Tafsir dan Paradoks Fungsi Penjelas Al-Quran

 

TAFSIR-QURAN.COM – Tafsir secara leksikal berarti menyingkap tabir yang menyelimuti wajah. Pada prakteknya, para mufasir menafsirkan Al-Quran dalam upaya menerangkan makna dan menjelaskan kandungan ayat-ayatnya. Pertanyaan sederhana, apakah Al-Quran yang merupakan cahaya (al-nūr) dan perkataan yang jelas (al-kalām al-mubīn) adalah tabir sehingga harus kita singkap melalui tafsir? Bukankah Al-Quran dengan sendirinya sudah jelas? Lalu, apakah fungsi dan kegunaan tafsir?

Tentu saja tidak ada pertentangan antara mempelajari Al-Quran melalui tafsir dan meyakini Al-Quran sebagai kitab yang jelas dan penjelas. Tidak ada tabir dan hijab pada wajah Al-Quran; kitalah yang harus menghilangkan hijab dari pikiran, hati dan ruh kita untuk dapat menyingkap tabir dan menjangkau makna serta hakikat yang terdapat dalam Al-Quran. Dengan demikian, kita dapat menggali ajaran-ajaran Al-Quran dan merasakan sentuhan-sentuhannya.

Selain itu, Al-Quran tidak hanya mempunyai satu wajah. Kitab suci ini memiliki wajah umum yang berlaku dan terbuka untuk semua kalangan; cahaya petunjuknya menyinari jalan dan membimbing umat manusia menuju tujuan hakiki penciptaan manusia. Di samping itu, wajah dan bahkan beberapa wajah lain Al-Quran hanya dapat dipahami oleh para ulama dan cendekiawan yang haus akan kebenaran.

Di dalam Al-Quran terdapat mata air Ilahi yang menghilangkan dahaga akan kebenaran. Setiap orang mendalami samudera Al-Quran sesuai dengan batas kemampuannya. Banyaknya pengetahuan yang mereka peroleh darinya akan bergantung pada usaha, kesungguhan dan keikhlasan yang mereka curahkan.

Wajah-wajah ini dalam sejumlah hadis disebut sebagai dimensi esoteris (al-buthūn). Dimensi ini tidak akan tampak jelas bagi kebanyakan orang atau, dengan kata lain yang lebih cermat, tidak setiap orang memiliki kemampuan melihat cahaya Al-Quran dan menyerap pancaran sinarnya. Tafsir memberikan kekuatan dan fasilitas kepada mata, menyingkirkan tabir, dan menganugrahkan kelayakan untuk menyerap cahaya Al-Quran sebatas kemampuan yang dimiliki masing-masing.

Sebagian dimensi Al-Quran semakin tampak jelas seiring dengan berlakunya zaman berkat perkembangan pemikiran, kematangan pengalaman dan prestasi peradaban umat manusia. Hal ini telah disebutkan dalam riwayat dari Ibnu Abbas, murid cerdas Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s., “Al-Quran ditafsirkan oleh zaman.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa sebagian ayat Al-Quran menafsirkan sebagian ayat yang lain (Bihār Al-Anwār, jld. 29, hlm. 352; Tafsīr Al-Shāfī, jld. 1, hlm. 75). Ayat-ayatnya menyingkap tirai ayat-ayat lainnya. Hal ini tidak berseberangan dengan kedudukan Al-Quran sebagai cahaya dan perkataan yang nyata dan jelas, karena Al-Quran merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipilah-pilah, sebuah himpunan yang tak terpecah belah. Maka, secara keseluruhan Al-Quran adalah cahaya dan kalam yang jelas.(Nasir Makarim Syirazi, Tafsir Al-Amtsal, jld. 1, hlm. 1-2).[ph]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.