QS. Al-Taubah [9]: 111; Harga Manusia dalam Proposal Allah

 

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya Allah akan membeli dari orang-orang beriman diri dan harta mereka dengan sesungguhnya bagi merekalah surga.”

(QS. Al-Taubah [9]: 111)

Sebagai Tuhan Pencipta alam semesta, Allah swt. mengetahui nilai setiap makhluk dan Dia menempatkan manusia sebagai makhluk yang terbaik, “Sungguh Kami telah menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. Al-Tin [95]: 4). Nilai manusia tidak kurang dari surga Allah yang “luasnya adalah langit-langit dan bumi” (QS. Al Imran [3]: 133), yakni senilai alam semesta.

Nilai diri kita tidak sebanding dengan selain surga. Maka itu, Allah tidak memperkenankan kita menjual diri kita, menghabiskan hidup kita dengan dunia dan hal-hal yang rendah di bawah nilai surga. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Ketahuilah bahwa harga diri kalian tidak lain kecuali surga, maka janganlah menjual dengan selainnya.”

Dengan ayat di atas, Allah mengajukan diri-Nya sebagai pembeli yang menawarkan harga termahal kita, yaitu surga di kehidupan hakiki akhirat, “Dan sesungguhnya hari Akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya.” Untuk itu, hanya manusia gila atau tak berakal saja yang masih berpikir-pikir apalagi praktis menganggap remeh atau mengacuhkan megatransaksi Ilahi ini.

Tawaran Allah swt. kepada manusia ini adalah berupa cicilan yang terus kita tanam dan investasi di dunia ini, yaitu dengan pengetahuan yang benar dan amal kebaikan, ibadah dan akhlak mulia. Keberhasilan kita berinvestasi di dunia merupakan garansi memperoleh beserta bunganya di akhirat, yaitu surga dan kedudukan mulia di sisi Allah swt.

Keberhasilan kita di dunia hanya akan diperoleh dengan kerja dan kesungguhan, yaitu sabar dalam mencari kebenaran, mempertahankan kebenaran, memperjuangkan kebenaran dan tak kenal lelah dalam mengamalkan kebenaran dan berbuat kebaikan. Sudah barang tentu, kita akan menghadapi berbagai tantangan dari musuh kebenaran dan kebaikan dari semua arah. Karena itu pula, kita harus siap menanggung derita dan berbagai kesulitan. Alquran mengatakan agar kita tidak gentar, kecil hati dan lemah kemauan dalam mengatasi setiap kesulitan dan tekanan.

Jika kalian menderita, sesungguhnya mereka itu menderita seperti juga kalian menderita” (QS. Al-Nisa’ [4]: 104). Jika kita menanggung beban berat penderitaan yang dipaksakan oleh musuh, musuh juga menanggung beban yang sama akibat dari resistensi, perlawanan, kesabaran, dan sikap bijak kita. Bedanya, “Kalian mengharapkan dari Allah apa yang tidak mereka harapkan” (QS. Al-Nisa’ [4]: 104). Di sinilah bedanya kita dengan musuh; kita punya visi hidup yang cerah dan janji pasti Allah, yaitu surga, sementara mereka menatap akhir hidup mereka dalam kegelapan dan tak menentu.

Masihkah kita perlu waktu untuk berpikir dahulu sampaikan memutuskan setuju dengan penawaran transaksi dari Allah?!

Kita dimotivasi agar, pertama, “Hai orang-orang beriman, sambutlah seruan Allah dan Rasul apabila ia menyerumu kepada sesuatu yang menghidupkan kalian” (QS. Al-Anfal [6]: 24), dan kedua, “Dan bersegeralah menuju pengampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya adalah langit-langit dan bumi yang disiapkan untuk orang-orang bertakwa” (QS. Al Imran [3]: 133). Nilai hidup kita sebanding dengan surga bila kita membangun diri sebagai manusia yang, berdasarkan dua ayat ini, beriman dan bertakwa, yakni (a) keteguhan hati dengan pengetahuan yang benar dan (b) amal kebaikan dengan sabar serta niat yang ikhlas.

Demi masa! Sesungguhnya manusia itu sungguh berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal baik serta saling berpesan kebenaran dan saling berpesan kesabaran” (QS. Al-Ashr [103]: 1-3).[ph]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.