ِDoktor Perempuan Ungkap Anasir Hoax dalam Tafsir Guru Para Mufasir

 

Pengutipan hadis-hadis Nabi atau tentang Nabi dari orang-orang Yahudi atau dari literatur Ibrani begitu mudah dilakukan al-Thabari tanpa ia sendiri sempat menorehkan peringatan ataupun kritik sebelum ataupun sesudah mengutip. 

Guru para mufasir artinya rujukan dan referensi para mufasir yang datang setelahnya. Siapa lagi kalau bukan Thabari atau dikenal juga dengan nama Ibnu Jarir asal Amul, provinsi Tabaristan di negeri Persia Iran sekarang. Setidaknya, begitulah mufasir pelopor ini diakui oleh sebagian para mufasir, termasuk oleh Prof. Quraish Shihab dalam tafsirnya, al-Mishbah. Posisinya sebagai pelopor dan referensi utama tafsir berimplikasi pada pengembangan tafsir dan, tentu saja, tak ketinggalan juga penyebaran hoax Israiliyat tafsir al-Thabari, Jāmi’ al-Bayān fi Ta’wīl al-Qur’ān (Penghimpun Uraian dalam Takwil Alquran), mengalir ke tafsir-tafsir yang datang setelahnya. Penyebaran ini juga diduga mengalir dalam karya monumental lain al-Thabari dalam sejarah, Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk.

Lihat juga:

 

Amal Abdurahman Rabi’ menulis, “Selain dipenuhi ulasan berlebihan yang tak berhubungan dengan tafsir, al-Thabari memuatkan hadis-hadis dhaif tanpa catatan dan komentar kritis ke dalam tafsirnya. Tanpa mengurangi nilai ilmiahnya, al-Thabari kerap mencatatkan ke dalam tafsirnya jumlah besar dari kisah-kisah israiliyyat, nasraniyyat, khurafat dan mitos-mitos.”

Mendiang Amal kembali mengingatkan, “Sepanjang meninjau sejumlah banyak karya tafsir, dapat dipastikan bahwa sikap ulama salaf terhadap riwayat-riwayat israiliyat pada ghalibnya terkesan mengentengkan. Kalau memang mereka itu serius, teliti dan waspada, tentu tidak akan sampai ke tangan kita riwayat-riwayat israiliyyat yang tertolak oleh Islam, akal dan logika itu melalui karya dan tulisan mereka.

KARYA INI MEMBANDINGKAN LANGSUNG RIWAYAT-RIWAYAT ISRAILIYYAT DALAM TAFSIR AL-THABARI DENGAN TEKS-TEKS LITERATUR IBRANI.

“Kini, resikonya harus ditanggung oleh peneliti sebagai tugas berat ilmiah untuk menyeleksi dan memurnikan karya-karya mereka dari israiliyyat, nasraniyyat, fiksi, khurafat dan mitos-mitos. Dengan begitu, upaya ilmiah ini diharapkan dapat menutup celah-celah tuduhan palsu terhadap agama kita, Alquran kita, dan Nabi kita.”

Kesimpulan ini bertolak belakang dengan pandangan populer di kalangan ulama seperti Imam Suyuthi, Imam Nawawi, Abu Hamid Isfarayini. Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tafsir Ibnu Jarir al-Thabari menyebutkan pendapat para ulama salaf dengan sanad-sanad yang pasti; di dalamnya tidak ada bid’ah, ia juga tidak mengutip dari orang-orang yang ditengarai cacat seperti Ibnu Muqatil dan al-Kalbi” (al-Dzahabi, Tafsīr wa al-Mufassirūn, jld. 1, hlm. 208).

Betapapun, hasil usaha Amal Rabi’ ini tertuang sepanjang penelitian doktoralnya dalam bentuk disertasi di Prodi Ilmu Bahasa dan Studi Samiyah, Universitas Al-Azhar. Keunikannya menonjol dalam membandingkan langsung riwayat-riwayat Israiliyyat ternyata ada secara tekstual dan letterlijck dalam sumber-sumber Yahudi berbahasa Ibrani. Artinya, al-Thabari banyak menukil riwayat dari Nabi atau tentang Nabi yang secara eksplisit juga implisit berasal dari literatur Yahudi berbahasa Ibrani.

Buku Amal Raba’i ini berjudul Al-Isrā’īliyyāt fī Tafsīr al-Thabarī: Dirāsah fī al-Lughah wa al-Mashādir al-‘Ibriyyah (Israiliyyat dalam Tafsir al-Thabari: Studi atas Bahasa dan Sumber-sumber Ibrani). Buku ini sempat diminta untuk dicetak di Israel, namun ditolak oleh penulisnya sendiri. Segera unduh di sini atau di link-link berikut:

Israiliyyat-Rabi-01
Israiliyyat-Rabi-02
Israiliyyat-Rabi-03
Israiliyyat-Rabi-04
Israiliyyat-Rabi-05

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.