QS. al-Ikhlas [112]: ayat 3; (2) Wahdat al-Wujud dan Komitmen Beragama

 

لَمْ يَلِدْ وَ لَمْ يُولَدْ

Dia tidak melahirkan juga Dia tidak dilahirkan

(QS. Al-Ikhlas [112]: 3)

Abstrak

  • Relasi ayat dengan asas Tauhid dan Kesatuan Ada (wahdat al-wujud)
  • Bukan hulul juga bukan itiihad
  • Mengapa kalangan ahli Fiqih menghukum kafir orang yang percaya Kesatuan Ada
  • Apa gunanya dan pengaruhnya percaya pada Allah tidak melahirkan juga tidak dilahirkan?
  • Kenapa orang yang mengaku beriman masih berbuat bahkan yang lebih buruk dari perbuatan orang kafir?
  • Kenapa diungkapkan “Dia tidak dilahirkan”? Kenapa tidak difirmankan “Dia tidak diciptakan”?

Tadabur

  • Menyambung Bagian Pertama, ayat ini merupakan salah satu ilmu tauhid yang paling penting, namun hanya karena kurang direnungi, lantas tampak biasa-biasa saja. Ayat ini menjelaskan hubungan antara Allah swt. dan alam; hubungan yang kerap menjadi pusat kesalahpahaman dan kerancuan seputar masalah-masalah ketuhanan. Misalnya, apakah Allah berada di dalam alam ataukah di luar alam? Pertanyaan ini tampak serius bila dipertimbangkan pula kata al-shamad ayat sebelumnya, yakni jika Allah meliput segala sesuatu dan tidak ada sesuatu pun yang kosong dari keberadaan-Nya, kita dan alam ini dimana? Lalu bagaimana kita memaknai kepenciptaan Allah?
  • Jawabannya, relasi antara Tuhan dan selain Tuhan bukan semacam kelahiran dan pelahiran. Sebagaimana dalam riwayat ketiga, Tuhan tidak muncul dari sesuatu, juga alam tidak muncul dari Tuhan. Yakni, tidak ada keterpisahan apa dari siapa. Di alam keberadaan, Allah tidak memiliki tandingan. Dia esa yaitu satu yang mustahil diasumsikan ada duanya. Inilah doktrin yang lazim dikenal dengan Kesatuan Ada (wahdat al-wujud). “Segala sesuatu masih sedikit dibanding dengan-Nya // hanya dengan ada-Nya semua menyandang ada.” Doktrin ini tidak menafikan kenyataan semua selain Tuhan, atau mengakui mereka sebagai bagian dari Tuhan. Doktrin ini menerangkan bahwa Allah swt. senantiasa bersama segala sesuatu, akan tetapi tidak berada di dalam mereka, dan Dia selain segala sesuatu, akan tetapi tidak terpisah dari mereka. Shamad yaitu Allah senyatanya mahatinggi dan mahasuci dari segala sesuatu. semua bergantung pada-Nya. Sebaliknya, Dia sama sekali tidak bergantung pada selain-Nya.
  • Sebagian fuqaha menghukumi kafir orang yang percaya pada doktrin Kesatuan Ada. Hukum ini dapat dibenarkan bila doktrin ini sama dengan panteisme, yaitu seseorang percaya bahwa Allah adalah himpunan segala sesuatu atau Allah adalah segala sesuatu. doktrin dengan pengertian seperti ini tidak ada hubungannya dengan ajaran al-Quran. Kitab suci terakhir ini secara cermat mengajakan kehadiran sepenuhnya Allah di alam keberadaan sekaligus menegasikan segala bentuk keterbatasan dari-Nya. Dengan kata lain, al-Quran menyucikan Allah swt. dari segala macam kebercampuran dengan makhluk, entah dalam bentuk hulul (bertempat pada) ataupun ittihad (menyatu dengan).
  • Apa gunanya dan apa pengaruhnya percaya atau tidaknya kita pada ayat “Dia tidak melahirkan juga Dia tidak dilahirkan”? Ya, manusia membentuk kehidupannya berdasarkan pola pemikiran dan kepercayaannya. Semua perilaku dan keputusan kita terkait diri sendiri ataupun orang lain berakar dari pemikiran dan kepercayaan kita sendiri. Maka, pertanyaan di atas tadi cukup jelas jawabannya.
  • Yang perlu direnungkan lebih lanjut ialah: kenapa sebagian orang yang mengaku percaya Allah swt. hidup dan berbuat hal-hal yang justru lebih buruk dari sebagian orang kafir yang tidak percaya Allah? Salah satu penyebab kepercayaan dan iman pada Allah swt. tidak berpengaruh pada hidup kita ialah tidak mengenal-Nya dengan benar dan, yang terpenting di antaranya, ketidakpahaman kita tentang ayat “Dia tidak melahirkan juga Dia tidak dilahirkan”.
  • Tampak tidak begitu penting tatkala ayat ini dipahami dengan persepsi umum tentang kelahiran dan persalinan. Beda halnya manakala kita memahaminya sebagai hubungan Allah dan makhluk/alam dengan ketelitian intelektual, akan kita temukan betapa persoalan hidup kita berakar dari tak bernilainya keberagamaan dan tak berkualitasnya cara kita beragama. Kita kurang menganggap penting hubungan Allah swt. dengan alam; paling maksimal, kita mengenal-Nya hanya sebagai realitas yang sejajar di samping realitas yang lain dimana dia berada di luar alam dan sebab-sebab yang diciptakan-Nya. Dengan pemahaman ini, maka wajar bila kita lantas menganggap segala faktor dan sarana pemecahan masalah dan pemenuhan kebutuhan kita sebagai penentu sepenuhnya. Anggapan ini tidak beda dengan kata-kata orang Yahudi bahwa tangan Allah terbelenggu (QS. al-Maidah [5]: 64).
  • Kalau memang kita percaya Tuhan bukan di luar alam; tidak datang dari suatu tempat (tidak dilahirkan) juga tidak ada satu pun makhluk yang terpisah dari-Nya (tidak melahirkan) sehingga lepas dari-Nya dan tidak bisa berjumpa dengan-Nya, tentu kita harus beriman bahwa Dia hadir di alam, tetapi bukan kehadiran yang beraroma syirik dimana selain Allah juga diperhitungkan pengaruhnya, tetapi kehadiran mahatinggi yang tidak menyisakan celah ketiadaan di alam ini (al-shamad). Jika seperti ini kita percaya pada Allah, apakah kita akan atau masih bermaksiat dan berbuat buruk di tengah aula kehadiran-Nya?! Dan apakah masih terbetik menggantungkan harapan pada selain Allah?! (QS. al-Zumar [39]: 36). Apakah mungkin orang yang membaca surah al-Ikhlas yang pendek ini tidak berubah pola hidupnya dan masih saja berbuat dosa dan keburukan?!
  • Kenapa diungkapkan “Dia tidak dilahirkan”? Kenapa tidak difirmankan “Dia tidak diciptakan”? Agaknya, ayat ini hendak menekankan negasi apa pun bentuk kelahiran dan keterpisahan. Pengetahuan kita bahwa Allah swt. tidak diciptakan adalah semata-mata informasi tentang Allah. Namun, keyakinan kita bahwa Allah swt. tidak memiliki apa pun bentuk kelahiran dan keberasalan dari sesuatu yang lain merupakan keimanan yang membuat seseorang memandang amat penting kehadiran Allah di dunia dan dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, dua ungkapan: “tidak melahirkan” dan “tidak dilahirkan”, membentuk satu doktrin al-Quran yang mengajari kita agar mencapai Allah swt. dan membuka kehadirannya dalam jantung hidup kita.[ph]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.