Menilai Harga Dunia dengan Logika Transaksi al-Quran

 

Hidup kita di dunia tak ubahnya dengan orang yang hidup di sebuah istana. Ia tidak tahu dunia luar. Di dalam istana itu ada sebuah kamar yang penuh dengan gepokan uang seratus ribu. Kita bisa menggunakannya untuk segala sesuatu yang kita inginkan. Lalu seseorang datang dan mengatakan kepada kita bahwa ia bisa membuat kasur dari lembaran uang itu agar kita bisa merebah di atasnya kapan saja kita letih. Lalu dia mengambil beberapa gepokan uang itu dan mengikatnya dengan tali sampai jadilah sebuah kasur. Ada lagi orang yang mengajak kita membuat mainan dari lembaran uang itu dan memotong-motongnya jadi layangan, membentuknya jadi kapal-kapalan atau pesawat terbang. Ada pula yang menyarankan agar kita menggunakan lembaran uang untuk membakarnya supaya ruangan terasa hangat, atau untuk melapisi dinding, atau untuk mengganjal kaki kursi, atau untuk menutup celah di sudut ruangan.

Jangan sampai kita terpaku hidup hanya di dunia ini dengan menggunakan semua uang dan modal hidup sampai habis tanpa bisa membeli rumah di dunia itu dan membawa perbekalan dan perlengkapan di sana. Karena itu, menilai orang yang percaya dan berbicara alam itu sebagai peramal tidak sejalan dengan asas tauhid. Argumen atas penilaian ini akan lebih rapuh manakala dilandaskan hanya karena ia tidak melihatnya.

Namun, ada seseorang datang dari luar istana mengabarkan kenyataan di luar. Ia mengingatkan kita agar tidak menyia-nyiakan uang itu; justru kita bisa menggunakannya untuk membeli makanan yang lezat dan memperoleh kesenangan yang luar biasa. Uang itu bisa menjadi modal berharga yang dapat kita jadikan alat untuk menukarnya dengan apa aja yang tak terbayangkan dalam pikiran. Kalaupun kita tidak percaya, ia mengajak kita menghampiri jendela agar kita melihat dunia di luar yang jauh lebih luas dan indah. Namun, kita boleh jadi terkecoh dengan bujukan orang-orang yang meyakinkan kita bahwa dunia yang luas itu hanyalah bayangan, serba kredit, tidak bisa langsung dinikmati. Kita diajak hidup dengan apa adanya di dalam istana itu. Begitulah godaan datang silih berganti, berusaha memalingkan hati dan pikiran kita dari dunia yang luas, kekal dan indah itu.

Allah SWT berfirman, [Orang Mukmin dari keluarga Firaun itu berkata,] “Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah barang, sedangkan akhirat itulah alam kekekalan” (QS. Ghafir [40]: 39).

Ayat ini mendorong kita agar tidak sampai kehilangan kesempatan keluar dari istana dunia yang terbatas ini, meniti derajat mencapai tangga tertinggi dari shalat dan ibadah hingga masuk ke dunia yang luhur itu dan berjumpa dengan Allah SWT. Jangan sampai kita terpaku hidup hanya di dunia ini dengan menggunakan semua uang dan modal hidup sampai habis tanpa bisa membeli rumah di dunia itu dan membawa perbekalan dan perlengkapan di sana  (lihat tadabur QS. al-Ankabut [29]: 57). Karena itu, menilai orang yang percaya dan berbicara alam itu sebagai peramal tidak sejalan dengan asas tauhid. Argumen atas penilaian ini akan lebih rapuh manakala dilandaskan hanya karena ia tidak melihatnya.

Allah SWT telah mengutus ribuan nabi dan rasul; masing-masing membawa ajaran dan menyampaikan berita tentang dunia yang luas itu, namun kita masih tidak saja percaya. Jika kita tidak menerima perkataan Nabi Musa a.s. dan nabi yang lain, setidaknya kita mendengarkan perkataan seorang mukmin yang hidup di lingkungan keluarga Firaun namun tetap teguh beriman, “Hai manusia, dunia hanyalah sebuah barang dagangan, sedangkan rumah asal kita adalah akhirat.” Dalam kitab Al-Irsyad, Syaikh Al-Mufid meriwayatkan dari Imam Ali a.s. bahwa ia berkata, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kita semua diciptakan untuk kekal, bukan untuk hancur. Akan tetapi, kalian berpindah dari satu alam ke alam lain. Maka, berbekallah untuk tempat dimana kalian sedang menujunya dan hidup kekal di dalamnya.”

Imam Ali ibn Abi Thalib a.s. berkata, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya dunia adalah alam persinggahan, sedangkan akhirat adalah alam kekekalan. Maka, ambillah dari tempat persinggahan kalian untuk tempat kekekalan kalian. Janganlah kalian merobek tirai-tirai penutup kalian kepada orang yang mengetahui rahasia kalian, keluarkanlah hati kalian dari dunia sebelum badan kalian keluar darinya. Di dalamnya kalian diuji dan untuk selainnya kalian dicipta. Sesungguhnya seseorang itu, apabila binasa [mati], orang-orang akan mengatakan, ‘Apa yang dia tinggalkan?’, dan malaikat mengatakan, ‘Apa yang telah dia kirimkan terlebih dahulu?’ Semoga Allah mengampuni bapak-bapak kalian! Kalian telah lebih dahulu mengirimkan sebagian [dari yang kalian miliki] sehingga menjadi tabungan untuk kalian, dan janganlah kalian tinggalkan seluruhnya sehingga menjadi tanggungan hutang kalian” (Nahj Al-Balâghah, pidato ke-203).

Semua poin-poin yang terkandung dalam tafsir ayat ini harus dipahami dengan fokus bahwa ayat ini merupakan perkataan seorang mukmin anonimus dimana Allah Yang Maha bijaksana tidak menginginkan kita mengetahui namanya, namun ia disinggung dalam suatu surah dengan nama statusnya sebagai orang yang beriman, yakni surah Al-Mukmin atau Ghafir. Tidak penting siapa dia; yang penting, ia adalah seorang tak dikenal yang hidup berada di bawah kekuasaan penguasa yang zalim, dan perkataannya ditempatkan sebagai bagian dari kalam Allah dan salah satu ayat suci Al-Quran.

Barangkali semua kesadaran yang harus kita tanamkan dalam jiwa kita mengenai dunia dan akhirat dapat diringkas hanya dalam dua kalimat: (a) dunia adalah barang dan modal, yakni sebuah alat dan sarana untuk bertransaksi, bukan sesuatu yang karenanya kita diciptakan; (b) dunia adalah rumah asal, tempat akhir, dan tujuan utama yang di sanalah kita memetik hasil dari modal yang telah diberikan kepada kita di dunia. Rumah itu adalah akhirat. Persoalan mendasar kita terletak pada cara pandang kita terhadap dunia dimana kita menganggap dunia ini sebagai rumah terakhir; kita tidak menganggapnya sebagai sebuah barang yang dengannya kita membeli rumah terakhir itu lalu kita mempersiapkan perlengkapannya.

Perlu diingat bahwa ayat ini berbicara tentang kedudukan akhirat di atas dunia. Kendati demikian, ayat ini tidak berarti membenarkan pola hidup asketisme, serbazuhud yang acuh tak acuh terhadap dunia. Sebaliknya, ayat ini justru memandang penting dunia yang berfungsi sebagai modal dan fasilitas untuk meraih keabadian hakiki. Untuk itu, ayat ini juga mendorong kita agar menyusun perencanaan dan kehendak yang kuat dalam koridor agama untuk dapat memaksimalkan seganap modal dan potensi di dunia ini demi kebahagiaan kita di akhirat.[afh]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.