QS. Al-Nur [24]: ayat 35; Wahdatul Wujud (2): Makhluk itu Ada atau Tidak?

 

TAFSIR-QURAN.COM–Ayat lain yang relevan dibandingkan dengan ayat Nur (QS. Al-Nur [24]: 35; Wahdatul Wujud (1); Kafir atau Tidak?) adalah ayat pertama dari surah Al-Ikhlas: “Katakan Dia Allah adalah Esa”. Di sana, Allah mendefinisikan Diri-Nya sebagai ahad: Esa, Satu. Hasilnya, Allah adalah cahaya langit-langit dan bumi, dan cahaya Allah itu adalah esa dan satu.

Sekali lagi, cahaya di sini yaitu juga kenyataan, wujud, ada, realitas, “Nyata pada prinsipnya adalah ada” (Tafsīr Al-Baydhāwī, jld. 4, hlm. 107; Thabathabai, Tafsir Al-Mizan, jld. 15, hlm. 121). Maka, cahaya Allah yaitu realitas dan ada Allah, dan ada Allah itu satu, tidak banyak. Al-Qusyairi dalam tafsir ayat Nur menuliskan, “Dan dari Cahaya itulah cahaya langit-langit dan bumi sebagai penciptaan” (Lathā’if Al-Isyārāt, jld. 2, hlm. 367).
 

Baca juga: QS. Al-Nur [24]: Ayat 35: Wahdatul Wujud (1); Kafir Atau Tidak?
Baca juga: QS. Al-Baqarah [2]: Ayat 42; Cara Membuat Hoax
Baca juga: QS. Al Imran [3]: Ayat 169; Jihad Dan Syahid, Dua Ajaran Unik Dan Istimewa
Baca juga: QS. Al Imran [3]: Ayat 118; Seni Rahasia Dalam Politik Dan Hukum-Hukum Musuh
 

Lalu, di mana posisi ada makhluk? Bila cahaya dan ada itu satu dan hanya milik Allah, apa ini berarti cahaya tidak dimiliki makhluk sehingga makhluk itu tidak ada? Sepertinya, ayat Nur tidak menyatakan demikian.

Ayat Nur justru mengakui cahaya dan ada bagi makhluk (apa saja selain Allah). Ayat Nur menetapkan cahaya bagi makhluk. “Allah Cahaya langit-langit dan bumi” yakni apa saja di bumi dan di luar bumi itu ada dan bercahaya, dan cahaya mereka ini adalah cahaya Allah itu sendiri.
 


اَيَكُونُ لِغَيْرِكَ مِنَ الظُّهُورِ ما لَيْسَ لَكَ حَتّى يَكُونَ هُوَ الْمُظْهِرَ لَكَ
Apakah terdapat suatu kenyataan bagi selain Engkau yang tidak Engkau miliki sehingga ia menjadi penyata bagi-Mu?!

(Munajat Cucunda Nabi, Imam Husain ra., di Arafah)

 

Namun juga eksplisit bahwa, pada saat yang sama, ayat ini juga menetapkan cahaya makhluk sebagai predikat Allah (subjek). Artinya, cahaya makhluk yaitu bahwa makhluk adalah cahaya, dan cahaya makhluk ini sendiri merupakan predikat Allah. Di sini, tidak ada dua cahaya: yang satu milik makhluk dan yang lain milik Allah. Secara indah dalam sastra bahasa yang tinggi, ayat ini menempatkan hanya satu cahaya di antara Allah dan makhluk. Maka, Allah itu Cahaya langit dan bumi, dan cahaya mereka itu adalah Cahaya Allah itu sendiri.

Dengan kata lain, dalam ayat ini: “Allah adalah Cahaya langit-langit dan bumi”, Cahaya berada di tengah antara Allah dan makhluk. Cahaya ini terikat dengan makhluk, tetapi cahaya makhluk ini juga merupakan predikat bagi Allah. Allah dan makhluk bertemu pada satu cahaya, sehingga ayat ini bermakna demikian: “Allah itulah cahaya makhluk”, juga bermakna berikut: “cahaya makhluk itulah Allah”, bisa juga bermakna begini, “Cahaya Allah itulah makhluk”, dan bisa juga dipahami begini, “Makhluk itulah cahaya Allah”. Pertanyaannya, cahaya yang satu ini sesungguhnya milik siapa? Ada tiga kemungkinan:

A. milik Allah?
B. milik makhluk?
C. milik Allah dan makhluk?

Mari kita uji tiga kemungkinan di atas secara berurutan:

A. Tidak bisa dikatakan cahaya itu hanya milik Allah, karena cahaya Allah, dalam ayat ini, berstatus sebagai mudhāf yang dikaitkan dengan makhluk (langit dan bumi). “Allah adalah Cahaya langit-langit dan bumi” yakni Allah adalah Cahaya-nya makhluk; cahaya-nya makhluk yaitu cahaya milik makhluk.

B. Teks literal ayat ini juga secara eksplisit menyatakan bahwa Allah itulah cahaya makhluk. Maka, cahaya itu bukan hanya milik makhluk.
 


Cahaya dan wujud makhluk adalah cahaya pinjaman (al-nūr al-musta’ār). Tanpa pinjaman, makhluk pada dirinya sendiri tidak akan bercahaya, karena dia pada dirinya dan dengan sendirinya tidak memiliki apa-apa. Pemilik yang sesungguhnya cahaya pada dirinya sendiri hanyalah Allah.

 

C. Jadi, cahaya yang satu itu adalah milik Allah juga milik makhluk; satu cahaya adalah sama-sama milik kedua-duanya. Tetapi, apakah yang dimaksud “sama-sama” di sini? Ada dua opsi:

C.A. Allah dan makhluk sama-sama kuatnya, yakni sejajar dan sebanding dengan makhluk-Nya sendiri dalam memiliki cahaya. Jika Allah cahaya dan ada pada dirinya sendiri, makhluk juga ada dan cahaya pada dirinya sendiri. Ini tampaknya hanya sesuai dengan syirik dan menyekutukan Allah, “Dan tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya” (QS. Al-Ikhlas [112]: 4).

C.B. Allah dan makhluk sama-sama bercahaya dengan satu cahaya secara tidak sebanding dan sama kuatnya; cahaya itu milik Allah secara hakiki dan absolut, dan cahaya yang sama juga milik makhluk namun secara non-hakiki, bersyarat dan tidak pada dirinya sendiri juga tidak dengan dirinya sendiri, tetapi dengan syarat cahaya hakiki Allah. Di sini, cahaya Allah tidak sejajar, tidak sebanding, tidak setara, dan tidak sama kuatnya dengan makhluk-Nya, karena memang Allah adalah Realitas Absolut, Mahatinggi, Mahapurna (QS. al-Ikhlas [112]: 2), “Dan Allah Dialah Yang Mahakaya Maha Terpuji” (QS. Fathir [35]: 15), hingga tak terbandingkan dengan apa pun selain Diri-Nya, “Tidak ada yang serupa dengan-Nya sesuatu apa pun” (QS. Al-Syura [42]: 11). Selain tidak setara, Cahaya Allah juga tiga terbagi dan tiga terpenggal; Allah tidak berbagi cahaya/ada-Nya dengan makhluk hingga terpisah dan terlepas dari Cahaya-Nya lalu diterima dan dimiliki makhluk, karena “Dia tidak melahirkan” (QS. Al-Ikhlas [112]: 3).
 

Baca juga: Telah Terbit: Tafsir Imam Ghazali
Baca juga: Segera Unduh Terjemahan Lengkap 30 Juz Tafsir Ibnu Katsir!
Baca juga: Allamah Thabathaba’i: Pelopor Tafsir Al-Quran Bi Al-Quran
Baca juga: Imam Jalaluddin Al-Suyuthi; Mufasir Konsisten Di Atas Penguasa
 

Hanya ada satu Cahaya, satu Ada, yaitu Allah Realitas Absolut. Maka, apa saja selain Allah pada hakikatnya dan pada dirinya sendiri adalah nir-cahaya, nir-ada, dan ketiadaan. Yang ada dan bercahaya secara hakiki hanyalah satu, esa dan milik Allah yang ditebarkan kepada apa saja yang pada hakikatnya tidak nyata, gelap dan tiada.

Dalam bahasa Thabathaba’i (Tafsīr al-Mīzān, jld 15, hlm 122), cahaya dan wujud makhluk adalah cahaya pinjaman (al-nūr al-musta’ār). Tanpa pinjaman, makhluk pada dirinya sendiri tidak akan bercahaya, karena dia pada diri dan dengan sendirinya tidak memiliki apa-apa. Selama dalam keadaan meminjam, dia tidak memiliki, dan jika yang dipinjam itu ada (wujud), maka dia tidak memiliki ada, yakni dia adalah tidak ada. Pemilik yang sesungguhnya cahaya dan ada adalah Allah. Senada dengan ini, Al-Qusyairi mengatakan, “Dan Cahaya itulah yang darinya sesuatu (makhluk) dinamai sebagai sesuatu dengan nama itu (Cahaya)” (Lathā’if Al-Isyārāt, jld. 2, hlm. 367).
 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.