Tadabur: QS. Al-Fatihah [1]: ayat 2 (Bagian Pertama)

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Segala puji bagi Allah, Tuhan alam-alam

ٍََ(QS. Al-Fatihah [1]: 2)

Terjemah Kata

  • الْحَمْدُ      (al-hamdu) = puji
  • رَبِّ        (rabb)            = Tuhan
  • الْعَالَمِيْنَ  (al-‘alamin) = alam-alam

Studi Kebahasaan

  • Selain di surah Al-Fatihah, redaksi ayat ini juga terulang di QS. Ghafir [40]: 65 dan QS. Al-Shaffat [37]: 182.
  • Al (alif-lam) dalam al-hamd berfungsi sebagai al general (li al-jins) atau al peliputan (li al-istighraq). Dalam kedua fungsinya, partikel ini mengandung arti “segala macam puji dan sanjung”.
  • Al-hamd tidak menemukan padanan sepenuhnya dalam Bahasa Indonesia. Di dalamnya terdapat arti puji juga arti syukur (Murtadha Muthahari, Mengenal Al-Quran, jld. 2, hlm. 11).
  • li (bagi) bisa berarti milik, yakni kesempurnaan apa pun yang kita puji hanyalah milik Allah SWT.  Partikel ini juga bisa berarti kepada, yakni segala pemujian atas kesempurnaan apa pun hanya tertuju kepada Allah.
  • Masing-masing kata kata al-hamd, al-madh, dan al-syukr memiliki keunikan. Kata al-madh adalah pemujian seseorang yang muncul sebagai reaksi dari menyaksikan keindahan dan keagungan. Reaksinya bisa bersifat alami ataupun dengan kesengajaan. Akan halnya kata al-hamd hanya digunakan pada pemujian yang disadari dan disengaja. Adapun kata al-syukr yaitu pemujian yang dinyatakan seseorang karena ada karunia dan kebaikan, sementara pemujian dalam al-hamd tidak terbatas pada ada-tidaknya suatu karunia dan kebaikan (Al-Furuq fi Al-Lughah, hlm. 39 dan 41), karena objek al-syukr berupa tindakan (perbuatan baik), sedangkan objek al-hamd bisa berupa tindakan juga sifat/kualitas (Al-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Atsar, jld. 1, hlm. 437). Jadi al-hamd lebih umum dari al-syukr dan lebih khusus dari al-madh (Mufradat Al-Alfazd Al-Qur’an, hlm. 256).
  • Dalam banyak terjemahan, rabb al-ālamīn juga diterjemahkan menjadi “Tuhan seluruh alam” atau “Tuhan alam semesta”.

Hadis

  • Rasulullah SAW bersabda dalam doanya, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dengan-Mu. Aku tak kuasa menghitung pujian kepada-Mu. Engkaulah sebagaimana Engkau memuji Diri Engkau Sendiri” (Shahīh Muslim, hadis no. 751; Shahīh Abī Dāwūd, hadis no. 823).
  • Riwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari Ibnu Abbas bahwa Umar berkata, “Kita tahu Subhāna-Allāh dan Lā ilāha illā-Allāh. Lalu, apa al-hamdu lillāh?” Ali berkata, “Itu adalah kalimat yang disukai Allah untuk Diri-Nya, dan Dia ingin agar kita mengucapkan.” (Al-Durr Al-Mantsūr, jld. 1, hlm. 56).
  • Diriwayatkan dari Muhammad bin Hisyam dari Muyassir dari Imam Ja’far al-Shadiq, ia berkata, “Mensyukuri nikmat ialah menjauhi hal-hal haram, dan kesempurnaan bersyukur yaitu ucapan seseorang, “Al-hamdu lillāhi rabb al-ālamīn: segala puji bagi Allah, Tuhan alam-alam.” (Kulaini, Ushul Al-Kafi, jld. 2, hlm. 95)
  • Diriwayatkan oleh Mutsanna Al-Hanath dari Imam Ja’far al-Shadiq, ia berkata, “Dahulu, jika Rasulullah SAW mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, beliau berkata, “Al-hamdu lillāh ‘alā hādzihi al-ni‘mah: segala puji bagi Allah atas nikmat ini”, dan jika mendapatkan sesuatu yang menyusahkan hatinya, beliau berkata, “Al-hamdu lillāh ‘alā kulli hāl: segala puji bagi Allah atas setiap keadaan.” (ibid., hld. 2, hlm. 97).

Tadabur

  • Telah dikemukakan sebelumnya, kata rabb berarti membawa sesuatu secara berangur menuju kesempurnaan akhirnya. Maka, rabb al-alamin (Tuhan alam-alam) yaitu seluruh kesempurnaan dan kebaikan yang tampak di alam apa pun akan kembali kepadanya, karena setiap makhluk memperoleh kesempurnaan, apa pun itu, berkat kemurahan Allah. Jadi, setiap puji dan syukur yang diungkapkan makhluk secara lisan, perbuatan atau keadaan, tertuju kepada-Nya. Dialah pemilik dan sumber senegap pujian dan sanjungan.
  • Tidak sedikit faktor berada di luar kekuasaan kita dan, oleh karena itu, dalam kondisi normal melakukan suatu pekerjaan, tidak jarang kita mengalami kegagalan, meskipun kita sudah mengatur, merencanakan dan memprediksikan segala sesuatunya. Imam Ali mengatakan, “Aku mengenal Allah tatkala kebulatan tekadku gagal.” (Nahj Al-Balaghah, hikmah no. 250).
  • Kesadaran akan “Tuhan alam-alam” akan menenangkan pikiran mengenai hasil yang diinginkan. Kesadaran ini berarti tawakal: menyerahkan pencapaian hasil sepenuhnya kepada Allah, percaya pada pengaturan dan kebijaksanaan-Nya. Karena itu, dengan kesadaran, keikhlasan, keimanan dan tawakal ini, ia tidak kuatir dengan kegagalan di dunia.
  • Muslim yang beriman akan memperoleh hasil pekerjaannya di dunia dan, jika tidak, di akhirat kelak. Kegagalan di dunia hanyalah kegagalan lahiriah seperti pejuang yang mati di jalan Allah, tetapi dia berhasil gemilang secara batiniah, tidak mati tetapi memperoleh kehidupan yang lebih sempurna. Karena itu, orang beriman dan punya kesadaran yang kokoh pada Allah sebagai Tuhan alam-alam tidak akan hidup kecewa; hidupnya penuh cinta dan pujian (lihat hadis ketiga).
  • Sebagaimana tersebut di atas, al-hamd mengandung unsur kehendak dan kesengajaan pelaku pemujian. Oleh karena itu, pemujian kita kepada Allah dapat terpenuhi bila didasarkan pada iman dan pengetahuan akan Allah, sifat-sifat-Nya dan ciptaan-Nya. Kualitas iman dan pengetahuan ini bertingkat-tingkat. Tingkatan pemujian kita ditentukan oleh tingkat iman dan pengetahuan kita. Maka, “segala puji” hanya dapat ditunaikan atas dasar segenap iman dan sepenuh pengetahuan.
  • Memuji Allah tidak selalu dengan kata-kata. Memuji Allah juga bisa dengan perbuatan. Karena Dia adalah Tuhan alam-alam, memuji makhluk, sekecil dan sehina apa pun, adalah memuji Allah, karena semua alam dan isinya berasal dari-Nya dan berada dalam pengaturan dan pengelolaannya. Maka, membantu, menghormati, menyapa santun, bergaul ramah, dan mencintai orang lain merupakan puji kita kepada Allah. Membangun negeri di atas keadilan juga pemujian kepada Allah. Menindak tegas pun, dengan kesadaran kasih sayang ini, juga pujian kepada-Nya.
  • Memuji Allah adalah perbuatan sengaja yang didasari kehendak dan pengetahuan. Maka itu, adakalanya kita lalai hingga tidak memuji-Nya. Alih-alih memuji Allah, kita malah memuji diri sendiri atau menyanjung orang lain seolah-olah hanya kita dan orang itu, dengan kekuatan diri sendiri, menghasilkan kebaikan. Oleh karena itu, memuji Allah dan berkata “Al-hamdu lillah”, walaupun tampaknya gampang, memerlukan taufik dan bantuan Allah.
  • Maka it, dalam kita memuji Allah terdapat taufik dan karunia-Nya yang patut kita puji, dan puji kita ini juga memerlukan taufik lain dari Allah sehingga, dalam satu kali memuji saja, sesungguhnya terdapat pujian yang tak terhingga sampai kita tidak mampu menunaikannya. Imam Ali Zainal Abidin dalam munajat syukurnya mengatakan, “Ya Allah, tidak ada seorang pun yang mencapai puncak bersyukur kepadamu kecuali ia memperolehnya berkat kebaikan-Mu yang membuatnya menunaikan syukur lain.”
  • Sedemikian tak berhingganya pujian bagi Allah, kita akan menyadari, di balik satu pujian kita, ketakbedayaan kita memuji segenap kesempurnaan Allah. Oleh karena itu, dalam memuji juga kita mentasbih, yakni menyucikan Allah dari segala pujian makhluk, dengan mengatakan, “Allah maha sempurna tidak seperti sempurnanya makhluk, Allah mahatahu tidak seperti pengetahuan makhluk ….” (lihat hadis pertama). Dalam QS. Al-Zumar [39]: 75, Allah berfirman, “Mereka bertasbih dengan memuji Tuhan mereka”.
  • Maka, tidak ada yang mampu memuji Allah, Tuhan pemilik alam-alam dan kesempurnaan mutlak, sepenuh-penuhnya tanpa tasbih dan penyucian kecuali Diri Allah Sendiri. “Segala puji syukur bagi Allah, Tuhan alam-alam”. Manusia hanya mampu memuji Allah sekaligus dengan bertasbih dan menyucikan-Nya (Thabathaba’i, Tafsīr Al-Mīzān, jld. 1, hlm. 20). Bersambung⇒

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.