Al-Quran, Filsafat Ijtihad dan Pemahaman Kontekstual (Bagian Pertama)

 

DAPAT DIPASTIKAN seluruh umat Islam percaya al-Quran sebagai salah satu sumber pengetahuan dan keputusan. Namun juga jelas, tidak semua orang Islam punya kemampuan menyimpulkan hukum dari al-Quran; diperlukan penguasaan memadai dalam sejumlah ilmu dan, oleh karena itu, penyimpulan hukum menjadi tanggung jawab orang-orang tertentu, yakni yang memiliki kualifikasi dan spesialisasi. Mereka ini dikenal juga dengan nama mufti, faqih dan mujtahid. Imam Abu Hanifah, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali adalah nama-nama yang lazim dikenal sebagai mujtahid yang sampai sekarang masih dirujuk kesimpulan hukum mereka oleh orang-orang yang tidak sekapasitas mereka. Di sinilah tampak konsep ijtihad dan taklid, imam dan umat.

Sebagai manusia biasa, tentu induksi dan penyimpulan hukum mereka tidak maksum, tidak luput dari kekeliruan. Tidak ada juga seorang muslim yang percaya mereka itu maksum. Dalam kaidah disebutkan, Li al-mushib ajrān wa li al-mukhti’ ajrun wāhid: mujtahid yang benar penyimpulan hukumnya dan menjangkau makna yang dimaksud Tuhan akan memperoleh dua pahala, dan sekiranya tidak benar dan gagal menjangkau makna yang dimaksud, akan mendapatkan satu pahala.

Pada prakteknya, sepanjang upaya dan proses berijtihad, yakni menggali dan menyimpulkan hukum, mujtahid tidak semata-mata mencurahkan segenap kompetensinya dengan hanya mengandalkan teks agama. Seperti disebutkan sebelumnya, perlu penguasaan memadai atas ilmu-ilmu tertentu. Dengan demikian, pertanyaan yang muncul adalah: apakah seorang mujtahid dan imam hukum dapat bersandar pada al-Quran tanpa presupposisi, yakni keyakinan awal? Kalau memang tidak, presupposisi apa saja yang harus ada sebelum seorang mujtahid merujuk al-Quran dan menggali hukum darinya? Berikut poin-poin terkait pertanyaan ini:

Pertama, secara umum dapat dikatakan bahwa al-Quran merupakan referensi primer hukum. Al-Quran merupakan sumber pertama dalam upaya memperoleh pandangan agama.

Kedua, upaya menggali al-Quran tidak akan valid dan bermakna kecuali jika memenuhi dua asas: validitas keberasalan (hujjiyyat al-shudur) dan validitas pemaknaan (hujjiyyat al-dalalah) al-Quran.

Ketiga, asas seorang mujtahid dalam menyimpulkan hukum dari al-Quran terbagi menjadi dua: keberasalan (shudur) dan makna (dalālah).

Keempat, asas keberasalan Al-Quran adalah (a) al-Quran turun sepenuhnya dari Tuhan, (b) al-Quran terjaga utuh dari distorsi, pengurangan ataupun  penambahan, (c) wahyu terjaga utuh dari kesalahan, dan (d) Nabi Muhammad saw. terjaga maksum dari segala bentuk kesalahan, sengaja atau lalai, dalam menerima wahyu juga dalam menyampaikannya.

Kelima, asas pemaknaan, yakni makna yang ditunjukkan al-Quran, yaitu (a)  Allah swt. menghendaki makna-makna definitif yang terkandung dalam redaksi-redaksi al-Quran, (b) dalam menjelaskan makna yang dimaksud, setidaknya dalam hukum-hukum partikular, tidak keluar dari pola umum yang digunakan dalam proses pemahaman orang berakal sehat, juga tidak menggunakan pola metaforis, analogis dan simbolis, (c) adanya kemungkinan dan peluang yang memadai untuk menjangkau dan memahami makna-makna yang dimaksud oleh Tuhan bagi para orang-orang berakal sehat terkait ayat-ayat hukum pada masa turunnya ayat-ayat tersebut, (d) hukum-hukum Tuhan bersifat universal, tidak khusus pada tempat dan kondisi tertentu, kecuali hukum-hukum tersebut telah dihapus (mansukh) atau berubahnya hukum-hukum tersebut dapat dibuktikan.

Dalam perspektif seluruh mazhab Islam, al-Quran dikenal, sekali lagi, sebagai sumber primer dan utama. Seluruh mujtahid, pertama-tama, akan merujuk al-Quran untuk memperoleh pandangan agama dalam perkara apa pun. Artinya, al-Quran merupakan mukjizat abadi Rasulullah saw. dan lebih superior (muhaiman) di atas kitab-kitab samawi lainnya.

Maka, atas dasar perspektif dan konsensus ini, dua asas berikut ini dalam penyimpulan hukum dari Al-Quran diterima setiap kalangan:

Lukisan Baitul Hikmah

Pertama, al-Quran merupakan pijakan Ilahi dan hujjah Tuhan atas manusia. Apa yang kini disebut al-Quran di tangan kaum Muslimin adalah al-Quran yang diturunkan oleh Tuhan dan tidak ada unsur non-ilahi apa apun. Di dalamnya tidak ada kesalahan, baik lalai atau sengaja. Artinya, al-Quran yang kini di tangan kita, kaum Muslimin, memiliki validitas keberasalan.

Kedua, makna dan kandungan al-Quran dapat diakses, dijangkau dan dipahami. Untuk dapat memperoleh pandangan agama, al-Quran menjadi referensi. Jadi, di samping memiliki validitas keberasalan, al-Quran juga memiliki validitas makna.

Oleh karena itu, tatkala seorang mujtahid terjun dalam proses penyimpulan hukum (istinbāth) agama, ia akan menempatkan al-Quran sebagai sumber ijtihad (usaha memahami dan menumpulkan) dan menggunakan al-Quran untuk memperoleh hukum partikular.

Jadi, sebelum beranjak mengeksplorasi al-Quran, mujtahid sesungguhnya sudah menerima sekumpulan asas terkait validitas keberasalan al-Quran dan sekumpulan asas lainnya terkait validitas makna al-Quran. Sebaliknya, jika ia sedikit saja terhadap keberasalan al-Quran dari Tuhan, secara logis ia tidak dapat menyandarkan pandangannya pada al-Quran dan wahyu atau mengklaim hukum yang diperoleh dari proses instinbāth sebagai hukum Tuhan dan agama. Lantas, apa saja asas-asas validitas keberasalan al-Quran, ikuti selanjutnya!

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.