QS. Al-Takwir [81]: 5; Menjadi Manusia Buas

 

وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ

“Di saat binatang-binatang buas dikumpulkan”

(QS. Al-Takwir [81]: 5)

Apa makna ayat ini? Apa nilai penting yang membuat binatang buas disebut dalam ayat? Apa hubungan binatang buas dengan kiamat?

Sejauh telaah, setidaknya, ada tiga tafsir dari para mufasir:

Tafsir pertama: maksud dari binatang buas ialah sebagaimana makna literalnya. Dalam habitat naturalnya, binatang-binatang buas biasa hidup terpisah, yakni cenderung hidup eksklusif dan tidak bergabung dengan binatang buas lain. Namun tatkala hari kiamat tiba, mereka dilanda ketakutan sehingga berkumpul dengan sejenisnya. Karena itu, seperti empat ayat sebelumnya, ayat ini merupakan salah satu tanda kegentingan hari kiamat.
Pesan: hari kiamat adalah hari yang sangat dahsyat hingga binatang buas pun berada di puncak ketakutan, apalagi manusia.

Tafsir kedua: binatang buas dalam ayat adalah sebagaimana makna literalnya, namun berkumpulnya mereka terjadi bukan pada sebelum atau di saat hari kiamat tiba, tetapi setelah kiamat terjadi, alam semesta dan isinya telah hancur, pada saat manusia dibangkitkan kembali. Atas dasar ini, ayat di atas mengungkapkan bahwa binatang buas pun akan mengalami kebangkitan dan hidup kembali di akhirat untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dikerjakan di dunia. Tafsiran ini didukung oleh ayat 38 dari surah Al-An’am, “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.

Pesan: sebagai makhluk yang tidak memiliki pengetahuan (sempurna), binatang pun akan dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya di dunia, apalagi kita sebagai manusia yang dikaruniai akal, pengetahuan sempurna, fitrah yang cenderung kepada kesucian dan kebenaran, nabi pembawa wahyu dan petunjuk, sudah barang tentu hisab dan tanggung jawab kita lebih berat. Karena itu, sudah semestinya setiap orang berhati-hati dan waspada terhadap setiap ucapan, tulisan dan tindakannya.

Tafsir ketiga: binatang buas dalam ayat di atas yaitu diri kita ini yang di dunia tampak berwujud layaknya manusia, tetapi batin dan karakter kita justru binatang buas. Ini tidak mustahil, bahkan dibuktikan kemungkinannya dalam filsafat Kebijaksanaan Utama (al-hikmah al-muta’aliyah), bahwa setiap orang bergerak secara bertahap (tasykik) bermula dari materi layaknya benda mati, lalu tumbuh layaknya tumbuhan, lalu berakivitas dengan kehendak layaknya binatang, lalu hidup dengan akal layaknya manusia hingga berkarakter serupa dengan Tuhan.

Dalam proses gerak dan transformasi jiwa, semua orang cenderung menyempurna, namun ada yang berhasil menyempurna secara aktual di dunia menjadi manusia hakiki, ada juga bahkan kebanyakan orang gagal mencapai tahap/derajat manusia hingga di akhirat—alam dibukakannya rahasia, tersingkapnya hakikat dan bentuk asli segala sesuatu, mereka dibangkitkan kembali hidup sebagai kera, anjing, ular,…. Mereka ini, dengan ciri-ciri yang disebutkan dalam ayat lain, akan ditempatkan di dalam neraka, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (kebenaran), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar; mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih rendah lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai” (QS. Al-A’raf [7]: 179).

Pesan: apakah kita sudah mencapai derajat kemanusiaan dan menjadi manusia selayaknya sehingga pantas dihargai senilai surga? Ataukah kita masih berada di tingkatan binatang? Atau malah kita sendiri tidak tahu berada di tingkatan dan posisi mana sehingga kita gagal, setidaknya, menyadari seberapa jarak diri kita dengan derajat minimal dari kesempurnaan, yaitu menjadi manusia?

Ayat ini menghidupkan kesadaran kita agar segera fokus terhadap hakikat dan wajah asli kita di akhirat sebagai pilihan yang sudah kita jatuhkan sejak kita berada di dunia ini: manusia yang berkarakter binatang buas ataukah manusia yang berakhlak Ilahi.[ab]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.