QS. Al-Qashash [28]: Ayat 77; Ingin Hidup Anda Berubah? Cukup 4 Strategi ini

 

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah diberikan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari dunia, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak suka pada orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(QS. Al-Qashash [28]: ayat 77)

 
Di awal sekali Alquran sudah mengungkapkan falsafahnya sebagai pedoman (hidayah) hidup kepada manusia. Ayat-ayatnya adalah hukum kehidupan, jalur mencapai tujuan tertinggi dari segenap kerja dan harapan manusia. Sebagai kitab terakhir Tuhan dan rahmatan lil alamin bagi manusia dan alam semesta, Alquran memberi garansi: memberikan arahan dan solusi terbaik untuk masalah-masalah mendasar kehidupan.
 

Baca juga: QS. Al-Baqarah [2]: 42; Cara Membuat Hoax
Baca juga: QS. Al-Ra’d [13]: 1; Bagaimana Semua Pemahaman itu Relatif, Allah saja Men-Share Kebenaran Mutlak
Baca juga: QS. Al-Baqarah [2]: 42, Norma Etika Jurnalistik dan Pengacara
Baca juga: QS. Al-Nur [24]: 15; Aturan Memviral Informasi
 

Ayat di atas satu dari sekian arahan Alquran bagaimana mengubah diri, menjadi sukses dan hidup bahagia. Ada 4 strategi: 2 afirmatif dan 2 negatif; 2 perintah dan 2 larangan; 2 terkait diri sendiri dan 2 lagi terkait realitas di luar diri.

Strategi I: pikirkan masa depan
Dan carilah pada apa yang telah diberikan Allah kepadamu negeri akhirat”. Yakni, pusatkan keinginan dan harapan pada kehidupan setelah kematian. Alquran mengingatkan setiap manusia, sepanjang memanfaatkan sepenuhnya kehidupan di dunia, agar memikirkan masa depannya dan menyiapkan perbekalan yang dibutuhkan sesuai untuk masa depan.

Berpikir masa depan ditempatkan Allah di awal ayat ini sebagai catatan bahwa perubahan tidak akan terjadi kecuali dari diri sendiri (QS. Al-Ra’d [13]: 11). Ubah dan bangun diri kita dengan mengubah pola pikir. Tanamkan visi masa depan dalam diri. Visi ini, sebagaimana dinyatakan dalam ayat, menjangkau kehidupan akhirat juga terkait dengan kehidupan kita di dunia ini. Yakni Tidak ada cara mencari dan meraih akhirat kecuali kita berada di dunia dan memaksimalkan kandungannya.

Karena itu, dari sekarang tidak menunda-nunda dan membuang-buang umur untuk segera merencanakan hidup Anda secara sungguh-sungguh dan menentukan tujuan yang ingin Anda raih. Langkah selanjutnya, Anda bekerja yang terbaik untuk mencapai tujuan tersebut.
 

Baca juga: Mufassir Perempuan (2): Banu Mujtahidah Isfahani dari Persia
Baca juga: Sayyid Qutb: Mufasir yang Mencita-citakan Negara Islam
Baca juga: Mufassir Perempuan (1): Bintu Syathi dari Mesir
Baca juga: Mulutmu harimaumu; karena lidah, dirimu binasa!
 

Strategi II: jangan lewatkan kenikmatan dunia
dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari dunia ini”. Anda bisa mengeksploitasi dunia ini dan menikmati kepuasan-kepuasannya serta mensyukurinya hanya dalam rangka perencanaan dan pencapaian tujuan termulia hidup Anda. Karena itu, manfaatkan segenap potensi dan peluang-peluang di dunia untuk alam akhirat. Jangan gunakan dunia lebih dari sebagai alat dan sarana memulai hidup yang sesungguhnya setelah kematian. Di ayat lain diingatkan kembali:

Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan [siapa pulakah yang mengharamkan] rezeki yang baik?!’ Katakanlah, ‘Semuanya itu adalah untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus [untuk mereka saja] di hari kiamat.’ Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui” (QS. Al-A’raf [7]: 32).

Strategi III: bekerja dan berbuat baik
dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”. Tidak berlebihan bila Anda mengharapkan orang lain peduli dan membantu Anda dalam keadaan susah dan butuh. Bukan Anda saja; kita dan setiap orang punya keinginan dan harapan yang sama demikian. Justru kita, sebagaimana dalam ayat, memulai hidup kita dari kepedulian, kasih sayang dan kebaikan selain kita, yaitu Allah.

Allah mengajari kita strategi mengelola hidup dengan masyarakat agar seperti yang telah Dia lakukan pada kita: bersikap adil pada diri sendiri dan orang lain dengan cara menguatkan kemauan dan mempertahankan komitmen untuk berbuat kepada orang lain, lingkungan dan alam. Hanya mengharap kontribusi dan bantuan orang lain tanpa peduli pada diri sendiri untuk juga memberi dan membantu bukanlah keadilan. Sifat egois dan mau senang sendiri sungguh memalukan dan menghinakan diri sendiri.

Dengan strategi ini, maka akan tercipta suasana gotong royong dalam berbangsa, bernegara dan berumat. Semangat ini senafas dengan perintah Alquran agar tidak basa-basi, setengah-setengah, tetapi berkompetisi dan bersaing dalam kebaikan, “Maka berlomba-lombalah berbuat baik” (QS. Al-Ma’idah [4]: 48).

Strategi IV: tidak merugikan pihak lain
dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi”. Luar dan dalam bumi bahkan, di banyak ayat, alam semesta ini disediakan Allah untuk kepentingan manusia. Kuras semua pontensi alam ini semaksimal mungkin dan hargai keberkahannya dengan tidak menggunakan pemanfataannya untuk kerusakan alam dan masyarakat.

Jika kita kurang menyukuri dan tidak tahu budi Allah memberi nikmat hidup ini, setidaknya kita tidak berperilaku korup, merusak bumi dan makhluk yang paling dicintai Allah, yaitu manusia. Merusak satu potensi alam saja sudah merupakan tak tahu budi, membalas kebaikan Allah dengan air tuba. Sudah barang tentu, menghinakan, menzalimi dan membuat hidup orang lain jadi susah dan kehilangan haknya adalah kelancangan dan penghinaan terhadap ciptaan dan kreativitas terbaik Allah.

Catatan:
Seperti juga aturan dan agenda, empat hukum kehidupan dalam ayat ini hanya berupa tinta di atas kertas dan bacaan di mulut, tidak berpengaruh apa-apa apalagi akan mengubah hidup Anda bila sedari awal Anda tidak percaya pada Alquran sebagai pegangan hidup. Kepercayaan ini menjadi syarat mutlak untuk selanjutnya memulai dan melatih diri hingga menerapkan empat agenda di atas, setidaknya Anda tidak mencoba tindakan korupsi, merusak alam dan menyebarkan kerusakan dan kepalsuan di tengah masyarakat, mengambil keputusan yang mengancam nyawa, pikiran, emosi, harga diri dan hak milik orang lain.

Karena itu, Allah dengan nada lembut menutup ayat di atas dengan kalimat: “Sesungguhnya Allah tidak suka pada orang-orang yang berbuat kerusakan.” Jika Anda belum berhasil berkontribusi dan berbuat baik, setidaknya Anda tidak merusak yang baik, tidak memperparah keadaan, tidak merugikan orang lain. Hidup sukses dan bahagia diawali cukup dengan tidak merusak.[hcf]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.