QS. Al-Nur [24]: ayat 35: Wahdatul Wujud (1); Kafir atau tidak?

 

TAFSIR-QURAN.COM–Seringkali keyakinan pada Kasatuan Ada atau Wahdatul Wujud dijadikan alasan oleh sebagian ulama seperti: Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya, untuk menjatuhkan hukum kafir ke atas siapa saja yang menganut keyakinan itu. Sebaliknya, penganut Kesatuan Ada seperti: Ibnu Arabi dan sejajaran nama sufi serta filosof, justru bangga dengan doktrin ini sebagai prestasi tertinggi dari pencapain asas Tauhid.

Artinya, sebagian orang muslim menghukumi kafir orang muslim lain yang merasa paling beriman, yakni meyakini tauhid tertinggi. Lalu, bagaimana Alquran sendiri menilai sikap dan keyakinan dari dua kelompok yang mengklaim diri sama-sama percaya pada Alquran?
 
 

اللَّهُ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ


“Allah adalah Cahaya lelangit dan bumi”

(QS. Al-Nur [24]: 35)

 
Ayat dari surah Al-Nur di atas adalah salah satu referensi yang tepat untuk direnungkan hingga diperoleh pemahaman terkait dengan duduk masalah ini. Ayat ini disebut juga dengan Ayat Cahaya dan, karena ayat ini pula, surah yang mengandung ayat ini disebut dengan nama surah Al-Nur, Surah Cahaya (Syaikh Muhammad al-Shadiqi, Al-Furqan fi Tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an wa al-Sunnah, jld. 21, hlm. 8 & 151).
 

Baca juga: QS. Al-Nur [24]: Ayat 35; Wahdatul Wujud (5): Antara Iya Juga Tidak
Baca juga: Telah Terbit: Tafsir Imam Ghazali
Baca juga: Allamah Thabathaba’i: Pelopor Tafsir Al-Quran Bi Al-Quran
Baca juga: Imam Jalaluddin Al-Suyuthi; Mufasir Konsisten Di Atas Penguasa
 

Dalam terjemahan Bahasa Indonesia aplikasi Android versi Kemenag, penggalan ayat di atas diterjemahkan begini: Allah adalah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Ini sudah bukan terjemahan lagi, tetapi tafsiran dari penerjemah. Dalam ayat tidak ada kata Arab yang bisa dipadankan dengan ‘pemberi’ sehingga terdesak untuk juga memasukkan kata ‘kepada’. Karena itu, dalam terjemahan tersebut, kata ‘pemberi’ dan ‘kepada’ diletakkan dalam tanda kurung sebagai tafsiran dari penerjemah.

Sederhananya, ada tiga kata kunci dalam redaksi ayat di atas:
(1) Allah
(2) Cahaya
(3) Lelangit dan bumi

Ya, sederhana sekali karena ajaran Kesatuan Ada (wahdatul wujud) bisa diklarifikasi benar-salahnya, kafir-tidaknya, sekedar memahami secara jernih tiga kata kunci tadi tanpa perlu mencari argumentasi di luar ayat ini. Memahami secara jernih yaitu menggali makna tiga kata kunci melalui definisi, yaitu dimulai dari satu pertanyaan ini saja: apakah Allah?
 

Keyakinan pada Kesatuan Ada (wahdatul wujud) bisa membuat muslim jadi kafir, bisa juga merupakan pencapaian tertinggi mentauhidkan Allah, tergantung bagaimana doktrin ini dimaknai atau disalahpahami.

 
Apakah Allah?
Ada banyak jawaban atas pertanyaan ini. Dalam beberapa ayat, Allah memperkenalkan Diri-Nya sebagai pencipta (khaliq, fathir), Mahakasih (rahman), Maha Pengasih (rahim), Tuan (rabb) seluruh alam, Esa (ahad), Swanyata (al-haqq) dan nama-nama terbaik lainnya. Namun, ayat ini mendefinisikan Allah sebagai Cahaya, Cahaya langit dan bumi.
 

Lalu, apakah cahaya?
Cahaya, apa pun cahaya itu, yaitu nyata pada dirinya sendiri dan menyatakan selainnya (al-zdāhir li nafsihi wa al-muzdhir li ghayrihi). Cahaya apa pun adalah pasti terang, nyata, dan tampak pada dirinya sendiri dan, pada saat yang sama, membuat yang lain jadi terang, tampak dan nyata. Nyata yaitu ada; setiap yang ada pasti nyata dan tampak (lihat Tafsir Al-Baydhawi, Tafsir al-Mizan, Tafsir Al-Khanjawani, Tafsir Ibn Arabi).
 

Baca juga: QS. Al-Nur [24]: Ayat 35; Wahdatul Wujud (2): Makhluk Itu Ada Atau Tidak?
Baca juga: Tafsir Surah Al-Ikhlas: Gradasi, Konsekuensi Filosofis Dan Sosial-Politik Memurnikan Asas Tauhid
Baca juga: QS. Al-Infithar [82]: Ayat 6; Manusia, Makhluk Bodoh Yang Lemah Tapi Tak Tahu Diri
 

Lalu, jika ada sesuatu yang nyata namun kenyataannya tidak pada dirinya sendiri, tetapi ber-ada dan nyata pada selain dirinya, maka sesuatu itu pada dirinya sendiri bukan cahaya, yakni ia pada dirinya sendiri adalah lawan dari cahaya, yaitu gelap, tidak nyata, dan tidak ada. Ia baru mengada dan menjadi nyata berkat keberadaan dan kenyataan selainnya.

Dengan demikian, berdasarkan bunyi eksplisit dari nash dan teks tegas ayat ini, Allah didefinisikan sebagai Cahaya, yakni nyata dan ada pada Diri-Nya Sendiri dan membuat selain-Nya menjadi nyata dan ber-ada. Dia Cahaya langit-langit dan bumi yakni cahaya dan keberadaan-Nya adalah bagi apa saja selain Diri-Nya.
 

Lalu, apakah langit dan bumi?
Langit dan bumi yang dimaksud dalam ayat di atas tentu saja bukan berupa dua makhluk: yang satu di bawah kaki kita dan lainnya di atas kepala kita. Ungkapan ini akan tetapi merepresentasikan apa saja selain Allah (ma siwa-Allah); sebut saja singkatnya, makhluk atau alam. Maka, Allah adalah cahaya langit dan bumi yaitu cahaya makhluk (apa saja selain Allah).
 

Baca juga: Penerjemahan Alquran Dalam Sejarah Penistaan Agama Islam Di Indonesia
Baca juga: Tafsir (1): Etimologi Tafsir
Baca juga: QS. Al-Anbiya’ [21]: Ayat 105; Masa Depan Dunia Dan Pelaku Sejarah Masyarakat
Baca juga: Masuk Islam Karena Alquran (4): Edoardo Agnelli, Putra Mahkota Bisnis Raksasa Italia
 

Jika dua definisi cahaya dan langit-bumi ini digabungkan, maka makhluk/alam (apa saja selain Allah) menjadi jelas status hakikatnya, yaitu setiap makhluk pada dirinya sendiri adalah tidak nyata dan tidak ber-ada (memiliki ada), tetapi mengada dan menjadi nyata pada selainnya (Allah). Maka, apa saja selain Allah adalah bukan cahaya dan nircahaya (ketiadaan cahaya), dan apa saja yang nircahaya dan bukan cahaya, pada hakikat dirinya, adalah gelap dan tiada.
 

“Allah adalah Cahaya langit-langit dan bumi” yaitu Allah adalah Nyata pada Diri-Nya Sendiri juga Ada Hakiki bagi apa saja selain-Nya yang sesungguhnya tidak nyata dan tiada pada dirinya sendiri sehingga ia hanya dapat dianggap nyata dan ada sejauh pada dan dengan selain dirinya, yakni Allah Yang Esa.

 

Implikasi dan Konsekuensi
Dari penjelasan dan definisi atas Allah, cahaya dan langit-bumi dalam ayat di atas ini saja sudah cukup kiranya menilai benar-salahnya atau kafir-tidaknya doktrin Kesatuan Ada (wahdatul wujud). Lebih tegasnya, perlu lebih lanjut memahami sejumlah implikasi logis dari penjelasan definisi di atas:

Satu: Realitas yang sesungguhnya dan pada hakikatnya ada dan nyata hanyalah Allah, adapun apa saja selain Allah hanyalah realitas-realitas yang, pada diri mereka sendiri, bukan cahaya dan tidak nyata. Hakikat makhluk (apa saja selain Allah) sesungguhnya nircahaya, nir-ada, gelap dan ketiadaan.

Dua: Berdasarkan ayat ini, Allah adalah satu-satunya realitas yang, pada diri-Nya dan hakikat diri-Nya, adalah identik dengan ada. Tidak terdapat kemungkinan tiada dan gelap pada Allah. Sebaliknya, makhluk apa pun, entah manusia, bumi, langit semua alam, manusia dan makhluk lainnya tidak identik dengan cahaya, ada dan kenyataan. Berkat cahaya Allah, semua makhluk mengada dan bertahan tetap ada. Diri mereka identik dengan ada bukan pada dirinya sendiri, tetapi karena diindentikkan oleh cahaya Allah.
 

Baca juga: QS. Maryam [19]: Ayat 96; Syarat Menjadi Manusia Rahmatan Lil Alamin
Baca juga: QS. Al-Anbiya’ [21]: Ayat 105; Masa Depan Dunia Dan Pelaku Sejarah Masyarakat
Baca juga: QS. Al Imran [3]: Ayat 169; Jihad Dan Syahid, Dua Ajaran Unik Dan Istimewa
Baca juga: QS. Al-Mursalat [77]: Ayat 15; Dari Membohongi Diri Sendiri Sampai Membohongi Allah
 

Tiga: Alam atau makhluk, kalaupun dianggap ada dan cahaya, mereka ber-ada dan bercahaya tidak secara hakiki dan bukan pada dirinya sendiri, tetapi mengada dan bercahaya secara non-hakiki, yakni mengada pada dan karena selain mereka. Keberadaan dan cahaya yang non-hakiki sama dengan ketiadaan.

Empat: Bagaimanapun, kita sebagai makhluk tidak bisa menganggap diri kita ketiadaan; sangat jelas bahwa diri kita ini ada. Doktrin Kesatuan Ada sama sekali tidak menegasikan secara total keberadaan makhluk. Ayat ini menyebutkan langit dan bumi sebagai realitas yang nyata, namun langit dan bumi ini tidak berdiri sendiri, tetapi ditempatkan sebagai mudhaf ilayh yang tidak bermakna kecuali terkait, terikat, dan terikut pada dan dengan Allah sebagai Cahaya. Tanpa Cahaya, makhluk tidak ada apa-apanya. Maka, hakikat makhluk itu ada karena dihakikatkan dan diadakan oleh Cahaya.

Lima: Makhluk yang mengada “pada wujud/ada selain mereka” adalah penegasan atas Ada Hakiki. Maka keberadaan makhluk merupakan penegasan atas keberadaan Allah atau, sebut saja, penegasan atas asas Tauhid, asas keimanan bahwa Allah satu-satunya Realitas Hakiki dan yang-ada nyata hanyalah Dia.

Enam: Dalam Tasawuf dan Kebijakasanaan Utama (al-Hikmah al-Muta’aliyah), kesimpulan tadi ini ini disebut juga dengan wahdatul wujūd (kesatuan Ada). Doktrin tauhid ini, sebelum diklaim atauh dituduh sebagai ajaran sufi atau filosof, merupakan ajaran murni quranik.
 

Baca juga: Melacak Sejarah Penerjemahan Al-Quran, Bahasa Persia Di Peringkat Pertama
Baca juga: Tokoh-Tokoh Perintis Penerjemahan Alquran
Baca juga: Mufassir Perempuan (2): Banu Mujtahidah Isfahani Dari Persia
Baca juga: Segera Unduh Terjemahan Lengkap 30 Juz Tafsir Ibnu Katsir!
 
 
Kesimpulan
Premis I: Allah adalah cahaya: ada dan nyata secara hakiki, pada Diri-nya Sendiri, dan mengadakan/menyatakan apa saja selain Diri-Nya.
Premis II: apa saja selain Allah (alam/makhluk) adalah tidak ada pada dirinya sendiri dan tidak nyata secara hakiki.
Konklusi: Yang ada dan nyata secara hakiki hanyalah Allah. Dengan kata lain, Allah adalah satu-satunya ada yang nyata secara hakiki.

Berdasarkan penalaran ini, Allah dapat didefinisikan sebagai Realitas Hakiki, Realitas Swasungguh, Realitas Swanyata, Realitas Esa, keesaan absolut yang tidak menyisakan wujud/ada bagi selain-Nya selain di bawah bayang-bayang cahaya-Nya.

Konklusi ini tak lain adalah pengulangan saja dari premis I. Sementara premis II juga bukan pernyataan tersendiri, tetapi diperoleh dari premis I. Dengan kata lain, premis II juga pengulangan (tautologis) dari premis I; jika premis I diterima sebagai kebenaran, maka premis II juga harus diakui sebagai kebenaran. Demikian premis II tidak dapat diterima kecuali berbasis pada premis I.

Dengan demikian, Kesatuan Ada (wahdatul wujud) itu, dalam Alquran, adalah ajaran tauhid yang badihi (tidak perlu argumentasi). Inferensi dan penalaran premis sampai konklusinya bukanlah argumentasi, tetapi penyadaran dan pengingatan atas yang sudah jelas (tanbih) saja. Sekedar menjelaskan konsep-konsepnya (kata-kata kunci: cahaya dan makhluk) sudah cukup tampak kebenaran tauhid ini.

Maka, keyakinan pada Kesatuan Ada (wahdatul wujud) bisa membuat muslim jadi kafir, bisa juga merupakan pencapaian tertinggi mentauhidkan Allah, tergantung bagaimana dipahami.

Membuat muslim jadi kafir kalau keyakinan ini menyatukan dua realitas (Allah dan makhluk) dengan wujud yang sama statusnya (sama-sama hakiki dan sama-sama ber-ada pada dirinya sendiri), entah dalam bentuk hulul (menempati dan mengambil tempat dalam sesuatu yang lain) ataukah ittihad (menyatu dan menjadi satu dengan yang lain).

Kesatuan Ada bisa merupakan pencapaian tauhid tertinggi bila keyakinan ini mendudukkan dua realitas: Allah dan makhluk-Nya, dalam dua status yang berbeda: Allah adalah realitas hakiki, ada pada dirinya sendiri, sementara makhluk adalah realitas non-hakiki, tidak ada pada dirinya sendiri dan, kalaupun ber-ada, ia berada pada dan dengan Allah, baik dalam keberawalan adanya (huduts) maupun dalam kelangsungan adanya (baqa’).

Adapun, apakah pemahaman dari ayat ini bertentangan dengan ayat lain? Nantikan di tafsir ayat di bagian selanjutnya![ph]
 

You might also like More from author

4 Comments

  1. Saban says

    Premis I: Allah adalah cahaya: ada dan nyata secara hakiki, pada Diri-nya Sendiri, dan mengadakan/menyatakan apa saja selain Diri-Nya.
    Sepertinya ayat ini bukan dalam konteks tsb. Berikut ini ilustrasinya.
    Ada mata, ada objek (pohon misalnya). Ada dan tiadanya mata dan objek tak ditentukan oleh cahaya. Cahaya, sejak awal dalam hal ini bukan sebab bagi adanya mata dan atau objek. Namun benar, lalu dengan cahaya baru tampaklah objek oleh mata.

    Saudara anda, Saban Subiadi

    1. admin says

      Terimakasih catatannya.
      Ilustrasi mata-objek-cahaya untuk Allah-cahaya-makhluk (dalam ayat Nur) sepertinya qiyas ma’a al-fariq dan, krn itu pula, ga sama. Dalam ilustrasi ada tiga variabel, sementara dalam ayat hanya ada dua: Allah dan Cahayanya makhluk: Allah adalah cahaya-nya makhluk itu sendiri.
      Di tulisan juga dicatat bahwa cahaya di sini juga berarti ada/wujud. cahaya makhluk yaitu ada makhluk, dan ada makhluk adalah makhluk itu sendiri yang, dalam ayat ini, sesungguhnya ada dan cahaya-nya Allah.
      Ilustrasi itu benar jika mengikuti terjemahan kemenag atau, lebih tepatnya, mengikuti tafsiran al-Sudiy yang cenderung menafsirkan cahaya di sini sebagai cahaya eksoterik (fisik).
      Wallahu A’lam bi muradihi

  2. Saban says

    Mohon dikoreksi kalau salah.
    Apa yang ingin disampaikan oleh penulis dengan artikel ini, salah satunya yg saya tangkap adalah: Allah adalah hakikat wujud semua makhluk.
    Pertama, saya tidak menyalahkan bahwa hanya Allah wujud hakiki, dg begitu makhluk adalah gambaran dr wujudNya, semuanya.
    Namun demikian, penggalan ayat ini mungkin tampaknya bukan menyampaikan hal itu. Sebagai argumen yg bisa diutarakan di sini misalnya penggalan lain dr ayat yg sama يهدى الله لنوره من يشاء “Allah menyampaikan kepada cahayaNya siapa yg Dia kehendaki”
    Sepertinya mustahil maksudnya adalah bahwa Allah menyampaikan kepada hakikat wujudNya siapa yg Dia kehendaki. Mengapa? Karena mustahil wujud yg manapun selain Dia yg mampu mencapai itu.
    Penggalan ini juga sekaligus argumen bahwa ada 3 variabel dalam perumpamaan yg ada: Allah, cahaya lelangit dan bumi, siapa yg Dia kehendaki.
    Menafsirkan lelangit dan bumi sebagai semua makhluk tampaknya juga tidak sesuai dengan terminologi alQuran. Argumennya misal adalah ungkapan pada surah alBaqarah: 116. Ungkapan بل له ما في السماوات والارض menunjukkan bahwa frasa السماوات والارض bukan mewakili segenap makhluk. Jika frasa itu mewakili segenap makhluk mestinya bunyi penggalannya بل له السماوات والارض.
    Jadi dalam ayat yg dibahas Allah adalah cahaya lelangit dan bumi (bagi siapa yg Dia kehendaki). Dalam pahaman saya kemudian, lelangit dan bumi, dapat dikenali dan dipahami oleh sesiapa, jika dan hanya jika diperkenankan olehNya. PerkenanNya dalam ungkapan ini digambarkan dg cahaya.

    1. admin says

      Terimakasih atas tanggapannya
      Semoga dengan ketulusan Anda Allah memperkenankan ketulusan untuk penulis tulisan ini. Sebelumnya juga terimakasih sekali ada kata lelangit: singkat dan akurat.
      Terkait frasa yang dibawakan sebagai argumen, ada catatan:
      1. Ada contoh bagus, kata rajul dalam al-Ahzab, ayat 4. Kata ini berarti seorang lelaki. Kalau hanya ini artinya, akan terjadi distorsi maksud ayat. Para mufasir dan, lazimnya intuisi bahasa Arab, kata itu dalam penggunaan gramatikal seperti ayat 4 al-ahzab ini dimaknai lebih luas hingga mencakup perempuan juga, yakni setiap orang. Status nondefinitif (nakirah) kata itu adalah qarinah (indikasi) lain yang memberi makna keumuman (al-nakirah tufid al-‘umum).
      2. Frasa al-samawat wa al-ardh digunakan hampir 200x dalam Alquran. Apakah satu atau banyak maknanya? Apakah ada perluasan atau pembatasan pada maknanya?
      3. Sama seperti nur, rahmah, hidayah, dll., kata samawat (lelangit) dan kata-kata serumpunnya juga bisa memiliki arti yang lebih dari satu, atau memiliki cakupan makna yang berbeda. Memastikan/mengharuskan pemaknaan setiap/semua frasa al-samawat wa al-ardh dan frasa ma fi al-samawat wa al-ardh dengan satu makna dan satu cakupan makna tampaknya agak dipaksakan, selain akan membuat sulit sendiri memahami frasa yang sama di ayat2 tertentu. Lalu, bagaimana mengidentfikasi makna tertentu atau mengukur cakupan maknanya dari penggunaan frasa itu di ayat Nur?
      4. Identifikasi perlu qarinah, entah bersifat umum, khusus, muttashil (tersambung) atau munfashil (terputus), literal atau nonliteral. Bahkan, ketiadaan qarinah itu sendiri juga qarinah, yakni qarinah mutlak.
      5. menurut penulis, frasa itu di ayat Nur cakupan maknanya luas, mencakup seluruh alam. Argumennya adalah indikasi2: literal yaitu partikel al- (alif lam) yang berfungsi sebagai penyeluruhan (istighraq), non-literal yaitu konstruksi gramatikal (siyaq al-kalam) dan diksi yang bersifat penggaliban (taghlib), munfasil yaitu adanya penggunaan frasa yang sama dan semirip dgn cakupan makna yang sama di ayat-ayat lain. Bagaimana lalu para ahli tafsir sendiri memahami makna frasa ini?
      6. cakupan makna dari frasa ini juga didukung oleh banyak mufasir dari latar belakang keilmuan yang beragam. Mereka juga membawakan beberapa argument di atas spt: istighraq dan taghlib.
      7. adapun frasa di albaqarah 116 tidak bisa dijadikan argumen untuk membatasi makna frasa yang hampir sama di ayat Nur ini, karena tidak setiap frasa itu di semua ayat bermakna satu dan terbatas hanya pada dua makhluk: langit dan bumi. Frasa itu dan frasa yang semirip dgnnya sprt dlm ayat Nur bisa bermakna luas, yakni seluruh alam. Tafsir-tafsir yg nonsufi pun, spt tafsir munir wahbah zuhaili dan tafsir jalalain, bahkan menafsirkan frasa di ayat 116 ini dgn “selain kedua-duanya dan apa yang ada di dalam kedua-duanya”, yakni seluruh alam. Belum lagi indikasi muttashil (sebelum dan sesudah albaqarah, 116) menguatkan tafsir2 ini.
      8. terkait cahaya itu identik dengan ada/wujud, selain mempertimbangkan indikasi2 di atas, juga dikuatkan banyak mufasir. Selengkapnya liat di makalah bagian2 selanjutnya.
      9. pada umumnya, mufasir nonsufi yang menafsirkan cahaya dengan wujud juga memakna frasa lelangit dan bumi dgn seluruh alam, namun tidak semua mufasir yang menafsirkan frasa ini dgn seluruh alam tidak mesti lantas menafsirkan cahaya dengan ada/wujud. adapun para mufasir sufi tampaknya vice versa: ada dan seluruh alam.
      10. tidak semua bisa melihat segala sesuatu di alam semesta ini sebagai cahaya dan wujud Allah, dan tidak semua mukmin bisa melihat kenircayaan, kegelapan dan ketiadaan dirinya dan apa saja selain Allah. Hanya orang-orang tertentu yang Dia kehendaki, yaitu yang bertakwa sebagaimana disebutkan sebelum ayat Nur. Mereka inilah yang layak mendapat petunjuk yang menyampaikan mereka dengan mata takwa (iman dan amal) ke tingkatan kemampuan melihat ketiadaan dirinya, melihat cahaya dan wujud Allah saat melihat apa saja selain Allah. Wallahu al-‘alim.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hide Related Posts