QS. Al-Nur [24]: ayat 35; Wahdatul Wujud (3): Sudah Ada di Awal Al-Fatihah

 

TAFSIR-QURAN.COM–Tauhid berupa Kesatuan Ada atau wahdatul wujud bukan hanya tertuang dalam Ayat Nur ini, tetapi dapat dijumpai bahkan di awal kali membuka lembaran Alquran, tepatnya di surah Al-Fatihah, yaitu ayat kedua:
 
 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


“Segala puji bagi Allah, Tuan alam-alam”

(QS. Al-Fatihah [1]: 2)

 
Tuan alam-alam yakni Tuan seluruh makhluk. Ini artinya tauhid wahdatul wujud sudah di awal-awal diungkap dalam Alquran. Benarkah demikian?

Di sepanjang Alquran, ayat dengan redaksi yang sama terulang di enam surah (QS.Al-An’am [6]: 45; QS. Yunus [10]: 10; QS. Al-Shaffat [37]: 182; QS. Al-Zumar [39]: 75; QS. Ghafir [40]: 65).

Dalam perbandingannya, ayat Nur menyatakan bahwa “Allah Cahaya langit-langit dan bumi.” Agar tetap dicatat selanjutnya bahwa cahaya yaitu nyata dengan sendirinya dan membuat selainnya jadi nyata. Demikian pula dalam ayat kedua dari al-Fatihah, pujian adalah pemurnian dari kekurangan dan pengagungan atas kesempurnaan.
 

Baca juga: QS. Al-Nur [24]: Ayat 35: Wahdatul Wujud (1); Kafir Atau Tidak?
Baca juga: QS. Al-Nur [24]: Ayat 35; Wahdatul Wujud (2): Makhluk Itu Ada Atau Tidak?
Baca juga: QS. Al-Baqarah [2]: Ayat 42; Cara Membuat Hoax
 

Jika cahaya selain Allah itu, pada hakikatnya, hanyalah milik Allah, pujian apa pun yang dilekatkan pada apa saja selain Allah juga sesungguhnya dan pada hakikatnya milik Allah, bukan milik mereka, karena mereka pada dirinya sendiri bukan apa-apa dan tidak ada apa-apanya. Karena itu, pujian tidak akan tertunaikan sepenuhnya kecuali dengan meniadakan selain Allah (lihat. Sahal Al-Tustari, Tafsīr Al-Qur’ān al-Azdīm, hlm. 85).

Dengan kata lain, kalau pada dirinya sendiri saja tidak ada apa-apa, bagaimana mungkin lantas dianggap punya kelebihan dan kesempurnaan yang lalu layak dipuji dan dikagumi. Sebaliknya, kalau saja cahaya dan ada makhluk itu hanya milik Allah, segala kelebihan dan kesempurnaan yang dianggap dimiliki makhluk sudah barang tentu juga hanyalah milik Allah.
 

Baca juga: QS. Al Imran [3]: Ayat 169; Jihad Dan Syahid, Dua Ajaran Unik Dan Istimewa
Baca juga: QS. Al Imran [3]: Ayat 118; Seni Rahasia Dalam Politik Dan Hukum-Hukum Musuh
Baca juga: Telah Terbit: Tafsir Imam Ghazali
 

Ayat Hamdu ini tidak sekedar menyatakan bahwa segala puji dan pengagungan selayaknya milik dan tertuju pada Allah, tetapi juga pada dasarnya pujian, penghormatan dan apresiasi apa pun senyatanya tertuju pada Allah. Tidak ada pujian apa pun kecuali untuk Allah. Termasuk kekaguman dan sanjungan yang dipendam atau diungkapkan seorang ateis dan kafir terkait sesuatu, pada hakikatnya, sedang memuji Allah, sekalipun dia tidak sadar.

Dalam salah satu doa di shalat tahajud, Nabi berdoa dengan merangkaikan al-hamdu (pujian) dan cahaya bagi Allah SWT (Shahīh al-Bukhārī, jld. 1, hlm. 377, hadis no. 1069):
 


اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ
Ya Allah! Bagi Engkaulah segala pujian, Engkaulah Cahaya langit-langit dan bumi dan apa saja di dalamnya. Bagi Engkaulah segala pujian, Engkaulah pengatur langit-langit dan bumi dan apa saja di dalamnya.

 

Apa pun selain Allah, bukan hanya tidak memiliki keagungan, pada diri mereka sendiri tidak memiliki apa-apa, pada dirinya hanyalah kekurangan, kebergantungan dan ketiadaan sehingga tidak layak dipuji dan diagungkan. Maka, pemahaman ini dari ayat Nur, bukan hanya bertentangan, justru koheren dan terdukung oleh ayat kedua dari surah Al-Fatihah.

Entah disadari atau tidak, para mufasir sepakat dengan tafsiran Raghib Isfahani dalam memaknai ayat ini. Ia menuliskan, “Segala bentuk dan macam pujian di sini merupakan pengingatan bahwa pujian apa pun, seluruhnya, tidak layak dimiliki oleh selain Allah, dan bahwa setiap pujian dan pemujian untuk selain Allah tidak lain hanyalah ‘āriyah (pinjaman). Hanya Allah yang pada hakikatnya berhak dan selayaknya pemilik segenap pujian … Karena itu, Dzul al-Nun berpuisi: “Ada saksi pada segala sesuatu – yang buktikan Dialah satu” (Raghib Isfahani, Muqaddimah Jāmi’ Al-Tafāsīr, hlm. 119-120).

Pujian untuk makhluk itu pinjaman Allah karena kesempurnaan dan, pada dasarnya, ada makhluk adalah pinjaman Allah. Selama dalam keadaan meminjam, makhluk tidak memiliki ada. Dan jika yang dipinjamkan itu ada (wujud), maka dia tidak memiliki ada, yakni dia adalah tidak ada. Pemilik cahaya dan ada makhluk sesungguhnya adalah Allah.[hcf]
 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hide Related Posts