Tafsir Sekularisme (1): Ayat-ayat Sekuler (5): Pemerintahan Dahulu, Baru Kenabian

 

Ada nabi-nabi yang berkuasa. Mula-mula, mereka memerintah, baru setelah itu menjadi nabi. Bukan lantaran mereka itu telah menjadi nabi dan pembawa agama lantas meraih kekuasaan, tetapi justru sebaliknya.

Satu dari sekian argumen memisahkan agama dan kenabian dari kekuasaan dan pemerintahan adalah fakta pemisahannya pada sosok nabi-nabi yang berkuasa. Seperti Nabi Dawud a.s., pada mulanya, aktif sebagai perwia angkatan bersenjata Thalut lalu, berkat integritas, kompetensi, dan kualifikasi dirinya, ia diangkat Allah sebagai nabi.

 

فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ

“Maka mereka (tentara Thalut) mengalahkan mereka (pasukan Jalut) dengan izin Allah, dan Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberinya (Daud) kerajaan dan hikmah dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki.”
— QS. Al-Baqarah [2]: 251 —

Nabi Daud adalah seorang perwira dari lapisan masyarakat namun tangguh dan berhati suci. Keberhasilannya membunuh Jalut itu tidak lain karena keberanian, ketulusan, dan tawakal pada Allah. Hingga pasca era Thalut, dia pun menjadi panglima dan memerintah Bani Israil. Allah mengaruniakan posisi ini bukan melalui ketetapan wahyu dan agama, tetapi atas dasar kelayakan alami dan kodrat kompetensi dirinya. Dengan itulah Dawud kemudian mencapai kedudukan sebagai rasul.

 

Tinjauan Kritis

Argumen ini berpijak pada fakta sejarah nabi-nabi dalam Alquran. Untuk mencapai maksud, yakni memisahkan agama dan pemerintahan, mereka merujuk fakta sejarah manusia-manusia yang terlebih dahulu berkuasa dan memerintah sebelum kemudian menjadi nabi. Misalnya, mereka menyoroti Dawud yang menjadi nabi setelah berkuasa dan memerintah. Dalam posisi sebagai pemerintah, ia belum menjadi nabi, belum menerima amanat menyampaikan agama. Maka, agama terpisah dari pemerintahan.

Berikut ini beberapa catatan kritis atas argumen 5 Sekuler di atas:

Baca Juga:

 

Pertama

Dari uraian Sekuler di atas, setidaknya juga dapat disimpulkan bahwa tujuan pengutusan para nabi atau, tepatnya sebagian dari mereka, bukan sebatas menyampaikan wahyu dan mengajarkan spiritualitas, tetapi juga mengelola masyarakat, membina kebebasan sosial, menegakkan keadilan, menuntaskan perkara dan kasus dengan perangkat kekuasaan dan pemerintahan.

DALAM MENARIK KESIMPULAN MENGENAI INTEGRAL-TIDAKNYA AGAMA DAN PEMREINTAHAN DALAM ISLAM, SEMESTINYA BERFOKUS PADA ALQURAN DAN SEJARAH NABI SAW   

Lebih dari itu, sepanjang kritik atas Argumen 1, telah dikemukakan sejumlah ayat yang menunjukkan integralitas agama dan pemerintahan. Maka itu, pembentukan kekuasaan dan pemerintahan para nabi sebelum maupun sesudah pengutusan/kenabian tidak berimplikasi apa-apa terhadap substansi masalah (integralitas agama dan pemerintahan).

Alhasil, para nabi bertugas mengupayakan tujuan-tujuan sosial-politik, entah kekuasaan berada di tangan mereka—sehingga dengan begitu, akan berfungsi mengeksekusi dan menguatkan tujuan-tujuan tersebut—ataupun tidak sama sekali.

 

Kedua

Sebagai fakta kontrakritis, nyatanya dalam Alquran ada sejumlah nabi yang, pada mulanya, telah menjadi nabi, baru kemudian meraih pemerintahan, seperti yang dialami Nabi Yusuf a.s., Nabi Musa a.s., dan Nabi Muhammad SAW. Jika berargumen dengan Alquran, maka akan ilmiah bila pandangan Alquran digali secara lengkap dan komperehensif, bukan sepenggal-sepenggal dan hanya fokus pada ayat-ayat yang lebih memihak pandangan Sekuler tanpa peduli pada ayat yang tidak menguntungkan Sekularisme. Lengkap dan komprehensif yaitu menyoroti semua ayat yang terkait dengan duduk masalah.

 

Ketiga

Perlu ditegaskan untuk kesekian kali, integralitas agama dan pemerintahan, Islam dan negara, serta pembentukan negara oleh Nabi SAW berlangsung setelah beliau menjadi nabi. Adapun bagaimana pola hidup dan pelaksanaan tugas nabi-nabi sebelum beliau perlu dicermati sesuai situasi-kondisi khas masa mereka dan, tentu saja, itu menjadi dasar-bukti bagi umat pengikut mereka. Karena itu, untuk menarik sebuah kesimpulan mengenai suatu masalah seperti: integral-tidaknya agama dan pemerintahan dalam Islam, semestinya berfokus pada Alquran dan sejarah Nabi Muhammad SAW.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.