QS. Al-Nur [24]: Ayat 35; Wahdatul Wujud (5): Antara Iya juga Tidak

 

TAFSIR-QURAN.COM–Pada Bab Keempat dari Misykāt Al-Anwār, Imam Ghazali membubuhkan beberapa tafsiran atas ayat Nur, di antaranya ialah cahaya itu nyata yang, karenanya, segala sesuatu menjadi nyata. “Ketaknyataan itu tak lain adalah tiada, sedangkan kenyataan itu tak lain adalah ada. Allah SWT adalah ada dan tidak mungkin tiada … Dia yang dengan-Nya segala sesuatu mengada. Maka Dia cahaya setiap kegelapan dan kenyataan setiap ketaknyataan. Jadi, Cahaya Absolut itulah Allah, bahkan Dialah Cahaya-nya cahaya-cahaya.”
 

Baca juga: QS. Al-Dhaha [93]: Ayat 7; Nabi Sesat (1): Antara Tidak Tahu, Bingung Dan Lengah
Baca juga: QS. Nur [24]: Ayat 35; Wahdatul Wujud (3): Sudah Ada Di Awal Al-Fatihah
Baca juga: QS. Al-Nur [24]: Ayat 35; Wahdatul Wujud (2): Makhluk Itu Ada Atau Tidak?
Baca juga: QS. Al-Nur [24]: Ayat 35: Wahdatul Wujud (1); Kafir Atau Tidak?
 

Jauh sebelumnya, cucunda agung Nabi, Imam Husain r.a., dalam munajatnya di Arafah mengungkapkan pengalaman tauhidnya secara begitu indah dan betapa lembutnya ia menuturkan:

“Adakah bagi selain-Mu kenyataan yang tidak Engkau miliki sehingga itu menjadi penyata bagi-Mu?! Butalah mata yang tidak melihat-Mu!”

Dapat diamati ungkapan tauhid di tingkatan ini terbentang di antara dua sayap: negasi dan afirmasi yang saling melengkapi. Afirmasi atas Ada Absolut dan Kesatuan Mutlak Allah tidak akan tuntas tanpa negasi terhadap ada dan cahaya selain Allah.
 
 

لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

“Tidak ada tuhan kecuali Dia, segala sesuatu adalah yang-lenyap kecuali wajah-Nya.”
(QS. Al-Qashash [28]: 88)

 

Lenyap berarti tiada. Hālik diterjemahkan menjadi yang-lenyap karena bentuk morfologis hālik dalam bahasa Arab memberi makna sedang berlangsung dan kontinyu. Maka, ayat ini menerangkan bahwa segala sesuatu selain wajah Allah adalah dalam keadaan melenyap dan meniada.

Dalam pengertian inilah status makhluk pada dirinya sendiri sebagai bukan apa-apa dan ketidakpunyaan, pengertian yang diungkap penyair Arab, Lubaid bin Rabi’ah, dan dikagumi Nabi SAW sebagai kata-kata Arab Jahiliyah paling bijak: “Ketahuilah bahwa segala sesuatu selain Allah itu batil” (Shahīh Bukhārī, hadis no. 3628). Uniknya, Ibnu Hajar menafsirkan batil ini yang berkesan kuat senafas dengan Kesatuan Ada, “Batil dalam bait ini yaitu lenyap, bukan rusak” (Fath Al-Bārī, jld. 2, hlm. 1713).

Adapun kata wajah dalam ayat oleh Jalaluddin dalam tafsir Al-Jalalayn diartikan dengan Dia (iyyāhu), yakni “kecuali Dia”. Ia mengulang tafsiran dari Zamakhsyari dalam tafsir Al-Kasysyaf, namun di sana ada keterangan tambahan, “Wajah di sini yaitu Esensi (al-dzāt).” Esensi yakni entitas dan keberadaannya. Ini dikuatkan oleh mufasir sastrawan Arab, Sayyid Murtadha, dalam tafsirnya, juga menguatkan Imam Ghazali, Imam Qusyairi, Ruzbahan Baqli, Thabathaba’i, dan mufasir sufi lainnya dalam tafsir-tafsir mereka.
 

Imam Ja’far al-Shadiq bertanya kepada Imam Abu Hanifah, “Apakah engkau tahu suatu kalimat yang yang diawali dengan kekafiran dan diakhiri dengan keimanan?” “Aku tidak tahu”, jawab Imam Abu Hanifah. Ibnu Abi Laila yang turut hadir bertanya, “Lalu apa kalimat itu?” Imam Ja’far menjawab, “Yaitu perkataan: Lā ilāha illā Allāh (tidak ada tuhan kecuali Allah).”
(al-Thabarsi, Al-Ihtijāj, hlm. 358)

 

Ibnu Arabi menulis, “Segala sesuatu adalah sirna dan lenyap, sementara pelenyap tidak akan menjadi lenyap. Maka, tidak ada di realitas ini kecuali Allah. Dan apa pun yang tampak adalah tak lain dari Dia yang nyata dengan sendiri-Nya.” (Rahmat min al-Rahmān, jld. 3, hlm. 315).
 

Baca juga: QS. Al-Baqarah [2]: Ayat 42; Cara Membuat Hoax
Baca juga: QS. Al Imran [3]: Ayat 169; Jihad Dan Syahid, Dua Ajaran Unik Dan Istimewa
Baca juga: QS. Al Imran [3]: Ayat 118; Seni Rahasia Dalam Politik Dan Hukum-Hukum Musuh
Baca juga: Telah Terbit: Tafsir Imam Ghazali
 

Dari ayat ini Ibnu Arabi menarik kaidah: bahwa segala sesuatu yang tidak lenyap adalah wajah dan esensi Allah. Atas dasar ini, jika sesuatu tetap dianggap ada dan nyata, maka “sesuatu itu tidak lain adalah wajah Allah.” Jadi, bagaimanapun selain Allah itu dianggap ada atau tidak ada, ada-tiadanya tidak berarti apa-apa kecuali menegaskan Ada Allah. Karena itu, ayat di atas dilanjutkan dengan kalimat berikut:

“Hanya bagi-Nyalah ketetapan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”

Apa saja yang tetap da nada niscaya ketetapan dan keberadaannya milik Allah. Penetapan ada pada sesuatu bukanlah milik dirinya, tetapi milik Allah. Pernyataan, “Aku ada” adalah ungkapan lain dari “Allah Ada”, seperti juga “Aku bercahaya” sesungguhnya adalah “Allah cahayaku.” Semua klaim dan ketetapan ada beserta atribut-atribut yang menyertai ada berasal dan kembali kepada Allah. “Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada Dia kita sedang kembali” (QS. Al-Baqarah [2]: 156).
 

Baca juga: QS. Maryam [19]: Ayat 96; Syarat Menjadi Manusia Rahmatan Lil Alamin
Baca juga: QS. Al-Anbiya’ [21]: Ayat 105; Masa Depan Dunia Dan Pelaku Sejarah Masyarakat
Baca juga: QS. Al Imran [3]: Ayat 169; Jihad Dan Syahid, Dua Ajaran Unik Dan Istimewa
Baca juga: QS. Al-Mursalat [77]: Ayat 15; Dari Membohongi Diri Sendiri Sampai Membohongi Allah
 

Mirip sekali dengan ayat ke-88 dari surah Al-Qashash di atas adalah di ayat ke-70 di surah yang sama. Coba baca kembali ayat ke-88:
“Tidak ada tuhan kecuali Dia, segala sesuatu adalah yang-lenyap kecuali wajah-Nya.”

Lalu bandingkan dengan ayat ke-70:

“Dan Dialah Allah; tidak ada tuhan kecuali Dia, bagi-Nyalah segala pujian di dunia dan di akhirat” (Lihat juga Wahdatul Wujud di surah Al-Fatihah).

Dua ayat ini sama di penggalan pertama dan beda di penggalan kedua namun, jelas sekali, saling berkaitan. Yakni, kelenyapan dan ketiadaan segala sesuatu merupakan konsekuensi dari Allah sebagai pemilik seluruh pujian dan kesempurnaan alam semesta. Telah diuraikan di Wahdatul Wujud (3), karena Allah Dialah Pemilik tunggal Ada dan Maha Penguasa segala yang-ada, maka segala sesuatu selain Dia adalah ketiadaan. Kepemilikan mutlak dan ketunggalan perkasa Allah menaklukan dan meluluhlantakkan hingga menyirnakan apa saja yang dianggap dan diklaim sebagai sesuatu. “Katakanlah bahwa semua dari Allah” (QS. Al-Nisa’ [4]: 78).
 

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ . وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Segala apa yang ada di atasnya adalah sirna. Dan tetap-ada wajah Tuanmu Pemilik kebesaran dan kemuliaan”
(QS. Al-Rahman [55]: 25-26)

 

Karena itu, penafsiran yang berorientasi ke Kesatuan Ada juga mengandung dua unsur tadi sehingga dalam pengertiannya menjadi lengkap dan utuh, tidak sepenggal-sepenggal. Ini sebagaimana adanya Kalimat Tauhid: lā ilāha illā-Allāh. Di dalamnya, ada negasi (lā ilāha) juga ada afirmasi (illā-Allāh). Kesatuan Ada juga merupakan derajat tauhid yang mengafirmasi Ada Allah sekaligus menegasikan ada selain Allah, entah itu tuhan (t kecil) maupun makhluk.

Kalimat tauhid ini secara terperinci diuraikan sepenuhnya dalam surah Al-Ikhlas. Surah ini dibuka dengan dua ayat afirmatif lalu dituntaskan dengan dua ayat negatif. Dua tinjauan: iya juga tidak, afirmatif juga negatif, menegaskan doktrin Alquran bahwa hasil perkalian negasi dan afirmasi ini ialah pembatasan eksklusif (al-hashr) bahwa yang ada hanyalah Allah, adapun selain Allah—entah itu disebut tuhan apalagi selain tuhan—pada hakikatnya adalah tiada dan ketiadaan.[Selengkapnya tafsir surah Al-Ikhlas, klik di sini]–HCF

———–
*Referensi selengkapnya bisa kontak redaksi via comment di bawah
 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.