama itu tidak tinggal diam untuk terus berencana, mencari cara dan menghitung langkah untuk menundukkan dan mengalahkan kekuatan kebenaran.
Keempat, agar waspada, tanggap dan tidak terkecoh di hadapan rencana, politik serta konspirasi musuh-musuh;
Kelima, cara musuh menundukkan dan menjinakkan kubu kebenaran adalah dengan dua pola: (a) kekerasan berupa ancaman, boikot, pengusiran hingga pembunuhan dan peperangan, (b) diplomasi lunak berupa pemberian fasilitas, rekening, janji, insentif, kompromi dan transaksi hingga pencitraan dan pembentukan opini.
Keenam, usaha kotor dan politik jahat musuh-musuh itu betul-betul terencana dan serius hingga membuat bahkan Nabi SAW sendiri hampir terlalaikan. Maka, apa pun kemungkinan buruk dari mereka sudah sepatutnya diantisipasi dan ditangani secara serius dan hati-hati oleh para ulama dan pemimpin umat.

Cara dan pola kedua musuh menundukkan Nabi SAW sebagai figur utama agama dan kebenaran itu, seperti bunyi ayat “agar membuat-buat selain wahyu atas nama Allah“, pada intinya ialah merusak pola pikir dan emosi umat atau, dalam bahasa populernya, penyerangan budaya, yaitu dengan melemahkan iman umat Islam dan mengubah ajaran-ajaran Allah (agama). Penyerangan dan pertempuran budaya, tentu saja, jauh lebih rumit dan berat daripada penyerangan fisik dan militer.

Lalu, bagaimana musuh-musuh agama Allah itu memastikan Nabi dan orang-orang beriman sebagai sahabat mereka?

Ayat ini menerangkan, yaitu dengan “melalaikan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepada kamu”. Yakni, mereka akan menerima keberadaan ulama dan pemimpin umat sebagai sahabat musuh-musuh agama tatkala mereka mau berpaling dari dan meninggalkan ajaran Allah dengan cara-cara: menyimpangkan, mengaburkan, dan mengubah ajaran Allah SWT. Di ayat lain disebutkan bahwa musuh-musuh Islam tidak akan puas bekerja sampai umat Islam bergabung dan ikut ajaran mereka, mendukung agenda dan tujuan mereka (lihat QS. Al-Baqarah [2]: 120).
 

Baca juga: QS. Al-Baqarah [2]: 42, Norma Etika Jurnalistik dan Pengacara
Baca juga: QS. Al-Mursalat [77]: 7; Menguji Iman dalam Merespon Janji Tuhan
Baca juga: Mufassir Perempuan (1): Bintu Syathi dari Mesir
 

Kalimat di akhir ayat, “dan kalau sudah demikian tentulah mereka menjadikan kamu sahabat setia”, adalah catatan peringatan lain bahwa diterima menjadi sahabat musuh kebenaran adalah seharga dengan menolak kebenaran. Artinya, menyimpangkan realitas, mengaburkan fakta, dan membuat-buat kebohongan adalah sama dengan menjadi musuh kebenaran dan berada di kubu musuh, walaupun dia hadir di tengah umat dengan atribut dan suara umat.

Maka itu, tidaklah bernilai sama sekali suatu relasi dan persahabatan dengan orang, lembaga dan negara apa pun bila dibangun dan dipertahankan dengan cara berpaling dari kebenaran dan nilai-nilai suci agama. Muslim, terutama ulama, yang berbicara dengan suara kepentingan musuh kebenaran, bukan hanya tidak membela nilai-nilai kebenaran agama, tetapi juga dapat dipastikan gagal dalam melaksanakan perintah Nabi SAW, “Katakanlah kebenaran, walaupun itu pahit!”

Dengan demikian, dapat dirasakan betapa cobaan dan godaan para ulama dan pemimpin umat, para penentu nasib umat, dalam menjaga ajaran dan hukum Allah, membina dan membangun masyarakat mulia berdasarkan nilai-nilai insani-ilahi; mereka menguatkan iman dan takwa, komitmen dan integritas mereka agar, dengan inayah Allah SWT, tangguh menjaga diri mereka tetap bersih, terpercaya sebagai pelindung umat dan bangsa, tidak termakan umpan kotor politik musuh-musuh kebenaran.

Iman berarti yakin bahwa tidak ada yang bisa dipercaya dan diandalkan olah orang beriman kecuali kekuatan Allah, la hawla wa la quwwata illa bi-Allah, sementara penguatan dan perjagaan Allah hanya akan diperoleh dengan menjaga komitmen pada hukum dan agama-Nya, “Wahai orang-orang beriman, apabila kamu membela Allah, pasti Dia membelamu dan mengokohkan kaki-kakimu” (QS. Muhammad [47]: 7).[ph]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.