QS. al-Syu’ara’ [26]: ayat 194; Kapasitas Hati, Motivasi, dan Edukasi

 

عَلى‏ قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ‏

Ke atas hatimu agar engkau termasuk dari orang-orang pemberi peringatan

(QS. al-Syu’ara’ [26]: 194)

Studi Kebahasaan

  • Ke atas hatimu” terkait dengan nazala (telah turun) di ayat sebelumnya.
  • Al-mundzirīn (orang-orang pemberi peringatan) adalah ism al-fā’il (nomina subjek) yang secara morfologis berasal dari kata dasar indzār dan bermakna penyampaian dan penjelasan yang disertai kesan/pesan menakutkan dan memperingatkan. Antonimnya adalah tabsyir, yaitu pemberitaan yang mengandung harapan, janji baik dan hal yang membahagiakan (Mufradāt Alfāzd al-Qur’ān, hlm. 798). Kata nadzr (nazar) juga berasal dari kata dasar ini, karena di dalamnya terdapat hal yang membuat orang kuatir beresiko bila melanggarnya (Mu’jam Maqāyīs al-Lughah, jld. 5, hlm. 415).
  • Ada beda antara indzār (memperingatkan) dan takhwīf (menakuti-nakuti). Tidak setiap inzdār itu berarti takhwīf. Inzdar yaitu cara menakuti seseorang yang, selain menjelaskan resiko dan faktor yang diperingatkan serta alasan memperingatkan, juga dipicu oleh motif subjek inzdār menginginkan kebaikan. Semakin resiko dan objek yang diperingatkan kepada seseorang itu besar, keinginan subjek untuk memberi dan mendorong kebaikan juga kian besar (al-Furūq fi al-Lughah, hlm. 237).

Hadis

  • Diriwayatkan dari Imam Ja’far al-Shadiq bahwa ia berkata, “Hati tidak akan pernah yakin bahwa kebenaran itu adalah kebatilan. Ia juga tidak akan pernah yakin bahwa kebatilan adalah kebenaran” (Tafsīr al-‘Ayyāsyī, jld. 2, hlm. 53).
  • Diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Dawud bermunajat kepada Tuhannya, ‘Tuhanku, setiap raja memiliki gudang kekayaan. Lalu apa gudang kekayaan-Mu?’ Maka Allah swt. berfirman, ‘Aku memiliki gudang kekayaan yang lebih besar dari Arasy, lebih luas dari Kursi, lebih menyenangkan dari surga, lebih megah dari alam tinggi malakut; tanahnya adalah pengetahuan, langitnya iman, mataharinya kerinduan, bulannya kecintaan, bintang-bintangnya lintasan-lintasan pikiran, awannya akal, hujannya kasih sayang, pepohonannya ketaatan, buahnya hikmah kebijaksanaan. Gudang kekayaan itu memiliki empat pintu: ilmu, hilmu (menahan diri dalam kondisi mampu), sabar (dalam kondisi tidak mampu), dan ridha. Ketauhilah bahwa [gudang kekayaan] itulah hati’” (‘Awālī al-La’ālī al-‘Azīziyyah fi al-Ahādīts al-Dīniyyah, jld. 1, hlm. 249).

Tadabur

  • Dalam ayat diungkapkan “ke atas hatimu” bukan “ke atasmu”. Yakni, kenapa diungkapkan “telah turun ke atas hatimu”, bukan “telah turun ke atasmu”? Hati dalam beberapa ayat disebutkan demikian ini, “hati-hati telah sampai tenggorokan” (QS. al-Ahzab [33]: 10) yakni ruh telah sampai di bibir. Atau ayat berikut, “maka sesungguhnya dia berdosa hatinya” (QS. al-Baqarah [2]: 283). Dari ayat-ayat seperti ini dapat dipahami bahwa maksud dari hati di sini yaitu jiwa dan ruh manusia sebagai pusat pengetahuan, kesadaran, kebaikan dan keburukan, bukan semata-mata organ tubuh fisiologis. Atas dasar itu, tampaknya frasa “ke atas hatimu” menyinggung cara dan pola penurunan dan penerimaan wahyu (al-Quran), yaitu bahwa al-Quran diterima oleh ruh dan jiwa manusia tanpa keterlibatan indra dan organ-organ indra lahiriah. Bukti atas hal ini ialah pengalaman Nabi saw. pada saat turunnya wahyu dimana beliau melihat hakikat dan mendengar pesan, sementara orang-orang di sekitar beliau tidak melihat juga tidak mendengarnya (al-Mizan, jld. 15, hlm. 317).
  • Bukti lain atas penerimaan wahyu dengan cara itu ialah digunakannya kata ruh untuk subjek penurun wahyu. Ruh adalah entitas yang non-jasmani dan immaterial.
  • Telah dikemukakan bahwa “ke atas hatimu” terkait dan sambungan dari kata kerja nazala (telah turun) di ayat sebelumnya. Namun, kenapa disebutkan di ayat terpisah, tidak dalam satu ayat? Barangkali ini karena dua ayat (ayat ini dan ayat sebelumnya) menyatakan bahwa “al-Quran telah turun dengan Ruh Terpercaya (rūh al-amīn) ke atas hatimu agar engkau termasuk dari orang-orang pemberi peringatan”. Oleh karena itu, agar engkau termasuk dari orang-orang pemberi peringatan, harus ada tiga unsur: turunnya al-Quran, turun melalui Ruh Terpercaya, dan turun ke dalam hatimu. Di sini, di antara tiga unsur ini, ungkapan “ke atas hatimu” disebutkan secara terpisah dari dua ungkapan (unsur) sebelumnya. Ungkapan (unsur) ini juga disebutkan serangkai dengan “dari orang-orang pemberi peringatan” yang menjelaskan adanya orang-orang pemberi peringatan dimana Nabi saw. salah satu dari mereka. Sementara kita tahu bahwa dua unsur: turunnya al-Quran dan turun melalui Ruh Terpercaya, hanya ada dan berlaku khusus pada diri Nabi saw. Oleh karena itu, dua unsur ini dipisahkan dari unsur ketiga dalam dua ayat yang berbeda.
  • Selain mengandung peringatan, wahyu (al-Quran) juga mengandung berita bahagia dan dorongan meraih kondisi terbaik. Namun, kenapa dalam rangka menyampaikan wahyu, yang ditekankan hanya memberi peringatan? Barangkali salah satu hikmahnya ialah karena kebanyakan manusia lebih serius mementingkan bagaimana mengatasi ancaman bahaya daripada bagaimana memperoleh keuntungan. Jawadi Amuli dalam tafsir surah al-Furqan mengatakan, “Kebanyakan orang tidak bermaksiat lantaran peringatan dan takut neraka. Seseorang yang beribadah dan bekerja dengan niat dan motif kerinduan pada surga, maka semua keutamaan melimpah yang disebutkan untuk shalat Malam (Tahajud) akan membuat kualitas shalat Malamnya seperti shalat Subuhnya. Akan tetapi, karena motivasinya untuk shalat Subuh adalah takut neraka, maka ia melakukan shalat Subuh saja, tanpa merasa kehilangan sesuatu dari meninggalkan shalat Malam.
  • Peringatan dan motivasi takut neraka adalah kadar minimal dan ukuran rata-rata kebanyakan manusia dalam tanggung jawab mereka melaksanakan hukum-hukum Allah. Sementara janji mulia dan pemberian harapan merupakan kadar maksimal yang ingin diraih oleh orang-orang yang tidak hanya tidak mau rugi, tetapi juga terdorong untuk beruntung.
  • Jika Allah swt. hanya menciptakan surga dan tidak menciptakan neraka, boleh jadi kebanyakan orang tidak begitu peduli bagaimana beragama dan bagaimana selamat di akhirat.
  • Dapat diamati bagaimana al-Quran menggunakan dua pola pendidikan dan pembinaan: peringatan dan janji baik. Namun juga tampak jelas penekanan al-Quran lebih berat pada peringatan daripada janji baik. Memberi janji baik dan harapan adalah salah satu tugas para nabi dan konsekuensi dari penurunan kitab-kitab suci, terutama al-Quran. Memberi peringatan juga salah satu tugas para nabi dan implikasi dari penurunan kitab suci, terutama al-Quran. Bedanya, memberi peringatan itu lebih umum dan prioritas daripada memberi harapan. Yakni, memberi harapan dilakukan setelah memberi peringatan dan diperdengarkan kepada umat. Perbedaan lainnya, memberi peringatan dalam al-Quran diungkapkan tiga kali lipat lebih banyak daripada memberi harapan. Adakakalanya al-Quran menyebutkan peringatan sebagai tugas khusus para nabi, sementara dalam memberi harapan, al-Quran menyertakan peringatan atau kesaksian dan pemberian petunjuk.[ph]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.