QS. Al-Syu’ara’ [26]: 192; Bisakah Allah Diturunkan?

 

وَ إِنَّهُ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

“Dan sesungguhnya ia sungguh penurunan Tuan alam-alam”

(QS. Al-Syu’ara’ [26]: 192)

Pemahaman umumnya, Alquran itu diturunkan Allah, bukan menurunkan Allah. Ayat ini tampaknya menerangkan Alquran itu juga menurunkan Allah. Bagaimana bisa Allah diturunkan oleh Alquran, sementara Alquran berasal dari Allah?

Dari teksnya saja, ayat ini dapat digolongkan sebagai ayat muhkam, ayat yang jelas maknanya. Namun, kejelasan makna tidak berarti mengandung satu makna. Suatu teks ayat yang jelas maknanya bisa mengandung lebih dari satu makna. Semua maknanya jelas. Apa pun makna-makna dari ayat di atas merupakan deskripsi seputar Alquran. Ayat ini salah satu jawaban atas pertanyaan: “Apakah Alquran?” Setidaknya, ada dua jawaban dari ayat ini sebagai definisi Alquran.

Definisi Pertama: Alquran sebagai objek penurunan. Ia adalah kitab pegangan dan pedoman hidup yang berasal dari dan diturunkan oleh Allah sebagai Tuan (rabb) Pengatur alam-alam. Di sini, Allah adalah sebagai subjek dan pelaku penurunan. banyak ayat yang juga menguatkan makna ini. Dan, umumnya, kita mengenal Alquran sebagai objek penurunan saja. Apakah ada makna lain?

Definisi Kedua: Alquran sebagai subjek penurunan. Yakni, Kitab suci terakhir Allah ini adalah penurun yang menurunkan. Lalu, apa objek penurunan ini? apa yang diturunkan Alquran? Yaitu Dia Allah, objek yang diturunkan Alquran. Kitab suci ini punya kekuatan yang bisa menurunkan dan menghadirkan Pencipta dan Tuan Pengatur manusia dan seluruh alam. Ini dapat dimengerti, tak ubahnya dengan suatu buku atau karya ilmiah yang lain, misalnya, merupakan representasi dan perwujudan yang membangkitkan, menurunkan, menampakkan dan menghadirkan pencipta karya tersebut.

Melalui Alquran, Allah SWT sesungguhnya juga hendak menampilkan Diri-Nya agar dapat dijangkau dan dijumpai pembaca Alquran. Dalam hadis disebutkan, “Sesungguhnya Allah menampakkan-diri kepada makhluk-Nya dalam firman-Nya, akan tetapi mereka tidak melihat” (‘Awali al-La’ali al-Aziziyyah fi al-Ahadits al-Diniyyah, jld. 4, hlm. 116).

Jadi, Alquran bisa juga didefinisikan sebagai kitab penurun dan penghadir Allah. Dengan demikian, terjemahan ayat di atas menjadi berikut: “Sesungguhnya ia (Alquran) sungguh menurunkan Tuan alam-alam.”

Dengan dua definisi ini, kita bisa mengukur berhasil gagalnya cara kita menghargai Alquran: (a) apakah membaca teks ayat-ayatnya sebagai objek penurunan hingga kita dituntut untuk menjadikannya hukum kehidupan dan referensi utama dalam mengelola diri, masyarakat, dan dunia dalam rangka mencapai tujuan hidup; ataukah juga (b) membaca teks-teks ayat sebagai subjek dan alat penerjun, tempat penampakan, dan aula kehadiran Allah yang Mahaagung dan Maha Bijaksana.

Tidak ada pilihan selain memperlakukan Alquran sebagai objek Allah atau subjek Allah. Memilih salah satunya akan gagal, entah sebagai objek saja atau subjek saja. Tidak kurang gagalnya mencari-cari di luar dua pilihan ini. Jadi, terimalah sekuat hati dan sepenuh jiwa Alquran sebagai objek Tuhan sekaligus subjek Tuhan.

Bacaan Alquran kita tidak berarti apa-apa bila kita tidak mengjangkau dan menyaksikan kehadiran Allah, keagungan, keadilan dan kebijaksanaan-Nya. Sama gagalnya bila kehadiran Allah hanya kita jangkau dan kira rasakan sebatas pengetahuan dan pengalaman sendiri, tanpa mau atau malah menyepelekan kehadirannya dalam keinginan, keputusan dan cara hidup kita. Apa artinya melihat kehadiran Allah tanpa menghadirkan kehendak Allah. Kehadiran Allah yaitu perwujudan kehendak-kehendak Allah. Alquran turun bukan semata-mata kepuasan untuk pemahaman dan pengalaman, tetapi utamanya komitmen melaksanakan kehendak dan hukum Allah SWT.[ph]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.