Kisah Alquran (1): Pernikahan Dramatis di Balik Pembunuhan Terheboh

 

TAFSIR-QURAN.COM–Dalam Alquran ada sejumlah kisah yang sudah sepatutnya disimak dari perbagai sisi, selain dalam rangka informasi mengungukap fakta, juga agar pembaca menggali ibrah, pelajaran, hikmah, dan hukum kehidupan. Di antaranya, kisah yang cukup detail di surah Al-Baqarah tentang peristiwa yang terjadi di masa Nabi Musa a.s.

Para mufasir mengatakan, karena kisah itu pula surah kedua Alquran ini dinamai al-baqarah (sapi betina). Lalu, apa hubungan seekor sapi betina dengan pernikahan? Dan bagaimana kaitan pernikahan itu dengan pembunuhan? Simak jalan ceritanya berikut ini!

Di masa Nabi Musa a.s., hidup seorang pemuda santun dan berbudi pekerti. Ia bekerja sebagai pedagang bahan makanan. Suatu hari, datang seorang pembeli yang ingin membeli gandum dalam jumlah besar. Setelah transaksi terjadi, si pemuda pergi ke gudang untuk mengambil barang. Namun, ia melihat gudang tertutup dan kuncinya berada di kantong ayahnya yang sedang tidur.
 

Baca juga: Sayyid Qutb: Mufasir Yang Mencita-Citakan Negara Islam
Baca juga: Masuk Islam Karena Alquran (1): Maurice Bucaille, Dokter Profesor Perancis
Baca juga: QS. Al ‘Imran [3]: 139, Tidak Unggul, Maka Tidak Beriman
 

Pemuda yang terdidik ini sangat hormat dan patuh kepada orang tuanya. Maka, ia kembali menemui pembeli dan meminta maaf seraya berkata, “Maaf, saya tidak dapat memberikan gandum yang Anda inginkan, karena kunci gudang berada di tangan ayahku yang sekarang sedang tidur, dan aku tidak ingin beliau terbangun dan terganggu waktu istirahatnya. Jika Anda mau bersabar, tunggulah sampai ayahku bangun, dan aku akan memberikan potongan harga untukmu. Jika tidak, silahkan beli di tempat lain!”

“Aku akan membelinya lebih mahal lagi,” balas si pembeli, “bawakan barangnya kemari dan tidak usah tunggu apa-apa lagi! Cepat bangunkan ayahmu!”

Sang pemuda menjawab, “Tidak, aku tidak akan melakukannya. Tolong jangan meminta itu lagi dariku; aku lebih senang ayahku tenang beristirahat daripada aku mendapatkan untung besar.”

Setelah tarik-ulur, si pemuda tetap tidak mau membangunkan ayahnya. Si pembeli juga tidak mau menunggu, lalu ia pergi ke tempat lain.
 

Baca juga: QS. Al-Baqarah [2]: 42; Cara Membuat Hoax
Baca juga: QS. Al-Qashash [28]: 56; Iman, Takdir Allah di Tangan Manusia
Baca juga: QS. Al ‘Imran [3]: 139, Tidak Unggul, Maka tidak Beriman
Baca juga: Terbitkan Hasil Riset Al-Quran 800 Halaman, Profesor Jerman Kritik Tajam Budaya Barat
 

Beberapa saat kemudian, sang ayah terbangun dari tidurnya; melihat anaknya sedang mondar-mandir di halaman rumah. “Anakku, kenapa jam sekian engkau menutup toko dan pulang ke rumah”! sergah sang ayah. Peristiwa tadi akhirnya diceritakan oleh si pemuda.

Setelah mendengar kisah tersebut, sang ayah merasa sangat gembira dan berbunga-bunga hatinya. Dia bersyukur kepada Allah seraya berkata, “Ya Allah terima kasih, Engkau telah menganugerahi aku seorang anak yang penuh kasih sayang.”

Lalu ia berkata kepada anaknya, “Sebenarnya aku senang kamu bangunkan aku hingga kamu tidak kehilangan keuntungan besar seperti itu, tetapi karena kamu telah menghormati ayahmu, maka untuk menebus keuntungan yang lenyap itu aku akan memberikan anak sapiku kepadamu, dan semoga Allah memberikan keuntungan yang lebih besar lagi melalui anak sapi itu.”

Tiga tahun berlalu. Anak sapi hari demi hari semakin besar dan sampai menjadi seekor sapi sempurna.

Di tempat lain, di salah satu keluarga Bani Israel, hidup seorang gadis perawan cantik jelita. Budi pekertinya tak kalah indahnya. Begitu banyak pemuda datang melamarnya. Di antara mereka dua sepupunya sendiri; salah satunya pemuda bertakwa dan berpendidikan tapi miskin, dan sepupu satunya kaya raya namun kurang taat agama. Di benak sang gadis hanya dua pemuda ini yang terbayang. Akhirnya ia meminta waktu satu minggu untuk menentukan pilihannya.
 

Baca juga: Mufassir Perempuan (2): Banu Mujtahidah Isfahani Dari Persia
Baca juga: Mufassir Perempuan (1): Bintu Syathi Dari Mesir
 

Dalam kurun waktu itu, dia selalu berpikir demikian, “Jika aku memilih sepupuku yang taat agama, aku harus siap hidup melarat, namun aku akan ditemani oleh lelaki berhati mulia dan cinta tuhan. Jika aku memilih sepupuku yang kaya, bisa jadi dalam beberapa waktu, aku akan hidup senang, tetapi aku akan menjauh dari akhlak mulia dan jatuh dalam kesengsaraan abadi.”

Setelah berpikir dan berembuk dengan kedua orang tuanya, akhirnya si gadis mengambil keputusan untuk menikah dengan sepupunya yang taat agama. Sepupu yang kaya raya, saat menyadari bahwa pujaan hatinya memilih orang lain, merasa hancur, disusul dengan rasa iri dan dengki merebak. Maka, ia berencana membinasakan pesaingnya itu.

Diundanglah saingannya yang tak lain sepupunya sendiri itu ke rumahnya. Setelah acara jamuan makan selesai, dia memohon tamunya untuk menginap. Sampai di penghujung malam, dia menjalankan rencana jahatnya membunuh sepupunya.

Pembunuhan pun terjadi. Untuk menghilangkan jejak, dia meletakkan mayat sepupunya di kawasan elite Bani Israel. Dengan cara itu, dia merasa seperti orang yang memanah dan mengenai dua bidikian dengan satu anak panah: sang gadis terpaksa akan jatuh dalam pelukannya, belum lagi uang diyah akan mengalir kepadanya karena korban tidak memiliki Ahli waris selain dirinya. Dengan begitu, dia dapat mengadakan acara resepsi pernikahan.

Di pagi hari, orang-orang digemparkan oleh mayat yang berlumuran darah itu. Sayang, upaya apa pun yang mereka lakukan tidak mampu mengidentifikasi mayat tersebut. Maka mereka melaporkan peristiwa ini kepada Nabi Musa a.s. Untuk itu, beliau melarang Bani Israel untuk pergi ke tempat kerja mereka dan berupaya mengidentifikasi pembunuh dan korban. Karena pembunuhan saat itu di kalangan Bani Israel sangat penting, mereka berupaya menjalankan perintah Nabi, akan tetapi usaha mereka tidak membuahkan hasil.

Nabi Musa memerintahkan untuk mencari pelaku pembunuhan sehingga keluarga korban dapat mengqisasnya. Si pemuda mulai mendekati jenazah itu dan membuka kain penutup jenazah sambil melihat wajahnya. Spontan dia berteriak seperti orang yang tertimpa musibah, dia memukuli kepala dan wajahnya sendiri seraya berkata, “Ohoii… Ohoii.. ini adalah sepupuku, carilah pembunuhnya, aku sendiri yang akan mengqisasnya atau diyahnya akan aku ambil.

Ketika jasad dihadirkan ke hadapan Nabi Musa. Setelah mengetahui bahwa pemuda ini ada hubungan kekeluargaan dengan korban, beliau berkata, “Penduduk tempat itu harus menemukan pembunuh aslinya, atau 50 orang dari mereka bersumpah bahwa mereka tidak mengetahui pembunuhnya dan membayar diyah.”

Bani Israel berkata, “Hai Utusan Allah, kenapa kita yang tidak bersalah harus membayar diyah?! Tanyakan saja kepada Tuhanmu supaya kita mengetahui siapa pembunuh sebenarnya dan kita akan bebas dari tuduhan ini!”

Nabi Musa menjawab, “Untuk saat ini, inilah hukum Allah dan aku tidak ingin melanggar hukum-Nya.”

Saat itu juga wahyu datang kepada Nabi Musa, “Wahai Musa, sekarang mereka tidak setuju dengan hukummu. Maka, sekarang perintahkan mereka untuk menyembelih seekor sapi lalu pukulkanlah sebagian dari anggota badan sapi pada jasad tersebut, niscaya Aku akan menghidupkannya kembali dan dia sendiri yang akan menentukan pembunuhnya.”

Allah SWT menuturkan kisah ini dalam Alquran, di suah Al-Baqarah [2]: 67-74:

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menyembelih seekor sapi betina.’ Mereka berkata, ‘Apakah engkau memperolokkan kami?’ Ia menjawab, ‘Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk golongan orang-orang yang bodoh.’”

“Mereka berkata, ‘Mohonlah kepada Tuhanmu agar Dia menerangkan kepada kami sapi betina apakah itu!’ Ia menjawab, ‘Sesungguhnya Allah berfirman bahwa ia adalah sapi betina yang tidak tua juga tidak muda; pertengahan di antara itu. Maka kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepada kalian.’”

“Mereka berkata, ‘Mohonlah kepada Tuhanmu agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.’ Musa menjawab, ‘Sesungguhnya Allah berfirman bahwa ia adalah sapi betina berwarna kuning tua (yang merata) menyenangkan orang-orang yang memandangnya.’”

“Mereka berkata, ‘Mohonlah kepada Tuhanmu agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu; karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan jika Allah menghendaki tentu kami akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).’”

“Musa berkata, ‘Sesungguhnya Allah berfirman bahwa ia adalah sapi betina yang belum pernah digunakan untuk membajak tanah, tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.’ Mereka berkata, ‘Barulah sekarang engkau menerangkan yang sebenarnya.’”

Setelah sekian banyak pertanyaan dan keterangan, Bani Israel mencari sapi dengan ciri-ciri tersebut. Usaha apa pun yang mereka lakukan tidak membuahkan hasil. Sampai akhirnya, mereka mendapatkan sapi betina seperti itu di rumah seorang pemuda yang, tidak lain tidak bukan, si pemuda penjual gandum yang diceritakan di awal tadi.

Bani Israel datang ke rumah si pemuda dengan maksud membeli sapi itu. Pemuda ini merasa senang ketika mendengar apa yang terjadi. Ia berkata, “Kalau begitu, aku harus meminta izin dari ibuku.”

Dia segera menemui sang ibu dan bermusyawarah dengannya. “Juallah dengan harga dua kali lipat”, ujar sang ibu. Mengetahui tawaran harga itu, Bani Israel berkata, “Apa-apaan ini! Mana mungkin sapi biasa dijual dua kali lipat dari harga pasaran?!” Kemudian mereka mengadu kepada Nabi Musa a.s. dan melaporkan hal tersebut.

“Kalian harus membelinya karena ini adalah perintah Allah”, perintah beliau. Mereka kembali menemui si pemuda dan berkata, “Tidak ada jalan lain; kita harus membelinya walaupun harganya dua kali lipat. Bawakan sapi itu kepada kami!”

Lagi-lagi pemuda itu meminta izin kepada ibunya. Ibunya menjawab, “Anakku, juallah sapimu dengan dua kali lipat dari harga sebelumnya.” Ketika mendengar perkataan ibunya, mereka terheran-heran dan marah seraya berkata, “Kita tidak akan membeli seekor sapi dengan 4 kali lipat dari harga pasaran.”

Mereka kembali lagi menghadap Nabi Musa dan menceritakan apa yang mereka alami. Beliau berkata, “kalian harus membelinya, karena ini adalah perintah Allah.”

Kemudian mereka kembali lagi. Untuk kesekian kalinya, ibu si pemuda itu berkata, “Anakku sayang! Katakan kepada mereka, karena kalian pergi dan tidak membeli sapiku kemarin, maka sekarang aku mau menjualnya dengan dua kali lipat dari harga sebelumnya (8 kali lipat dari harga asli).”

Bani Israel kembali lagi dan tidak mau membelinya. Dan setiap kali mereka kembali untuk membelinya, harga sapi tersebut bertambah dua kali lipat. Mungkin hal inilah yang diungkapkan di akhir ayat suci, “dan hampir saja mereka tidak melaksanakan.”

Akhirnya, sapi itu dibeli juga dengan harga yang sangat mahal, yaitu sejumlah emas yang cukup untuk ditempel di badan sapi. Setelah membelinya, mereka menyembelih sapi tersebut, menguliti kulitnya dan memenuhinya dengan emas kemudian diserahkan kepada pemiliknya (pemuda).

Nabi Musa datang kemudian shalat seraya mengangkat tangannya ke langit lalu berdoa, “Ya Allah, aku bersumpah demi kehormatan Muhammad dan keluarganya, hidupkanlah kembali mayat ini!” Lalu beliau mengambil sebagian dari ekor sapi itu memukulkannya ke jenazah itu. Seketika itu pula, mayat tersebut hidup kembali; ia menunjuk pembunuhnya dan menjelaskan kronologi pembunuhan atas dirinya.

Mukjizat yang luar bisa baru saja terjadi. Bani Israel saling menoleh satu sama lain, “Kita tidak tahu mana yang penting sebenarnya: mukjizat dihidupkannya orang mati ini ataukah cara anak kampung itu jadi kaya raya!”

Nabi Musa a.s. memerintahkan agar mengqisas si pembunuh. Sementara pemuda yang tidak berdosa itu hidup kembali meminta kepada Nabi untuk diberi umur kembali.

Allah SWT memberi khabar gembira kepada Nabi Musa bahwa pemuda akan hidup selama 70 tahun. Kemudian Nabi Musa menikahkannya dengan gadis jelita dan terhormat itu. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah SWT, di hari kiamat kelak, tidak akan memisahkan dua pasangan ini, dan status mereka di surga tetap sebagai suami istri.[Dihimpun dari berbagai tafsir]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.