QS. Al-Baqarah [2]: ayat 42, Seni Berbohong dan Merancang Fakta

 

وَلَا تَلْبِسُوْا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Dan janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan kalian menyembunyikan kebenaran padahal kalian tahu.”

(QS. Al-Baqarah [2]: 42).

Abstrak

  • Kebenaran sebagai nilai manusia
  • Informasi valid sebagai kebutuhan primer kemanusiaan.
  • Merekayasa kebohongan dan hoax, kejahatan besar terhadap nilai dan kebutuhan primer manusia
  • Pola-pola merekayasa fakta dan mengemas kebohongan
  • Hoax 100 % dan keterampilan berbohong
  • Seni berbohong, merias fakta, dan mencipta isu
  • Ketajaman mata hati mengawasi perilaku rahasia dari dalam diri
  • Fakta dan kebenaran di antara ketulusan hati dan jiwa sombong
  • Media informasi terpercaya, wartawan sejati, dan pengamat mulia
  • Asas maslahat, kebijaksanaan dan momentum dalam menyampaikan kebenaran
  • Tabayyun dan penyelidikan berita, bukan asal dengar.

Terjemah Kata

  • لَا تَلْبِسُوْا (lā talbisū)  = jangan kalian menampuradukkan, menutupi
  • الْحَقَّ      (al-haqq)   = kebenaran
  • الْبَاطِلِ    (al-bātil)    = kebatilan
  • تَكْتُمُوا    (taktumū)  = kalian menyembunyikan
  • تَعْلَمُوْنَ   (ta‘lamūn) = kalian tahu

Studi Kebahasaan

  • Talbisū adalah bentuk kata kerja perintah yang diderivasi dari lubs atau labs. Lubs berarti menutupi dan dari itulah kata libas (pakaian, busana) diderivasi. Sementara labs berarti ragu dan bimbang karena rancu dan bercampur aduk sehingga mengecoh.
  • Dalam terjemahan ayat, talbisū dipadankan dengan mencampuradukkan, tidak dengan menutupi, mengingat makna menutupi akan terulang di lanjutan ayat, yaitu menyembunyikan.
  • Tetapi, bisa juga kata talbisū dipadankan dengan menutupi atau mengenakan dan memakaikan. Maka, terjemahan ayat itu menjadi: janganlah kalian membusanai kebenaran dengan kebatilan. Selain sabagai sarana penutup, busana dan pakaian juga berfungsi sebagai alat mempersolek dan mempercantik. Maka, busana dalam hal ini yaitu merias dan mengemas kebenaran dengan campuran kebatilan sehingga membuat mata rabun dan gagal memilah keduanya.

Hadis

  • Rasulullah saw. bersabda, “Tiga kondisi yang membuat karakter iman seseorang sempurna: orang yang, bila senang, kesenangannya tidak membuatnya hanyut dalam kebatilan, orang yang, jika marah, kemarahannya tidak membuatnya keluar dari kebenaran, dan orang yang, jika berkuasa, kekuasaannya tidak membuatnya ingin menguasai apa yang bukan miliknya” (al-Ushūl al-Sittah ‘Asyar, hlm. 35).
  • Ali bin Abi Thalib ra. berkata, “Jika kebatilan dikemukakan sejernihnya, tidak akan ada kekhawatiran, dan jika kebenaran dikemukakan juga dengan jernih, mulut penentangan akan terbungkam. Hanya bahaya akan muncul tatkala kebenaran dan kebatilan dicampuraduk; masing-masing ditampilkan sebagiannya hingga membuka jalan setan menguasai pengikut-pengikutnya” (Nahj al-Balaghāh, kalam no. 50).
  • Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas tentang firman-Nya, “Dan janganlah mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan”, ia berkata, “Janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dengan kebohongan” (Jalaluddin al-Suyuthi, al-Durr al-Mantsūr, jld. 1, hlm. 341).
  • Nabi Isa a.s. berkata, “Ambillah kebenaran dari pelaku kebatilan, janganlah engkau mengambil kebatilan dari pelaku kebenaran. jadilah engkau pengkritik ucapan!” (Al-Mahāsin, jld. 1, hadis no. 159).
  • Ali bin Abi Thalib ra. berkata, “Menutupi keburukan yang kamu lihat langsung itu lebih baik daripada menyebarkan keburukan yang kamu duga.” (Ibn Abu al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghāh, jld. 5, hikmah no. 409).

Tadabur

  • Nilai manusia ialah pengetahuan. Tetapi pengetahuan bukan satu-satunya nilai. Pengetahuan yang benar atau, pendeknya, kebenaran merupakan syarat perlu. Dengan ketulusan hati dan kesatriaan jiwa, pengetahuan menjadi syarat cukup untuk membangun kehidupan dan mencapai tujuan utama manusia.
  • Salah satu kebutuhan primer manusia dalam menimbang, mengambil keputusan, bersikap dan bertindak ialah informasi. Dengan informasi, suatu masyarakat bergerak ke satu titik. Arah dan gerak suatu masyarakat ditentukan secara dominan oleh informasi dan pengetahuan. Maka dalam manajemen sosial diperlukan data dan informasi yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Keperluan ini, di dunia sekarang, tak ubahnya dengan kebutuhan kita pada udara.
  • Membuat kebatilan, merias kebohongan, merekayasa keraguan, menyebarkan berita palsu, dan menyesatkan opini publik sama artinya menghilangkan nilai kemanusiaan dan merusak kebutuhan primer manusia. Ini kejahatan luar biasa.
  • Dimana ada kebenaran, di situ ada tantangan kebatilan. Salah satu kendala dan tantangan utama sepanjang membangun dan mencapai tujuan hidup ialah kebatilan. Keluar dari jalan lurus disebabkan karena terkecoh oleh kebatilan yang tampak seolah-olah kebenaran, atau terhenti bergerak menempuh jalan karena ketidakjelasan jalan akibat kurang data, informasi dan keterangan yang disembunyikan sepuruhnya atau dipotong-potong sebagiannya.
  • Dalam ayat disebutkan dua pola menyiasati fakta dan memodifikasi kebenaran agar tidak tampak utuh dan murni: (a) menyembunyikan fakta, termasuk dalam bentuk memendam dan mengubur fakta dengan cara menumpuk isu di atas isu atau mengalihkan isu dengan isu lain agar publik kehilangan perhatian terhadap fakta dan informasi yang dibutuhkan, atau dalam bentuk sama sekali tidak meliput dan tidak melaporkan fakta seolah-olah tidak terjadai apa-apa; (b) melaporkan dan mengungkapkan fakta dengan distrosi: menambah atau menggunting data dan informasi. “dan jauhilah perkataan dusta” (QS. Al-Hajj [22]: 30).
  • Ayat ini tidak menyinggung kebatilan dan kebohongan yang dibuat sepenuhnya batil, mutlak bohong atau, dalam bahasa kita sekarang, murni hoax. Ini barangkali karena membuat berita dan informasi 100% bohong, selain tidak butuh keterampilan, akan mudah diidentifikasi dan dibedakan dari kebenaran dan fakta. Kebatilan dan kebohongan menyecoh dan berpotensi kuat mencipta opini yaitu berita abu-abu yang dikemas dengan busana kebenaran. Imam Ali berkata, “Muslihat paling sulit yaitu menampilkan kebatilan dengan bentuk kebenaran di hadapan orang berakal jernih.”
  • Berita abu-abu hasil penyampuran hak-batil dan bohong-fakta ini dalam bahasa agama disebut dengan syubhat, yaitu penyamaran dan penyaruan; kebohongan yang menyamar dan menyaru kebenaran.
  • Data dan informasi itu bernilai tidak hanya karena nilai kebenaran dan faktualitasnya. Informasi yang benar pun justru bisa tidak berguna bahkan merusak dan membahayakan jika berada di tangan pemegang media-media yang berhati kotor untuk tujuan tak terpuji. Diriwayatkan dari Ubaidillah bin Abu Rafi’, budak Rasulullah saw., bahwa kaum Khawarij menyempal dari pasukan Ali bin Abi Thalib, mereka mengatakan, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah.” Ali berkata, “Itu perkataan yang benar dimaksudkan untuk kebatilan.” (Muttaqi, Kanz al-Ummāl, hadis no. 31556).
  • padahal kalian tahu”. Berita bohong adalah bohong dan hoax selama tidak diketahui, dan selama itu pula hanya diketahui kebobongannya oleh pembuatnya sendiri. Namun, setiap orang punya mata hati yang tak bisa dibohongi, dan pembuat hoax pasti tahu kalau dia sedang merekayasa fakta, membuat bohong dan menyebarkannya. Sekecil apa pun suara batin akan terdengar dengan frekuensi kendati sudah rendah untuk menegur kesalahan yang dilakukan sendiri dengan sepengetahuannya. Mata hati dan fitrah insani ini merupakan sebaik-baiknya bukti yang mengawasi.
  • Kesadaran seseorang untuk komit pada kebenaran dan fakta tidak semata-mata bergantung pada nilai kebenaran yang diakses (secara tak langsung) dan dilihat (secara laingsung), tetapi yang paling penting ditunjang oleh, utamanya, ketulusan dan kelapangan dada serta kesatriaan tunduk dan mengakui kebenaran tersebut. Maka, musuh kebenaran dan faktor pemicu pembelaan terhadap kebatilan ialan absennya ketulusan atau, secara definitif, angkuh dan sombong: “Dan mereka mengingkarinya karena melampaui batas dan sombong, padahal hati mereka meyakininya” (QS. Al-Naml [27]: 14). Lihat juga QS. Ghafir [40]: 56. Dalam ayat lain diingatkan, “Celakalah setiap pembohong pendosa. Yang mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya, namun dia tetap sombong seakan-akan tidak mendengarnya, maka sampaikanlah berita bahagia kepadanya tentang azab yang pedih” (QS. al-Jatsiyah [45]: 7-8).
  • Tidak benar menyiasati fakta dan kebenaran. “Sempaikan kebenaran, sekalipun itu pahit.” Ini bukan berarti mempublikasikan fakta tanpa mempertimbangkan maslahat dan asas hikmah kebijaksanaan. Fakta tidak bisa disiasati apalagi dipesan-pesan agar sesuai keinginan pihak tertentu> Tetapi penyampaian fakta dan kebenaran perlu siasat dan momentum. Ali bin Abi Thalib berkata, “Kebenaran yang diberikan kepada bukan orangnya adalah teraniaya, dan kebenaran yang tidak diberikan kepada orangnya juga teraniaya.”
  • Salah satu cara terbaik menguji berita dan informasi ialah tabayyun, melakukan penyelidikan dan konfirmasi, tidak tergesa-gesa menelan semua yang terdengar dan diperdengarkan: “Hai orang-orang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, selidikilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kelompok karena kebodohan sehingga kamu menyesali perbuatanmu” (QS. al-Hujurat [49]: 6).
  • Media informasi, awak media, dan pengamat mulia bertanggung jawab mengemban komitmen untuk menghadirkan kebenaran dan fakta seutuhnya sebagai amanat naluri kemanusiaan atau kepatuhan agama dalam pencerahan, pencerdasan dan pembangunan peradaban. Media informasi terpercaya, wartawan sejati, dan pengamat mulia konsisten menghilangkan jarak antara berita dan peristiwa, antara opini dan fakta.[afh]

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.