QS. al-Syu’ara’ [26]: ayat 193; Keutuhan Wahyu atau Intervensi Subjektif Nabi

 

نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْأَمِيْنُ
  ‏

“Dengannya telah turun Ruh yang Terpercaya”

(QS. Al-Syu’ara’ [26]: 193)

Studi Kebahasaan

  • Al-amin (yang terpercaya) adalah kata adjektif untuk al-ruh (ruh). Ia berposisi sebagai kata benda definitif (ma’rifah) dan, karena itu, ia tampaknya menunjuk pada diri Malaikat Jibril a.s.
  • Ayat ini dimulai dengan kata nazala bihi (dia telah turun dengannya). Galibnya kalangan mufasir menempatkan partikel bi (dengan) dalam posisi sintaksisnya sebagai alat transitif bagi kata kerja yang asalnya intransitif. Maka, kata kerja dan partikelnya berarti “dia telah menurunkannya …” Namun, ada pula sejumlah mufasir yang memaknai partikel bi sebagai penyertaan dan pengondisian (I’rāb al-Qur’ān wa Bayānihi, jld. 7, hlm. 13). Maka, dalam pemaknaan ini, nazala bi-hi berarti “dia telah turun bersama dengannya” atau “dia telah turun dalam keadaannya bersama dengan al-Quran”.

Hadis

  • Imam Ja’far al-Shadiq pernah ditanya tentang Nabi saw. bersabda, “Telah berkata Jibril dan inilah yang diperintahkan Jibril kepadaku.” Dan adakalanya beliau mengalami keadaan pingsan. Imam Ja’far menjawab, “Tatkala wahyu turun langsung dari Allah kepada beliau dan tidak ada perantara antara mereka (Allah dan Nabi), maka akan terjadi keadaan itu saking beratnya wahyu yang datang langsung dari Allah. Akan tetapi, bila ada Jibril di antara mereka, keadaan itu tidak terjadi pada beliau sehingga beliau berkata, ‘Jibril berkata kepadaku dan inilah pesan yang diperintahkan kepadaku” (Al-Amālī li Al-Thūsī, hlm. 663).
  • Dari Imam Ja’far al-Shadiq diriwayatkan bahwa demikianlah keadaan Jibril, yaitu tatkala datang kepada Nabi saw., ia tampak seperti seorang hamba yang penuh kerendahan diri di hadapan beliau. Ia tidak akan masuk menjumpai beliau kecuali telah meminta izin dari beliau (‘Ilal al-Syarā’i, jld. 1, hlm. 7).
  • Imam Ja’far al-Shadiq juga pernah ditanya tentang bagaimana Nabi saw. saat wahyu turun dari Allah swt. Kepada beliau; apakah beliau tidak merasa kuatir jangan-jangan ia berada dalam bisikan setan? Imam Ja’far menjawab, “Apabila Allah telah memilih seorang hamba sebagai pengemban kerasulan, Allah akan meliputkan ketentraman dan kewibawaan pada dirinya sedemikian rupa hingga apa yang datang dari sisi Allah swt. (keberasalannya dari sisi Allah sebegitu jelas bagi beliau) seperti sesuatu yang dilihat dengan matanya” (Tafsīr al-‘Ayyāsyī, jld. 2, hlm. 201).

Tadabur

  • Dalam penurunan wahyu, Jibril diperkenalkan dengan nama Ruh Terpercaya. Nama ini menonjolkan dua hal: (a) derajat wahyu tidak setingkat dengan benda dan kebendaan apa pun sehingga perlu adanya perantara, (b) dalam proses penurunan wahyu dan keperantaraan ini, amanah dan keterpecayaan perantara terjaga seutuhnya. Ini merupakan sanggahan keras terhadap keyakinan orang-orang bahwa suasana kejiwaan dan situasi-kondisi kultural pribadi Nabi saw. berpengaruh dalam menerima wahyu dan mengungkapkannya dalam bahasa Arab, sebagaimana sanggahan ini dinyatakan secara tegas dalam dua ayat berikutnya.
  • Apakah Jibril itu sesungguhnya al-ruh al-amin ‘Ruh Terpercaya’ itu? Dalam kebanyakan riwayat, nama Ruh Terpercaya disebutkan sebagai sifat untuk Jibril. Misalnya, sabda Nabi saw., “Sesungguhnya inilah Jibril Sang Ruh Terpercaya memberitahukannya kepadaku dari Tuan alam-alam” (al-Tafsīr al-Mansūb ilā al-Imām al-Hasan al-‘Askarī, hlm. 438). Namun dalam sedikit riwayat, keduanya tidak sama. Misalnya disebutkan, “Jibril turun bersama Ruh Terpercaya dan sekelompok dari para malaikat yang jumlahnya tak terhitung …” (Bashā’ir al-Darajāt, jld. 1, hlm. 506). Di dalam QS. Al-Qadr [97]: 4, juga Ruh secara definitif disebutkan berbeda dari malaikat. Keberbedaan dan dualisme antara Jibril dan Ruh Terpercaya ini tidak berarti mereka merupakan dua entitas yang masing-masing terpisah sepenuhnya. Utamanya, QS. Al-Nahl [16]: 2, “Dia menurunkan para malaikat dengan ruh”, menunjukkan semacam keunggulan eksistensial Ruh di atas malaikat. Tampaknya, Ruh adalah entitas yang memiliki peliputan eksistensial atas JIbril dan malaikat lainnya. Lebih detailnya dapat dirujuk ke Risālah Al-Insān qabl al-Dunyā, karya Allamah Thabathaba’i.
  • Ada kesamaan antara ayat ini dengan QS. Al-Nahl [16]: 102, “Ruh Kudus telah menurunkannya dari Tuanmu dengan kebenaran.” Tampaknya, Ruh Terpercaya di ayat ini adalah Ruh Kudus di ayat tadi. Bedanya, ‘Terpercaya’ merupakan sifat bagi ruh, tetapi ‘Kudus’ bukanlah sifat untuk ruh di ayat al-Nahl tadi. Yakni, ‘Kudus’ yaitu sesuatu dimana ruh ini adalah miliknya dan bergantung padanya, seperti frasa “bukuku” yakni buku adalah milik aku. Lalu, coba perhatikan QS. Al-Hijr [15]: 29, “Aku tiupkan ke dalamnya dari ruh-Ku.” Ruh di sini disandarkan pada Allah. Bertolak dari aksioma bahwa al-Quddus (Yang Maha Terkudus) merupakan salah satu sifat dan nama terbaik Allah (QS. Al-Hasyr [59]: 22; QS. Al-Jumu’ah [62]: 1), maka ada kemungkinan ‘Kudus’ ini deskripsi lain dari Yang Maha Terkudus. Dengan dua jenis ayat tadi, maka ‘ruh-Ku’ yang ditiupkan ke dalam manusia adalah satu-sama dengan Ruh Kudus yang menurunkan wahyu di surah al-Nahl.
  • Ruh Kudus tidak terpisah dari hakikat diri manusia sebagai khalifah Allah, dimana Allah telah meniupkan ruh-Nya ke dalam diri manusia dan memperkenalkan manusia sebagai khalifah-Nya hingga memerintahkan malaikat untuk bersujud di hadapannya. Atas dasar ini, maka yang menurunkan wahyu dan dikenal dengan nama Ruh Kudus itu adalah satu tingkatan dari hakikat diri manusia sempurna (insan kamil) sekaligus khalifah Allah. Yakni, satu tingkatan dari diri manusia sempurna ini menurunkan wahyu ke tingkatan lainnya. Tingkatan itu tentunya beramanah dan terpercaya sepenuhnya sehingga tidak terpengaruhi oleh intervensi dan suasana kejiwaan serta kebudayaan dirinya. Dan, sebagaimana disebutkan di muka, derajat dan tingkatan wahyu tidak sama dengan benda dan keduniaan apa pun karena memang tingkatan wahyu lebih unggul di atas benda dan keduniaan, dan perantara penurunannya juga setingkat dengan tingkatan wahyu. Tentu saja, tingkatan benda dan faktor-faktor keduniaan yang lebih rendah tidak dapat lebih kuat sehingga akan mempengaruhi keutuhan wahyu dan perantaranya yang derajat dan tingkatannya lebih tinggi.
  • Perlu dicatat bahwa kesimpulan baru tadi ini sama sekali tidak dalam rangka mengingkari adanya satu malaikat bernama Jibril sebagai perantara penurunan wahyu. Ini lebih merupakan penekanan atas keagungan hakikat diri manusia yang mencapai maqam insan kamil dan khalifah Allah (lihat riwayat kedua di atas). Khususnya, bila kita cermati bersujudnya para malaikat, dimana sujud di hadapan seseorang yaitu menyerahkan segenap kehendak dan pilihannya berada di tangan orang tersebut, maka dapat dipahami dengan mudah bahwa ada malaikat seperti ini dan senyatanya ia berperan sebagai perantara antara diri nabi di dunia (derajat keduniaan wujud nabi) dan derajat hakikat batin dirinya yang diungkapkan dengan “dari ruh-Ku” dan menjadi objek bersujudnya para malaikat. Maka, ruh di sini adalah di atas Jibril as.
  • Penjelasan di atas, yakni diturunkannya al-Quran oleh Tuan alam-alam dengan proses tertentu dan dinisbatkannya Ruh Kudus kepada Jibril a.s. dan Nabi saw., tentu saja berbeda jauh dengan teori yang mengatakan bahwa al-Quran merupakan salah satu produk kreasi dan olah-karya diri Nabi saw. (!) dimana wahyu turun dari satu tingkatan/derajat tinggi dari jiwa beliau yang bernama Ruh Terpercaya ke derajat lain dari jiwa beliau yang bernama qalb (hati). Teori dan deskripsinya disebut Allamah Thabathaba’i sangat rendah tak bernilai (al-Mīzān, jld. 15, hlm. 317).[ph]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.