QS. Al-Nur [24]: Ayat 35; Wahdatul Wujud (6): Cara dan Kriteria Mencapai Wahdatul Wujud

 

QURANIKA.COM–Dalam sebuah dialog guru dan murid, Imam Abu Hanifah diuji oleh Imam Ja’far al-Shadiq, “Apakah engkau tahu suatu kalimat yang yang diawali dengan kekafiran dan diakhiri dengan keimanan?” “Aku tidak tahu”, jawab Imam Abu Hanifah. Ibnu Abi Laila yang turut hadir bertanya, “Lalu apa kalimat itu?” Imam Ja’far menjawab, “Yaitu perkataan: Lā ilāha illā Allāh (tidak ada tuhan kecuali Allah)” (al-Thabarsi, Al-Ihtijaj, hlm. 358).
 

Baca juga: QS. Al-Dhaha [93]: Ayat 7; Nabi Sesat (1): Antara Tidak Tahu, Bingung Dan Lengah
Baca juga: QS. Al-Nur [24]: Ayat 35; Wahdatul Wujud (2): Makhluk Itu Ada Atau Tidak?
Baca juga: QS. Al-Nur [24]: Ayat 35: Wahdatul Wujud (1); Kafir Atau Tidak?
 

Kalimat kafir “tidak ada tuhan” yaitu meniadakan tuhan. Lalu, kalimat ini dianulir oleh kalimat selanjutnya, “kecuali Allah”, yang menetapkan Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Dalam dua kalimat ini tidak ada makhluk, karena memang ia tidak ada apa-apanya hingga tidak diperhitungkan entah sebagai objek negasi ataupun objek afirmasi kalimat. Maka itu, kandungan Kalimat Tauhid secara leterlijck dan transparan menyatakan keberadaan Allah dan kesatuannya, yakni mentauhidkan Allah sebagai Realitas yang satu-satunya ada.

Bagaimana menjangkau Tauhid ini? Dan apa kriteria orang-orang yang mencapai Kesatuan Ada?

Kalimat tauhid dengan makna ini tak lain dari doktrin Kesatuan Ada. Tauhid ini tidak hanya dicapai dan dideskripsikan dalam dua pola afirmasi sekaligus negasi, tetapi dua pola ini juga tampak dalam memulai dan menjalani upaya menempuh jalan menuju tauhid. Coba perhatikan penggalan masih di dalam ayat Nur:
 
 

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ …. يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ

“Allah cahaya lelangit dan bumi … Allah menunjukkan ke Cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki.”
QS. Al-Nur [24]: 35

 
Penggalan kedua ini sesungguhnya menegaskan Kesatuan Ada di penggalan pertama. Seperti juga rahmah Allah, dalam Alquran ada dua hidayah Allah: hidayah umum dan hidayah khusus. Cahaya juga demikian: ada cahaya umum dan cahaya khusus. Rahmah, hidayah dan cahaya umum bersifat ontologis (terkait dengan realitas objektif atau, sebut saja tata-cipta), sementara rahmah, hidayah dan cahaya khusus bersifat aksiologis (terkait dengan kehendak bebas makhluk atau sebut saja: tata-tinta).

Hidayah dalam penggalan itu kemungkinan besar adalah hidayah khusus, yakni bagi orang yang dikehendaki Allah, yaitu orang bercahaya dengan cahaya khusus, yaitu cahaya ilmu dan iman. Sesuai kadar ilmu-imannya, dia menjangkau tingkatan tertentu dari cahaya Allah. Dari kalangan mufasir, entah sufi atau nonsufi, ada kesepakatan atas tafsiran hidayah di sini sebagai hidayah khusus atau hidayah taufik.
 

Baca juga: Tafsir Sekularisme (1): Ayat-Ayat Yang Diklaim Mendukung Sekularisme
Baca juga: Tafsir Sekularisme (1): Ayat-Ayat Sekuler (2): Alquran Menafikan Pemerintahan Dari Nabi
 

Atas dasar ini, “Allah menunjukkan kepada Cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki”, bisa juga berarti begini: Allah menunjukkan (hidāyah) yaitu mengantarkan (īshāl) orang beriman hingga ia, dengan hidayah khusus-Nya, dapat menjangkau dan menyingkap Cahaya-Nya yang Absolut yang tersebut di awal ayat.

Cahaya Mutlak Allah adalah Ada Absolut Allah Akbar Esa yang keesaan-Nya melenyapkan setiap dan seluruh klaim cahaya, keberadaaan dan kenyataan, “Tidak ada tuhan kecuali Allah Yang Esa Maha Perkasa” (Shad [38]: 16) Keesaan Maha Perkasa (al-wāhid al-qahhār) yaitu Kesatuan Maha Mengalahkan yang melenyapkan apa saja selain-Nya hingga tampak dan nyata realitas mereka sesungguhnya tidak ada apa-apanya dan bukan apa-apa sama sekali. Keperkasaan ini akan diakui, kalau tidak di dunia sekarang ini secara sukarela, kelak di kehidupan setelah kematian secara terpaksa.
 

لِّمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ۖ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

“Milik siapakah kekuasaan hari ini? Milik Allah Yang Esa Maha Perkasa.”
(QS. Ghafir [40]: 46)

 
Allamah Thabathaba’i menuliskan, “Intinya, yang dimaksud dengan cahaya dalam firman-Nya, “Allah Cahaya langit-langit dan bumi”, ialah cahaya universal yang dengannya segala sesuatu bersinar. Maka, cahaya ini identik dengan keberadaan segala sesuatu, dengan kenyataannya pada dirinya dan untuk selainnya. Itulah al-rahmat al-‘ammah ‘kasih universal’.” (Tafsir Al-Mīzān, jld, 15, hlm. 123).
 

Baca juga: QS. Al-Baqarah [2]: Ayat 42; Cara Membuat Hoax
Baca juga: Cara Filsafat Menaklukkan Bencana
Baca juga: Kenapa Harus Ada Bencana? 5 Penjelasan Dari Alquran
 

Derajat absolut dan akbar dari kesatuan cahaya universal Allah ini juga dapat dijangkau oleh muslim dengan kekuatan istimewa dari iman dan ilmunya karena kedekatannya dengan Allah melalui ibadah, taat mutlak dan kepasrahan total hingga tidak tersisa dari dirinya selain menyerahkan kehendak bebas, segenap wujud dan totalitas dirinya berada sepenuhnya habis dan lenyap dalam kehendak dan hukum Allah.
 

بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Tidak! Siapa yang memasrahkan wajahnya (sepenuh dirinya) kepada Allah dalam keadaan berbuat baik, dia mendapat pahalanya di sisi Tuannya dan tidak ada rasa takut pada mereka juga mereka tidak bersedih”
(QS. Al-Baqarah [2]: 112)

 
Mendapatkan hidayah khusus, menjangkau Cahaya Mutlak Allah dan mencapai derajat tauhid ini merupakan kemenangan yang mahabesar. Inilah prestasi tertinggi orang bertakwa yang disebutkan di ayat sebelum ayat Nur ini: “nasihat bagi orang-orang yang bertakwa”. Di ayat lain, orang beriman dan bertakwa itu adalah para wali (awliya’) dan kekasih terdekat Allah:
 

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ . الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ . لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Ketahuilah bahwa wali-wali Allah tidak takut juga tidak sedih. [Yaitu] orang-orang beriman dan mereka senantiasa bertakwa. Bagi merekalah berita bahagia di kehidupan dunia dan di akhirat, tidak ada pergantian bagi kalimat-kalimat Allah. Demikian itu adalah kesuksesan yang besar.”
QS. Yunus [10]: 62-64

 
Wali bertakwa adalah orang yang telah menyerahkan segenap wujud dan apa pun kehendak di hatinya kepada Allah. Ia dikehendaki Allah mendapat hidayah taufik dan cahaya khusus Allah hingga dapat mencapai Cahaya Mutlak Allah karena keberhasilannya meniadakan kehendak dirinya sendiri (negasi diri) hingga berhasil dikuasai hatinya oleh kehendak Allah (afirmasi Allah). Tidak mungkin ada dua kehendak dalam satu hati. “Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam dirinya” (QS. Al-Ahzab [33]: 4).

Orang yang masih mempertimbangkan keinginan, kemauan, kepentingan dan ego diri sendiri di atas kehendak Allah atau merasa kurang puas hingga berkelat kelit dari hukum Allah apalagi sampai mempertanyakan atau mengubah-ubahnya, semua itu tanda dirinya menyimpan kecenderungan menduduki posisi tuhan, sebagian kecil ataukah sepenuhnya. “Apakah kamu pernah melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya …?!” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 23).
 

“Musuhmu yang paling memusuhi adalah nafsumu dalam dirimu sendiri.”
Ali bin Abi Thalib

 
Itulah mengapa manusia tidak disebut Allah sebagai orang beriman kecuali dia sudah tidak lagi berpikir diri sendiri dan tidak lagi memprioritaskan pilihannya di atas pilihan dan hukum Allah, “Dan tidaklah pantas bagi lelaki mukmin dan perempuan mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu keputusan, masih memiliki pilihan [lain] dari urusan mereka” (QS. Al-Ahzab [33]: 36).
 

Baca juga: QS. Al-Hujurat [49]: Ayat 6; Polos Dan Gampang Percaya, Sumbu Kebohongan
Baca juga: Aktif Di Medsos Atau Biasa Tampil Di Media? Berikut 10 Norma Dari Alquran
 

Tauhid di sini bukan hanya memurnikan Allah dari selain Allah, tetapi juga berarti memurnikan diri dari apa pun kecenderungan ke arah klaim ketuhanan, ke situasi apa pun yang berpotensi jadi beda dengan kehendak Allah. Menegasikan ego, kehendak dan pilihan sendiri merupakan cara yang dapat memastikan kosongnya hati untuk lantas diisi dan dikuasai sepenuhnya oleh kehendak Allah.

Ketiadaan pilihan dan tidak mendefinisikan kehendak bebas kecuali dengan hukum dan keterangan Allah adalah arti budak, yakni makhluk yang tidak punya kebebasan; kehendaknya tidak berada pada dirinya selain ditentukan oleh tuannya. Di hadapan Allah Tuan seluruh alam, derajat budak ini adalah manusia sempurna dan mukmin seutuhnya.
 

“Hati orang beriman adalah arasy Sang Mahakasih.”
Baginda Nabi SAW

 

Keadaan orang beriman dekat dengan Allah digambarkan Nabi SAW dalam hadis Qudsi demikian:

Allah berfirman, “Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan.

“Hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah sampai Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang dengannya ia mendengar, Aku penglihatannya yang dengannya ia melihat, Aku tangannya yang dengannya ia memukul, dan Aku kakinya yang dengannya ia berjalan. Jikalau ia meminta-Ku, pasti Ku-beri, dan jika meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Ku-lindungi.

“Dan Aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keraguan-Ku [mencabut] nyawa seorang beriman yang khawatir akan kematian, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya” (Shahīh al-Bukhārī, hadis no. 6021; Musnad Ahmad bin Hanbal, hadis no. 24997; Ushūl Al-Kāfī, jld. 2, hlm. 253; Al-Mahāsin, jld. 1, hlm. 454).
 

Baca juga: QS. Al-Hujurat [49]: Ayat 6; Polos Dan Gampang Percaya, Sumbu Kebohongan
Baca juga: Aktif Di Medsos Atau Biasa Tampil Di Media? Berikut 10 Norma Dari Alquran
 

Maka tidak ada cara memperoleh hidayah khusus untuk mencapai Cahaya Mutlak dan Kesatuan Ada kecuali dengan tidak menyekutukan Allah dalam diri sendiri atau, dengan kata lain, menggosok layar hati sampai bening dan bersih dari selain Allah dan menunggalkan hati hanya Ada Allah. Seperti kisah seniman China dan seniman Eropah.

Mentauhidkan diri hanya arasy Allah sebagai awal dari mentauhidkan Allah sebagai Tuhan Satu Yang Maha Perkasa.

Lalu, apakah mungkin hidayah di penggalan dalam ayat Nur ini bermakna umum? Ini yang kelak akan digali lebih lanjut dengan fokus pada yasya’ (kehendak Allah). Nantikan selanjutnya dalam komparasi dengan ayat: “Dan kamu tidak menghendaki kecuali Allah menghendaki” (QS> Al-Takwir [81]: 29).
 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.