QS. al-Hajj [22]: ayat 38, Konfrontasi antara Mukmin, Pengkhianat dan Kafir

 

إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِيْنَ ءَامَنُواْ  إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُوْرٍ

 “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap pengkhianat dan pengingkar nikmat.”

(QS/ al-Hajj [22]: 38)

Studi Kebahasaan

  • Dua kata khawwan (pengkhianat) dan kafur (pengingkar) berbentuk superlatif (mubalaghah) yang mengandung makna keterterlaluan dalam pengkhiyanatan dan pengingkaran terhadap nikmat.

Hadis

  • Imam Ali Zainal Abidin ra. dalam doa Arafah bermunajat, “Tuhanku! Apa yang dimiliki orang yang kehilangan-Mu, dan siapakah yang hilang dari orang yang memiliki-Mu?! Sungguh sengsara orang yang menyenangi selain-Mu sebagai pengganti, dan sungguh merugi orang yang mengganti-Mu sebagai tujuan”.
  • Abdul Malik mendapat laporan bahwa pedang Rasulullah saw. berada pada Imam Ali Zainal Abidin ra., lalu dia mengirim ajudannya agar memintanya untuk menghadiahkan pedang tersebut kepadanya sebagai gantinya akan memenuhi segala permintaannya. Namun ia menolak. Abdul Malik kemudian menulis surat ancaman kepada Imam Zainal Abidin ra. dan akan menghentikan bagiannya dari Baitul Mal. Imam menjawab, “Ketahuilah! Allah telah menjamin orang-orang bertakwa jalan keluar dengan cara yang tidak disukai mereka dan rezeki melalui jalan yang tak terduga. Dia berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap pengkhianat dan pengingkar nikmat.” Lihatlah, mana di antara kita yang disinggung oleh ayat ini?!” (Ibnu SyahruAsyub, jld. 4, hlm. 165).

Tadabur

  • Seorang mukmin aman berada dalam perlindungan sempurna Allah swt., karena Dialah pelindungnya. Orang yang dilindungi Allah tidak akan gelisah, kehilangan ketenangan dan masih butuh kepada selain-Nya. Baba Thahir bersyair, Semua berkata, “ Thahir tak memiliki siapapun // Kala Tuhan penolong, gerangan apa butuh pada selain?!
  • Menyadari betapa cinta Allah swt. kepada kita akan menciptakan kedamaian sepenuh jiwa, dimana hati kita berada dalam genggaman-Nya. Manakala Allah mencintai seseorang yang dilaknat di mimbar-mimbar jumat selama seratus tahun, pasti Dia akan memperlakukannya agar semua penghuni alam mencintainya, termasuk mereka yang tidak beriman sekalipun. Ya, Allah swt. telah membela Ali bin Abi Thalib sehingga menjadi figur tercinta alam sejagat, nama dan keutamaannya senantiasa bertebaran.
  • Betapa pentingnya kita menyadari bahwa Allah adalah pembela kita. Lalu, berapa pentingnya selain-Nya mendukung kita? Kalau ada pilihan antara Allah dan selain-Nya untuk menjadi tercinta, manakah yang kita pilih? Terkadang  kita lebih mencintai orang yang berdosa ketimbang kekasih Allah hanya karena kedekatan, pertemanan atau karena kita telah menggantungkan harapan pada mereka.
  • Betapa Allah swt. Mahalembut; tidak mengatakan “tidak menyukai orang yang berkhianat lagi mengingkari, Dia mengatakan, “tidak menyukai pengkhianat dan pengingkar”. Ini berarti ayat ini tertuju kepada mereka yang keterlaluan dalam berkhianat dan mengingkari nikmat. Dengan demikian, Allah masih memaklumi kita yang sesekali berkhianat dan tidak bersukur kepada-Nya (lihat juga QS. Al-Nisa’ [4]: 31). Allah tidak suka bila kita keterlaluan dalam pengkhiyanatan dan pengingkaran nikmat-Nya. Lalu, seberapa pandai kita bersyukur kepada-Nya?!
  • Kita harus berhati-hati, jangan sampai kita mengkhianati apa yang telah diamanatkan kepada kita. Hati ini saja amanat Allah yang harus kita kembalikan kepada Allah dalam keadaan bersih sebagaimana awal diamanatkan kepada kita sehingga, karena itu, seluruh surga menjadi milik kita, bahkan Allah pun menjadi milik kita (Qs. al-Syu’ara [26]: 89). Masalahnya, karena setan senantiasa membaca pikiran-pikiran kita dan mempengaruhi hati, kita perlu pelindung yang menangkal pengaruh setan. Maka, Allah Dialah yang senyatanya menjadi pelindung kita dengan jalan: menjadi orang beriman kepada-Nya.
  • Adakah kenikmatan Allah yang barangkali tidak kita syukuri? Allamah Thabathaba’i telah menguraikan bahwa nikmat hakiki adalah wilayah (al-Mīzān, jld. 19, hlm. 208). Yakni, manusia sepenuhnya berada dalam wilayah ‘kecintaan’ Allah, dan manifestasi paling utuh dari wilayah adalah kecintaan mutlak pada Nabi saw. dan keluarganya.
  • Allah swt. akan membela dan membantu setiap upaya kita berjuang di jalan-Nya, menegakkan agama-Nya, dan dan menghidupkan hukum-hukum-Nya. Orang yang beriman pada Allah akan mendapat pembelaan-Nya. Kini, sekian banyak orang Islam di dunia tidak mendapat pertolongan Allah; mereka di bawah kaki para penguasa hingga menjadi tak berdaya. Kenapa? Karena mereka tidak hidup berdasarkan sunnatullah sehingga mereka tidak sadar dan bangkit.
  • Jihad adalah usaha keras. Bangsa yang beriman pada Allah swt. namun tidak berusaha dan tidak berjihad, maka konsekuesinya adalah ketidakberdayaan. Maka, bagi mereka, penggalan “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman” tidak berlaku. Pembelaan diperoleh tatkala iman sejalan dengan jihad, dan janji Allah pasti akan berlaku, “Dan mereka yang berhijrah dan berjuang keras di jalan Allah”.
  • Manusia beriman adalah muslim yang siap mewakafkan segenap usianya untuk perjuangan dan perlawanan suci. Maka, sebaliknya, perjuangan dan perlawanan menjadi terasa begitu menyusahkan bagi orang-orang yang bermental hidup enak dan mencari posisi nyaman. Setiap perjuangan di jalan Allah swt. dan kebaikan tidaklah mudah, bahkan menjadi beban besat bagi seseorang yang mencari nyaman. Memang, setiap orang cenderung hidup nyaman. Tetapi, bila kita bebas dari kecenderungan ini, motivasi dan potensi kita akan terhimpun demi perjuangan dan perlawanan suci dengan segala kesulitannya, dan pasti puncak kesuksesan akan diraih.
  • Pesan umum ayat ini menegaskan bahwa ada sebagian orang memiliki banyak keistimewaan namun tetap akan mendapat balasan Allah. Dalam ayat ini, Allah mengingatkan bahwa setiap manusia yang keterlaluan berkhianat dan keterlaluan tidak berterima kasih akan dikeluarkan dari lingkar cinta-Nya, meskipun dia memiliki banyak keistimewaan, seperti orang alim, orang dermawan atau seorang ahli ibadah. Ayat-ayat yang menggunakan kata “setiap” menunjukkan nilai pentingnya, yaitu menjelaskan benang merah yang diletakkan Allah swt. di dalamnya, sebagaimana dalam ayat ini Dia menjelaskan dampak destruktif dari sifat-sifat korup ini.[ms]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.