QS. al-Ahzab [33]: 56; Shalawat Spiritual-Politik

 

إِنَّ اللَّهَ وَ مَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوا تَسْلِيْماً

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang beriman, bershalawatlah kepadanya dan ucapkanlah selamat dengan sebaik-baik selamat

(QS. al-Ahzab [33]: 56)

 Abstrak

  • Shalawat Allah, malaikat dan manusia
  • Shalawat dan penyempurnaan diri Nabi saw.
  • Shalawat spiritual dan motivasi perubahan
  • Shawalat dan kepatuhan sosial-politik

Terjemah Kata

  • یُصَلُّونَ   (yushalluna) = mereka bershalawat
  • صَلُّوا     (shallu)          = kalian bershalawatlah
  • سَلِّمُوا     (sallimu)       = kalian ucapkanlah selamat, berserah-dirilah
  • تَسْلیما    (tasliman)     = sebaik-baik ucapan selamat, penyerahan diri sepenuh-penuhnya

Studi Kebahasaan

  • Shalawat berasal dari kata kerja shalla yang berarti doa, meminta ampunan dan menyampaikan ucapan selamat. Sebagaimana dijelaskan Allamah Thabathaba’i, dalam kata ini terdapat makna ‘kesantunan untuk menarik perhatian’. Shalawat yang datang dari Allah swt. kepada kita berarti turunnya kebaikan dan keberkahan melimpah. Shalawat yang berasal dari kita kepada Allah swt. yaitu doa dan shalat. Dan yang berasal dari kita kepada sesama kita bermakna mendoakan untuk kebaikan, kesuksesan dan memohonkan ampunan.
  • Sallimu taslim-an umumnya diterjemahkan dengan ‘ucapkanlah selamat dengan sebaik-baik selamat’. Sallama dan taslim bisa juga berarti pasrah dan menyerahkan diri, yakni kepada Nabi saw., berada sepenuhnya di bawah kehendak dan keinginan beliau.

Tadabur

  • Ibnu Mardaweih meriwayatkan dari Ali bahwa ia bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana kami bershalawat kepadamu?” Beliau bersabda, “Ucapkanlah, «اللهم صل علی محمد و علی آل محمد، کما صلیت علی ابراهیم و علی آل ابراهیم، إنک حمید مجید» Allāhumma shalli ‘alā Muhammad wa ‘alā āli Muhammad, kamā shallayta ‘alā Ibrāhim wa ‘alā āli Ibrāhim, innaka hamīdun majīd.” (al-Durr al-Mantsūr, jld. 12, hlm. 123).
  • Abu Abdillah Imam Ja’far al-Shadiq ditanya tentang firman Allah swt., “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang beriman, bershalawatlah kepadanya dan ucapkanlah selamat dengan sebaik-baik selamat.” Ia berkata, “Shalawat dari Allah swt. adalah rahmat, dari malaikat adalah sanjungan, dan dari manusia adalah doa. Adapun firman-Nya, “wa sallimu taslim-an”, sesungguhnya bermakna pasrah pada beliau dalam apa yang datang dari beliau.” Perawi bertanya, “Lantas bagaimana kita bershalawat kepada Muhammad dan keluarga beliau?” Imam Ja’far menjawab, “Hendaknya kalian mengatakan, «صَلَوَاتُ اللَّهِ وَ صَلَوَاتُ مَلَائِکَتِهِ وَ أَنْبِیَائِهِ وَ رُسُلِهِ وَ جَمِیعِ خَلْقِهِ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ وَ السَّلَامُ عَلَیْهِ وَ عَلَیْهِمْ وَ رَحْمَهُ اللَّهِ وَ بَرَکَاتُهُ» Perawi bertanya lagi, “Dan apa pahala orang yang bershalawat kepada Nabi dan keluarga beliau dengan shalawat cara tadi?” Imam Ja’far menjawab, “Keluar dari dosa-dosa, demi Allah, seperti di hari ia dilahirkan ibunya.” (Ma’ānī al-Akhbār, hlm. 368).
  • Abdussalam bin Nu’aim berkata kepada Imam Ja’far al-Shadiq, “Aku pernah masuk rumah, namun tidak ada doa yang aku ingat kecuali shalawat kepada Nabi dan keluarga beliau.” Imam berkata, “Tidak ada seorang pun memperoleh lebih utama dari yang kamu peroleh.” (Tsawāb al-A’māl wa ‘Iqāb al-A’māl, hlm. 155).

Tadabur

  • Nabi saw. sedemikian mulia kedudukannya hingga Allah swt. dan para malaikat juga kita bershawalat kepadanya. Tentu saja, setiap shalawat akan sesuai maknanya dan sebanding nilainya dengan status penghatur shalawat.
  • Demikian sebaliknya, Nabi saw. juga bershalawat kepada kita; beliau juga membalas shalawat yang kita persembahkan kepadanya (QS. al-Ahzab [33]: 43).
  • Dalam al-Quran, pasrah dan berserah diri pada perintah-perintah Nabi saw. tidaklah ringan dan, karena itu, pelakunya layak berposisi di samping para nabi dan kaum shiddiqin (QS. al-Nisa’ [4]: 65-70). Namun, pasrah bisa mudah manakala terjalin keterikatan batin dan ruhani antara kita dan Nabi saw. Oleh karena itu, sebelum berserah diri dan pasrah di bawah kehendak Nabi saw., Allah memerintahkan agar kita bershalawat kepada beliau sebagai persiapan ruhani dan menghimpun suasana keterikatan batin untuk lalu berserah diri pada beliau; yakni siap dan puas meleburkan kehendaknya dalam kehendak Nabi saw.
  • Jika shalawat itu mengandung suatu bentuk penyempurnaan diri, shalawat untuk Nabi saw. juga berarti peningkatan spiritual diri beliau.
  • Perintah bershalawat mengingatkan kita agar senantiasa menjaga martabat Nabi saw. dan mengembangkan keunggulan agamanya. Ini pesan agar kita juga menjaga dan turut membantu peningkatan martabat muslim beriman.
  • Sebagai makhluk sempurna dan termulia, Nabi saw. tentu telah menuntaskan perjalanan spiritual sepanjang menempuh semua tingkatan-tingkatan alam. Namun, bagaimana menjelaskan peningkatan dan penyempurnaan diri beliau di atas? Tampaknya, peningkatan dan penyempurnaan diri Nabi adalah dalam bentuk diterimanya syafaat beliau dan tersebarnya petunjuk  ajaran beliau: و تقبل شفاعته و ارفع درجته, “semoga Allah menerima syafaat beliau dan meninggikan derajat beliau”. Kalimat ini dibaca setelah shalawat kepada Nabi saw.
  • Yang disampaikan Allah swt. dan malaikat untuk Nabi saw. hanya shalawat. Tetapi shalawat dari kita hanya akan sempurna tatkala disertai salam atau kepasrahan diri.
  • Jadi, bershalawat yaitu menyatakan keterikatan hati dengan Nabi saw., komitmen mengamalkan ajarannya juga berkontribusi dalam memperkuat dan menempatkan hukumnya di atas segalanya. Barangkali karena ini pula sebagian riwayat menyebutkan bahwa shalawat menghilangkan sifat munafik dan shalawat merupakan doa terbaik.
  • Pribadi Nabi saw. menjadi sulit dikenal dalam al-Quran tanpa menyelami surah al-Ahzab. Surah ini berperan kunci dalam mengenal peran dan posisi Nabi saw. di tengah umat, di antaranya, menempatkan hak beliau di atas hak diri mereka mereka, “Nabi lebih utama bagi orang-orang beriman daripada diri mereka sendiri, dan istri-istri beliau adalah ibu-ibu beliau” (QS. al-Ahzab [33]: 6).
  • Nilai penting, pahala dan pengaruh positif membaca shalawat dalam teks-teks ayat dan riwayat sangat menakjubkan. Sedemikian pentingnya shalawat hingga setiap muslim setiap harinya tidak akan sah shalat wajib dan sunnahnya bila tidak membaca shalawat atas Nabi saw. dan keluarga beliau.
  • Seseorang akan merasa mantap dan yakin tatkala membaca dzikir dan doa yang juga dibaca oleh Allah dan para malaikat.
  • Pasrah dan serah diri merupakan komitmen dan bukti praktis dari shalawat dan doa baik kita kepada Nabi. Kepasrahan sempurna dan seutuhnya ialah patuh dan tunduk pada segenap kewenangan dan autoritas Nabi saw., “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga menjadikan kamu sebagai hakim atas perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam diri mereka keberatan apa pun terhadap apa yang engkau putuskan, dan mereka pasrah dengan sepenuhnya” (QS. Al-Nisa’ [4]: 65).[ph]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.