Analisis Komputer: Mana Yang Lebih Memuat Kekerasan: al-Quran atau Bible?

 

APAKAH ISLAM, pada dasarnya, agama kekerasan? Simak saja presiden baru Amerika Serikat dan, tentu saja, tidak sedikit yang berpikir begitu. Di masa kampanye, Donald Trump segera menjadi populer karena ingin melarang semua orang Muslim masuk negaranya. Rupa-rupanya, Trump tidak sendirian memendam keinginan ini. Survei Pew yang dirilis pekan lalu menemukan seperlima orang Amerika berpikir bahwa beberapa ajaran agama menjadi sumber kekerasan dan sebagian besar dari mereka menyebut nama Islam secara khusus. Saking mudahnya ekstremisme sebagian Muslim diidentikkan dengan Islam, mungkin hasil survei itu tidak mengherankan.

Tapi apakah sudah benar menghubungkan Islam dengan kekerasan? Awal tahun lalu, media Inggris, Independent, menurunkan laporan riset dengan judul “Violence more common in Bible than Quran”, dan segera dibubuhi anak judul bahwa dalam Perjanjian Lama, ditemukan kekerasan lebih dari dua kali lipat daripada dalam al-Quran.

Alkitab mencetak angka lebih tnggi dalam marah dan lebih rendah dalam iman daripada al-Quran

Penelitian dan satu dari sekian kesimpulannya juga dimuat dalam situs christiantoday. Berangkat dari jawaban negatif singkat atas pertanyaan di atas, tidak adanya hubungan islam dan kekerasan itu dibuktikan oleh seorang peneliti, Tom Anderson, yang menerapkan keahliannya dalam komputerisasi analisis teks atas Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (Alkitab/Bible) dan al-Quran. Dengan motode yang benar-benar empiris dan matematis, ia membandingkan seberapa banyak ajaran kekerasan dalam tiga teks kitab suci ini.

Proyek ini diakui Tom Anderson sendiri terinspirasi oleh debat publik yang sedang berlangsung di sekitar apakah atau tidak terorisme terhubung dengan fundamentalisme Islam mencerminkan sesuatu yang inheren dan jelas kekerasan tentang Islam dibandingkan dengan agama-agama besar lainnya. Menggunakan program lunak analisis teks berbasis komputerisasi yang telah dikembangkan, bernama Odin Text, ia menganalisis versi baru internasional Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru serta al-Quran versi bahasa Inggris 1957. Sebelumnya, ia pernah menggunakan program ini untuk melayani klien perusahaan dengan informasi pemasaran, lalu ia mencoba menerapkannya pada isu krusial yang, dalam hal ini, Islam dan umatnya kerap dirugikan.

Program OdinText Anderson mendeteksi gejala-gejala sentimen dan emosi dalam teks Alkitab dan al-Quran, tapi juga melibatkan istilah-istilah khas agama seperti: Tuhan, Allah dan Yesus. Dan ia menunjukkan dengan cukup puas bahwa OdinText hanya membutuhkan kurang dari dua menit untuk membaca dan menganalisis dua kitab suci itu sekaligus.

Lalu, apa yang dia temukan?

Dengan tegas Anderson menyatakan bahwa “Kami tidak dalam rangka membuktikan atau menyangkal bahwa Islam lebih keras daripada agama lain, dan bahwa kami sangat menyadari bahwa ada banyak ajaran Kristen, Yahudi dan Islam lebih dari sekedar kitab suci mereka.”

Namun, mereka menemukan bahwa, dalam membandingkan delapan emosi utama: sukacita, antisipasi, marah, muak, sedih, terkejut, takut-cemas dan iman-percaya, Perjanjian Lama adalah “paling pemarah” dan berisi minim “sukacita”.

Mereka juga menemukan Alquran mengandung paling banyak “takut-cemas” dan masalah-masalah kepercayaan-keyakinan.

Mereka menyimpulkan bahwa “Sebuah pengamatan kata per kata atas teks kitab suci menunjukkan bahwa kandungan al-Quran tidak lebih keras daripada kitab-kitab suci Yahudi-Kristen. Bahkan faktanya, dari tiga teks kitab suci, kandungan Perjanjian Lama tampaknya paling keras.”

Memang, pembunuhan dan penghancuran sedikit lebih sering menjadi referensi dalam Perjanjian Baru (2.8%) daripada dalam al-Quran (2.1%), tapi Perjanjian Lama (5.3%) secara jelas memimpin rekor penyebutan tentang penghancuran dan pembunuhan, yakni lebih dari dua kali lipat dari al-Quran.

Hasil komputerisasi analisis teks ini juga menerbitkan adata bahwa Perjanjian Baru adalah tertinggi dalam soal cinta, sementara al-Quran tertinggi dalam konsep “belas kasih” atau “maaf”.

Para peneliti mengakui bahwa hasil ini adalah karena Allah sering digambarkan sebagai “Maha Penyayang”. Bahkan mereka mengatakan, “sejumlah kalangan mungkin mengabaikan hal ini sebagai topik atau judul, tapi kami percaya hal itu berarti karena belas kasih diprioritaskan di atas atribut lain seperti “Maha Kuasa” yang bisa dibilang lebih berkonotasi dengan dewa-dewi.

Ada juga perbedaan utama seputar konsep “iman/percaya”, dimana lagه-lagi al-Quran berada di atas Perjanjian Baru, sementara Perjanjian Lama berada di posisi ketiga.

Anderson menyimpulkan, “Mereka yang belum membaca atau tidak cukup akrab dengan isi dari ketiga teks kitab suci itu mungkin akan terkejut saat mengetahui bahwa itu tidak ada’ al-Quran benar-benar tidak lebih kejam daripada kitab-kitab suci Yahudi-Kristen.”

Ia menambahkan, “Secara pribadi, saya harus mengakui bahwa saya agak terkejut bahwa konsep mercy ‘belas kasih’ adalah yang paling umum dalam al-Quran; sementara saya berharap Perjanjian Baru akan menempati peringkat tertinggi dalam hal ini seperti yang terjadi pada konsep cinta.

“Secara keseluruhan, ketiga teks kitab suci itu dinilai sama dalam hal sentimen positif dan negatif, tetapi juga dari pembacaan emosional, al-Quran dan Perjanjian Baru tampak lebih mirip satu sama lain.” imbuhnya.

Tentu saja, seperti yang pertama kali diakui Anderson, masih banyak lagi yang bisa diungkap tentang bagaimana ketiga teks kitab suci itu benar-benar berbicara. Yahudi dan Kristen mungkin ingin bertanya tidak hanya seberapa sering kekerasan dan kebencian muncul dalam Perjanjian Lama, tetapi dalam konteks apa dua gejala ini muncul. Tetapi pada saat yang sama, jika seseorang ingin merujuk Perjanjian Lama dalam rangka membenarkan kekerasan, ia akan menemukan banyak referensi di dalamnya.

Penelitian Anderson ini memperingatkan kita agar tidak jatuh dalam kemalasan meneliti, mencari fakta atau mudah percaya dan gampang menelan bulat-bulat setiap berita. Dalam kapasitasnya sebagai konsultan dan programmer analisis komputeral, ia memberi pesan masing-masing dapat berkontribusi dalam kralifikasi berita dan mengungkap fakta.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.