4 Arti Wahyu dalam Al-Quran

 

Pembahasan tentang wahyu sangat penting karena merupakan pemahaman dasar untuk mengenal kalam Ilahi. Al-Quran sebagai kalam Ilahi bisa diterima apabila masalah wahyu sudah jelas. Al-Quran adalah firman Allah SWT. Buku suci ini mengandung pesan samawi yang diperantarai oleh wahyu. Wahyu adalah ilham gaib yang datang dari alam tinggi (Malakut al-A’la) yang turun ke alam materi.

Allah SWT berfirman, “Dan sesungguhnya al-Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam yang dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad saw) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas” (QS. Al-Syu’ara [26]: 192-195).

 Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhan kepadamu” (QS. Al-Isra  [17]:39).

Dan al-Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai (al-Quran kepadanya)” (QS. Al-An’am [6]: 19).

 Karenanya, masalah paling mendasar dalam keyakinan qurani adalah pembahasan tentang wahyu; tentang mengenal wahyu, cara terjalinnya hubungan antara Yang Mahatinggi dengan materi yang rendah, apakah mungkin terjalin hubungan antara alam fisik dengan metafisik? Apakah keterjalinan hubungan tersebut tidak terkait dengan masalah sinkhiyyat (kesamaan)? Jawaban dari semua pertanyaan tersebut akan membuka jalan untuk mendapat keyakinan qurani.

 

Wahyu secara Leksikologis

Secara kebahasaan, wahyu memiliki banyak arti yang berbeda-beda, di antaranya: isyarat, tulisan, risalah, pesan, perkataan yang terselubung, pemberitahuan secara rahasia, bergegas, setiap perkataan atau tulisan atau pesan atau isyarat yang disampaikan kepada orang lain.

Menurut Raghib Ishfahani, wahyu adalah isyarat yang cepat (Al-Mufradat fi Ghara’ib Al-Qur’an, hlm. 515). Menurut Abu Ishaq, wahyu dalam pengertian semua bahasa adalah pemberitahuan secara rahasia, karena itulah ilham disebut dengan wahyu. Menurut Ibnu Barri, wahyu adalah pembicaraan yang dirahasiakan. Seseorang bersyair:

 Wahyu telah disampaikan kepada kami

Sampai ujung jari-jemarinya meniscayakan membawa pesannya

Seorang yang lain bersyair,

Kupandang ia maka kebingungan melanda

jeli pikiranku ketika menyifati keindahannya 

Sorot mataku mengiba pesan kepadanya

aku cinta kepadanya

kemudian di kedua pipinya tampak tanda-tanda pesan itu (Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, jld. 15, hlm. 380).      

          

Wahyu dalam Pengertian Al-Quran

Al-Quran menggunakan kata wahyu dalam banyak ayat. setidaknya ada empat arti dari kata wahyu yang digunakan Al-Quran:

1. Isyarat Rahasia

Ini pemaknaan wahyu secara kebahasaan. Sebagaimana ayat yang dimaktubkan dalam al-Quran berkenaan dengan Nabi Zakaria a.s.: “Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka, “Hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.” (QS. Maryam [19]:  11).

2. Petunjuk Naluriah

Yaitu petunjuk-petunjuk yang bersifat naluriah yang ada di dalam diri semua makhluk. Setiap maujud, baik itu benda padat, tumbuhan, hewan dan manusia, secara instingtif mengetahui jalan keabadian dan keberlangsungan hidupnya. Petunjuk yang bersifat naluriah ini disebut dalam Al-Quran dengan nama wahyu.

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, “Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, dari yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir(QS. Al-Nahl [16]: 68-69).

Petunjuk yang bersifat naluriah yang terdapat dalam diri segala sesuatu merupakan misteri yang terselubung. Misteri-misteri alam itu memiliki pengaruh menakjubkan yang dapat dilihat. Meski demikian, sumbernya tersembunyi dari semua pandangan. Fenomena ini layak disebut dengan nama wahyu.

Dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya…” (QS. Fushshilat [41]: 12).

3. Ilham (Bisikan Gaib)

Kadangkala manusia menerima pesan, tetapi tidak mengetahui dari mana asal pesan tersebut. Biasanya pesan ini muncul dalam kondisi terdesak, ketika dia menganggap telah menapaki jalan buntu. Tiba-tiba, muncul pancaran dari dalam hati yang memberitahu adanya jalan terang dan memberi harapan untuk terbebas dari kesulitan. Pesan-pesan pemberitahu jalan keluar ini adalah suara gaib yang membantu manusia dari balik layar wujud. Inilah inayah Sang Pencipta kepada alam semesta.

Suara gaib dari inayah Ilahiah ini, disebut oleh Al-Quran dengan nama wahyu. Berkenaan dengan ibunda Nabi Musa as al-Quran mengisahkan,

Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (QS. Al-Qashash [28]: 7).

 “Dan sesungguhnya Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kesempatan yang lain, yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, “Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya. Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita (QS. Thaha [20]: 37-40).

Ketika Musa a.s. lahir, ibunya mengkhawatirkan nasibnya. Tiba-tiba dalam benak ibunya muncul kepasrahan untuk bertawakal kepada Tuhan. Kemudian dia menyusui bayinya. Meski khawatir, dia letakkan Musa as ke dalam peti yang kemudian dihanyutkan di aliran sungai. Namun, dalam benaknya tersemat keyakinan bahwa bayinya kelak kembali kepadanya. Ibu Nabi Musa a.s. merasa ada yang tidak memperbolehkannya bersedih. Pada saat itulah dia telah bertawakal dan menyerahkan nasib bayinya kepada Allah SWT.

Itulah suara yang menyinari dan melintas dalam hati ibu Nabi Musa a.s. Ibu Nabi Musa a.s. memiliki secercah harapan karenanya. Dia tidak memikirkan sesuatu yang lain, selain Tuhan. Pikiran yang menerangi jalan dan menolongnya dari kesulitan dan ketakutan seperti ini adalah ilham rahmani dan inayah rabbani yang menghampiri hamba-hamba saleh ketika berada dalam posisi terdesak.

Al-Quran juga menggunakan kata wahyu untuk menyebut bisikan setan: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan indah untuk menipu (manusia)” (QS. Al-An’am [6]: 112).

 “Sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu (QS. Al-An’am [6]: 121).

Dalam surah Al-Nas disebutkan. “Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia”.

4. Wahyu Keasulan 

Wahyu ini hanya khusus untuk Nabi. Dalam al-Quran, wahyu kerasulan (risaliy) disebut lebih dari tujuh puluh kali:

Demikianlah Kami wahyukan kepadamu al-Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada penduduk Mekkah dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya (QS. Al-Syura [42]: 7).

 “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Quran ini kepadamu (QS. Yusuf [12]: 3).

Para nabi adalah orang-orang yang mencapai derajat kesempurnaan, karena mereka telah mempersiapkan diri untuk menerima wahyu. Berkaitan pendapat ini, Imam Hasan Askari as bersabda, “Sesungguhnya Allah mendapati hati dan jiwa Muhammad sebaik-baik hati, maka Dia memilihnya sebagai nabi-Nya.” (Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, jilid 18, hal.205, hadis ke-36).

Karenanya menambah pengetahuan dan kesiapan menerima pesan samawi ini menjadi sangat penting. Tujuannya adalah mengikis habis segala hiasan jasmani dari diri seseorang hingga layak menjalin hubungan dengan para malakut. Rasulullah  saw bersabda, “Allah tidak akan mengutus seorang nabi atau rasul melainkan Dia sempurnakan akalnya dan jadilah akalnya lebih unggul dari seluruh akal umatnya.” (Muhammad bin Ya’qub Kulaini, Ushul Al-Kafi, jld. 1, hlm.13).

Mulla Sadra berpendapat bahwa batin Nabi SAW dihiasi dengan hakikat kenabian jauh sebelum beliau lahir. Hal ini telah diketahui secara sempurna oleh para nabi. Nabi telah menghias batinnya secara gemilang dengan kesempurnaan insani, jauh hari sebelum beliau menampakkannya. Pada saat itulah qalib (jasad) menyandang predikat qalb (hati). Itulah yang muncul dan tampak dari Nabi. Pertama beliau melakukan perjalanan dari al-khalq (makhluk) menuju Al-Haqq. Kemudian perjalanannya dilanjutkan dari sisi Al-Haqq bersama Al-Haqq menuju al-khalq (makhluk)  (Shadruddin Syirazi, Syarh Ushul Al-Kafi, jld. 3, hlm.454).

Katakanlah, “Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) maka dialah yang telah menurunkan [Al-Quran] ke dalam hatimu dengan izin Allah (QS. Al-Baqarah [2]: 97).

 “Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang-orang yang memberi peringatan (QS. Al-Syu’ara [26]: 193-194).

Wahyu sama seperti ilham. Keduanya menjadikan jiwa terang. Bedanya adalah sumber ilham tidak diketahui oleh yang mendapatkannya, sementara sumber wahyu jelas bagi mereka yang mendapatkannya. Para nabi tidak pernah merasa bingung dan salah ketika menerima pesan samawi, karena mereka bergegas menyambutnya dengan kesadaran yang utuh dan lapang dada.

Zurarah bertanya kepada Imam Ja’far Al-Shadiq, “Bagaimana Nabi bisa percaya bahwa apa yang sampai kepadanya adalah wahyu Ilahi, bukan bisikan setan?” Imam menjawab, “Sesungguhnya setiap Allah memilih seorang hamba sebagai nabi, maka Dia menganugerahkan ketenangan kepadanya, sehingga apa yang sampai kepadanya dari Allah, sama seperti yang dilihat dengan matanya.” (Muhammad bin Mas’ud Ayyasyi Samarqandi, Tafsir Al-Ayyasyi, jld. 2, hlm. 201, hadis ke-106; Bihar Al-Anwar, jld. 18, hlm. 262, hadis ke-16).

Imam Ja’far Al-Shadiq juga pernah ditanya, “Bagaimana bisa para nabi tahu kalau mereka adalah nabi?”  Ia menjawab, “Telah disingkap tirai dari mereka.” (Bihar Al-Anwar, jld. 11, hlm. 56, hadis ke-56).

Para nabi telah tuntas melewati jenjang ilmul yaqin, kemudian mengarungi ainul yaqin dan mencapai haqqul yaqin ketika diutus sebagai nabi. Karenanya, tak perlu heran jika di lautan manusia, ada orang-orang pilihan yang suci, tampil ke permukaan, mengemban risalah Ilahi, menyampaikan pesan samawi untuk manusia supaya beruntung. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran:

“Pantaskah manusia menjadi heran bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, “Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan.” Orang-orang kafir berkata, “Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar penyihir yang nyata.” (QS. Yunus [10]: 2).

Untuk menghilangkan segala keheranan dan prasangka buruk, Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya; Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Dawud. Dan beberapa rasul yang telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu sebelumnya dan ada beberapa rasul yang tidak kami kisahkan kepadamu. Dan kepada Musa Allah berfirman langsung. Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. (Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah menjadi saksi atas (al-Quran) yang diturunkannya kepadamu (Muhammad). Dia menurunkannya dengan ilmunya, dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi. Cukuplah Allah yang menjadi saksi. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya (QS. Al-Nisa’ [4]: 163-167).

Bukan sebuah peristiwa yang mengherankan jika ada seseorang yang mendapatkan wahyu. Inilah fenomena yang selalu berseiring bersama manusia sepanjang sejarah.

Sumber: Muhammad Hadi Ma’rifat, Tarikh Al-Qur’an, Majma Jahani Ahl Al-Bait, Qom, 1388 HS

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.