Tadabur: QS. Al-Baqarah [02]: ayat 121

 

اَلَّذِيْنَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُوْنَهُ حَقَّ تِلاَوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُوْنَ بِهِ وَ مَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ

Orang-orang yang telah Kami berikan al-Kitab kepada mereka dimana mereka membacanya dengan sebenar-benarnya, mereka itulah beriman kepadanya (nabi Islam), dan barangsiapa ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”

(QS. Al-Baqarah [02]: ayat 121)

Bahasa

Kata tilâwah berasal dari talawa yang berarti berada di belakang seseorang dan mengikutinya. Dalam Al-Quran, banyak sekali ditemukan kata-kata selain tilâwah yang diderivasi dari akar kata ini (talawa) seperti: yatlȗ syâhid-un minhu: diikuti saksi darinya (Q.S. Hud [11]: 17) dan: wa al-qamar-i idzâ talâhâ: dan demi bulan bila muncul setelahnya (QS. Al-Syams [91]: 02).

Hadis
  • Riwayat dari Ibn Abu Hatim yang disahihkan oleh Al-Hakim dari Ibn Abbas berkenaan dengan firman Allah SWT, “mereka membacanya dengan sebenar-benarnya”, ia berkata, “mereka menghalalkan hukum halalnya, mengharamkan hukum haramnya dan tidak menyimpangkannya dari tempat-tempatnya” (Jalaluddin Al-Suyuthi, Al-Durr Al-Mantsûr, jld. 1, hlm. 576).
  • Muhammad bin Ali Majlaweih telah menyampaikan dari pamannya, Muhammad bin Abu Al-Qasim, dari Ahmad bin Abi Abdillah Al-Barqi, dari ayahnya, Muhammad bin Khalid, dari Muhammad bin Sinan, dari Mufadhdhal bin Umar, dari Imam Ja’far bin Muhammad Al-Shadiq a.s. bahwasanya beliau berkata, “… dan hendaknya kalian membaca Al-Quran, karena sesungguhnya tingkatan surga itu berdasarkan hitungan ayat Al-Quran. Maka, kelak di hari Kiamat akan dikatakan kepada pembaca Al-Quran, ‘Bacalah dan naiklah!’ Maka setiapkali ia membaca satu ayat, naiklah dia satu tingkat …”. (Syaikh Al-Shaduq, Al-Amâlî, hlm. 359).
Tadabur
  • Pemberian Al-Quran kepada kita menjelaskan keberasalan kitab suci dan agung itu dari Allah Yang Mahatahu dan Maha Bijaksana. Kesadaran ini memastikan diri kita, penerima Al-Quran, agar tidak memandang diri sendiri kecil dan rendah.
  • Umat manusia diberi Al-Quran supaya agar mereka membaca, mempelajari, menggali kandungan dan mengamalkannya. Dengan demikian, kitab suci dan sumber hukum kehidupan ini tidak hanya diperlakukan untuk melengkapi interior ruangan dan memperkaya khazanah kepustakaan, tidak pula dibaca dalam hajatan dan syukuran tertentu, tetapi yang lebih penting lagi yaitu kita letakkan langkah demi langkah kita di jalan lurus Al-Quran dalam memastikan diri kita sebagai makhluk termulia Allah SWT.
  • Beriman pada Al-Quran merupakan buah dari tilawah ‘membaca’ Al-Quran. Sebaliknya, jika kita membaca namun iman dan ilmu tidak bertambah pada diri kita, maka sejatinya kita belum membaca Al-Quran.
  • Seseorang yang ingkar terhadap ajaran-ajaran Al-Quran yang penuh kebenaran, keadilan dan kebijaksanaan mendalam, entah dengan bentuk meremehkannya, menutup-nutupinya, atau juga tidak mengamalkannya, sama artinya dia telah mencampakkan diri dan membinasakan diri sendiri.
  • Kerugian yang sesungguhnya bukanlah kehilangan harta, jabatan dan lain-lainnya, akan tetapi membiarkan diri jauh dari Al-Quran: “mereka itulah orang-orang yang merugi”. Kata ‘itulah’ menunjukkan penegasan dan pembatasan (al-hashr), yakni diri mereka sendirilah yang membuat kerugian, bukan orang lain.
  • Ayat ini menunjukkan bahwa iman kepada Allah SWT memiliki tingkatan-tingkatan. Sebagian dari tingkatan-tingkatan itu tidak dapat diraih selain dengan membaca Al-Quran secara sepenuh makna pembacaan. Misalnya, jika kita tidak pandai membaca Al-Quran (kita berlindung kepada Allah SWT semoga kita tidak demikian) atau bacaan kita tidak sebagaimana mestinya, tentu kita tidaklah pantas berharap akan mendapatkan pahala sebagian dari tingkatan iman.
  • Kerugian merupakan salah satu jenis kerugian, yaitu hilangnya semua modal utama. Seperti penjual es di sepanjang siang menyengat, namun tidak kunjung laku. Dalam kondisi seperti ini, sebelum terjadi transaksi jual beli, sebagian dari esnya akan mencair dan, dengan begitu, modal utamanya lenyap.
  • Poin sangat penting dalam ayat ini adalah bahwa tidak membaca Al-Quran itu dikategorikan oleh Allah SWT sebagai bagian dari kekufuran, lawan dari keimanan, yang menyebabkan modal utama manusia menjadi lenyap. Inti ayat ini ialah memperkenalkan Al-Quran sebagai modal utama manusia. Oleh karena itu, gagal memanfaatkan Al-Quran merupakan kerugian. Tinggal kita sekarang mengevaluasi bagaimana diri kita sudahkah memperlakukan Al-Quran sebagai modal utama hidup dan seberapa kita menghargai dan menjaganya.
  • Merujuk hadis di atas, dapat dipahami bahwa tingkatan-tingkata surga dibagi berdasarkan pemahaman dan pengamalan (tilawah) ayat-ayat Al-Quran. Karena itu, kita harus berusaha melaksanakan tilawah yang benar dalam program tadabur harian untuk mengamalkan satu ayat dalam satu hari. Dengan cara ini kiranya kita telah mengambil satu dari skian upaya praktis dalam memahami dan mengamalkan seluruh isi Al-Quran secara bertahap.
  • Mengenai firman Allah SWT, “Orang-orang yang Kami berikan al-Kitab dimana mereka membacanya dengan sebenar-benar pembacaan”, Imam Ja’far bin Muhammad a.s. berkata, “Mereka membaca ayat-ayatnya, mendalami maknanya, mengamalkan hukum-hukumnya, mengharap janji pahalanya, takut ancaman siksanya, mengambil pelajaran dari kisah-kisahnya, melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya. Demi Allah, (maksud ayat ini) bukanlah menghafal ayat-ayatnya, mempelajari huruf-hurufnya, membaca surah-surahnya, mengkaji sepersepuluhnya dan seperlimanya; mereka menghafal huruf-hurufnya namun menerjang batasan hukum-hukumnya. Akan tetapi, (yang sebenar pembacaan) ialah merenungi (bertadabur) ayat-ayatnya dan mengamalkan hukum-hukumnya.” (Al-Dailami, Irsyâd al-Qulȗb ilâ al-Shawâb, jld. 1, hlm. 79).[yb]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.