Gara-gara Murtad, Kaisar Romawi Belajar Tafsir Al-Fatihah

 

Di antara surah yang paling memikat hasrat pengetahuan para ulama ialah surah Al-Fatihah. Ada lapisan lahir dan batin di dalamnya. Sebagian mufasir menempatkan Al-Fatihah sebagai deskripsi lengkap tentang manusia; dari mana di mana dan akan ke mana. Memahami maknanya, seberapa pun itu, sangat bernilai dalam meningkatkan kualitas shalat kita dan, tentu saja, pola pandang kita memperlakukan diri dan dunia.

Sebelum ulama, sahabat Nabi SAW sudah lebih dulu menyelami kandungan surah. Di akhir surah bahkan kita diajak untuk meletakkan kaki dan langkah  di atas jalan lurus orang-orang yang diberi anugerah oleh Allah SWT. Dalam riwayat disebutkan, orang-orang itu adalah Nabi SAW dan sahabat-sahabatnya yang setia.

Dalam hadis yang lebih detail disebutkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal bahwa ada seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, siapa yang akan kita jadikan pemimpin setelahmu?” Beliau bersabda, “Jika kalian menjadikan Abu Bakar pemimpin, kalian akan menemukannya orang terpercaya, zuhud dalam urusan dunia, suka akhirat. Jika kalian menjadikan Umar pemimpin, kalian akan menjumpainya orang yang kuat terpercaya, tidak takut demi Allah terhadap hujatan orang penghujat. Dan jika kalian menjadikan Ali pemimpin, dan aku tidak yakin kalian akan melakukan itu, kalian akan menemukannya pemberi petunjuk yang telah mendapat petunjuk, menuntun kalian ke jalan yang lurus.” (Musnad Al-Imām Ahmad bin Hanbal, jld. 2, hlm. 214; Imam Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘alā Al-Shahīhayn, jld. 3, hlm. 153 dan 73. lihat juga Ma‘ānī Al-Akhbār (Bahr Al-Fawā’id), jld. 1, hlm. 279).

Bagaimana sahabat-sahabat ini memahami surah Al-Fatihah ini sendiri? Ada riwayat yang menarik diamati sebagai laporan yang, sedikit banyaknya, menjawab pertanyaan ini. Ada nama Umar bin Khaththab dan Ali ibn Abi Thalib. Kaitannya dengan tafsir dan pemahaman mereka mengenai ayat ini lantaran surat yang dilayangkan Kaisar Romawi kepada Umar untuk menanyakan sejumlah pertanyaan.

Diriwayatkan bahwa pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab, terjadi perdebatan antara seorang sahabat bernama Haris bin Sinan Al-Azdi dan seorang Nasrani hingga memuncak ke pertikaian, namun Umar tidak berpihak kepada Haris hingga dia pergi bergabung dengan Kaisar Romawi, keluar murtad dari Islam dan melupakan seluruh Al-Quran kecuali firman Allah SWT, “Dan barangsiapa menginginkan agama selain Islam tidak akan diterima apa pun darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang merugi” (QS. Al Imran [3]: 85).

Mendengar berita ini, Kaisar berkata, “Aku akan mengirim surat ke raja Arab dengan sejumlah pertanyaan; jika dia memberikan jawaban atasnya, aku akan membebaskan semua tawanan yang ada padaku, tetapi jika dia tidak memberikan penjelasan atas pertanyaanku, aku akan memanggil tawanan-tawanan dan aku tawarkan agama Nasrani kepada mereka; jika mereka terima, aku akan menjadikannya sebagai budak, tetapi jika tidak terima, aku akan membunuhnya.

Lalu, Kaisar mengirim surat yang berisi sejumlah pertanyaan, di antaranya, pertanyaannya tentang tafsir surah Al-Fatihah, tentang air yang bukan dari bumi juga bukan dari langit, tentang sesuatu yang bernapas tetapi tidak bernyawa, tentang tongkat Musa terbuat dari apa dan apa namanya serta berapa panjangnya, tentang budak perempuan perawan milik dua saudara di dunia namun milik salah satunya di akhirat.

Tatkala pertanyaan-pertanyaan ini sampai ke tangan Umar, ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Maka, ia segera melimpahkannya kepada Ali bin Abi Thalib. Selanjutnya Ali mewakili khalifah kedua menjawab satu per satu pertanyaan Kaisar melalui surat balasan, sebagaimana diriwayatkan Al-Daylami berikut ini:

“Dari Ali bin Abi Thalib, saudara sepupu Muhammad, pewaris ilmunya, orang yang paling dekat dengannya, pembantunya dan yang berhak memegang kepemimpinan dan pengelolaan urusan dunia dengan berlepas diri dari musuh-musuhnya, sinar mata Rasulullah, suami putrinya, ayah keturunannya, kepada Kaisar penguasa Romawi.

“Selanjutnya, sungguh aku memuji Allah yang tidak ada tuhan kecuali Dia, mahatahu akan hal-hal tersembunyi dan penurun kebaikan melimpah. Orang yang diberi petunjuk oleh Allah tidak ada penyesat baginya, dan orang yang menyesatkan … tidak ada pemberi petunjuk baginya. Telah sampai surat Anda dan dibacakan oleh Umar bin Khaththab kepadaku.

“Adapun pertanyaan Anda tentang nama Allah, sesungguhnya itulah nama yang di dalamnya terdapat kesembuhan dari setiap penyakit, pertolongan atas setiap obat.

“Mengenai pertanyaan Anda tentang al-rahmān ‘yang maha penyayang’, itulah pertolongan bagi setiap orang yang beriman kepada-Nya, itulah nama yang tidak satu pun bernama dengannya kecuali Dia Yang Maha Penyayang SWT.

“Adapun al-rahīm ‘yang maha pengasih’, Dialah mengasihi orang yang bermaksiat, bertaubat, beriman dan beramal saleh.

“Adapun tentang firman-Nya, “Segala puji bagi Allah, Tuhan alam-alam”, itu adakah pujian dari kita kepada Tuhan SWT kita atas nikmat yang Dia berikan kepada kita. Tentang firman-Nya, “Penguasa Hari Pembalasan”, Dia itulah yang memiliki segenap wujud makhluk di hari kiamat, dan setiap orang yang ada di dunia, entah peragu atau penguasa sewenang-wenang, Dia akan memasukkannya ke dalam neraka, dan tidak ada seorang peragu ataupun penguasa sewenang-wenang yang terlindung dari azab Allah SWT, dan setiap orang taat namun bermaksiat di dunia, Dia akan menghapus kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga dengan rahmat-Nya.

“Adapun firman-Nya, “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah”, sesungguhnya kami menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Adapun firman-Nya, “dan hanya kepada Engkaulah kami memohon bantuan”, sesungguhnya kami memohon bantuan kepada Allah SWT mengalahkan setan sehingga dia tidak menyesatkan kami sebagaimana dia telah menyesatkan kalian.

Adapun firman-Nya, “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus”, itulah jalan terang; orang yang berbuat kebaikan di dunia, sungguh dia menempuh jalan menuju surga.

Adapun firman-Nya “Jalan orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka”, itulah nikmat yang diberikan Allah SWT kepada orang sebelum kami, yaitu para nabi dan orang-orang benar, maka kami memohon kepada Tuhan kami agar memberikan nikmat kepada kami.

Adapun firman-Nya SWT, “yang bukan orang-orang yang dimurkai”, mereka itulah kaum Yahudi yang telah mengubah nikmat Allah dengan kekafiran sehingga Allah murka atas mereka dan menjadikan mereka kera dan babi, maka kami memohon kepada Tuhan kami agar Dia tidak murka atas kami sebagaimana Dia telah murka atas kalian.

Adapun firman-Nya, “bukan pula orang-orang sesat”, yaitu Anda orang-orang seperti Anda, wahai penyembah salib yang kotor, kalian telah sesat setelah Isa putra Maryam a.s. Kami memohon Tuhan kami agar tidak menyesatkan kami sebagaimana kalian telah sesat ….” (Al-Daylami, Irsyād Al-Qulūb ilā Al-Shawāb, jld. 2, hlm. 365-367).

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.