Sayyid Murtadha: Mufasir Takwil

 

ABAD KEEMPAT hijriah merupakan bagian awal dari era keemasan peradaban Islam. Banyak sentra pengembangan ilmu pengetahuan di berbagai negeri Islam, mulai dari Mesir, Damaskus hingga Cordoba di Spanyol. Namun denyut utama yang mengalirkan darah kemajuan Islam, di antaranya, ialah kota Baghdad. Dari sana banyak lahir nama-nama besar yang hingga kini berpengaruh melalui karya-karya mereka. Salah satunya ialah Sayyid Murtadha.

Bergelar kebesaran ulama “Ālam Al-Hudā”  (panji petunjuk), Sayyid sangat dikenal dan disegani. Gelar itu pula yang menunjukkan derajat pengetahuan, moral dan spiritualnya. Karya-karya ilmiahnya dalam berbagai bidang ilmu merupakan satu dari sekian argumen yang meneguhkan posisinya dalam peradaban ilmu keislaman.

Satu di antaranya adalah Al-Amālī atau Amālī Al-Muradhā, sebuah judul buku untuk transkripsi dari kuliah seorang guru besar. Buku Sayyid Murtadha ini berasal dari kuliahnya seputar tafsir, hadis dan sastra. Kelak buku ini dikenal dengan nama Gurar Al-Fawā’id wa Durar Al-Qalā’id. Masih berkaitan dengan bidang tafsir adalah bukunya yang berjudul Tanzīl Al-Anbiyā’; sebuah tafsir tematik yang menyoroti kemaksuman para nabi dan upaya beliau menakwil sejumlah ayat yang bersangkutan. Dan belakangan sebuah buku tafsir dari beliau terbit dalam dua jilid tebal berjudul Nafā’is Al-Ta’wīl (Butir-butir Indah Takwil).

Kembali mengenal sekelimut riwayat Sayyid Murtadha. Ia lahir pada tahun 355 dan wafat pada tahun 436. Allamah Al-Hilli mengenangnya dengan penuh hormat sebagai guru salah satu mazbah besar Islam, Syiah Imamiyah. Ia seorang manusia multidimensi, dikenal sebagai sastrawan sekaligus mujtahid yang pandangan-pandangan dan fatwa-fatwa fiqihnya menjadi referensi kalangan fuqaha. Satu karya terkenalnya dalam bidang fiqih ialah Al-Intishar, dan karya lainnya berjudul Kitāb Jam’ Al-‘Ilm wa Al-‘Amal. Bersama saudaranya yang bernama Sayyid Radhi, penyusun Nahj Al-Balāghah, ia belajar kepada Syeikh Mufid.

Sayyid Murtadha bernama lengkap Ali bin Husain bin Musa yang terkenal. Nama kehormatannya ialah Abul Qasim. Di kalangan Ahli Sunnah dan Syiah, ia lebih populer dengan nama Sayyid Murtadha Alam Al-Huda. Alam Al-Huda adalah gelarnya yang berarti panji hidayah. Seperti yang tampak dalam nama-nama silsilah keturunannya, ia adalah cucu keluarga besar Abu Thalib.

Pada tahun 355 H, Ia lahir di sebuah keluarga mulia keturunan Nabi SAW di Baghdad, dimana nasabnya bersambung kepada Nabi SAW baik dari jalur ayah ataupun dari jalur ibu. Dalam silsilahnya disebutkan: Ali bin Husein Thahir bin Musa bin Muhammad bin Musa bin Ibrahim bin Musa bin Imam Jafar Shadiq. Jadi, silsilah nasabnya bersambung ke Imam Musa bin Ja’far dengan perantara lima orang. Nama kehormatan Sayyid Murtadha ialah Alam Al-Huda, dan nama gelarnya adalah Dzu Al-Tsamanin, Dzu Al-Majdain, dan Syarif Sayyid Murtadha.

Sebagian mimpi bukan tidak ada kemiripan dengan ilham dan pemberitaan gaib dari segi nilai kebenarannya. Salah satu jenis mimpi itu ialah mimpi yang dialami oleh Syaikh Mufid. Pada suatu malam, ia bermimpi melihat Siti Fatimah Al-Zahra a.s. dengan membawa Imam Hasan dan Imam Husain a.s. lalu berkata, “Wahai Syaikh, ajarkan ilmu fiqih kepada kedua anak ini!” Syaikh Mufid lantas terbangun dari tidurnya dan segera merenung. Hingga tiba waktu subuh, datanglah Fatimah, ibunda Sayyid Murtadha dan Sayyid Radhi. Disertai oleh sejumlah pelayan, Sang ibu membawa kedua anaknya itu yang masih usia kanak-kanak kepada Syaikh. Dengan penuh hormat atas kedudukan sang ibu, Syaikh Mufid lebih dahulu mengucapkan salam sambutan dan bangkit dari tempatnya. Sang ibu mengatakan kata-kata perempuan yang dilihat Syeikh dalam mimpinya, “Wahai Syaikh! Ajarkan ilmu fiqih kepad kedua anak ini!” Syaikh Mufid benar-benr terkesima, lalu ia menceritakan mimpi itu kepada sang ibunda. Dengan sungguh-sungguh, Syaikh Mufid menyanggupi permintaannya dan menunaika amanatnya; ia mengajari kedua anaknya hingga mereka berhasil mencapai kedudukan ilmu pengetahuan yang tinggi dan bintang kebanggaan dunia Islam.

Posisi Sayyid Murtadha begitu tinggi dalam keilmuan dan ketokohan bidang fiqih. Pada masanya, sedikit sekali ulama yang mencapai derajat tersebut. Setelah sang guru, Syaikh Mufid, wafat tahun 413 Hijriyah, Sayyid Murtadha berperan aktif sebagai ulama yang disegani di bidang fiqih dan teologi. Ia menjadi mujtahid rujukan mazhab Syiah Imamiyah pada masa itu.

Kiprah dan Peran

Sayyid Murtadha Alam Al-Huda merupakan salah satu ulama terkemuka di kalangan para fuqoha Syiah Imamiyah. Ia penghimpun ilmu-ilmu rasional dan ilmu-ilmu tradisional pada masanya. Ia tampak unggul di puncak ketinggian sastra bahasa dan ilmu teologi serta tafsir. Pada bidang-bidang ilmu itulah ia melampaui ulama-ulama sejawatnya. Sedemikian mendalam dan luas pengetahuannya dan pengalamannya dalam ilmu-ilmu keislaman sehingga para ulama menamainya sebagai Muruj Al-Dzahab dan Pembaharu Mazhab.

Selama 30 tahun, Sayyid Murtadha juga berperan sebagai pengelola urusan haji dan dua tanah suci: Mekkah dan Madinah. Ia juga aktif sebagai pemuka para keturunan Nabi SAW. Dalam masyarakat, ia berperan sebagai hakim agung dan rujukan masyarakat dalam menuntaskan perkara-perkara serta keluhan-keluhan mereka. Berkenaan dengan kepribadiannya, Allamah Al-Hilli mengatakan, “Alam Al-Huda adalah pilar mazhab Syiah Imamiyah, guru agung kaum Muslim Syiah. Karya-karyanya sampai saat ini, yaitu tahun 693 H, masih saja menjadi referensi mazhab besar ini.”

Syekh Izzuddin Ahmad bin Muqbil mengatakan, “Jika seseorang bersumpah memberikan kesaksian bahwa Alam Al-Huda adalah orang Arab yang paling tahu ilmu-ilmu Arab daripada orang Arab sendiri, maka sumpah dan kesaktiannya ini bukanlah dusta.”

Pandangan Para Ulama

Ketokohan Sayyid Murtadha Alam Al-Huda  bukan lagi rahasia di kalangan para sarjana-sarjana Ahli Sunnah. Ia menjadi buah bibir dan panutan banyak komunitas dan kalangan. Bahkan berkat Sekian banyak karya dan prestasinya sosoknya menjadi daya pikat minat dan pemikiran mereka. Salah seorang ahli sejarah Ahli Sunnah mengatakan, “Keutamaannya banyak sekali, dimana jumlah karya dalam bidang agama dan hukum agama merupakan bukti konkret yang menegaskan identitasnya sebagai bagian dari pohon penuh berkah yang lahir dari keluarga mulia.”

Ibnu Atsir dalam Kāmil Al-Tawārīkh, Yafi’i dalam Mir’āt Al-Jinān, Suyuti dalam Al-Tabaqāt, Hatim Baghdadi dalam dalam Tarikh Baghdad dan Ibnu Katsir serta sejarawan lainnya menyambut Sayyid Murtadha dengan ungkapan-ungkapan yang megah. Mereka semua kagum akan keilmuan dan keutamaannya. Salah satu guru besar sastra bahasa Mesir mengatakan, “Dari buku Al-Gurar wa Al-Durar karya Sayyid Murtadha, saya memperoleh sejumlah pengetahuan yang tidak saya temukan dalam buku-buku lain dari para ahli Nahwu.”

Akademi Pendidikan

Akademi pendidikan Sayyid Murtadha tampak begitu meriah dan kaya khazanah. Pusat pengajaran ini menghimpun berbagai banyak bidang studi keilmuan. Setiap siswa di sana mendapatkan beasiswa. Ini dialami oleh seperti Syaikh Al-Thusi selama berada di akademi pendidikan, dimana ia setiap bulannya menerima 12 keping emas Dinar Ashrafi, belum lagi hakim agung Ibn Al-Barraj yang juga menerima 8 Dinar, demikian pula siswa-siswa lainnya sesuai dengan tingkat pendidikan mereka di akademi.

Yahudi Masuk Islam berkat Kesantunan

Ketika Baghdad dilanda paceklik yang berkepanjangan, ada seorang Yahudi yang ingin bertahan hidup dengan belajar ilmu Nahwu pada Sayyid Murtadha. Setelah meminta dan mendapatkan izin, ia mengikuti pelajaran Sayyid Murtadha dan, sesuai dengan perintah Sayyid Murtadha, Ia menerima beasiswa harian sehingga dapat mencukupi kebutuhan pokok hidupnya. Merasakan langsung begitu baik dan santun perlakuan Sayyid Murtadha, orang Yahudi itu pun memutuskan masuk Islam.

Guru dan Murid

Sayyid Murtadha tmber dan berkembang pikiran dan spiritualitasnya  di lingkungan intelektual yang kondusif. Di lingkungan tersebutlah Ia belajar pada banyak tokoh-tokoh yang nama-nama bersinar, seperti Syaikh Mufid, Khatib Adib, Ibnu Nubatah, Syaikh Hassan Babaweih. Selain itu, ia juga menjebolkan banyak tokoh-tokoh terkemuka di dunia Islam, seperti Syaikh Thusi, Qadhi Ibn Al-Barraj, Salah Al-Halabi, Abdul Fatah Al-Karachiki, Salar bin Abdul Aziz Al-Dailami, dan puluhan nama-nama besar lainnya di dunia Akademi pendidikannya.

Karya

Sayyid Murtadha memiliki banyak karya ilmiah yang masing-masing merupakan bukti atas keluasan pengetahuan dan kedalaman Samudera ilmu serta keutamaan. Mendiang Mudaris, penulis Rayhânat Al-Adab, menyebutkan lebih dari 72 buku yang dikarang oleh Sayyid Murtadha. Sebagian dari buku-buku tersebut berkaitan dengan ilmu Fiqih dan ilmu Ushul Fiqih sebagaimana tersebut di bawah ini:

  1. Al-Intishâr
  2. Jumal Al-Ilm wa Al-‘Amal
  3. Al-Dzarî‘ah fi Ushȗl Al-Syarî‘ah
  4. Al-Muhkam wa Al-Mutasyâbih
  5. Al-Mukhtashar
  6. Ma Tafarradat bihi A-Imâmiyyah min Al-Masâ’il Al-Fiqhiyyah
  7. Al-Mishbâh
  8. Al-Nâshiriyyât.

Selain judul-judul di atas, ada juga karya-karya Sayyid Murtadha sebbagai berikut: Kitâb Al-Amâlî, Jawâb Al-Malâhidah fî Qidam Al-‘Âlam. Masih ada karya-karyanya yang bisa ditemukan secara terperinci dalam referensi terkait.

Gelar “Alamul Huda”

Berkenaan dengan gelar kebesaran Alamul Huda, yakni Panji Hidayah, sebagian besar ahli sejarah menuliskan bahwa Abu Sa’id Muhammad Husein, menteri Al-Qadir Billah, khalifah Abbasiyah 381-422 H, jatuh sakit tepatnya pada tahun 422 H, yaitu dua tahun sebelum kematiannya. Pada suatu malam, sang menteri bermimpi berjumpa dengan Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib. Khalifah Rasulullah ini berkata kepadanya, “Katakan kepada Alamul Huda agar dia berdoa untuk kesembuhanmu dari penyakit hingga kamu kembali pulih!” Sang menteri bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, Alamul Huda itu siapa?” Beliau menjawab, “Dia adalah Ali bin Husain Al-Musawi”.

Segera Ia pun terjaga dari tidurnya lalu langsung menulis sebuah surat untuk Sayyid Murtadha. Di dalam surat itu, dia meminta agar Sayyid Murthada mendoakannya. Di dalam surat yang sama, dia memanggilnya dengan nama kebesaran Alamul Huda.

Membaca surat tersebut, Sayyid Murtadha terkejut dan ia meminta kepada sang menteri untuk tidak memanggilnya dengan gelar kebesaran tersebut. Sang menteri mengatakan, “Demi Tuhan, aku bersumpah bahwa Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib telah memerintahkan agar aku memanggilmu dengan gelar kebesaran itu.”

Setelah menteri itu mendapatkan kesembuhan berkat doa Sayyid Murthada, ia menceritakan pengalaman mimpinya dan keberatan Said Murtado menerima gelar kebesaran tersebut kepada khalifah. Maka khalifah pun mengirimkan pesan yang isinya menyatakan bahwa sudah sepantasnya engkau menerima dan tidak menolak gelar kebesaran yang diberikan oleh datukmu itu engkau.

Lalu khalifah juga menginstruksikan agar semua juru tulis dan sekertarisnya menyebut Sayyid Murtadha dengan gelar Alamul Huda dalam setiap dalam surat-surat resmi kenegaraan dan ditujukan kepada publik. Demikianlah gelar tersebut akhirnya tersematkan pada diri Sayyid Murtadha.

Perpustakaan

Ruang perpustakaan Sayyid Murtadha menampung kurang lebih 80.000 jilid buku. Kebanyakan dari buku-buku tersebut adalah bahan telaah dan hasil karang beliau. Salah satu tokoh yang hidup semasanya mengatakan, “Au telah menghitung buku-buku Sayyid Murtadha dimana jumlahnya mencapai 80 ribu jilid. Kebanyakan dari buku-buku itu adalah hafalan-hafalan atau karya-karya tulisnya sendiri.” Al-Tsa’alibi, seorang sejarawan ternama, juga menguatkan kesaksian ini lalu membubuhkan, “Di Baghdad, setelah wafatnya Sayyid Murtadha, kendati sebagian besar buku-bukunya telah dihadiahkan kepada para sultan dan menteri, namun tetap saja yang tersisa darinya senilai dengan 3000 Dinar.”

Hari Wafat

Sayyid Murtadha wafat di Baghdad pada tahun 436 Hijriah. Najasyi dalam buku Rijalnya menulis, “Pada tahun tersebut dia wafat. Putranya sendiri yang menyolatkannya dan di rumahnya sendiri ia dimakamkan. Bersama Abu Yala Jafari (menantu Syaikh Mufid) dan Salar bin Abdul Aziz, saya ikut serta memandikannya. Namun, jenazah mulia Sayyid Murtadha dipindahkan ke Karbala dan dimakamkan di haram suci Imam Husein ra.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.