“Undang-undang Muhammad, Nabi Palsu”: Terjemahan Pertama al-Quran di Eropa

 

Lazim dikenal, terjemahan al-Quran berbahasa Latin yang paling populer adalah versi Louis (Ludovico) Maracci, seorang pastur berkebangsaan Italia pada tahun 1691. Terjemahan al-Quran karya Maracci itu menyertakan teks Arab. Namun, seperti dikutip dalam Republika, ia juga merasa perlu membubuhkan ulasan panjang yang berisi penolakan terhadap Islam. Terjemahan al-Quran karya Marracci itu kemudian dicetak di Eropa pada 1697.

Sukseskah misi Peter Agung di balik penerjemahan al-Quran? Seberapa besar pengaruh judul dari karya terjemahannya ini? Al-Quran terjemahan Latin ini diterima oleh umumnya bangsa-bangsa di benua Eropa dan dalam waktu singkat menyebar luas di tengah-tengah masyarakat non-Muslim. Terjemahan ini malah jadi terjemahan al-Quran dalam bahasa lain seperti: Italia, Inggris, Jerman, Prancis, dan Belanda.

Tapi tahukah Anda terjemahan al-Quran pertama dalam bahasa Latin? Sepertinya sudah jadi konsensus kalangan pakar dan sumber data bila terjemahan karya Robert Ketton itulah yang diperkenalkan. Sebenarnya, terjemahan ini digarap oleh tim yang dipimpin oleh Robert di bawah supervisi Peter the Venerable atau dikenal juga dengan nama Peter Agung. Oleh karena itu, adakalanya nama belakangan ini juga disebut-sebut sebagai penerjemah karya ini. Dan secara keseluruhan, terjemahan Petrus ini bukannya yang pertama dalam tradisi Latin, tetapi juga dalam dunia Barat, terbit pada tahun 1143.

Menurut catatan di laman worldlibrary, pada tahun 1142 Peter Agung membujuk Robert bergabung dengan tim bentukannya untuk menerjemahkan karya-karya tulis Arab ke bahasa Latin, dan agenda utamanya ialah penerjemahan al-Quran. Program itu besar hingga mengambil lebih dari satu tahun dan mengisi lebih dari 100 lembar (180 halaman cetakan modern). Terjemahan al-Quran populer di masanya dengan lebih dari 25 naskah yang masih ada, bersama dengan dua cetakan abad ke-16. Hingga abad ke-18,  terjemahan ini dirilis standar untuk orang Eropa.

Untuk karyanya ini, Peer Agung memasang judul yang merepresentasikan totalitas persepsinya tentang al-Quran dan Nabi Muhammad saw., Lex Mahumet pseudoprophete, artinya kurang lebih: Undang-Undang Muhammad, Nabi Palsu. Mengacu sebagian sumber, pemasangan judul dengan nada seperti ini mudah dimengerti mengingat motif Peter Agung membentuk tim riset penerjemah bahasa Arab ke dalam bahasa Latin, yaitu dalam rangka menunjang misi mengkristenkan orang-orang Islam sebagai upaya alternatif setelah kegagalan Eropa dalam Perang Salib.

Sukseskah misi Peter Agung di balik penerjemahan al-Quran? Seberapa besar pengaruh judul dari karya terjemahannya ini? Tidak sepenuhnya keliru bila Al-Quran terjemahan Latin ini diterima oleh umumnya bangsa-bangsa di benua Eropa dan dalam waktu singkat menyebar luas di tengah-tengah masyarakat non-Muslim. Terjemahan ini malah jadi terjemahan al-Quran dalam bahasa lain seperti: Italia, Inggris, Jerman, Prancis, dan Belanda.

Namun, lantaran kepentingan teologi-politis di atas itu, terjemahan Latin versi Robert menuai kritis bahkan kecaman. Thomas E. Burman menyatakan, “Dari abad 15 hingga sekarang, studi ilmiah telah mengutuknya sebagai karya longgar dan parafrase yang menyesatkan.” Demikian Juan de Segovia mengkritik terjemahan bebas Robert bahwa dia kerap meninggalkan makna eksplisit teks ayat, belum lagi mengubah kandungan ayat. Selain Ludovico Marracci dan Hadrian Reland, George Sale mengkritik terjemahan Robert dan Peter Agung tidak pantas disebut terjemahan.

Nama terakhir tadi adalah penerjemah pertama al-Quran dalam bahasa Inggris. Ia sempat memulai penerjemahannya dengan merujuk terjemahan Latin versi Peter Agung sebelum akhirnya ia menerjemahkan langsung dari al-Quran bahasa Arab pada tahun 1723. Sama seperti yang dilakukan Robert, Sale seorang pengacara dan penganut Anglikan juga merasa perlu mengantarkan terjemahannya dengan catatan yang disejumlah tempat tidak apresiatif terhadap al-Quran dan Nabi Muhammad saw.

Dalam Kontroversi Qur’an Thomas Jefferson, Denise A. Spellberg mengatakan terjemahan Sale ini diharapkan oleh sekelompok Protestan Anglikan Inggris dapat memajukan budaya pengetahuan Kristen dan “agenda misionaris dan pendidikan”. Hampir sama dengan Robert dan Peter Agung, tujuan langsung Sale dalam pengantarnya ialah mengingatkan pembaca Kristen bahwa Islam agama palsu, selain juga memaksudkan agar orang Muslim berpindah agama ke Kristen Protestan.

Tetapi terjemahan ini justru diminati bahkan oleh begawan politik Barat. Sebut saja, Thomas Jefferson, pengacara dan bapak pendiri Amerika Serikat. Masih dalam buku yang sama, Spellberg mengungkapkan segelintir fakta sekaligus penting dari sejarah kebebasan beragama di Amerika. Pada hematnya, Islam justru memainkan peran mengejutkan. Pada 1765, sebelas tahun sebelum menyusun Deklarasi Kemerdekaan, Thomas Jefferson membeli al-Quran dalam upaya memahami Islam, kendati langkah ini terbilang ironis bagi sentimen umum di kalangan Protestan di Inggris dan Amerika masa itu.

Tidak seperti kebanyakan mereka, Jefferson bisa membayangkan Muslim sebagai warga masa depan negara barunya. Pembacaannya atas al-Quran memberi kontribusi dalam pandangannya mengenai hukum, ketatanegaraan dan politik. Jefferson tidak menguasai bahasa Arab. Ia hanya membelidan membaca al-Quran terjemahan Inggris Sale. Lewat terjemahan Sale inilah kiranya terjemahan Latin Robert itu secara tak langsung meninggalkan pengaruh yang justru positif bagi Jefferson.

Dalam sebuah sabda suci disebutkan, andai orang-orang tahu nilai kata-kata kami, pasti mereka akan menyadari. Kebenaran itu, sekalipun hanya satu dan satu orang, akan mengalahkan banyaknya lawan. Sedemikian tangguh dan unggulnya kebenaran, bahkan suara lawan pun berkontribusi dalam mempertahankan keunggulannya. “Belajarlah kemuliaan dari kehinaan.”

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.