Mencari Cinta Sejati dan Kehidupan Pasca Kematian dalam Pancasila

 

Konon, Aristoteles pernah bertanya kepada Plato tentang cinta sejati. “Berjalanlah lurus di taman bunga yang luas,” kata Plato, “petiklah satu  bunga yang, menurutmu, itu paling indah.  Ingat, jangan pernah menengok ke belakang!” Esoknya, Aristotele s menemui sang guru. “Mana bunga yang engkau petik?”, tanya Plato. Ia menjawab, “Aku tidak bisa mendapatkannya. Tiapkali menjumpai bunga indah, aku berpikir pasti di depan ada bunga yang lebih indah lagi. Sampai di ujung taman, aku baru sadar bunga yang aku temui pertama tadi itulah yang paling indah, tapi aku tidak bisa menengok lagi ke belakang.” Plato berkata, “Itulah cinta sejati; semakin mencari yang terbaik, kamu tidak akan pernah menemukannya.”

Dialog ini menyebar begitu luas, tentu dengan semangat menebar hikmah. Cepat-cepat di awal sekali dialog ini saya bubuhkan kata ‘konon’. Di versi lain, lakon Aristoteles diperankan Muhammad Iqbal. Pembuat dialog kemungkinan besar tidak kenal idealisme Plato. Betapapun, tidak jelas asal-usulnya tidak lantas dialog ini jadi tidak berarti. Intinya hendak melempar hikmah yang diharapkan jatuh ke hati. Namun, tidak sembarang lempar; setidaknya hikmah dapat dipahami dan dicerna akal pikiran hingga mengena sukma. Tidak ada hikmah yang absurd, paradoks, dan tidak masuk akal. Bagi orang beriman, hikmah juga perlu dipastikan tidak bertentangan dengan doktrin-doktrin keimanan.

Seperti diungkap di akhir dialog, karena yang terbaik itu tidak akan ditemukan, maka raihlah kebahagiaan yang tampak pertama kali itulah yang terbaik. Tetapi, benarkah yang terbaik itu tidak dapat dicapai? Dalam Symposium, Plato sendiri secara eksklusif mendiskusikan esensi cinta. Di kalangan ulama, cinta kerap dibincangkan oleh kaum sufi. Ibnu Arabi, misalnya, mengartikannya dengan ketiadaan: cinta itu tiada. Cinta bukan pengalaman emosional semata. Cinta, selain mengasumsikan adanya subjek, juga adanya objek. Dua keberadaan subjek dan objek ini tidak pada satu tingkatan; pecinta ada secara aktual, sementara tercinta ada secara potensial. Ada secara potensial itu sama artinya tiada secara aktual.

Cinta diartikan sebagai ketiadaan karena objeknya secara aktual memang tidak ada dan, oleh karena itu, pecinta cenderung mencapai keintiman yang ingin terealisasi dengan menjumpai tercinta. Puas, nyaman dan bahagia adalah keadaan-keadaan yang terjadi setelah mencapai tercinta. Objek yang terkuasai akan memuaskan subjek, dan kepuasan subjek sebanding rata dengan kualitas objek. Berharap dan mencari objek lain merupakan gejala ketidakpuasan mencintai lantaran sudah bosan dengan kualitas dan keterbatasan objek.

Seperti dalam dialog, bukan hanya Aristoteles tergerak berusaha hanya berawal dari sekedar kemungkinan ada yang lebih indah. Usahanya jadi perjuangan gigih bila kemungkinan itu berupa keimanan dan kepercayaan jiwa. Seketika objek cinta dan keindahan mutlak tercapai, gerak dan kegigihan akan terhenti. Bahkan, pada tahap ini, subjek pecinta cenderung melenyapkan diri dalam objek absolut. Maka, cinta itu ketiadaan dari sisi objek tercinta maupun dari sisi subjek pecinta. Ia cinta mencapai tercinta yang tiada, dan ia cinta tiada seketika mencapai tercinta.

Adakah cinta mutlak dan tercinta absolut? Dalam dialog diasumsikan ada satu bunga terindah bukan secara mutlak, tetapi terindah relatif sejauh bandingnya dengan bunga lain di sepanjang jalan. Karena itu, dalam pesan normatifnya, bukan hikmah menanti cinta di ujung jalan; ambillah bunga dan cinta yang awal kali terkesan paling indah. Hikmah ini menganjurkan kebijaksanaan agar kita mengelola hidup dengan mencintai objek yang ada saja, yang tersedia senyatanya terindah di hadapan kita, sekarang ini. Cinta dalam pengertian ini adalah cinta ada, bukan cinta tiada. Cinta ada akan tetap mamasang dinding pembatas antara dua ada: pecinta dan tercinta. Cinta ada sesungguhnya tidak terbuka menyerap atau terserap tercinta. Ini karakter ketertutupan cinta ada.

Lalu, untuk apa bunga yang diperoleh di pertangahan jalan itu? Dialog di atas tidak menyinggung, bukan karena tidak perlu, tetapi karena memang buntu. Kita didorong hidup dengan mengais-ngais cinta ada, cinta aktual, cinta yang sudah didapat, cinta yang itu-itu saja, di atas garis hidup yang serba dinamis dan keinginan memuaskan diri tanpa batas. Cinta yang asalnya bergradasi menjadi statis, tidak dinamis, tidak bergradasi atau, katakan saja, bergradasi dalam keterbatasan dan kejemuan itu-itu saja. Cinta seperti ini membuat manusia hidup penasaran dan mati juga penasaran.

Maka, cinta sejati yang dipesankan dialog di atas sejatinya cinta ada, cinta aktual, cinta instan, cinta kontan, bukan cinta tiada, cinta absolut pada Tercinta Mutlak. Bisa dibayangkan betapa tersiksa batin orang yang mengaku-ngaku cinta aktual dan bunga yang “tampaknya” paling indah “untuk sementara”, padahal ia masih belum mencapai ujung jalan, sementara jiwanya penasaran dan bernafsu mencoba kemungkinan tercinta absolut dan “bukan sementara”. Menetapkan bunga seadanya sebagai final adalah akar ide ketertutupan; menutup peluang mencoba bunga-bunga lain di depan juga di belakang. Dalam karikatur Tony Benn, dia begitu kepayahan seperti mekanik meluruskan dua ruas rel di ujung hidung lokomotif yang sedang bergerak tanpa ujung, sementara penumpang kereta merancang bunga-bunga semu: puja puji, gelar, popularitas.

Falsafah hidup tertutup ini menguji ketangguhan menjawab, sekali lagi, pertanyaan untuk apa bunga seadanya itu. Ideologi yang dibangun di atas cinta ada akan mempertimbangkan perilaku dan interaksi dalam kerangka kontrak dan transaksi; untuk ada konkret di antara ada-ada aktual, tanpa siap untuk tiada. Cinta ada akan menolak penghilangan diri dan pengurangan milik sendiri. Pada tingkat kehidupan kompleks, cinta ada dalam sosial-politik sulit merahasiakan karakter ideologis tertutupnya dalam berkorban, bekerja sama dan mendahulukan kepentingan selain. Tidak ada idealisme dan cita-cita hidup melampaui “taman” dunia, taman yang masa lampaunya tak lagi terjangkau, masa depannya juga tak menentu. Dalam bahasa kitab suci, “Kita tidak akan dihancurkan kecuali dengan waktu.”

Bagi orang seperti ini, yakni orang yang tidak percaya Tuhan atau percaya Tuhan namun ragu kehidupan setelah kematian, pecinta tiada dan pengajar bunga terbaik kerap dianggap sinting, pembual, atau peramal hanya karena tidak pernah melihatnya. Sebaliknya bagi pecinta tiada dan pengiman kehidupan pasca kematian, orang skeptis pada Tuhan atau pada dunia setelah kematian tak ubahnya dengan materialis dan empirisis yang mendefinisikan hidup sebatas dunia ini dan yang-ada sekadar yang nyata diganggam tangan dan tampak terjangkau mata. Hidup dengan ideologi ini menutup akses alam seberang. Sebutan peramal dan tidak waras untuk pecinta dunia pasca kematian diinisiasi, di antaranya, oleh ideologi tertutup ini.

Bila kekuasaan dan pengelolaan hidup jadi objek cinta, mereka hanya punya dua pilihan: mati atau mati-matian. Mati manakala terdesak jadi objek kekuasaan yang tak lagi berdaya, diam, bungkam dan pasrah kehilangan pilihan hingga tak bedanya dengan gambaran dalam dialog di atas: terlanjur lahir ke dunia, terpaksa menjalani hukum kehidupan tertutup: maju kena mundur pun kena, menatap ke depan tanpa harapan, menengok ke belakang pun hanyalah hasrat.

Atau mati-matian tatkala memilih jadi subjek kekuasaan yang terus berusaha habis-habisan merebut atau mempertahankan terus-menerus secara langsung atau tidak, di depan atau di balik layar, secara paksa atau kompromis untuk, setidaknya, bisa berbagi satu bunga yang, kalaupun paling indah, pasti terbatas. Karena itu, kapan saja batasan itu longgar dan membuka celah kesempatan, kompromi dan kontrak kekuasaan itu dilanggar dan dibatalkan meski oleh sepihak. Sebagai sistem kekuasaan yang tersucikan, demokrasi, kata Acton, umumnya memonopoli dan mengonsentrasikan kekuasaan. Karena itu, tidak sepenuhnya keliru bila ia menilai kecenderungan umum demokrasi itu mengabaikan moralitas.

Kecenderungan ini, dari sisi lain, juga sesungguhnya cinta menguasai tercinta semaksimal mungkin. Perhitungan Aristoteles akan mendapatkan bunga yang lebih indah lagi di ujung taman sepenuhnya manusiawi dan amat wajar. Kemanusiaan seseorang tidak defisit atau ganjil bila, di ujung taman, ia berharap akan memperoleh bunga paling indah dan keindahan absolut. Tetapi, menjadi tidak manusiawi dan di luar batas wajar mengharapkan bunga itu ada di dunia ini. Berpikir dan berharap-harap dapat menguasai kedaulatan maksimal sekapasitas nafsu kekuasaan adalah cinta konyol, cinta palsu, cinta hoax.

Tampaknya, begitulah ciri-ciri dan gejala ideologi yang lazim disebut tertutup. Gairah mengkritik ideologi ini dan bangga dengan berada di seberangnya dengan menyebut ideologinya terbuka tidak berarti keunggulan apa-apa. Iman pada Tuhan dan kejelasan titik awal hidup tidak cukup meloloskan diri dari ketertutupan ideologi. Selama tidak percaya kehidupan pasca kematian dengan cara menganggap peramal orang yang memastikan kejadian setelah dunia fana atau hanya karena belum pernah melihatnya, kritiknya lebih dahulu menyerang diri sendiri sebelum pihak lain, karena dalam ketidakpercayaan ini, ideologi terbuka sama saja dengan ideologi tertutup; kedua kubu sama-sama percaya bahwa kematian akhir segala sesuatu dan bahwa tidak ada yang terbaik di ujung kehidupan sehingga mereka, dengan cara yang berbeda, bersaing demi kepentingan yang “tampaknya” paling utama “untuk sementara” sebatas kehidupan fana ini saja. Catatan “sementara” dan “sebatas” hanya membuka rivalitas dan menciptakan dua posisi vis-a-vis antara dua ideologi.

Justru mereka mengutamakan kehidupan dunia. Padahal akhirat itulah yang terbaik dan terkekal.

(QS. al-A’la [87]: 16-17).

Dalam agama (Islam), bunga terindah dan kepentingan terutama memang tidak akan ditemukan, bukan hanya di ujung taman dunia ini, tetapi juga di sepanjang jalan kehidupan fana ini. Bunga paling indah hanya bisa dipetik  di jannah ‘taman’ surgawi di alam seberang dunia ini. Ini asal ada kepercayaan: dunia ini bukan segalanya, ada alam kekal setelah kematian sekalipun tak pernah dilihat, dan di sanalah bunga-bunga investasi kita di dunia ini diperoleh.

Dalam keimanan ini, kematian tidak lebih dari pelepasan kulit dan permulaan hidup baru yang sejati. Kehilangan sejuta bunga di dunia tidak beda dengan kehilangan satu bunga; semua hak akan kembali di hari pengadilan. Kehilangan di dunia hanyalah ketertundaan hak dan pembalasan yang pasti datang. Karena itu, iman pada kehidupan setelah dunia fana ini melahirkan manusia yang tak putus asa, penuh optimisme dan pengorbanan.

Barangkali dialog itu akan mudah dimengerti bila saja, konon, Plato, mengajarkan, “Berjalanlah lurus di taman bunga yang luas, dan petiklah bunga paling indah di taman tertinggi.  Ingat! jangan pernah lupakan belakangmu. Itulah cinta sejati; semakin mencari yang terbaik, kamu pasti akan menemukannya di kehidupan setelah dunia fana.” “Dan sungguh akhirat itu lebih baik bagimu daripada dunia” (QS. al-Dhuha [93]: 4).

Cinta sejati, cinta tiada. Cinta ini ajaran dari sabda Nabi memohonkan cinta Tuhan untuk manusia yang tahu asalnya—darimana ia datang; tahu posisinya—di mana ia sedang berada; dan tahu ujungnya—akan ke mana ia berjalan. Cinta tiada bukan sepenggal perjalanan; hanya cukup memetik kebaikan dan objek cinta lainnya di tengah jalan.

Ideologi ini beda dan khas karena berbeda menengok ke belakang dan asal segala sesuatu. Realitas di belakang tidak beda dengan realitas yang akan datang di depan; sama-sama tak terlihat atau, biar mudah dipahami, sama-sama gaib. Kegaiban dan ketakterlihatan inilah makna keimanan dan, karena itu, iman menjadi sangat bernilai, sulit dan dimiliki tidak oleh sembarang orang. Cinta tiada cinta gaib, percaya dan mengharap kegaiban. Dalam cinta tiada, kaum sufi mengidentikkan tercinta sejati pada Esensi Absolut dan Keindahan Mutlak. Dia ada sekalipun tak terlihat mata. Tuhan juga itulah titik akhir di alam baqa, sekalipun belum terlihat. Orang beriman adalah pecinta Tuhan aktual menjadi tuhan potensial.

Dalam ideologi ini, cinta tiada terhitung sepanjang perjalanan, termasuk titik awal dan titik akhirnya. Tuhan Dialah titik awal dan titik akhir. Keesaan Tuhan Yang Maha Esa menegaskan kesatuan dan keidentikan-Nya dalam keawalan dan keakhiran, dalam keasalan dan ketujuanan-Nya. Dalam doktrin sufi disebutkan, akhir yaitu kembali ke awal; tidak tahu awal, tidak tahu akhir. Sila pertama Pancasila itu sejatinya juga dapat memberi arah ke mana kita bergerak dan di titik mana kita akan mencapai akhir kehidupan.[afh]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.