QS. Al-Kahfi [18]: 16, Muslim dalam Masyarakat Korup

 

وَ إِذِ اعْتَزَلْتُمُوْهُمْ وَ ماَ يَعْبُدُوْنَ إِلاَّ اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَ يُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقاً

“Dan tatkala kalian meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka berlindunglah ke gua itu, niscaya Tuhan kalian menebarkan sebagian rahmat-Nya untuk kalian dan menyediakan untuk kalian kecukupan dalam urusan kalian”
(QS. Al-Kahfi [18]: 16)

Studi Kebahasaan

  • Gua di sini adalah padanan untuk kata al-kahf, yaitu gua besar di lereng gunung.
  • “kalian meninggalkan mereka”, yakni beruzlah dan memisahkan diri dari masyarakat.

Hadis

  • Imam Musa Al-Kazdim ra. berkata, “Hai Hisyam! Tabah atas kesendirian adalah tanda kekuatan akal. Maka, orang yang mendapatkan kebijaksanaan akal dari Allah akan memisahkan diri dari orang-orang yang condong kepada dunia dan pecintanya, dan dia akan menantikan apa yang berasal dari Allah, dan Allah menjadi kenyamanannya dalam kegentingan, temannya dalam kesendirian, kecukupannya dalam kesukaran hidup, dan menjadikannya wibawa tanpa merusak” (Ushūl Al-Kāfī, jld. 1, hlm. 17).
  • Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Akan tiba suatu masa dimana orang-orang tidak dapat lagi menjaga agamanya kecuali orang yang berlindung dari satu gunung ke gunung yang lain dan dari satu cadas ke cadas yang lain, seperti rubah yang lari dari singa.’ Para sahabat bertanya, ‘Kapan masa itu tiba?’ Rasulullah menjawab, ‘Ketika nafkah tidak diperoleh kecuali dengan bermaksiat kepada Allah. Pada saat itulah seseorang akan binasa oleh kedua orangtuanya; jika ia tidak memiliki orang tua, ia akan binasa oleh istrinya dan anaknya; jika ia tidak memiliki istri ataupun anak, ia akan binasa oleh kerabat dan tetangganya.’ Para sahabat bertanya lagi, ‘Bagaimana hal itu terjadi, ya Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Yaitu tatkala mereka mencelanya dengan kesusahan hidup dan memaksanya dengan sesuatu yang tidak mampu ia tunaikan hingga dengan demikianlah mereka membuatnya binasa’” (Mustadrak Al-Wasā’il, jld. 11, hlm. 388).
  • Diriwayatkan oleh Mujahid dari ayahnya, ia berkata, “Dahulu, Ali bin Husein [Zainal Abidin] senantiasa berdoa di saat matahari tergelincir di hari-hari bulan Sya’ban dan di pertengahan malam di bulan yang sama, lalu ia bersholawat kepada Nabi dengan sholawat ini:
    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدِ الْكَهْفِ الْحَصِينِ وَ غِيَاثِ الْمُضْطَرِّ الْمُسْتَكِينِ
    وَ مَلْجَإِ الْهَارِبِينَ وَ عِصْمَةِ الْمُعْتَصِمِين‏
    “Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad yang merupakan gua yang kokoh, perlindungan orang-orang terhimpit dan lemah, tempat berlindung orang-orang yang lari, dan sandaran orang-orang yang mencari tegangan.” (Mishbāh Al-Mutahajjid, jld. 2, hlm. 828).

Tadabur

  • kalian meninggalkan mereka.” Islam adalah agama sosial dan umat Islam adalah umat bersosial. Akan tetapi, ketika Islam berada dalam ancaman serius, seoang muslim dapat memisahkan diri dan meninggalkan masyarakat sebagaimana dalam hadis di atas. Jadi, meninggalkan masyarakat dan memisahkan diri dari mereka dibenarkan sejauh masyarakat tersebut terbentuk dari orang-oran yang hanya memikirkan dunia dan bagaimana mendapatkan hal-hal duniawi, bukan meninggalkan masyarakat apa pun secara mutlak.
  • Meninggalkan masyarakat korup dan orang-orang penggemar dunia tidak berarti dilakukan secara fisik. Seorang beriman boleh jadi berada di tengah masyarakat rusak dan berinteraksi dengan orang-orang tak beriman, tetapi ia tetap menjaga batin dan hatinya di luar pengaruh dan kekuasaan mereka. Hal ini yang juga dilakukan oleh Asiyah yang justru berada di jantung kehidupan Firaun.
  • Dalam ayat disebutkan gua itu (al-kahf), bukan suatu gua (kahf: tanpa awalan alif-lam). Jika seseorang memisahkan diri dari masyarakat demi agamanya, tentu dia harus memiliki tempat berlindung tertentu dan jelas sehingga ia mendapat perlindungan di sana. Barangkali atas pertimbangan ini pula Ahlulbait disebut sebagai gua yang kokoh, sebagaimana dalam riwayat dari Imam Ali Zainal Abidin di atas.
  • Jika seseorang memisahkan diri dan menjauh dari masyarakat demi menjaga agamanya dan berlindung ke tempat tertentu, ia pasti diliputi rahmat khusus Allah SWT, dan Dia akan menyediakan kondisi dan faktor yang sesuai dengan harapannya sedemikian rupa hingga, adakalanya, tak terduga dan tak terbayangkan dalam pikirannya sendiri, bukan dalam pikiran dan imajinasi orang lain. Ini sebagaimana dialami oleh orang-orang mukmin penghuni gua tatkala mereka lari dan mengasingkan diri dari masyarakat hingga mereka tidur, lalu 300 tahun kemudian mereka bangun di tengah masyarakat yang sudah beriman.
  • Bagi orang yang konsisten menjaga dan berjuang demi agama boleh jadi sendiri di tengah masyarakat. Akan tetapi, Allah SWT dengan rahmat-Nya yang khusus dan luas mengatur dan menundukkan alam hingga sesuai dengan keinginannya dan harapannya.
  • Orang beriman akan mengambil jarak, meski secara batin, dari orang-orang yang tidak beriman juga dari sesembahan mereka. Sesembahan ini tidak semata-mata berupa barang konkret, tetapi yang lebih penting ialah hal-hal abstrak seperti pemikiran, ideologi, tindakan, golongan, partai, status sosial, jabatan, relasi, karya, prestasi, termasuk juga buku karangan.
  • Diriwayatkan dari Ibnu Syaniyyah, ia berkata, “Aku pernah melihat Abu Dzarr duduk sendiri di masjid dengan melingkarkan kain Wal di sekeliling kakinya lalu berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda, ‘Sendirian lebih baik daripada bersama teman buruk, dan teman yang saleh lebih baik daripada sendirian. Dan diam itu lebih baik daripada mengatakan keburukan, dan mengatakan kebaikan itu lebih baik daripada diam” (Abu Bakar Al-Kha’ithi, Makārim Al-Akhlāq, hadis no. 708).

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.