QS. Al-Nur [24]: ayat 35; Wahdatul Wujud (4): Cahaya Allah atau Cahaya Makhluk?

 

TAFSIR-QURAN.COM–Pada ghalibnya, penafsiran ayat Nur yang mengarah pada Kesatuan Ada (wahdatul wujud) datang dari para sufi. Itu dapat dengan mudah dijumpai dalam karya tasawuf, irfan dan, terutama, tafsir mereka. Sebut saja, Imam Ghazali. Salah satu karya terbaiknya dalam tasawuf, Misykāt Al-Anwār, ia secara khusus mengarang buku ini atas dasar ayat Nur. Bahkan dapat dikatakan, buku ini tafsir sufistik Imam Ghazali atas ayat Nur.
 
 

اللَّهُ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ


“Allah adalah Cahaya lelangit dan bumi”

(QS. Al-Nur [24]: 35)

 
Memang tidak begitu banyak dari kalangan sufi dan filosof Muslim yang dilaporkan berhasil menuntaskan tafsir Alquran seluruhnya, dari awal sampir surah terakhir. Setidaknya, mereka meluangkan fokus pada, utamanya, tiga surah: Al-Fatihah, Al-Ikhlas, dan Al-Qadr, atau juga Al-‘A’la. Adapun di antara ayat yang memikat hati mereka ialah ayat ke-3 di surah Al-Hadid, ayat ke-15 dari surah Fathir, ayat ke-17 dari Al-Anfal, dan tentu saja ayat Nur ini.
 

Baca juga: QS. Al-Dhaha [93]: Ayat 7; Nabi Sesat (1): Antara Tidak Tahu, Bingung Dan Lengah
Baca juga: QS. Nur [24]: Ayat 35; Wahdatul Wujud (3): Sudah Ada Di Awal Al-Fatihah
Baca juga: QS. Al-Nur [24]: Ayat 35; Wahdatul Wujud (2): Makhluk Itu Ada Atau Tidak?
Baca juga: QS. Al-Nur [24]: Ayat 35: Wahdatul Wujud (1); Kafir Atau Tidak?
 

Di tafsiran surah-surah dan ayat-ayat itu para sufi dan filosof Muslim melontarkan doktrin Kesatuan Ada. Tentu saja, Tafsir Isyarat (al-tafsīr al-isyāriy)—begitu resminya dinomenklaturkan dalam disiplin ilmu tafsir untuk tafsir sufi—tidak dalam rangka menyalahkan atau menafikan penafsiran yang lain. Ia hanya salah satu metode atau pendekatan dalam upaya membuka satu dari sekian lapisan makna dari suatu ayat.

Sekilas saja mencermati penggunaan kata nur (cahaya) di sepanjang Alquran, akan dijumpai banyak makna cahaya, di antaranya Islam, kebenaran, nabi, Alquran, ilmu, iman, termasuk sinar empirik seperti pada bulan.

Terkait cahaya dalam ayat Nur, para mufasir umumnya menafsirkan dengan cahaya iman, cahaya ilmu, bahkan cahaya sinar empirik seperti dari Sudiy yang dalam catatan kaki atas Tafsīr Al-Jalālayn dinilai tidak relevan, karena tidak sesuai dengan makna lelangit dan bumi sebagai apa saja yang ada di dalam keduanya dan apa saja selain keduanya, yakni seluruh alam (jamī‘ al-kawn), sedangkan cahaya sinar empirik dari matahari dan bulan tidak mencakup seluruh alam (Al-Mufashshal, hlm. 1302). Cahaya empirik hanya membantu orang dalam melihat dengan mata, tetapi tidak terlibat dalam mengaktifkan indra selain mata.
 

Baca juga: QS. Al-Baqarah [2]: Ayat 42; Cara Membuat Hoax
Baca juga: QS. Al Imran [3]: Ayat 169; Jihad Dan Syahid, Dua Ajaran Unik Dan Istimewa
Baca juga: QS. Al Imran [3]: Ayat 118; Seni Rahasia Dalam Politik Dan Hukum-Hukum Musuh
Baca juga: Telah Terbit: Tafsir Imam Ghazali
 

Baydhawi merangkum penafsiran para mufasir atas cahaya di ayat Nur dalam tiga tafsiran:

A. Penyinar dan penerang (al-munawwir, al-munīr) lelangit dan bumi. Penyinar yakni pemberi cahaya kepada alam.

B. Pengelola (al-mudabbir) dan memberi petunjuk (al-hādī) langit dan bumi. Dalam bahasa Arab, pemimpin yang bijak dalam pengelolaan disebut sebagai nūr al-qawm (cahaya bangsa), karena kemampuannya mengarahkan dan mengelola kehidupan rakyatnya dengan baik dan bijak.

C. Pewujud dan pengada (al-mūjid) langit dan bumi. Allah cahaya yaitu Allah pengada seluruh alam (Al-Baydhawi, jld. 2, hlm. 107; lihat juga: Ibnu Katsir, jld. 6, hlm. 57-58).

Bagaimanapun, Allah dalam ayat Nur ini tidak memperkenalkan Diri-Nya sebagai Pelaku. Penyinar, penerang, pengelola, pemberi-petunjuk, pewujud dan pengada, semua ini mengasumsikan Allah sebagai pelaku, yakni Allah sebagai pencahaya. Ayat ini tidak berbunyi pencahaya, tetapi cahaya itu sendiri.

Bedanya, cahaya adalah sifat esensial Allah (al-shifat al-dzātiyyah), sementara pencahaya (munawwir) sifat Allah dalam tindakan (al-shifat al-fi‘liyyah). Dalam makna yang kedua, Allah tampil cahaya-Nya dalam relasinya dengan tindakan kepenciptaan dan kepengaturan-Nya atas makhluk, sementara dalam makna pertama, Allah adalah cahaya penerang, baik sebelum ataupun setelah makhluk diciptakan-Nya. Tentu ada relasi antara cahaya dan pencahaya; pencahaya merupakan identitas esensial cahaya. Tanpa cahaya, sesuatu tidak mungkin aktif sebagai pencahaya; dia hanya akan berada sebagai pencahaya jika dirinya sendiri cahaya.
 

Baca juga: QS. Maryam [19]: Ayat 96; Syarat Menjadi Manusia Rahmatan Lil Alamin
Baca juga: QS. Al-Anbiya’ [21]: Ayat 105; Masa Depan Dunia Dan Pelaku Sejarah Masyarakat
Baca juga: QS. Al Imran [3]: Ayat 169; Jihad Dan Syahid, Dua Ajaran Unik Dan Istimewa
Baca juga: QS. Al-Mursalat [77]: Ayat 15; Dari Membohongi Diri Sendiri Sampai Membohongi Allah
 

Sebagaimana teks ayat Nur berbunyi, fokus pemaknaan ghalibnya kalangan sufi terfokus pada Allah sebagai cahaya, bukan pencahaya. Mereka lalu menafsirkan cahaya dalam ayat ini juga identik dengan wujud/ada. Penafsiran cahaya seidentik dengan ada ini sebenarnya juga dapat dijumpai dalam karya-karya tafsir nonsufi seperti dalam Tafsīr Al-Shāwī, jld. 3, hlm. 139; Tafsīr Al-Qurthubī, jld. 12, hlm. 256; Abdullah Al-Tayyibi, Fath al-Ghayb, jld. 11, hlm. 90; Husain Fadhlullah, Min Wahy al-Qur’ān, jld. 16, hlm. 322.

Tafsiran ini tampaknya juga tidak keliru, karena setiap wujud/ada itu nyata dan, karena itu, wujud/ada adalah sehakikat dengan cahaya, yaitu nyata pada dirinya sendiri dan membuat yang lain jadi nyata. Dengan kata lain, ada pada dirinya sendiri sekaligus mengadakan selainnya.

Dengan tetap utuh hakikat dan esensinya tadi, cahaya dan ada itu ambigu (musyakkik), yakni bergradasi, bertingkat-tingkat. Seperti iman dan ilmu juga bergradasi; mulai dari yang terlemah, kuat, lebih kuat hingga yang terkuat.

Demikian Cahaya dan Ada Allah merupakan tingkatan tertinggi dan dapat diakses (disaksikan mata hati) manusia sebanding dengan derajat iman dan ilmunya. Ada Allah bahkan bisa juga diingkari orang meski mata di kepalanya normal; dia bisa melihat dan menikmati sebatas permukaan keindahan alam tanpa bisa menyaksikan Ada Allah dan keagungan-Nya pada alam semesta.
 

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Sebenarnya bukan mata penglihatan yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”
(QS. Hajj [22]: 46)

 
Ayat Nur menunjukkan nilai sastra bahasa Alquran; menyediakan peluang setiap pembaca dengan beragam kapasitas iman dan ilmu untuk mengakses tingkatan-tingkatan ada/wujud-Nya. Seutas teks yang begitu hemat, ekspresif dan tuntas dapat mengakomodasi dan memuaskan tetingkatan pemahaman orang beriman, termasuk tingkatan pemahaman dari pengalaman para sufi.

Allah dalam ayat ini tidak mengatakan, “Allah adalah ada lelangit dan bumi”. Penggunaan kata cahaya merupakan penegasan hakikat cahaya seutuhnya, yaitu nyata pada dirinya sendiri dan membuat yang lain jadi nyata. Kalau suatu entitas ber-ada (memiliki ada) namun tidak pada dirinya sendiri, atau ber-ada tetapi tidak membuat yang lain jadi mengada, maka entitas itu bukan cahaya, tetapi sesungguhnya kegelapan dan ketiadaan.
 

Baca juga: Melacak Sejarah Penerjemahan Al-Quran, Bahasa Persia Di Peringkat Pertama
Baca juga: Tokoh-Tokoh Perintis Penerjemahan Alquran
Baca juga: Mufassir Perempuan (2): Banu Mujtahidah Isfahani Dari Persia
Baca juga: Segera Unduh Terjemahan Lengkap 30 Juz Tafsir Ibnu Katsir!
 

Karena itu, makhluk apa saja yang selama ini dirasakan, dipikirkan, diklaim serta disebut ada dan nyata, pada hakikat dan realitasnya, bukanlah ada dan tidak nyata (negasi), tetapi kenyataan dan ada mereka itu sesungguhnya Cahaya dan Ada Allah itu sendiri (afirmasi). Maka, meski tampaknya ada tiga variabel dalam hubungan ontologis makhluk dengan Allah, namun pada hakikatnya dan pada dasarnya hanya ada dua: Allah dan Cahaya-Nya.

Dalam ayat, Allah tidak mengatakan, Allah bercahaya (dzul al-nur: memiliki cahaya) atau pencahaya (al-munawwir/al-munir: pemberi cahaya) lelangit dan bumi, seperti umumnya lantas ditafsirkan begitu oleh mufasir dan penerjemah sehingga lalu bisa didudukkan jadi tiga variabel:

a. Allah Pemberi/Pemilik
b. cahaya yang dimiliki /diberikan Allah, dan;
c. lelangit-bumi yang menerima cahaya Allah.

Dalam redaksi ayat: “Allah adalah cahaya lelangit dan bumi”, jika diamati lebih teliti, maka yang sesungguhnya ber-ada dan nyata bukan tiga variabel, bukan pula dua variabel, tetapi hanya ada satu dan tunggal, yaitu Allah. Cahaya Allah adalah Diri Allah sendiri, karena jika cahaya Allah bukan Allah itu sendiri, maka Allah pada dirinya bukan cahaya, yakni tidak nyata pada dirinya juga tidak membuat yang lain jadi nyata.[AFH]
 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.