QS. Al-Nur [24]: 15; Aturan Memviral Informasi

 

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

[Ingatlah] ketika kamu menerima [berita bohong] itu dari mulut ke mulut, dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu hal yang besar.”
(QS. Al-Nur [24], ayat 15)

Mulut seperti juga lidah; organ tubuh lunak, lentur dan paling mudah digerakkan. Manusia, sepanjang umurnya, tak pernah merasa kecapean, bosan juga kesakitan berkata-kata. Bagian tubuh berukuran kecil, tapi dampaknya tak terukur dahsyatnya. Tidak sedikit orang kafir menjadi suci lahir batinnya hanya dengan mengatakan kalimat syahadat. Dengan satu kata meluncur dari mulut, satu bangsa bisa bangkit atau terpuruk hancur.

Mulut ini unik; yang masuk ke dalamnya bisa menghidupkan badan, dan yang keluar darinya bisa menghidupkan jiwa. Makanan badan masuk ke dalam mulut, makanan pikiran juga keluar dari mulut. Maka, berhati-hatilah dengan mulut; jangan main-main. Jangan pernah menganggap remeh dan sepele apa yang keluar dari mulut.
 

Baca juga: QS. Al-Qashash [28]: 56; Iman, Takdir Allah di Tangan Manusia
Baca juga: QS. Al ‘Imran [3]: 139, Tidak Unggul, Maka tidak Beriman
Baca juga: Terbitkan Hasil Riset Al-Quran 800 Halaman, Profesor Jerman Kritik Tajam Budaya Barat
 

Mulut kunci kotak rahasia akal, alat paling ringan dan nyaman menukar pengetahuan dan pengalaman. Kini, mulut bisa berupa perangkat elektronik apa yang memindahkan pesan dan meneruskan informasi. Sambung menyambung pesan ini biasa disebut viral atau, dalam bahasa Alquran, menerima dari mulut ke mulut, seperti dalam ayat di atas. Berikut aturan Alquran bagaimana memviralkan pesan dan informasi:

Pertama, dilarang asal dengar; tidak menerima isu yang ramai diberitakan tanpa konfirmasi dan bukti: “[Ingatlah] ketika kamu menerima [berita bohong] itu dari mulut ke mulut”. Teliti dulu, baru viralkan.

Kedua, dilarang asal bunyi, asal ngomong; berkata dan ketiklah sesuatu yang sudah diketahui nyata kebenarannya; jangan memviralkan berita yang Anda sendiri tidak yakin kebenarannya: “dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun.

Ketiga, jangan menganggap kata-kata Anda, sependek apa pun, itu remeh dan tak berarti, apalagi menyangkut kehormatan dan harga diri sendiri dan orang lain: “dan kamu menganggapnya remeh.”

Keempat, perhitungkan kata-kata yang Anda hendak diungkapkan dan teks yang diketik untuk diunggah dan diviralkan di media komunikasi dan informasi. Menganggap remeh sesuatu yang sebenarnya berdampak besar itu kebodohan fatal dan dosa besar: “kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu hal yang besar.” Dalam hadis disebutkan, dosa besar adalah menyepelekan dosa kecil.

Kelima, ingatkan diri sendiri bahwa setiap kata ada perhitungan dan pertanggungjawabannya, kalau tidak di hadapan orang, pasti kelak di hadapan Allah Yang Maha Tahu dan Maha Adil: “dalam pandangan Allah itu hal yang besar.”

Lantas, harus bagaimana? Nabi SAW bersabda, “Jika kamu percaya Allah dan Hari Pembalasan, maka berkatalah yang baik atau diam.”[ph]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.