QS. Al-Ra’d [13]: Ayat 1; Bagaimana semua Pemahaman itu Relatif, Allah saja Men-Share Kebenaran Mutlak

 

ألمر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ وَالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ

Alif Lām Mīm Rā. Itu adalah ayat-ayat Al-Kitab (Alquran) dan yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu adalah benar, akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.

(QS. Al-Ra’d [13]: ayat 1)

 
Manusia, suka atau tidak, sadar atau lengah, pasti cenderung ingin benar; mencari, mengharapkan, dan mengusahakan kebenaran. Saking besarnya nilai kebenaran, ia bahkan mengaku sampai mengaku-ngaku kebenaran, padahal dia salah. Kecenderungan ini sudah menjadi bawaan fitrah dan tabiat manusia; ingin benar dan selalu ingin benar. Karena kerinduan dan fanatik pada kebenaran, ia bahkan rela berkorban dan menderita.

Tetapi, perlu juga dicatat, kebenaran yang dinginkan dan diperjuangkan manusia adalah kebenaran pasti dan mutlak; setiap orang tidak ingin kebenaran setengah-setengah, kebenaran relatif.

Masalahnya, adakah kebenaran mutlak? darimana manusia bisa memperoleh pemahaman yang pasti benar? Berikut beberapa keterangan Alquran dalam ayat di atas:

Pertama: Benar sepenuhnya bahwa kebenaran hakiki dan absolut adalah milik Tuhan: “… dari Tuhanmu adalah benar.”

Kedua: Kebenaran milik Allah bukan berarti selain Allah, yakni manusia, tidak bisa menjangkau dan tidak bisa memahami kebenaran Allah. Kata-kata seperti: “dari Tuhanmu” dan “diturunkan” menyatakan secara eksplisit bahwa kebenaran hakiki dan absolut yang berada pada Allah itu diturunkan oleh Allah sendiri kepada manusia sehingga setiap orang dapat mengakses dan juga memperolehnya. Frasa “dari Tuhanmu” menyatakan bahwa kebenaran yang dipahami manusia dari teks Alquran adalah “berasal dari” Allah.
 

Baca juga: QS. Al-Qashash [28]: 56; Iman, Takdir Allah di Tangan Manusia
Baca juga: QS. Al ‘Imran [3]: 139, Tidak Unggul, Maka tidak Beriman
Baca juga: Terbitkan Hasil Riset Al-Quran 800 Halaman, Profesor Jerman Kritik Tajam Budaya Barat
 

Ketiga: Frasa “dari Tuhanmu” yaitu adanya keindentikan antara kebenaran Allah dan kebenaran manusia. Ayat lain juga menjamin keidentikan ini: “Sesungguhnya Kami telah menteturunkan Al-Dzikr (Alquran) dan sesungguhnya Kami adalah penjaganya” (QS. Al-Hijr: 9).

Keempat: Dalam ayat ini dan di ayat lain ditegaskan bahwa kebenaran itu berasal dari Allah. “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu” (QS. Al-Baqarah [2]: 147; Imran [3]: 60). Dalam ayat ini ada larangan agar tidak menjadi orang ragu. Larangan ini menerangkan: (a) lawan kebenaran adalah keraguan; (b) larangan mengarah pada tindakan bebas, maka ayat ini mendorong manusia untuk berusaha dengan kehendak bebas keluar dari keadaan ragu dan mendapatkan kebenaran sebagai pilihan dan kesadaran; dan (c) kebenaran tidak mungkin dipaksakan, hanya bisa dijelaskan secara objektif untuk diyakini oleh hati secara subjektif. “Tidak ada pemaksaan dalam agama; sungguh telah nyata kebenaran [berbeda] dari kesesatan” (Al-Baqarah [2]: 256). Berada di atas kebenaran atau kesesatan bergantung pada pilihan dan kehendak setiap orang yang kelak harus dipertanggungjawabkan oleh dirinya sendiri (lihat. QS Al-Kahfi [18]: 29).
 

Baca juga: Terbitkan Hasil Riset Alquran 800 Halaman, Profesor Jerman Kritik Tajam Budaya Barat
Baca juga: Sains Modern Buktikan Teknik Pembuatan Piramida versi Alquran
Baca juga: Mencari Cinta Sejati dan Kehidupan pasca Kematian dalam Pancasila
Baca juga: Analisis Komputer mana yang lebih Memuat Kekerasan: Alquran atau Bible
 

Kelima:Yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu adalah benar”, artinya Allah sendiri tidak memonopoli kebenaran mutlak-Nya, tetapi juga Dia maha pemurah “menurunkan”, membagi-bagikan dan men-sharing kebenaran-Nya kepada manusia lewat para nabi, bahkan lewat orang-orang bodoh, “Belajarlah kemuliaan dari orang-orang keji.”

Keenam: Di antara kebenaran adalah ayat-ayat Alquran: “Itu adalah ayat-ayat Al-Kitab (Alquran) dan yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu adalah benar.”

Ketujuh: Alquran adalah kebenaran absolut dan hakiki, karena itu tidak ada kekeliruan dan kesesatan dalam Alquran: “dan yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu adalah benar.” Dalam ayat lain ditegaskan, “… dan sesungguhnya ia adalah kitab yang mulia, yang tidak akan didatangi oleh kebatilan dari depan maupun dari belakang; itulah yang diturunkan dari Yang Maha Bijaksana Maha Terpuji” (QS. Fushshilat [41]: 42).

Kedelapan: Sebagai kebenaran hakiki, Alquran adalah kitab yang mahaagung. Ayat ini mengenalkan Alquran dengan kata ‘itu’ yang, dalam budaya bahasa Arab, digunakan untuk menyatakan keagungan dan kehormatan sesuatu: “Itu adalah ayat-ayat Al-Kitab (Alquran).”

Kesembilan: dalam surah Fushshilat tadi, Alquran didefinisikan sebagai yang diturunkan (tanzil: penurunan) dari Tuhan Yang Maha Bijaksana. Di awal surah Yasin terdapat sumpah Allah, “Demi Alquran yang bijaksana“, yakni kitab kebijaksanaan yang berasal “dari Tuhanmu” Yang Maha Bijaksana. (Lihat QS. al-Syu’ara’ [26]: 192: Bisakah Tuhan Diturunkan?).

Kesepuluh: Alquran mengandung kebenaran absolut yang di-share Allah kepada semua orang dan disampaikan melalui para nabi secara utuh, tanpa penambahan dan pengurangan. Jika Alquran ini di-share oleh Allah dan nabinya ke tengah umat manusia secara tidak utuh atau mengalami tahrif/distorsi, itu sama artinya tidak ada penurunan atau bukan penurunan yang bijaksana.

Kesebelas: Begitu pula, kebenaran absolut milik Allah yang terkandung dalam Alquran juga bisa diakses dan dimiliki oleh manusia, dan setiap orang punya potensi untuk menjangkau dan memahaminya. Jika Alquran hanya milik Allah dan nabi-Nya sehingga manusia tidak bisa memahami maksud dan kebenaran Allah yang terdapat di dalamnya, ini artinya tidak ada sharing, tidak ada penurunan, atau ada penurunan namun sia-sia dari tuhan yang tidak bijaksana.

Kedua belas: Bisa dipahaminya kebenaran absolut Allah dalam Alquran oleh setiap orang bukan berarti setiap orang senyatanya sudah memiliki dan memahaminya. Alquran adalah cahaya; kebenarannya terang dan menerangi. Seperti juga matahari, terang-meneranginya cahaya Alquran tidak bergantung pada manusia, sebaliknya manusia hanya benar-benar diterangi dan memiliki cahaya Alquran jika dirinya sendiri mau dan memilih untuk berada dalam siraman cahaya Alquran. Ada keyakinan pada cahaya Alquran; ada kemauan; ada pilihan dan ada komitmen.

Maka, tidak semua kebenaran ayat-ayat Alquran itu diserap, dipahami dan diimani sebagai kebenaran; justru kebanyakan orang itu tidak mengimani, entah karena ragu atau karena angkuh atau karena licik mencari-cari ayat untuk dipaksakan bisa membenarkan pemahaman dan sikapnya: “akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.”
 

Baca juga: QS. Al-Nur [24]: 52; Kriteria Kesuksesan: Taat, Takut, Dan Takwa
Baca juga: QS. Al-Syu’ara’ [26]: 194; Kapasitas Hati, Motivasi, Dan Edukasi
Baca juga: QS. Al-Muzammil [73]: 15; Bunuh Fir’aun Dulu, Baru Memimpin
 

Ketiga belas: Kriteria, poros dan fokus adalah kebenaran, bukan kebanyakan dan mayoritas: “… adalah benar, akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” Mayoritas dan minoritas bukanlah ukuran kebenaran; kebenaran itulah yang mengisi nilai mayoritas dan minoritas. Kebenaran yang tidak didukung mayoritas tidak akan berubah menjadi kesalahan; juga kesalahan yang diyakini kebanyakan orang tidak akan berubah menjadi kebenaran. “Jangan pernah merasa tercekam di jalan kebenaran karena sedikit penempuhnya” (Nahj Al-Balaghah, pidato 21 dan 201).

Keempat belas: Banyak faktor yang mengecoh masyarakat hingga salah menentukan kebenaran, di antaranya status orang, yakni mengukur kebenaran suatu pihak dengan keberadaan tokoh tertentu di pihak tersebut. Ayat di atas menerangkan faktor yang amat berpotensi mengecoh, yaitu kebanyakan dan mayoritas. Namun, dalam banyak kasus, minoritas juga kerap dijadikan ukuran kebenaran dan dasar pembelaan. Tidak sedikit mayoritas di suatu negara yang justru menjadi korban penindasan, pembodohan, pemerasan potensi negeri mereka oleh kelompok-kelompok minoritas. Apa pun pembelaan atas hak-hak minoritas harus tetap didasarkan pada kebenaran dan nilai keadilan.

Kelima belas: Bertolak dari ingin kebenaran mutlak dan percaya adanya sebagian kebenaran mutlak yang bisa diperoleh manusia, maka terbuka dialog dan diskusi sehat sebagai cara logis dalam bersama-sama berusaha memperoleh kebenaran. Nabi Muhammad SAW saja yang menerima wahyu kebenaran absolut secara langsung dari Allah menempatkan diri pada posisi netral dan siap menerima kebenaran dari lawannya dalam berdialog dan mendiskusikan kebenaran dirinya sendiri. Perhatikan sikap Nabi SAW di ayat berikut, “Dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik) pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata” (QS. Saba [34]: 24).

Keenam belas: Ayat di atas juga secara tidak langsung mengingatkan Nabi SAW dan setiap pengemban kebenaran agar sejak awal siap menghadapi realitas sosial bahwa tidak sedikit pihak-pihak yang akan menolak kebenaran kritik dan solusinya. Kesiapan mental ini merupakan syarat agar tidak putus asa dan tetap konsisten menyampaikan dan memperjuangkan kebenaran, karena keberhasilan dan kemenangan dapat diperoleh dari dan dengan Allah sekalipun dengan jumlah sedikit: “Betapa banyak kelompok yang sedikit mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah” (QS. Al-Baqarah [2]: 249).
 

Tinjauan Filosofis dan Moral-Sosial

Pertama: Banyak orang yang gigih mengatakan bahwa (a) tidak ada kebenaran mutlak; (b) semua pengetahuan dan pemahaman manusia itu relatif; (c) yang pasti dan mutlak benar itu hanya pada Allah. Untuk menyakinkan perkataan (c) ini, mereka bahkan membawakan ayat-ayat seperti: “Katakanlah bahwa kebenaran itu [berasal] dari Tuhanmu” (QS. Al-Kahfi [18]: 29; lihat juga Al Imran [3]: 60). Ayat di atas juga termasuk yang dibawakan mereka sebagai dalil.

Kedua: Orang-orang ini saking gigihnya sampai-sampai tidak sadar akan keadaan diri mereka sendiri: apakah mereka sendiri yakin secara pasti bahwa tiga perkataannya itu benar sepenuhnya ataukah tidak? Jika mereka yakin demikian, maka ada kebenaran mutlak pada diri mereka sebagai manusia sehingga, dengan begitu, keyakinan pasti mereka ini menyanggah semua perkataannya sendiri. Jika mereka tidak yakin dengan perkataannya sendiri, maka sebaiknya diam atau fokus berusaha meyakinkan semua perkataannya itu pada diri mereka sendiri sebelum mengurusi keyakinan orang lain; tidak perlu sebegitu gigih sampai menyalahkan orang lain yang merasa benar sepenuhnya.
 

Baca juga: Pemilik Alquran Tertua Di Indonesia, Justru Bukan Orang Islam
Baca juga: Sejarah Penerjemahan Alquran Di Indonesia
Baca juga: Masuk Islam Karena Alquran (2): Gary Miller, Profesor Kanada Yang Tadinya Menantang Dan Mencari-Cari Kesalahan
 

Ketiga: Orang-orang itu tidak serius menanggapi karena memang serba salah; mengatakan begitu salah, tidak mengatakan begitu juga merasa tidak nyaman atau kuatir jadi sasaran stigma ekstrem, radikal, intoleran.

Keempat: Memang, ‘sebagian’ orang yang percaya dirinya pasti benar cenderung bersikap radikal, ekstrem dan tidak toleran. Ini bukan berarti ‘semua’ orang yang merasa dirinya pasti benar sepenuhnya punya kecenderungan radikal dan intoleran. Ada sebagian orang yang merasa keyakinan dirinya pasti benar sepenuhnya tanpa bersikap radikal ataupun jadi intoleran.

Kelima: Orang yang mengatakan tiga perkataan di atas itu sebenarnya juga manusia yang paling radikal dan intoleran; memukul rata setiap dan semua pihak yang mengaku dirinya pasti benar. Kalau memang dia jujur dan benar dalam perkataannya itu, semestinya mereka membiarkan saja orang mengklaim kebenaran mutlak, atau menanggapi klaimnya dengan membuktikan kesalahannya dan menunjukkan argumen yang benar.

Keenam: Sadar atau tidak, sekali lagi, manusia cenderung ingin kebenaran mutlak, bukan kebenaran setengah-setengah. Mengaku diri sendiri pasti benar sepenuhnya adalah wajar dan manusiawi. Juga mengkritik orang yang mengaku dirinya pasti benar sepenuhnya tanpa kehilangan rasa ingin kebenaran mutlak juga manusiawi dan wajar.

Ketujuh: Yang tidak wajar, tidak logis dan tidak manusiawi itu orang berpikir relatif, skeptis dan sepenuhnya anti kebenaran mutlak, juga orang yang berpikir absolut dan sepenuhnya anti kebenaran relatif. Kedua tipe orang ini sama-sama radikal dan intoleran sehingga tidak memberi kemungkinan dirinya keliru, dikritik, berbenah diri, bertaubat dan menjadi lebih sempurna lagi, juga menutup peluang datangnya hikmah (kebenaran) dari orang lain. Kedua-duanya tidak menyadari sabda Nabi, “Ambillah hikmah (kebenaran), sekalipun dari mulut orang munafik.”

Kedelapan: Tidak semua sikap fanatik dan radikal itu keji dan ancaman. ada fanatisme dan radikalisme yang mulia; yaitu bersikeras mencari, menuntut dan membela kebenaran dengan ketulusan, kejujuran, keterbukaan dan argumentasi yang juga benar. “Katakanlah bawakan bukti nyata jika kamu orang yang benar!” (QS. Al-Naml [27]: 64).

Kesembilan: Di surah Al-Baqarah [2]: 111, ayat penuntutan bukti nyata ini berkaitan dengan klaim orang-orang Yahudi dan Nasrani: “Dan mereka berkata, ‘Tidak akan selama-lamanya masuk surga kecuali orang Yahudi atau orang Nasrani.’ Katakanlah [hai Muhammad], ‘Bawakanlah Katakanlah bawakan bukti nyata jika kamu orang yang benar!’” Nabi SAW tidak merespon perkataan dan keyakinan absolut orang-orang non-Muslim itu cara dan nada yang sama, misalnya dengan menyatakan “Anda salah!”, tetapi Nabi secara logis dan adil menempatkan mereka mungkin benar dengan menuntut mereka agar memastikan kebenaran perkataan mereka dengan bukti nyata yang sama-sama bisa dipahami.[hcf]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.